“Aku sudah bilang, Risa! Ini bukan sepenuhnya salahku! Ada pengkhianatan di dalam, mereka menjebakku!”
“Pengkhianatan?” Risa mendengkus, tawa dinginnya menusuk telinga Ardan. Ia memeluk tas tangan Hermesnya erat-erat, seolah takut terkontaminasi oleh aura kegagalan suaminya.
“Ardan, sudah berapa kali kau menggunakan kata itu? Tiga kali? Empat kali? Yang berubah hanya nama rekan bisnismu, tapi skenario akhirnya selalu sama, kehancuran total.”
Ardan terhuyung mundur, memegang dahinya yang berdenyut hebat. Cahaya lampu gantung kristal di atasnya terasa menusuk, memperjelas noda kegagalan yang melekat pada dirinya.
“Ini berbeda,” bisik Ardan, mencoba mencari sisa-sisa kewibawaannya.
“Ardan Corp itu bukan perusahaan kecil, Risa. Kita punya aset triliunan! Aku hanya butuh waktu enam bulan untuk restrukturisasi, aku bisa menyelamatkan setidaknya setengahnya. Daffa dan kau tidak akan kekurangan apa pun, aku janji.”
Risa menggeser dokumen perceraian yang sudah ditandatanganinya. Tindakannya setegas keputusan dewan direksi memecatnya.
“Daffa butuh lebih dari uangmu, Ardan. Daffa butuh ayah yang waras, yang tidak setiap malam meneriakkan nama bankir dan pengacara di dalam tidurnya.”
“Kau, pikir Daffa akan bahagia jika ibunya pergi meninggalkannya saat ayahnya sedang terpuruk?” Ardan mendekat, matanya memohon. Rasa takut kehilangan Risa, yang dulu hanyalah kegelisahan kecil, kini menjelma menjadi teror nyata.
“Aku tidak meninggalkanmu saat terpuruk, Ardan. Aku meninggalkanmu saat aku sadar bahwa kehancuranmu bukan lagi kecelakaan, tapi pola hidup. Aku meninggalkan ambisimu,” balas Risa, suaranya kini melunak, membawa beban penyesalan yang mendalam.
“Dulu, kau bilang kau membangun semua ini untuk keluarga, tapi, kapan terakhir kali kau makan malam bersamanya tanpa harus mengangkat telepon dari New York atau Shanghai?”
Pertanyaan itu menghantam Ardan telak. Ia tidak ingat. Mungkin setahun yang lalu? Dua tahun? Dalam pengejaran ambisi yang tak pernah terpuaskan, ia telah menukar waktu, kehangatan, dan cinta sejati dengan tumpukan angka digital yang kini lenyap tak berbekas.
“Aku sudah menandatangani perjanjian itu,” kata Risa, menunjuk kolom tanda tangan di dokumen.
“Aku hanya meminta hak asuh penuh atas Daffa, dan sebagian kecil aset yang tersisa, rumah kecil di Bogor, mobil, dan biaya hidup untuk Daffa. Aku tidak akan menyentuh utang-utangmu. Aku sudah lelah dengan kekayaanmu, Ardan.”
Kekayaan. Kata itu terasa begitu ironis. Ardan Wiratama, yang dulu dikenal sebagai ‘Raja Teknologi’ yang memimpin pasar dengan ArdanCorp, sebuah perusahaan yang ia bangun dari nol menjadi raksasa Asia dalam dua puluh tahun, kini bangkrut. Bukan hanya bangkrut secara finansial, tetapi juga bangkrut secara jiwa.
“Aku akan memberikannya." Ardan menyerah, bahunya merosot. Tidak ada gunanya berdebat. Risa sudah pergi jauh sebelum perceraian ini terjadi, jiwanya sudah lama meninggalkan rumah megah ini.
Risa bangkit berdiri, tubuhnya tegap dan elegan, meskipun matanya menyimpan kesedihan yang tak terucap. Ia berjalan menuju pintu utama, tempat Daffa, putra mereka yang berusia 12 tahun, menunggu dengan tatapan bingung dan koper kecil di sampingnya.
“Jaga dirimu, Ardan,” ucap Risa, tanpa menoleh. Itu adalah kata-kata perpisahan yang paling dingin yang pernah ia dengar.
Tidak ada dendam, tidak ada amarah yang tersisa,, hanya kelegaan karena telah membebaskan diri dari kapal karam.
Pintu utama tertutup dengan bunyi klik yang halus. Namun, bagi Ardan, suara itu seperti dentuman meriam yang menandai kekalahan total. Ia ditinggalkan. Sendirian. Di tengah kemegahan yang segera akan direnggut oleh bank dan juru sita.
Hujan di luar semakin deras. Ardan berjalan pelan menuju ruang kerjanya yang gelap. Aroma kayu mahal bercampur dengan bau kertas basah dan debu.
Di atas meja mahoni, tumpukan surat ancaman dari kreditur menari-nari dalam cahaya rembulan yang samar menembus celah gorden.
Ia menjatuhkan diri di kursi kulitnya yang besar. ArdanCorp, nama yang dulu ia ukir dengan keringat dan darah, kini hanyalah nama buruk dalam sejarah bursa saham.
Keserakahannya, keputusannya untuk mengambil risiko terlalu besar di proyek energi terbarukan yang ia pikir akan membuatnya menjadi ‘triliuner super’ dalam semalam, telah menghancurkan pondasi yang ia bangun selama puluhan tahun.
Ardan menutup matanya, membiarkan ingatan buruk membanjiri benaknya, wajah rekan bisnisnya, Bram, yang tersenyum sinis saat persidangan, jeritan putus asa para karyawannya saat kantor ditutup, dan yang paling menyakitkan, tatapan kecewa Ayahnya sebelum beliau meninggal tiga tahun lalu, memperingatkannya agar tidak terlalu tamak.
Tiba-tiba, Ardan merasakan sesuatu yang mengganjal di laci meja kerjanya yang paling dalam, yang jarang ia buka. Laci itu berisi benda-benda remeh dari masa lalunya, sebuah pena tua, kartu nama usang, dan di sudutnya, sebuah amplop kecokelatan yang tertutup debu.
Ia menarik amplop itu keluar. Jantungnya berdebar, bukan karena takut atau cemas, melainkan karena getaran nostalgia yang sudah lama mati. Amplop itu berisi beberapa foto polaroid buram dari masa SMA.
Foto pertama, Ardan, dengan rambut gondrong khas tahun 90-an, sedang tertawa lepas bersama Dimas, sahabatnya yang kini menjadi pesaing bisnisnya dan juga yang ia yakini ikut andil dalam kehancurannya.
Foto kedua. Sebuah panggung sederhana di aula sekolah. Di sana, seorang gadis berdiri. Citra Prameswari.
Wajahnya masih sejelas kristal di ingatan Ardan, meskipun foto itu sudah pudar. Citra, cinta pertamanya, gadis yang dulu ia tinggalkan begitu saja demi mengejar beasiswa dan ambisi bisnis di luar negeri.
Gadis yang ia yakini bisa memberinya kebahagiaan sejati, jika saja ia tidak dibutakan oleh kilauan uang.
Citra tidak pernah meminta Ardan menjadi kaya. Citra hanya meminta waktu dan kejujuran. Dua hal yang tidak pernah bisa ia berikan, bahkan ketika ia miskin. Ketika ia sukses, ia malah semakin pelit memberikannya.
“Citra ….” Nama itu lolos dari bibirnya, membawa rasa sakit yang lebih dalam daripada kerugian finansial triliunan rupiah. Citra adalah penyesalan terbesarnya, kegagalan cinta yang ia kubur di bawah tumpukan kesuksesan palsu.
Ia mengambil foto itu, mengusapnya perlahan dengan ibu jarinya. Senyum Citra di foto itu begitu murni, begitu tanpa cela, sebuah kontras menyakitkan dengan kekacauan hidup Ardan saat ini. Di bawah foto Citra, terselip selembar kertas lusuh.
Kertas itu adalah potongan halaman buku harian lamanya, yang ia tulis saat masih duduk di kelas tiga SMA. Di sana tertulis, dengan tulisan tangan remaja yang berantakan.
Aku tidak peduli dengan kekayaan. Aku hanya ingin membangun sesuatu yang berarti, dan menghabiskan waktu dengan Citra. Jika suatu hari nanti aku harus memilih, aku akan memilih kebahagiaan yang sederhana bersamanya.
Ardan tertawa getir. Tawa yang penuh keputusasaan. Betapa naifnya ia dulu. Betapa murninya. Ia telah melupakan sumpah itu, menginjak-injak janji itu, dan menukar kebahagiaan sederhana dengan kekuasaan beracun.
Kini, ia tidak punya kekuasaan, tidak punya Citra, tidak punya Risa, dan tidak punya Daffa. Ia benar-benar kembali ke nol, kali ini, ia adalah nol yang penuh utang dan penyesalan.
Amarah mendidih di dalam dirinya, sebuah campuran rasa benci terhadap dirinya sendiri dan dunia yang kejam.
Kenapa ia harus mengingat sumpah konyol ini sekarang? Kenapa kenangan tentang cinta sejati harus muncul saat ia berada di titik terendah?
Ardan mencengkeram kertas itu kuat-kuat. Ia merasa perlu menghancurkan bukti terakhir dari dirinya yang polos dan naif. Kertas itu, sumpah itu, adalah pengingat betapa jauhnya ia telah menyimpang dari jalannya sendiri.
Dengan raungan keputusasaan yang tertahan, Ardan menarik kedua sisi kertas itu dengan kekuatan penuh, ingin merobeknya menjadi serpihan tak berarti, sama seperti hidupnya yang kini telah hancur.
Suara hujan di luar semakin menjadi-jadi, menyamarkan bunyi tajam dan mematikan saat kertas robek di genggamannya.