Udara di ruangan terasa begitu tipis, seolah-olah oksigen pun menolak untuk berbagi ruang dengan kecemasan yang melandaku. Ruang tunggu pengantin benar-benar merupakan definisi dari kemewahan yang menyesakkan—dinding sutra berwarna krem, aroma bunga-bungaan yang terlalu kuat, dan perabotan antik.
Dalam hati aku memuji pencapaian mereka—perabotan-perabotan itu, maksudku. Bukankah menyenangkan kalau hanya ditakdirkan menjadi teko teh alih-alih primata dalam balutan baju pengantin?
Aku menatap pantulan di cermin besar berlapis emas dan meringis ketika tidak mengenali wanita yang balas menatapku di sana. Dia adalah versi diriku yang paling cantik, tapi aku tak merasa seperti diriku sendiri sekarang.
Gaun itu. Gaun itulah penyebabnya. Itu memang bayanganku, tapi rasanya seperti sedang memakai kostum untuk pesta topeng kelulusan. Potongan leher gaun yang tinggi dan anggun mengalir menjadi rok bervolume besar yang menyapu lantai, tampak lebih berat dari yang terlihat, dengan lapisan tule dan sutra yang membuatnya tampak berisi setiap kali aku bergerak.
Riasanku sempurna, tanpa celah, menyulap wajah Raras yang biasa-biasa saja, kali ini menjadi sosok asing yang memancarkan keanggunan. Aku nyaris tidak mengenali diriku sendiri, sialan.
Aku tampak seperti pengantin impian gadis mana pun. Perempuan yang waras tentu saja menginginkan hal ini—menikah dan menjadi cantik. Dan, ya, yang terpenting, calon suamiku bukan sosok pria berperut besar dan dagu berlapis-lapis dengan ketiak beraroma keju. Seharusnya tidak apa-apa, kan? Seharusnya tidak ada yang perlu dikhawatirkan.
Sayangnya, entah mengapa, aku merasa seperti narapidana yang menunggu jalannya eksekusi.
Pintu pun terbuka. Lara, sahabatku sekaligus calon adik iparku—sebuah ironi yang masih sulit kutelan—masuk dengan mata berbinar-binar.
“Ya Tuhan, Raras. Kau terlihat luar biasa. Aku jamin Andalas bakal berhenti bernapas melihatmu.”
Seolah aku bisa bernapas saja.
Aku memaksakan senyum yang terasa kaku di wajahku, karena tak mungkin aku mengolok-olok kakaknya setengah jam sebelum aku resmi menjadi kakak iparnya.
Lara pun menuntunku keluar. Langkahku terasa berat di atas karpet tebal. Di ambang pintu, Kakek sudah menunggu. Dia berdiri tegak dalam tuksedo hitamnya, terlihat seperti sosok otoriter yang tak tersentuh. Kalau diingat-ingat, pria itu memang tidak pernah memberi kesan sebaliknya.
Bagi yang bertanya-tanya mengapa Kakek—dari pihak ibu pula—yang kupilih alih-alih ayah tiri dan ayah kandungku yang masih hidup, jawabannya sederhana. Itu karena hanya Kakek-lah sosok yang kuanggap sebagai ‘ayah’ sepanjang hidupku.
Saat dia menatapku, ada kilat nostalgia yang jarang kulihat di mata yang biasanya tajam dan penuh selidik itu.
“Aku tidak pernah menyangka kau bisa tumbuh secepat ini, Tuan Putri," bisiknya. Matanya berkaca-kaca, namun tidak ada air mata yang terjatuh. Kakek tidak akan pernah menangis di depan orang lain—itu adalah tanda kelemahan yang tidak diizinkannya dalam keluarga kami.
Melihatnya seperti itu justru membuatku ingin berbalik dan lari sekencang mungkin.
Tepat saat aku mempertimbangkan untuk mengangkat rok gaun ini dan kabur melalui pintu belakang, pintu ganda menuju altar pun terbuka. Lebar. Cahaya membanjiriku dengan begitu menyilaukan.
Aku mematung. Jantungku berdentam di tenggorokan.
Dengan lembut, Kakek mengulurkan lengannya. Dengan tangan gemetar, aku meletakkan jemariku di atas lengannya, membiarkannya menuntunku menyusuri lorong panjang itu.
Bisikan ‘selamat’ dan ‘cantik sekali’ berdengung di telingaku seperti lebah yang mengganggu. Aku membalasnya dengan anggukan kaku, berharap tak ada satu pun dari mereka yang melihat betapa kacaunya isi kepalaku.
Sialnya, aku melakukan kesalahan dalam prosesnya. Mataku pada akhirnya tertuju pada satu titik di ujung sana.
Andalas.
Dia berdiri menjulang seperti gunung dengan setelan gelapnya. Dengan bahu bidangnya yang menjelma laksana sayap garuda. Dengan wajah tampannya yang tampak seperti putra mahkota.
Musuhku. Pria yang selama ini menjadi sumber masalah utamaku. Kutukanku.
Pria itu menatapku dengan pandangan yang tak terbaca—dingin, tajam, dan menggertak—pembawaannya dari lahir.
Sialan, aku memaki diri sendiri.
Pada akhirnya, di sinilah aku berada. Menyerahkan kebebasanku untuk menghabiskan sisa hidupku dengan pria yang membenciku, dan yang aku benci dengan intensitas yang sama.
Ruangan itu didekorasi secara minimalis dan megah, dengan paduan warna putih gading dan emas yang klasik. Jendela-jendela besar membiarkan cahaya alami masuk, menyinari rangkaian bunga yang tak kutahu namanya selain mawar merah dan mawar putih di setiap sudut.
Tirai sutra menjuntai elegan, sementara karpet tebal berwarna krem menutupi lantai marmer, meredam setiap langkah kakiku yang menegang. Altar itu sendiri dihiasi lebih banyak bunga dan lilin-lilin elegan yang memberikan penerangan lembut, menciptakan suasana sakral sekaligus mencekam.
Saat tiba di ujung altar, kakekku, dengan gerakan penuh martabat, menyerahkan tanganku kepada Andalas.
“Jaga cucuku baik-baik,” bisiknya, suaranya sarat makna tersembunyi.
Andalas mengangguk kaku. Dia pun menerimaku.
Tangannya terasa begitu dingin, nyaris membekukan. Sensasi es itu merambat dari jemariku, membuatku nyaris membeku di tempat. Kami kini berdiri berdampingan di depan pendeta, siap mengucapkan janji suci, yang ironisnya, terasa seperti kutukan.
Inilah dia, batinku. Inilah saatnya.
Aku berharap, benar-benar berharap, ada yang keberatan. Ketika pendeta bertanya sekali lagi apakah ada seseorang yang keberatan dengan pernikahan ini, aku menahan napas.
Siapa saja. Entah Lara, Suta, teman-temanku yang lain, atau bahkan rekan kerja yang tahu persis bagaimana hubungan kami sebenarnya. Seseorang, hentikan kegilaan ini!
Ibu Bumi, bisa telan aku sekarang?
Sampai akhir, tidak ada yang bersuara. Semua orang di ruangan ini, yang tampaknya juga sedang menahan napas, sepertinya cukup puas hanya menjadi saksi bisu.
Kami dipaksa berhadap-hadapan sekarang. Andalas, dengan rahang kaku, mengamatiku dengan intens. Aku balas menatapnya dengan intensitas yang sama, memikirkan bahwa hidupku kini sudah benar-benar berakhir.
Suara pendeta bergema di langit-langit katedral yang tinggi, membacakan sumpah yang terdengar seperti lonceng kematian bagiku. Kata-katanya tentang setia dalam suka dan duka, sehat maupun sakit, terdengar seperti lelucon yang pasti akan kutertawakan di situasi lain.
Aku sudah siap melihat keraguan Andalas, atau setidaknya ia menunjukkan sedikit rasa jijik yang biasa ia tujukan padaku. Namun, yang terjadi justru sebaliknya.
“Saya bersedia.”
Suaranya rendah, berat, dan mengerikan dalam satu waktu. Tidak ada getaran, tidak ada jeda. Dia mengucapkannya seolah ini sesuatu yang sudah ia kuasai sejak awal.
Kepalaku pening. Apa yang terjadi? Bukankah dia membenciku? Bukankah dia sama terpaksanya denganku dalam pernikahan terkutuk ini? Mengapa dia terdengar seolah dia benar-benar menginginkannya?
Lalu, giliran sumpah untukku dibacakan.
Duniaku mendadak senyap. Aku tidak segera menjawab. Lidahku terasa seperti gumpalan timah. Aku melirik ke sekeliling, mencari pintu keluar terdekat, mencari wajah seseorang yang mungkin akan berteriak “Hentikan!”, atau mencari oksigen yang sepertinya menghilang dari ruangan.
Keheningan itu berlangsung terlalu lama. Sampai aku merasakan tekanan di tanganku.
Andalas memeras genggaman tangannya pada jemariku. Itu bukan tindakan lembut yang akan dilakukan calon suami pada calon istrinya. Itu jelas merupakan peringatan—cukup kuat hingga membuatku meringis kecil.
Matanya menatapku tajam, seolah berkata, “Jangan berani-beraninya mempermalukanku.”
“Saya ... bersedia,” bisikku dengan suara yang terdengar asing di telingaku sendiri.
“Dengan ini, saya nyatakan kalian sebagai suami istri.” Suara pendeta itu disambut oleh tepuk tangan riuh para hadirin yang kedengarannya seperti suara reruntuhan bagiku. “Silakan mencium pasangan Anda.”
Tanpa sadar, instingku mengambil alih. Aku mundur selangkah. Jarak adalah satu-satunya hal yang kuinginkan darinya saat ini.
Andalas tidak membiarkanku. Dia menggeleng lemah, sebuah gerakan hampir tak terlihat yang hanya bisa kutangkap karena posisi kami yang begitu dekat—dasar monster licik tak berperasaan.
Detik berikutnya, lengan kokohnya melingkar di pinggangku, menarikku kembali ke dalam gravitasinya yang menyesakkan.
Dia menunduk dan menciumku.
Sentuhan bibirnya terasa metodis. Terukur. Tidak romantis sama sekali, namun terkesan mendominasi. Tidak ada percikan api, tidak ada kelembutan, hanya sebuah klaim kepemilikan di depan umum.
Selesai. Tamat sudah. Hidupku yang bebas telah mati di tangan pria yang kini memeluk pinggangku dengan posesif.
Selamat datang di neraka, Raras.