"Mas, kopinya sudah siap. Gula arennya cuma setengah
sendok kecil, sesuai pesanan," panggil Keisha. Suaranya terdengar ceria.
Dari arah kamar utama, Marcel melangkah keluar sambil
merapikan simpul dasi abu-abunya. Setelan kerjanya pas di badan, rapi, tanpa
kerutan sedikit pun. Ketika matanya menangkap sosok Keisha yang berdiri dengan
apron berwarna krem, sudut bibirnya terangkat tipis.
"Terima kasih, Sayang," kata Marcel lembut. Ia
mengecup kening Keisha sekilas sebelum menarik kursi kayu di depan meja makan.
Selama enam bulan terakhir, rutinitas ini adalah hidup yang
selalu Keisha impikan. Menjadi istri dari seorang Marcel merupakan sebuah
pencapaian yang membuat banyak orang di lingkaran pertemanannya merasa iri.
Orang-orang di luar sana, termasuk para pengikutnya di media
sosial, selalu menyebut mereka sebagai couple goals. Setiap foto kebersamaan
yang diunggah Keisha selalu panen pujian.
"Hari ini pulang jam berapa, Mas? Aku rencananya mau
coba masak salmon panggang saus lemon buat makan malam," tanya Keisha
sambil menduduki kursi di hadapan suaminya, menopang dagu dengan kedua tangan.
Marcel mengaduk kopinya perlahan, bunyi denting pelan beradu
dengan dinding cangkir. "Kemungkinan agak malam. Ada rapat anggaran
tahunan dengan jajaran direksi. Kamu tidak perlu menungguku kalau sudah terlalu
lapar."
"Ah, sayang sekali. Padahal aku sudah beli
bahan-bahannya di supermarket kemarin." Keisha mengerucutkan bibirnya.
Sebuah gestur manja yang sengaja dia pasang untuk memancing perhatian lebih.
"Maaf, ya. Nanti akhir pekan aku ganti. Kita cari
tempat liburan yang dekat," balas Marcel.
Keisha tersenyum puas. Marcel memang selalu tahu cara
meredam kekecewaan kecilnya. Namun, jauh di lubuk hatinya yang terdalam, Keisha
tahu ada satu area sensitif yang sampai saat ini belum berani dia sentuh
terlalu dalam.
Alasan di balik runtuhnya pernikahan Marcel sebelumnya.
Dari cerita desas-desus keluarga yang berhasil dia kumpulkan
secara sepotong-sepotong, pernikahan delapan tahun itu karam murni karena
tekanan besar orang tua Marcel yang menuntut kehadiran seorang penerus
keluarga. Aluna tidak bisa memberikan keturunan.
Sebagai anak sulung yang memikul beban ekspektasi besar,
Marcel akhirnya menyerah pada keadaan. Keisha hadir di waktu yang tepat.
Membawa harapan baru untuk memberikan apa yang tidak bisa diberikan oleh masa
lalu pria itu.
"Oh ya, Sayang." Marcel mendadak menghentikan
kunyahan rotinya. "Ponselku tertinggal di atas nakas sebelah tempat tidur.
Tolong ambilkan, ya? Aku harus memeriksa laporan sebelum berangkat."
"Siap, Bos!" Keisha bangkit, melepaskan apronnya
dan menaruhnya di sandaran kursi.
Ia berjalan menaiki tangga menuju kamar utama mereka yang
luas. Di atas nakas kayu di sisi tempat tidur, ponsel itu tergeletak.
Keisha meraihnya. Namun, tepat saat jemarinya menyentuh
permukaan layar, perangkat itu mendadak bergetar panjang. Layarnya menyala
terang, menampilkan sebuah notifikasi pop-up dari aplikasi layanan perbankan
digital yang digunakan suaminya.
Keisha awalnya berniat mengabaikannya. Ia tahu batasan
privasi. Namun, sepasang matanya tidak bisa dialihkan ketika membaca baris
angka dan nama yang tertera.
Aplikasi m-Banking: Transfer Berhasil ke Rekening ALUNA K.
sebesar Rp250.000.000,00. Catatan: Transfer Bulanan.
Dua ratus lima puluh juta rupiah?
Angka itu bukan nominal yang kecil untuk sebuah transaksi
sukarela. Yang paling memukul kesadarannya adalah nama sang penerima. Aluna.
Mantan istri yang seharusnya sudah keluar dari garis edar kehidupan mereka
sejak setengah tahun lalu.
Pikiran Keisha langsung berputar liar, membangun berbagai
skenario buruk yang menguras energi. Mengapa Marcel masih mengirimkan uang
sebanyak itu setiap bulan? Apakah Marcel belum sepenuhnya selesai dengan masa
lalunya?
Label "lelaki gagal move on" yang sesekali dia
lihat dituduhkan netizen kepada suaminya di kolom komentar mendadak terasa
nyata dan menusuk ulu hati. Keisha merasa udara di sekitarnya mendadak berubah
menjadi sangat menyesakkan.
Ia menarik napas dalam-dalam, mencoba menata ekspresi
wajahnya di depan cermin rias selama beberapa detik. Ia tidak boleh terlihat
panik atau menuduh tanpa bukti. Keharmonisan pagi ini tidak boleh hancur
berantakan di atas meja makan.
Dengan langkah yang diusahakan tetap anggun dan santai,
Keisha kembali turun ke lantai bawah. Marcel sedang menyeka sudut bibirnya
dengan tisu ketika Keisha meletakkan ponsel itu di samping piring suaminya.
"Ini ponselnya, Mas," kata Keisha.
"Terima kasih, Sayang." Marcel langsung mengambil
ponselnya, jarinya bergerak lincah membuka kunci layar untuk memeriksa berkas
pekerjaan. Wajahnya sama sekali tidak menunjukkan riak kepanikan atau rasa
bersalah.
Keisha kembali duduk di kursinya, memandangi mangkuk smoothie-nya
yang kini terasa hambar bahkan sebelum dia cicipi. Ia memutar-mutar sendok di
tangannya, menimbang-nimbang apakah dia harus membuka konfrontasi sekarang atau
menyimpannya sebagai duri di dalam hati.
"Mas," panggil Keisha pelan.
"Ya?" jawab Marcel tanpa mengalihkan pandangannya
dari layar ponsel.
Keisha berdeham kecil, mencoba membersihkan keraguan di
tenggorokannya. "Tadi ... pas aku ambil ponselmu di atas, ada notifikasi
m-banking yang masuk. Layarnya menyala."
Gerakan jari Marcel di atas layar ponsel mendadak berhenti.
Pria itu menurunkan ponselnya perlahan, meletakkannya kembali di atas meja,
lalu mengalihkan seluruh fokus tatapannya lurus ke arah sepasang mata Keisha.
"Kamu melihatnya?" tanya Marcel.
Keisha mengepalkan tangannya di bawah meja, mencoba mencari
kekuatan dari remasan jemarinya sendiri. "Iya. Aku nggak sengaja lihat
namanya. Nominalnya, cukup besar untuk ukuran transaksi yang terjadi setelah
kalian berpisah."
Suasana di meja makan yang tadinya hangat mendadak berubah
menjadi dingin. Keisha menuntut sebuah penjelasan logis. Sebuah kalimat
penenang yang bisa menghancurkan segala spekulasi buruk yang sejak tadi
menyiksa kepalanya.
Ia ingin Marcel mengatakan bahwa itu adalah urusan pembagian
harta gono-gini terakhir, atau urusan bisnis lama belum selesai. Apa saja, asal
bukan karena alasan perasaan. Namun, Marcel tidak tampak panik.
"Itu memang bukan yang pertama," kata Marcel
akhirnya, memecah keheningan yang mencekam.
"Maksudnya, kamu mengirimkannya setiap bulan? Untuk
apa, Mas? Hubungan kalian kan sudah selesai secara hukum," cecar Keisha,
volume suaranya mulai naik, menuntut kejelasan atas posisinya di rumah ini.
"Aku berhak tahu. Aku istrimu sekarang. Di luar sana,
orang-orang mulai bicara yang enggak-enggak tentang kita. Tentang kamu yang
belum bisa lepas dari dia. Sekarang aku malah lihat sendiri kalau kamu masih
menafkahinya?" lanjut Keisha.
Marcel menatap Keisha lama, memperhatikan setiap gurat
kecemasan dan kemarahan yang mulai membakar wajah istrinya. Dengan gerakan
perlahan, Marcel merapikan jasnya, bersiap untuk pergi karena jam dinding sudah
menunjukkan waktu keberangkatannya ke kantor.
"Jangan dengarkan apa kata orang di luar sana, dan
jangan membuat asumsimu sendiri," ucap Marcel datar, suaranya terdengar
mutlak. "Ini hanya transfer bulanan. Tidak ada sangkut pautnya dengan
hubungan kita."