


oleh Ny. Min · 15 Bab
Dalam dunia yang dilanda perang antara kekaisaran dan kerajaan utara, Evelyn De Laurent putri bangsawan dari Kekaisaran Solentia dipaksa menikah dengan Duke Kael Ragnar, panglima perang dari Kerajaan Nordwen. Pernikahan ini bukan atas dasar cinta, melainkan perjanjian damai yang rapuh antara dua negara yang telah bertarung selama puluhan tahun. Namun, bagi rakyat Nordwen, Evelyn adalah simbol musuh. Menyadari bahwa hidupnya berada di ujung tanduk, Evelyn bertekad untuk bertahan hidup dengan memenangkan hati suaminya dan rakyatnya. Tapi itu tidak mudah. Saat konspirasi mulai mengancam perjanjian damai, Evelyn harus memutuskan: apakah dia akan menjadi alat politik Kekaisaran atau berdiri di sisi suaminya?
Salju turun dengan lebat, menutupi jalanan berbatu yang membentang di antara menara-menara tinggi Kastil Ragnar. Angin musim dingin dari utara menusuk hingga ke tulang, membawa serta keheningan yang menggantung berat di udara. Di tengah aula megah yang diterangi nyala lilin, Evelyn De Laurent berdiri kaku di depan altar, jubah pengantinnya berkilauan seperti embun beku di bawah cahaya lampu kristal. Namun, tak ada sukacita di wajahnya. Tidak ada senyum kebahagiaan, hanya kesadaran getir bahwa hidupnya kini tak lebih dari sekadar bidak dalam permainan politik yang kejam.
Kael Ragnar berdiri di seberangnya, sosok tinggi dan tegap dengan sorot mata yang sedingin negeri yang ia pimpin. Tatapan pria itu menusuk, seolah hendak menembus setiap lapisan pertahanannya. Tidak ada kelembutan dalam dirinya, tidak ada kehangatan seorang pria yang menyambut istrinya di hari pernikahan. Hanya ada kewaspadaan dan ketidakpercayaan.
"Demi perdamaian." Suara imam menggema di aula yang dipenuhi oleh para bangsawan Nordwen, wajah mereka menampilkan berbagai ekspresi dari kebencian, kecurigaan, hingga ketidaksenangan yang tidak disembunyikan.
"Hari ini, kita menyaksikan penyatuan antara Evelyn De Laurent dari Kekaisaran Solentia dan Duke Kael Ragnar dari Nordwen. Semoga pernikahan ini menjadi awal dari era baru."
Era baru. Evelyn mengepalkan tangannya di balik lipatan jubahnya. Bagi banyak orang, ini mungkin awal dari kedamaian. Namun, baginya ini adalah awal dari perjuangan panjang untuk bertahan hidup. Dia tahu bahwa dirinya tidak diinginkan di sini. Rakyat Nordwen melihatnya sebagai musuh, seseorang yang mungkin akan mengkhianati mereka sewaktu-waktu. Dan pria yang kini menjadi suaminya, sama sekali tidak melihatnya sebagai pasangan, melainkan ancaman yang harus diawasi setiap saat.
Kael mendekatinya, jarinya yang besar dan kokoh menggenggam tangannya sekilas sebelum melepasnya kembali. Itu adalah sentuhan yang terasa seperti es, tak berperasaan dan tanpa makna. Tidak ada sumpah setia yang diucapkan dengan hangat, tidak ada tatapan yang mengisyaratkan harapan. Hanya sebuah kesepakatan politik yang dipaksakan oleh dua negara yang telah lelah berperang.
Evelyn menelan ludahnya, menatap lurus ke depan tanpa menunjukkan ketakutan. Dia telah dilatih untuk menghadapi intrik politik sejak kecil, tetapi tak ada yang mempersiapkannya untuk kehidupan di tanah asing yang penuh kebencian ini. Dia harus bertahan, entah dengan cara apa pun. Karena satu hal yang pasti tidak ada yang akan melindunginya di sini, termasuk pria yang kini telah sah menjadi suaminya.
Saat lonceng pernikahan berbunyi nyaring, menandakan berakhirnya upacara, Evelyn sadar bahwa hidupnya kini bukan lagi miliknya sendiri. Dan di mata semua orang yang hadir, terutama Kael Ragnar, dia bukanlah seorang pengantin melainkan tahanan di negeri yang memandangnya sebagai musuh.
***
Saat pesta usai, Kael dan Evelyn berjalan berdampingan di koridor panjang menuju kamar mereka. Hanya suara langkah mereka yang terdengar di antara gemuruh obor yang berkedip di dinding batu.
"Kau tidak perlu berpura-pura senang, Yang Mulia," kata Kael dingin, menghentikan langkahnya.
Evelyn menatapnya, matanya berkilauan di bawah cahaya api.
"Apakah aku terlihat senang, Duke Ragnar?"
Pria itu tidak menjawab, hanya menatapnya lama sebelum kembali melangkah. Evelyn menahan napasnya sejenak, sebelum mengikuti di belakangnya.
Setibanya di kamar yang telah disiapkan, Kael membuka pintu dan melangkah masuk tanpa ragu. Evelyn mengikutinya, mendapati ruangan itu luas dan mewah, namun tanpa kesan kehangatan. Hanya ranjang besar dengan sprei putih, perapian yang nyaris padam, dan jendela besar yang memperlihatkan pemandangan pegunungan berselimut salju.
"Aku tidak akan mengganggumu, jangan khawatir," kata Kael tanpa menoleh, suaranya rendah namun tajam.
"Ini hanya pernikahan di atas kertas. Aku tidak mengharapkan apa pun darimu."
Evelyn menghela napas. "Begitu pula denganku, Yang Mulia. Aku tidak meminta pernikahan ini."
Kael menoleh, sudut bibirnya sedikit terangkat dalam senyum penuh ironi. "Bagus. Maka kita sepakat."
Keheningan menyelimuti ruangan di antara mereka. Evelyn berjalan menuju jendela, memandang keluar pada malam yang pekat dan dingin. Hatinya terasa berat, seperti salju yang menumpuk di luar sana.
"Rakyatmu membenciku," katanya lirih.
"Aku bisa merasakannya sejak aku melangkah ke negeri ini."
Kael mendekat, berdiri di belakangnya.
"Dan mereka punya alasan untuk itu."
Evelyn menoleh dengan mata tajam.
"Aku tidak bersalah atas perang yang terjadi. Aku hanya seorang bidak dalam permainan ini, seperti dirimu."
Pria itu terdiam. Ada sesuatu di matanya yang sekilas tampak seperti pemahaman, tetapi segera menghilang, digantikan oleh keteguhan yang keras seperti batu.
"Tidurlah, Yang Mulia! Besok, kau akan memulai kehidupan barumu di Nordwen." Kael berbalik dan berjalan menuju pintu.
"Kael," panggil Evelyn, tanpa sadar menyebut namanya untuk pertama kali. Pria itu berhenti, tetapi tidak menoleh.
"Aku tidak meminta perlindungan darimu, tapi setidaknya, jangan biarkan mereka membunuhku dalam tidurku."
Kael menghela napas panjang, lalu melangkah keluar tanpa menjawab. Evelyn memejamkan matanya. Malam pertama sebagai Duchess Nordwen dimulai dalam kesunyian, di negeri yang tidak menginginkannya, dengan suami yang melihatnya sebagai ancaman. Namun, satu hal yang pasti dia tidak akan menyerah begitu saja.
***
Esok paginya, Evelyn terbangun oleh suara ketukan keras di pintu kamarnya. Udara dingin menyusup dari celah jendela yang terbuka sedikit, membuatnya merapatkan selimut. Dia menarik napas dalam sebelum bangkit dan berjalan menuju pintu. Begitu dibuka, seorang pelayan wanita berdiri di sana, ekspresinya tanpa emosi.
"Duke Ragnar meminta Anda bersiap. Upacara penyambutan akan dimulai dalam satu jam."
Evelyn mengangkat dagunya. "Upacara penyambutan?"
"Ya, Yang Mulia. Para bangsawan Nordwen ingin melihat wanita yang telah menjadi Duchess mereka." Mata Evelyn menyipit.
"Atau mereka ingin menilai apakah aku pantas berada di sini."
Pelayan itu tidak menjawab, hanya menunduk hormat sebelum pergi. Evelyn menutup pintu, lalu menoleh ke cermin. Bayangan dirinya menatap balik seorang wanita yang terpaksa memasuki kehidupan yang tidak dia inginkan, tetapi harus dijalani.
Dengan tenang, dia mulai bersiap. Karena hari ini, dia akan menghadapi dunia yang menginginkannya mati. Dan dia tidak tahu bahwa seseorang di antara mereka benar-benar menghendaki itu terjadi.
Evelyn berdiri di tengah aula besar Kastil Ragnar, dikelilingi para bangsawan yang menatapnya dengan tatapan tajam. Kael berdiri di sisinya, ekspresinya tetap tak terbaca.
"Para bangsawan Nordwen, perkenalkan istri dan Duchess kalian, Evelyn De Laurent.” Suara Kael menggema di aula.
Keheningan menyelimuti ruangan. Tidak ada tepuk tangan, tidak ada sambutan hangat. Hanya tatapan penuh penilaian dan kebencian yang mengarah padanya.
Seorang wanita tua dengan mata tajam melangkah mendekat. Ia mengenakan gaun gelap dan mahkota kecil yang menandakan statusnya sebagai salah satu bangsawan tertua di Nordwen.
"Kau mungkin Duchess sekarang, tetapi jangan berpikir kau akan dengan mudah mendapatkan kepercayaan kami.” Suaranya dingin.
Evelyn tersenyum tipis.
"Kepercayaan tidak diberikan, tetapi diperoleh. Aku tidak meminta kalian menerimaku begitu saja. Aku hanya meminta kesempatan untuk membuktikan bahwa aku pantas berada di sini."
Bisikan kembali terdengar di antara para bangsawan. Kael menatapnya sekilas, tampaknya terkejut dengan jawabannya. Seorang pria berjanggut lebat mencibir.
"Bicara mudah, tetapi tindakan akan membuktikan segalanya. Kami tidak ingin seorang mata-mata dari Kekaisaran di antara kami." Evelyn menatapnya dengan tenang.
"Dan aku tidak ingin dianggap sebagai pengkhianat hanya karena asal usulku."
Ketegangan meningkat. Kael akhirnya mengangkat tangannya, memberi isyarat agar semua orang diam.
"Cukup. Dia istriku, dan dia akan tinggal di sini. Siapa pun yang meragukannya, silahkan berbicara langsung padaku."
Meskipun kata-katanya terdengar seperti pembelaan, Evelyn bisa merasakan Kael tidak membelanya karena peduli, dia hanya menjaga ketertiban.
Saat semua orang mulai bubar, Kael berbisik padanya sebelum pergi.
"Jangan berharap aku akan melindungimu jika kau membuat kesalahan sekecil apa pun."
"Aku tidak butuh perlindunganmu, Duke Ragnar. Aku hanya butuh kesempatan."
Saat itu, untuk pertama kalinya, Kael tampak sedikit terguncang. Namun, dia tidak berkata apa-apa dan meninggalkan Evelyn yang kini berdiri sendirian di aula besar yang terasa begitu dingin dan asing.
***

Ny. Min
6 Pengikut · 1 Novel