


oleh Sinesan · 7 Bab
"Jika kamu lupa siapa dirimu … apakah surat ini cukup untuk mengingatkannya?" Satria, seorang pemuda yang hidup dalam kesunyian dan bayang-bayang masa lalu, di kota kecil. Setiap hari ia habiskan dengan menyalin surat-surat tua yang tak di ketahui pengirimnya—surat yang asing, tapi perlahan menggoreskan luka yang nyaris terlupakan. Setiap paragraf membawanya menelusuri jejak-jejak samar dari hidup yang pernah ia kenal—tentang cinta pertama, sahabat yang hilang, keluarga yang terlupa, dan janji-janji yang terkubur waktu. Apa yang Satria baca pada surat itu? Kenapa ada luka yang menggores hatinya? Kehilangan dan kerinduan apa yang tidak bisa ia ungkapkan?
“Kamu percaya nggak, kalau ada orang yang pergi bukan karena ingin, tapi karena sudah nggak tahu lagi harus tinggal untuk siapa?”
Suaranya terdengar menggema di dalam gerbong. Di gerbong kedua, nomor bangku 7C, seorang pria duduk dengan mata yang kosong tapi pikirannya riuh. Dia bukan pulang—melainkan pergi. Pergi meninggalkan semuanya. Meninggalkan kota yang pernah menyapanya dengan ramah, kota yang membesarkannya, kota yang dulu terasa seperti rumah. Tapi semuanya telah berubah.
Kota itu tidak lagi sama. Kota itu kehilangan orang-orang yang membuat maknanya bertahan.
Sepucuk surat terbuka di atas pangkuannya. Sebuah undangan. Ia tak sanggup membacanya sampai selesai. Sekali lagi, seseorang yang ia pikir bisa berjalan bersamanya, telah memilih arah yang berbeda. Ia menutupnya dengan satu helaan napas panjang. Ia mulai muak.
Dalam diam, pikiran melayang.
'Apa sebenarnya yang mereka cari? Apa yang aku cari?'
Sampai saat ini, pertanyaan itu belum ia pahami penjelasannya.
Kenapa ada orang-orang yang tampak dengan mudah mencapai sesuatu,
sementara dirinya terus menginginkan dalam pencarian yang hampa?
Apakah dia terlalu pemilih?
Atau memang tak ada yang ingin berjalan bersamanya?
Ia hanya membutuhkan waktu lebih lama, tapi tak ada yang bersedia menunggu.
Yang lebih menyakitkan: mereka yang pernah masuk ke dalam hidupnya, satu demi satu, mundur.
'Apakah memang tidak akan ada sampai kapan pun?'
Tapi ini bukan sekedar tentang cinta atau teman. Ini tentang sepanjang hidupnya—tentang bagaimana, sejak kecil hingga usianya kini menginjak tiga puluh, ia selalu menjadi seseorang yang ditinggalkan. Cita-cita yang belum selesai. Persimpangan yang tak pernah berakhir. Rasa lelah yang tidak memiliki pelabuhan.
Di seberangnya, seorang pria tua duduk dengan buku di tangan.
Sesekali melirik, lalu akhirnya bertanya, pelan, hampir seperti gumaman.
“Hai pemuda, apakah kamu sedang pergi bekerja?”
Satria mengangguk pelan. “Aku … sedang mencoba sesuatu yang baru.”
“Apa yang membuatmu pergi sejauh ini?”
Pertanyaan itu berhenti sebentar. Seperti kabut tipis yang belum mau bubar.
“Sebenarnya, aku tidak ingin pergi,” jawab Satria akhirnya.
“Tapi aku ingin tahu, bagaimana rasanya menjadi orang yang meninggalkan.”
Pria tua itu tersenyum samar. “Kamu ingin tahu kenapa orang-orang bisa melupakan tempat yang pernah membuat mereka bahagia?”
Satria tak menjawab. Tapi sorot matanya cukup menjelaskan.
"Pernahkah kamu merasa hidup berada di masa paling indah? Lalu masa itu lewat. Dan kamu berharap bisa diam di sana, tapi semua orang terus berjalan?"
“Tentu,” kata Satria pelan.
“Tapi kamu tahu,” lanjut pria tua itu, “setiap orang punya cara sendiri untuk bertahan. Ada yang berjalan karena mereka tahu ke mana harus pergi. Ada yang tinggal karena belum menemukan arah. Dan kadang, ada juga yang tidak berjalan bukan karena tak mau, tapi karena tidak tahu caranya.”
"Apakah kamu merasa seperti seseorang yang tersesat?”
“Aku tidak tersesat. Tapi aku merasa … ada sesuatu yang hilang. Seperti satu keping kecil yang membuat hidup ini tidak utuh.”
“Temukan itu. Tapi ingat, kamu tidak harus mencarinya dengan pergi jauh. Lihat dalam dirimu. Lihat kembali apa yang telah kamu lalui. Apa yang kamu abaikan dan mereka tidak. Apa yang kamu lepaskan, padahal seharusnya kamu pegang. Apakah kepingan itu benar-benar hilang, atau kamu hanya belum melihatnya dengan benar?”
________________________________________
Tiga tahun berlalu sejak percakapan itu.
Kini Satria duduk di depan jendela sebuah rumah tua di pinggiran kota kecil, kota yang dulu ia tinggalkan, dan kini kembali ia tempati. Pagi masih berat, kabut belum mau menguap dari jalanan. Dan ia masih diam, menatap kosong ke luar jendela.
Ia sudah berhenti berjalan. Tapi belum benar-benar pulang.
Tempat ini dulu terasa hangat. Setiap sudutnya pernah menyapanya: gerbang sekolah, lapangan bola, suara sepeda teman-teman. Tapi semua telah berubah. Bukan hanya bangunannya, tapi juga kenangannya.
Ia kira, kepulangan akan memperbaiki sesuatu.
Tapi yang ia temukan hanyalah bayangan dari apa yang pernah ada.
Ia kira, pengorbanannya akan memberinya makna.
Tapi yang ia rasakan hanyalah lelah yang tidak tahu kepada siapa harus pulang.
Pagi itu, pena di tangannya berhenti di tengah kalimat.
Bukan karena kehabisan kata. Tapi karena ia ragu, apakah yang ia tulis masih berasal dari kebenaran yang ia yakini.
Lalu, muncullah pertanyaan itu lagi:
‘Untuk siapa semua ini?’
Ia menunduk. Meja kayu tua tempatnya bekerja, meja yang dulu dipakai menyalin naskah dari orang-orang kota, tiba-tiba terasa mengandung sesuatu. Seolah ada yang memanggil dari dalamnya. Jemarinya bergerak sendiri, menyentuh bagian bawah rak, dan menemukan tumpukan kertas diikat benang pudar.
Ia duduk diam.
Tangannya menyentuh satu per satu kertas yang pernah ia abaikan.
Tumpukan itu bukan miliknya. Tapi entah bagaimana, setiap kalimat di dalamnya seperti menyimpan bagian dari dirinya sendiri.
Surat-surat itu berisi cerita tentang musim panen yang gagal, tentang anak-anak yang tumbuh dewasa, tentang cinta yang tak sampai, tentang kehilangan yang tak pernah bisa diucapkan di ruang terbuka. Di antara lembar-lembar itu, ada yang menyebut namanya.
Ada yang berterima kasih.
Ada yang menunggu.
Salah satu surat ditulis dengan tangan gemetar:
"Jika kamu membaca ini, berarti kamu kembali. Semoga belum terlambat untuk mengingat bahwa kami pun pernah menggantung harap pada seseorang sepertimu. Kamu, Satria sudah jadi bagian dari kami sejak lama, meski kamu memilih pergi."—S.A
Lalu, ia menunduk.
Untuk pertama kalinya sejak kembali, matanya basah bukan karena kehilangan, tapi karena baru tahu:
ia tidak pernah benar-benar dilupakan.
Hanya saja, ia sendiri yang terlalu jauh berjalan, berharap menemukan arti di luar, ketika sebagian jawabannya sudah lama menunggu di ruang yang kini berdebu.
Di luar, kabut belum pergi.
Tapi pagi akan datang.
Dan di dalam ruangan sempit itu, seseorang mulai membaca kembali kisah-kisah yang pernah ia abaikan untuk disalin, bukan karena kewajiban, tapi sebagai upaya memahami kembali.
Ia membaca perlahan, isinya bukan keluhan, bukan ratapan.
Melainkan kisah-kisah yang menunggu dibuka kembali.
Saat kabut di luar jendela mulai tersibak perlahan, Satria tahu: Yang berubah bukan hanya kota ini, tapi dirinya juga.
Mungkin, menulis ulang naskah-naskah lama bukan hanya pekerjaan, tapi juga jalan pulang.Untuk kenangan. Untuk orang-orang yang pernah ia tinggalkan, dan untuk dirinya sendiri.

Sinesan
3 Pengikut · 1 Novel