


oleh Noona Y · 41 Bab
Enam perempuan dengan jalan hidup yang tak pernah sama, dipertemukan kembali dalam satu bulan yang penuh makna. Status, masa lalu, dan pilihan yang dulu memisahkan mereka kini luruh, ketika luka terasa dengan bahasa yang serupa. Di bulan penuh makna, mereka belajar menahan diri, meredam ego, dan perlahan mendengarkan suara paling jujur dari dalam hati kecil yang selama ini terabaikan. Karena di balik segala perbedaan, setiap manusia sejatinya setara dalam rasa dan luka. Mampukah mereka berdamai dengan diri sendiri sebelum hari kemenangan tiba?
Siang itu, terik Jakarta sedang kejam-kejamnya. Matahari berdiri tepat di atas kepala, membakar aspal dan memantulkan panas ke segala arah. Di tengah sengatan siang yang melelahkan, sebuah kafe yang cukup terkenal di media sosial tetap ramai, seperti hari-hari biasanya.
Sebuah mobil listrik SUV berhenti tepat di depan kafe. Dari dalamnya turun seorang perempuan dengan langkah tenang. Tas cokelat menggantung di tangannya. Hijab salem menutup rapi, dipadukan celana panjang putih berpotongan sederhana.
Penampilannya natural, tak berlebihan. Sandal santai bermerek mahal melengkapi gaya seorang istri pengusaha—tenang, mapan, tanpa perlu pamer.
Perempuan itu bernama Sandy.
Sandy melangkah masuk ke dalam kafe, bel kecil berdenting nyaring, disambut hembusan udara AC yang dingin, aroma kopi yang menggoda, dan suara berisik obrolan para pengunjung.
Interiornya kafe minimalis, kekinian, kursi-kursinya empuk, tersedia WiFi gratis pula, kesukaan para pengunjung. Membuat orang-orang betah duduk lama, hingga seharian penuh.
“Siang, Mas. Saya sudah pesan tempat untuk enam orang. Sudah siap, ya?” tanya Sandy ke petugas kafe.
“Pesanan meja, atas nama siapa, Bu?”
“Sandy.”
“Oh iya, ruangannya sudah disiapkan, Bu. Nanti teman saya yang akan mengantar.”
Sandy mengangguk, lalu mengikuti pramusaji menuju bagian belakang kafe. Di sana, suasananya jauh lebih tenang. Ia melihat sebuah taman kecil tertata rapi dengan air mancur mungil yang mengalir pelan. Di sampingnya, ada sebuah ruang kaca berdiri cantik, terpisah dari keramaian.
Pintu ruang kaca itu dibuka, udara dingin dan aroma wangi bunga lavender langsung menyergap. Sandy tersenyum puas saat melihat, meja yang ia pesan sudah tertata rapi—piring, gelas, bunga, taplak meja, semuanya terlihat siap menyambut tamu.
“Wow … perfect,” gumam Sandy, tersenyum puas.
Pramusaji yang mengantarkan, sedang menaruh buku-buku menu dipinggir meja.
"Nanti kalau teman-teman saya datang, tolong langsung antarkan mereka ke sini,” pinta Sandy sambil menyelipkan uang tip ke tangan pramusaji yang mengantarkan.
"Siap, Bu."
Sandy duduk di kursi ujung, mengeluarkan ponselnya, lalu membuka grup chat lama yang akhirnya kembali aktif seminggu sebelum hari reunian ini tiba.
Percakapan Grup War Takjil dimulai.
Sandy: Girls, aku udah di TKP, awas kalau kalian semua gak dateng, aku obrak abrik rumah kalian.
Safira: iye ... aku masih otw TKP say.
Farah: Bentar ya beb, 15 menit lagi, aku baru selesai nyalon.
Rose: Aku anter anakku les dulu, abis itu baru berangkat ke TKP.
Tiara: Kita udah dekat cafe, aku bareng bestie, si Gaby, lagi jadi pembalap.
Sandy: Okey, nanti kalau sudah sampai kafe, sebut nama Sandy, buat langsung dianter ke TKP.
Safira: Woke say.
Percakapan grup War Takjil berakhir.
Sandy duduk santai sendirian, ia meletakkan ponsel di meja, lalu membuka menu makanan.
Matanya menyapu daftar kopi, mencoba memilih, tapi pikirannya melayang ke banyak hal—terutama ke acara pertemuan ini. Sudah tiga tahun tidak berkumpul seperti ini. Rasanya pasti akan sangat canggung, walaupun mereka semua selalu dekat saat masa SMA.
Drrtt. Drrtt. Drrtt.
Ponsel tiba-tiba bergetar. Tulisan 'My Hubby' muncul di layar kaca.
“Halo, Sayang. Sorry lupa kabarin kamu, aku baru sampai di kafe. Yang lain belum datang, masih sendiri,” katanya pelan dengan nada lembut.
Percakapan terus berlanjut.
“Tenang, nggak akan lama kok. Sebelum jam enam aku sudah sampai di rumah. Iya … love you, Sayang.”
Telepon ditutup. Sandy menghela napas panjang, seperti baru saja menutup sesuatu yang lebih berat dari sekadar panggilan.
Dua puluh menit kemudian, pintu ruang kaca terbuka. Dua perempuan masuk sambil mengipas-ngipas wajah mereka.
“Panas banget, sumpah!” keluh Gaby sambil menjatuhkan diri di atas sofa.
"Kalian berdua naik motor?” tanya Sandy.
“Iya dong. Kami nggak mau kejebak macet-macet di jalan,” jawab Tiara santai.
“Menu, mana, menu! Aku haus banget, tenggorokan kering kerontang nih!” ujar Gaby, rambutnya sudah acak-acakan seperti singa.
"Astaghfirullah, Gaby. Pelan-pelan buka buku menu-nya, awas robek," celetuk Tiara, saat melihat bestienya itu seperti cacing kepanasan saat membuka lembaran menu.
Sandy terkekeh melihat tingkah konyol Gaby. Temannya yang satu itu memang tomboy sejak duduk di SMA, bahkan sampai sekarang pun masih tidak berubah, selalu tampil apa adanya.
Beberapa menit berlalu, tiga sosok lain menyusul—Farah, Rose, dan Safira.
“Hei, Girls! Udah lengkap kita!” seru Safira ceria.
“Alhamdulillah … akhirnya kita semua bisa kumpul lagi,” ujar Sandy dengan wajah berbinar.
“Puji Tuhan, haleluya. Amin,” sahut Rose, ikut tersenyum dan mengatupkan kedua tangannya penuh syukur.
Mereka semua saling berpelukan, tawa dan haru bercampur jadi satu, seolah jarak dan waktu yang sempat memisahkan akhirnya luruh begitu saja.
Hari itu, enam perempuan yang dulu tak terpisahkan akhirnya duduk di satu meja lagi. Enam sekawan sejak SMA. Terpisah oleh jarak, waktu, dan punya kehidupan masing-masing—terutama sejak melewati masa pandemi.
“Aduh kangen banget deh, makan bareng kayak gini,” kata Farah, matanya masih berkaca-kaca.
“Terakhir kapan ya?” Safira mengernyit, coba mengingat.
“Tiga hari sebelum, acara nikahan Rose,” jawab Tiara.
“Yes, betul! Kita ajak Rose keliling cari sate kambing sampai jam satu malam,” jawab Gaby penuh semangat.
"Itu sate kambing favorit suamiku sekarang. Waktu aku ngidam, aku sampai memaksa Matthew mengantarku ke sana,” sambung Rose sambil tersenyum.
“Ih, parah kau, nyiksa suami,” celetuk Farah, setengah bercanda.
“Enggak apa-apa, toh. Sapa suruh dia bikin aku hamil,” balas Rose sambil tertawa cekikikan.
Obrolan mengalir akrab, seolah waktu tak pernah benar-benar memisahkan mereka.
“Karaokean yuk habis ini!” ajak Safira.
“Gas! Aku mau pamer suara.” Farah paling percaya diri kalau soal nyanyi.
“Sorry, Girls. Aku harus pulang sebelum jam enam,” ujar Sandy lirih.
“Loh kok gitu! Kapan lagi kita bisa nyanyi bareng kayak dulu,” bujuk Tiara.
“Nggak bisa, sorry banget ya.”
“Garing!” celetuk Farah, tampak kecewa.
“Udah, jangan dipaksa kalau memang nggak bisa.” Rose langsung meredam suasana yang hampir panas.
Safira tiba-tiba mengeluarkan kotak makan. “Girls, biar suasana gak panas, kita makan kue buatanku, ombus-ombus.”
“Astaga, Fira, kebiasanmu dari dulu, selalu saja bawa bekal?” seru Farah sambil tertawa.
“Ssst … jangan ketauan, lihat tuh ada tulisan di dinding 'dilarang bawa makanan'.” Tiara berbisik sambil cekikikan.
"Bodo amat, kita makan sambil nunduk aja, yuk,” ajak Gaby.
Mereka memang bukan anak SMA lagi—meski tingkahnya masih tampak seperti remaja, kalau setiap kali berkumpul. Kini mereka adalah istri. Ibu. Perempuan dewasa dengan hidup dan beban masing-masing. Namun, di momen seperti ini, tawa tetap terasa sama seperti dulu.
Tiba-tiba, ponsel Sandy berdering keras.

Noona Y
6 Pengikut · 5 Novel