Dingin. Rintik. Air.
Suara air yang menetes dari awan mulai membasahi seluruh permukaan tanah. Aroma tanah basah perlahan menguar ke udara, menciptakan bau yang khas setelah hujan turun. Petrichor—orang menyebutnya begitu.
Angin berembus pelan, menggoyangkan setiap dedaunan yang dilaluinya. Butir-butir air menetes dari ujung daun, perlahan jatuh ke tanah. Suara tetesnya nyaris tak terdengar karena dikalahkan oleh rintik-rintik hujan yang semakin deras.
Jalanan mulai mengilap, memantulkan cahaya samar dari langit yang mendung. Suasana terasa hening, seolah hiruk pikuk kehidupan di desa ini berhenti sejenak akibat turunnya hujan.
Kupandangi kabut yang menutupi seluruh pegunungan di depan sana, menghalangi pemandangan indah yang setiap hari kulihat. Udara semakin dingin, aku menarik jaketku agar tetap hangat. Meski kutahu, dingin tetap menusuk tulang-tulangku.
Kuhela napas, lalu mengembuskannya pelan ke udara seraya menggosokkan kedua telapak tangan untuk memberikan kehangatan.
Di waktu bersamaan, seorang pria berbadan tinggi dan bertopi baseball datang menepi. Dia berdiri di sampingku, membersihkan bajunya yang sempat terkena air hujan.
Diam-diam aku meliriknya. Dia melepaskan topi itu, lalu mengacak-acak rambutnya yang berwarna hitam. Tak lupa menyugarnya dengan tangan kiri. Terdengar embusan napas halus dari pria itu.
Hal yang menarik perhatianku bukanlah cara dia melakukan gerakan kecil itu, tapi tato yang melintang di lengan kirinya. Membentang dari sisi luar ke sisi dalam. Jika kulihat-lihat, mungkin gambar suatu peta? Atau pola tak tertentu?
T-tunggu! Dia bertato? Mungkinkah dia seorang yakuza?
Astaga! Aku berada di sisi orang berbahaya. Aku menggeser kakiku—dua langkah—agar menjauh darinya. Aku tidak mau terlibat masalah apa pun dengannya.
Sayang sekali, aku tak bisa pergi karena hujan masih mengguyur kawasan ini. Ditambah aku lupa membawa payung—itulah alasan kenapa aku berada di sini.
“Ehm ... maaf.”
Aku tersentak saat dia mengajakku bicara. Suaranya berat, serak dan terdengar berbeda. Dia beraksen aneh, entah apa itu. Aku rasa dia bukan orang Jepang.
“Aku boleh pinjam ponselmu? Punyaku kehabisan baterai dan aku perlu menelepon seseorang.”
Untuk beberapa saat aku terdiam, bingung harus merespons seperti apa. Haruskah kupinjamkan ponselku padanya? Haruskah aku tidak memedulikan dia?
Kalau aku tak menanggapinya, aku khawatir dia akan melakukan sesuatu kepadaku. Mengingat dia bertato, yang kemungkinan dia seorang yakuza. Di sisi lain, aku ingin meminjamkannya, tapi aku ragu.
Sial! Benakku hanya diisi oleh pikiran buruk.
“Permisi!” katanya lagi, seraya melambaikan tangannya di depan wajahku.
Aku terkejut dengan perlakuannya itu. Dengan ragu, aku menoleh. “A-aku tak punya ponsel. Ma—“
Tring!
SIAL! PONSEL SIALAN! Kenapa berbunyi saat aku berniat membohonginya? Aku cengengesan padanya, lalu berbalik membelakangi. Kukeluarkan benda bodoh ini dan melihat siapa yang menggangguku.
Ternyata kakakku, Aragaki Haise.
Itulah nama yang tertera di sana. Kakak bodohku ini menelepon di saat yang tidak tepat. Dengan cepat, aku menerima panggilan itu, lalu menjauhi pria tadi.
“Hai, Ochibi. Apa kabaaaarrr?” Suara melengking di seberang sana memekakkan telingaku. Kalau saja benda ini tidak menjadi satu-satunya alat komunikasiku, mungkin sudah kubanting ke tanah. Kesal karena mendengar suara yang tak ingin kudengar.
“Halo?! Ada orang?” Dia memanggil lagi saat aku tak merespons apa-apa.
Dengan nada ketus, aku membalas, “Apa?!”
Suara tawa yang menggelikan terdengar. Aku sampai menjauhkan benda itu dari telingaku. Dia tertawa seperti orang gila.
“Hahaha suaramu begitu lembut, Ochibi.”
Sepertinya dia harus ke THT. Ada masalah dengan pendengarannya.
“Apa maumu?”
“Kau tahu sekarang hari apa?” tanya kakakku. “Ya, hari spesial.”
Dia bertanya dan dia sendiri yang menjawabnya. Aku hanya berdeham tak peduli.
“Loh?! Kenapa responsmu seperti itu? Kau tak mau bertanya apa yang spesial?”
“Apa?” Dengan malas kuikuti keinginannya.
“Hari ini aku ....” Dia menjeda ucapannya. “PULANG KE KANAZAWAAA.”
Aku menjauhkan ponsel lagi mendengar teriakannya yang sangat mengganggu telingaku. Aku juga memutar kedua bola mataku dengan malas. Jujur saja, aku tahu dia akan pulang hari ini. Apalagi sudah mendekati liburan musim panas.
“Oh ya? Yeeey senangnya.” Aku berkata begitu dengan nada datar.
Kakakku di seberang sana mengoceh, mengomeli aku yang merespons tidak sesuai harapannya. Aku—
“AARRGGHH!”
Aku melempar ponselku hingga terjatuh saat wajah pria bertato itu muncul dari sisi kananku. Tentu saja aku terperanjat dan secara spontan tubuhku mundur selangkah.
Jantungku berdegup kencang. Tubuh juga gemetaran akibat terkejut. Tak menyangka pria itu berada di sisiku dengan jarak yang cukup dekat. Bahkan aku bisa merasakan hangatnya napas dia yang mendarat di sekitar telingaku.
Aku bisa mencium aromanya yang wangi. Entah dia memakai parfum seperti apa, aku rasa aku menyukai aroma ini.
Kulihat dia berjongkok, mengambil ponselku yang tergeletak di tanah. Dia bangkit, lalu memberikan benda itu padaku.
Aku agak terkejut saat melihat wajahnya yang sangat asing. Sudah kuduga dia bukan orang Jepang, terlihat dari matanya yang berwarna hijau. Hidungnya mancung, memiliki rahang yang tegas dan berjambang tipis. Entah dia berasal dari mana, mungkin Amerika.
Kulihat dia menempelkan telunjuk kirinya di bibir, pertanda bahwa aku tidak boleh memberi tahu apa yang terjadi.
“OCHIBI!” Aku terperanjat mendengar teriakan kakak di telepon. Aku langsung mendekatkan ponselku.
“K-kenapa?” Sial! Aku malah gugup sendiri.
“Apa yang terjadi? Aku mendengar suara gedebuk dan teriakan.”
“Bukan apa-apa. Sudah dulu, ya.”
Aku mematikan benda itu, lalu membuang napas beratku. Kakak sialan! Kalau saja dia tak menelepon, pasti kejadian ini tak akan terjadi.
“Boleh aku pinjam ponselmu sekarang?”
Aku menegang mendengar suara serak dan berat itu dari arah sampingku. Dengan perlahan, aku menoleh padanya. Aku cengengesan lagi. Dia hanya membalas dengan senyuman tipis.
Sepertinya aku tak bisa menolak setelah dia membantuku mengambil ponsel itu—ya walaupun dialah penyebab benda ini terjatuh—dari tanah. Dengan ragu, kuserahkan padanya. Dia berterima kasih, lalu memainkan ponselku selama beberapa saat. Sampai akhirnya, dia menelepon seseorang.
Pria itu menjauh dariku, dia menghadap ke arah hujan yang masih mengguyur tempat ini. Dia berbicara menggunakan bahasa yang tidak kumengerti. Namun, saat bicara denganku tadi, dia memakai Bahasa Jepang dengan baik. Walau sedikit terdengar aneh.
Beberapa menit kemudian, dia mengakhiri telepon. Dia kembali menghadap ke arahku, lalu memberikan ponselku. “Terima kasih,” katanya.
Aku hanya mengangguk seraya menerima benda itu. Karena canggung, aku memilih menjauh lagi. Entah sudah berapa kali aku menghindarinya. Jujur saja, aku merasa tak nyaman dekat dengannya.
“Namamu siapa?” Tiba-tiba saja dia mengajukan pertanyaan yang mengejutkan.
Aku meliriknya. “A-aragaki Rukaze.”
Pria itu menaikkan sebelah alisnya. Entah apa maksudnya, aku tak paham. Pasti dia merasa aneh dengan namaku.
Ya, namaku sangat jarang—bahkan mungkin tidak pernah—untuk nama Jepang pada umumnya. Orang tuaku bilang kalau mereka ingin anaknya memiliki nama yang unik. Terciptalah kata Rukaze. Entah apa artinya, akan kutanyakan kepada mereka nanti.
“Menarik,” balasnya. “Aku Kirill Zorinov.”
Aku mengernyit saat mendengar namanya yang sulit untuk kuucapkan. Jelas, itu nama asing. Nama yang tak pernah kudengar di penjuru Jepang.
“Bisa kau ulangi?” tanyaku, ragu.
“Menarik.”
Aku menggeleng pelan. Ternyata dia polos juga. “Maksudku, namamu.”
“Kirill Zorinov.”
Aku terdiam. Lidahku rasanya aneh saat menyebut namanya. “K-kiriru?”
Pria itu mengernyit. “Kirill, bukan Kiriru.”
Aku memang tak bisa menyebut namanya seperti itu. Dalam bahasaku, tidak ada bunyi L seperti bahasa asing. Lidahku terbiasa menggantinya dengan R dan setiap kata asing, pasti berakhir dengan vokal. Makanya, nama itu berubah setelah kuucapkan.
Seketika dia menyipitkan matanya. “Oh! Orang Jepang tidak bisa menyebut namaku,” gumamnya, yang terdengar olehku. “Baiklah. Panggil aku Kiriru.”
Aku mengangguk pelan. Ketika aku hendak membalas, sebuah mobil mewah berhenti di dekat kami. Tak lama, seorang pria berjas hitam turun dari kendaraan itu, lalu membuka pintu belakang.
Dia berkata, “Silakan masuk, Tuan Kirill!”
Bersambung.