Dalam dua belas tahun hidupku, duniaku hanya seluas pagar besi yang mengelilingi taman belakang dan setinggi rak buku di perpustakaan pribadi Ayah. Bagiku, dunia luar adalah sebuah misteri yang hanya bisa kuintip dari balik tirai jendela kamar.
Aku adalah penghuni menara tanpa tangga, seorang putri yang lebih fasih berbincang dengan imajinasinya daripada manusia nyata. Dan hidupku, hanya berputar di antara empat pilar utama: Ayah, Ibu, Dion, dan Pak T.
Ayah dan Ibu adalah dua ilmuwan antariksa yang sering kali lebih mengenal rasi bintang daripada cara menghadapi kecemasan putri mereka. Meski begitu, pelukan mereka selalu terasa seperti rumah yang hangat.
Sementara Dion, em, mari kita anggap dia sebagai benteng kokoh yang mengitari pusat menara. Oh! Atau naga yang menjadi teman satu-satunya putri yang terkurung. Sejak aku sempat menghilang di taman bermain waktu kecil, ia tidak pernah benar-benar membiarkanku terlepas dari jangkauan matanya.
Oh, dan Pak T, kepala pelayan kami yang ramah. Pria paruh baya ini adalah saksi bisu setiap kali aku mencoba menari kecil di ruang tamu dengan mata tertutup. Ia selalu datang dengan nampan berisi camilan, tersenyum maklum seolah paham bahwa aku sedang berpesta di dalam kepalaku sendiri.
Setiap hari, aku duduk di dekat jendela dengan sebuah komik atau novel romantis di pangkuan. Aku sering membayangkan diriku adalah tokoh utama yang menunggu takdirnya tiba. Di dalam kepalaku, aku sering merancang skenario tentang seorang pangeran yang datang berkuda, mendaki menara ini, dan menjemputku untuk menjadikannya istri, hidup bahagia selamanya.
Sayangnya, hal seperti itu tidak akan pernah terjadi di dunia nyata. Pangeran berkuda yang menjemput, maksudku. Sama seperti Paman Santa yang rupanya adalah jelmaan Ayah dan Ibu (aku menangis dua malam berturut-turut saat tidak sengaja mengetahui hal ini). Semua imajinasi itu seolah tertinggal menjadi kabut seiring dengan semakin banyak tahun yang kulewati di kamar ini.
Apalagi, setelah aku menyelesaikan sekolah rumah, Ibu memutuskan untuk memasukkanku ke SMP umum. Semakin parah saja keretakan yang terjadi di kepalaku.
Dion lebih dulu berada di bangku SMP saat aku masih kecil. Tubuhnya mulai tumbuh menjulang, menciptakan bayangan panjang yang sering kali menutupi tubuh mungilku saat kami berdiri berdampingan.
“Kalau kau tidak juga berhasil menangkapku dalam hitungan ketiga, novel barumu akan kusembunyikan di atas lemari!” serunya sambil menjulurkan lidah, lalu melesat lari ke halaman depan.
“Kak Dion curang! Itu tidak adil!” teriakku sambil berusaha mengejarnya dengan langkah-langkah kecilku yang payah.
Aku tahu, secara logika, tidak mungkin aku bisa mengejar laki-laki yang kakinya dua kali lebih panjang dariku. Namun, keajaiban selalu terjadi di taman itu.
Dion akan berlari memutar, sesekali berpura-pura tersandung akar pohon, atau sengaja melambat untuk membetulkan tali sepatunya yang sebenarnya tidak terlepas. Ia selalu menoleh ke belakang, memastikan jarak kami tidak terlalu jauh agar aku tidak patah semangat.
“Sedikit lagi, Bung! Masa pangerannya mau dibiarkan kabur?!”
Aku mengerahkan seluruh tenagaku hingga napasku menderu. Begitu kami hanya berjarak satu lengan, aku segera mengangkat pistol air plastik berwarna merah muda yang sudah kusiapkan sejak tadi.
Air mengenai punggung kaus oblongnya. Dion terlihat berpura-pura kaget, lalu mengangkat kedua tangan ke udara seolah sedang menyerah pada musuh yang paling tangguh.
“Oke, oke! Aku menyerah! Sang Putri menang!” ucapnya sambil terengah-engah, wajahnya memerah karena tertawa.
Aku berdiri di depannya, terengah-engah dengan senyum kemenangan yang tak bisa kusembunyikan. Aku tahu betul Dion mengalah. Aku tahu dia sengaja mengecilkan langkahnya agar aku bisa meraihnya. Karena aku menyukainya, aku tidak pernah keberatan. Dion tidak hanya memberiku kemenangan dalam permainan, ia memberiku rasa percaya diri bahwa aku bisa mencapai sesuatu.
Aku tidak pernah marah pada kakakku jika ia menjadi terlalu protektif, bahkan saat ia melarangku melakukan hal-hal sederhana yang dilakukan remaja lain. Sebab, di balik setiap peringatan dan genggaman tangannya yang erat, aku tahu ada sebuah luka yang selalu ia usahakan agar tidak terbuka kembali.
Kejadian itu sudah lama berlalu, saat aku baru berusia lima tahun dan Dion baru saja mulai mengenal dunia di luar rumah. Waktu itu, kami sedang berada di taman bermain yang sangat luas.
Dion, yang saat itu sedang merajuk dan kesal pada Ayah dan Ibu, merasa terbebani karena harus menjagaku yang hanya bisa mengekor dengan langkah-langkah kecil. Ia lebih ingin bergabung dengan teman-temannya, berlari bebas tanpa harus menoleh ke belakang untuk memastikan adiknya tidak tertinggal.
Lalu, dalam satu detik kecerobohan, ia melepaskan tanganku.
Dunia yang luas itu menelanku seketika. Dion bercerita bertahun-tahun kemudian bahwa jantungnya seolah berhenti berdetak saat ia menoleh dan hanya menemukan udara kosong di sampingnya.
Ia mencariku seperti orang kesurupan, meneriakkan namaku di antara kerumunan orang asing yang menjulang tinggi, menyadari dengan hancur bahwa kemarahannya pada orang tua kami tidak ada artinya dibanding ketakutan akan kehilangan diriku.
Saat itu, baginya, aku bukan lagi sekadar adik kecil yang merepotkan. Aku adalah separuh jiwanya yang hilang.
Ketika ia akhirnya menemukanku di dekat penjual gulali—setelah hampir satu jam pencarian yang terasa seperti selamanya—ia menemukanku dalam keadaan yang tidak ia duga. Aku tidak menangis. Aku tidak ketakutan. Aku hanya berdiri di sana dengan rambut sedikit berantakan, menyengir lebar ke arahnya yang sudah pucat pasi.
Dengan tangan mungilku, aku menyodorkan sebatang kembang gula merah muda yang baru saja kubeli dengan uang logam di saku gaunku.
“Kakak mau? Ini enak,” ucapku saat itu.
Detik itu juga, Dion jatuh berlutut, memelukku begitu erat seolah aku bisa menguap kapan saja. Sepanjang perjalanan pulang di dalam mobil, ia tidak berhenti menangis. Ia memangkuku, menyembunyikan wajahnya di bahuku yang kecil, sambil terus bergumam meminta maaf di sela isakannya.
Malam itu, aku belajar dua hal. Pertama, rasa manis kembang gula bisa membuat orang menangis. Kedua, aku menjelma menjadi harta paling berharga Dion yang bahkan akan ia jaga meski harus mempertaruhkan nyawanya sendiri.
Itulah mengapa, setiap kali ia berdiri menghalangi jalan keluar atau menatapku dengan cemas saat Ibu mulai merencanakan sekolah umum ini, aku hanya tersenyum. Aku tahu, di matanya aku akan selalu menjadi gadis kecil dengan kembang gula.
Denting sendok dan garpu yang beradu dengan piring porselen menjadi satu-satunya melodi di ruang makan malam ini. Meja makan berisi menu favoritku, Hamburg steik.
Ayah meletakkan serbetnya, lalu menatapku dengan binar bangga di balik kacamatanya. “Besok hari besar, Bunga. Bagaimana perasaanmu menyambut hari pertama di sekolah umum?”
Aku terdiam sejenak, menatap bayangan lilin yang menari di permukaan air minumku. Di dalam kepalaku, imajinasi tentang ruang kelas yang bising, lorong-lorong asing, dan ratusan mata yang menatap ke arahku mulai bermunculan seperti adegan film horor.
Aku menarik napas panjang, membiarkan oksigen memenuhi paru-paruku yang mendadak sempit. “Bagaimanapun, Bunga harus siap, kan, Yah?” jawabku pelan, mencoba memberinya senyum paling meyakinkan yang kupunya.
Ayah mengangguk puas. Sebagai ilmuwan, ia selalu percaya bahwa setiap tantangan adalah eksperimen yang harus dihadapi dengan keberanian. “Ayah bangga padamu. Keluar dari zona nyaman adalah langkah pertama menuju kedewasaan.”
Di sebelahku, Dion tidak berkata apa-apa, meski aku merasakan tangannya yang besar menepuk pundakku dua kali—sebuah kode rahasia yang berarti ‘Aku ada di sini kalau kau butuh pelarian’. Sementara Ibu, dengan tatapan lembutnya, mengulurkan tangan untuk membelai puncak kepalaku.
“Kau akan baik-baik saja, Bunga. Bunga yang cantik akan selalu menemukan cara untuk mekar di mana pun ia ditanam,” ucapnya dengan senyum menenangkan.
Aku membalas senyum mereka satu per satu. Aku mencintai mereka. Aku sangat menghargai dukungan ini.
Besok, aku akan menjadi Alyssa Bunga Herlambang, gadis yang sama sekali tidak tahu cara memulai pembicaraan, yang harus bertahan hidup di tengah badai dunia nyata. Menurutmu, apakah aku bisa berhasil melewatinya?