


oleh Beautynerd · 9 Bab
Setelah kehilangan sang ibu, Jaa mulai mempertanyakan segala hal di sekitarnya. Segala hal begitu monoton dan pasti, begitu pula kebahagiaan. Tampak seperti peraturan mutlak yang tidak bisa ditawar. Jaa sungguh penasaran bagaimana cara dunianya berjalan. "Hasil tambang kali ini tidak mencukupi target, jadi jelaskan padaku sekarang penyebabnya." Kepala desa menurunkan pengumuman. "Jaa, kau diundang ke rumah Kepala desa untuk penjelasannya." Si juru bicara melanjutkan, menatap kosong pada Jaa. Tidak ada hal lain jika sudah dipanggil menghadap kepala desa kecuali tiga putusan. Diusir, mati atau diangkat menjadi pengikutnya. Apakah Jaa mampu menghadapi takdir pastinya?
Matahari senja yang bersinar kemerahan hampir tenggelam, menambah keelokan pemandangan Huitu yang pada dasarnya memang kemerahan. Sepanjang mata memandang, wilayah Huitu dikelilingi oleh pegunungan menakjubkan, es putih kebiruan yang nampak runcing menjulang tinggi seolah tembok sekat tak tertembus. Bertemu bukit-bukit batu indah bergradasi warna merah jingga cokelat dengan banyak gua tempat penduduk menambang mineral penyambung hidup.
Di ujung barat, sungai berair bening melingkar dari ujung pegunungan utara ke ujung pegunungan selatan mengalir tenang. Di atas sungai yang tampak kontras dengan penampakan Huitu itu, terbentang jembatan misterius—tidak pernah terlihat ujungnya—yang menyeberangi sungai dengan kabut abadi yang tak pernah hilang. Terbuat dari bebatuan bertumpuk dari dalam sungai dan tanpa ada pengaman untuk pegangan.
Penduduk Huitu tinggal di bagian tengah dari semua keindahan alam itu. Berupa padang pasir yang panas dan ganjil. Rumah rumah kotak dari tanah liat berjejer dan berpusat di ujung barat, pada rumah paling besar dengan dua kotak rumah tergabung jadi satu.
Senja Huitu selalu sama menakjubkan dengan senja-senja kemarin, membuat orang-orang terpana. Terlepas panasnya siang hari maupun dinginnya malam yang sangat kontras. Huitu selalu indah seperti satu tambah satu yang hasilnya dua.
Seperti senja Huitu yang selalu sama, alam Huitu akan memberi tanda pasti jika akan ada hal lumrah dalam kehidupan manusia; kelahiran maupun kematian.
Hari ini, sepasang gagak besar nan hitam legam tiba-tiba muncul dan terbang mengitari langit Huitu. Suara serak dan nyaringnya memekakkan telinga, pertanda seseorang akan meninggal. Begitu penduduk desa melihat burung itu terbang orang orang yang tengah menambang di gua bukit selatan, bergegas pulang.
Berjalan satu satu dipimpin oleh pemuda paling gesit meniti punggung bukit dan tanah keras untuk kemudian menjejak pasir panas.
Sebagian dari mereka yang merupakan pilihan, berjalan terus ke selatan. Berlawanan dengan mereka yang pulang ke utara. Mereka hendak mengambil kayu untuk persiapan pemakaman esok hari. Kayu itu tidak bisa ditemukan di gurun.
Sore menawan Huitu hampir selesai, sinar mentari kemerahan tinggal sepotong menjanjikan gelap malam yang akan segera tiba. Dalam sebuah rumah yang terletak di tengah pemukiman penduduk, nampak keadaan yang berbeda di sana.
Sudah menjadi rutinitas siang hari, sebagian besar penduduk yang menambang berangkat sejak pagi hingga sore hari dan sebagian kecil yang tinggal melakukan aktifitas mereka di luar rumah; menangkap hewan, mencari kayu atau lainnya. Rumah-rumah mereka dalam keadaan kosong dan tirai-tirai jendela dibiarkan terbuka.
Namun, rumah itu semua jendela dan pintunya tertutup rapat. Seolah menghalau kerasnya angin sore Huitu yang sedang di puncak musim kemarau. Angin yang berembus membawa pasir membentuk gelombang tipis, suaranya menderu deru.
Didalam rumah sederhana itu, nampak seorang anak laki-laki berambut hitam dengan manik mata kehijauan duduk bersimpuh di lantai beralaskan tikar anyaman tua. Di depannya diatas dipan kayu terbaring wanita usia empat puluh lima tetapi terlihat lebih tua dari usia aslinya.
Wanita itu sangat lemah dan kurus. Wajahnya sudah menunjukkan keriput, namun mata hijaunya yang persis sama dengan sang anak masih tampak bercahaya.
"Ibu ... aku takut." Desau Jaa pada sosok kurus ibunya yang tengah terbaring sakit di ranjang. Tangannya menggenggam erat jemari lemah sang ibu, berharap mendapatkan ketenangan dari sana. Suara gagak itu sungguh membuat dirinya gelisah dan ketakutan.
"Jaa, anakku ... " Suara napas terengah. Ibu Jaa terbatuk lalu meneguk air minum yang diberikan oleh Jaa, perlahan batuk-batuk itu mulai mereda dan bisa kembali berbicara, "hidup itu selalu berputar. Ada kelahiran, ada kematian. Ada siang, ada malam. Ada kemarin, ada esok. Dan lihatlah dirimu, ada gelisah ada tenang. Mungkin besok besok akan ada senang maupun sedih dalam hidupmu, kamu itu istimewa, Jaa. Yakinlah pada ibu." Wanita itu lantas tersenyum lembut.
"Ibu, apa rasanya sakit? batuk batuk itu seperti siksaan. Ya, kan?" tanya Jaa.
Dalam kegelisahan, dia tidak bisa memungkiri bahwa raut wajah ibunya menimbulkan pertanyaan dan rasa penasarannya tidak bisa dia sangkal atau tahan.
Ibunya tertawa kecil, sejenak mengamati wajah anak semata wayangnya penuh makna. Ah, mata itu sungguh indah. Memang miliknya juga berwarna hijau. Namun, mata anaknya lebih menarik dengan pancaran keingintahuan yang tinggi membuat mata itu tampak berbinar binar.
Dia yakin akan ada hal besar dari perjalanan hidup Jaa meskipun tidak bisa menyaksikannya secara langsung, kebahagiaan membanjiri hatinya.
Sebagai jawaban dari pertanyaan Jaa, dia hanya mengangguk. Berharap jawaban itu cukup, namun dia yakin Jaa menolak percaya. Begitulah anaknya, apapun dipertanyakan.
"Apakah sangat sakit? Aku harus apa ibu? Ingin minum lagi?"
Seperti dugaannya, Jaa langsung bertanya lagi. Dia tersenyum sambil mengangguk, mencoba membuat anaknya tenang.
Ah, putranya ini sangat perhatian. Bersyukur sekali dirinya diberi amanah seperti Jaa. Meski hatinya sakit karena harus pergi lebih dulu, namun harapnya semoga hidup Jaa selamat dan bahagia.
Ibu mana pun akan mendoakan kebaikan anaknya, begitu ucapan seseorang dalam mimpinya dulu. Dia sangat setuju dan percaya.
Jaa mengulurkan gelas dari kayu berisi air, setelah diterima dia kembali berdiri dan mengambil lagi kain yang bisa dipakai untuk selimut di lemari baju yang ada di kaki dipan. Sebuah kain polos berwarna biru, mungkin dulunya akan dibuat sorban oleh ibu karena masih begitu besar.
"Hati-hati itu berar," katanya melihat Jaa kesulitan mengeluarkan kain dari lemari, Jaa tampak mengangguk. Lentera minyak menampakkan siluet puteranya yang mulai remaja.
Sungguh hatinya makin berat, membuat sesak. Matanya memanas, namun segera ditahan. Dia tidak ingin Jaa melihat kesedihannya, momen terakhirnya ingin dia isi dengan kebahagiaan sederhana seperti tidur bersama.
Suara gagak kembali terdengar mengakhiri lamunannya yang panjang, lantas ibu Jaa beralih pandang. Atap tanah liat diatasnya melindungi dari sengatan panas matahari, jendela-jendela itu ditutupi oleh sang anak untuk menghindari pasir masuk meski setitik.
Dia tahu bahwa pasir mengganggu pernapasannya yang sudah renta. Lalu kain biru yang baru Jaa selimutkan di atas kain lain yang menyelimutinya. Dia kembali tersenyum.
Andai malam itu dia tidak bermimpi, maka hidupnya akan sama saja dengan semua orang orang di desa ini. Menua dan mati. Namun, mimpi itu seolah membangunkan kemanusiaan dalam dirinya dan melengkapi kekosongan yang selama ini dia rasakan.
Lalu, sebelum terlahir ke dunia ini, Jaa dalam kandungan selalu dia ceritakan kisah kisah yang sempat datang dalam mimpinya. Dengan harapan, jaa akan seperti dirinya hingga bisa merasakan nikmatnya hidup.
Napas sepenggal demi sepenggal seolah makin berat untuk dilakukan. Paru-paru berpenyakit itu memenuhi ruang-ruang untuk udara bekerja semestinya. Sakit tak terkatakan mulai datang dari ujung kaki, seolah kulitnya tengah dikelupas dalam keadaan sadar.
Jaa meletakkan kepala dalam lingkupan lengan ibunya, mulai mengantuk. Ini jam tidur. Semua orang akan tidur dan terlelap dalam buaian masing masing. Suara koak-koak gagak mulai menghilang perlahan, menyisakan sunyi yang dingin dan kering.
Langit malam bertabur bintang, hewan hewan nokturnal mulai bangun dan berburu. Seseorang telah menyelesaikan naskahnya di adegan hari itu.
"Dia sudah selesai, ya?"
Dalam hening malam, masih ada satu orang yang terjaga. menatap luasnya langit dan bentang alam Huitu.

Beautynerd
2 Pengikut · 1 Novel