“Bunga Aditama.”
Suara pembawa acara menggema di setiap sudut ruangan. Menyerukan namanya yang menjadi karyawan terbaik di tahun ini.
Dengan perasaan senang ia berjalan menuju panggung. Menerima plakat penghargaan.
Tepuk tangan riuh menghiasi ruangan, Bunga mengucapkan terima kasihnya dan sedikit memberi pidato, ia turun dengan membawa penghargaan di tangannya, ucapan selamat tak henti-hentinya Bunga dapati.
Namun benar kata pepatah semakin tinggi pohon maka akan kencang angin menerpanya. Vanesa dengan sengaja menghujatnya, dan mengatakan jika selama ini Bunga hanya mengandalkan fisiknya untuk memikat hati manager.
Padahal semua orang tau, Bunga bekerja dengan sepenuh hati mengabdikan diri dan selalu bekerja keras. Bunga tak pernah mendengarkan perkataan Vanesa.
Sudah jadi rahasia umum jika wanita itu begitu iri pada Bunga, karena di setiap kesempatan Vanesa selalu menjatuhkan Bunga.
Vanesa teman sekantor Bunga lebih tepatnya mereka satu devisi di kantor itu. Dia merasa tersaingi oleh Bunga bukan hanya karena parasnya yang rupawan. Kinerjanya pun sangat bagus, belum lagi sikapnya yang ramah, banyak orang mengagumi Bunga.
Itu membuatnya iri hati dan membenci Bunga. Dia juga tak menyia-nyiakan kesempatan untuk menjatuhkannya di acara penting hari ini.
Kali ini Bunga terfokus pada kebahagiaannya, wanita itu begitu senang karena impiannya telah terwujud. Dia selalu ingin bekerja di Moonstone Group perusaan induk yang berpusat di ibu kota, karena dia ingin menjadi wanita karir yang sukses.
Bunga pulang dengan hati yang sangat senang, tak lupa ia membawa buah tangan satu buah martabak spesial untuk dibawa pulang, memberitahukan pada ayah Ibunya.
“Mama, papa!” teriak Bunga saat sudah berada di depan pintu rumahnya. Hati Bunga begitu gembira, dia masuk kedalam rumah.
Saat dia berada di ruang tamu, ia melihat kedua orang tuanya begitu bahagia, raut wajah mereka begitu berseri-seri. Bunga bisa melihat itu dari ekspresi mereka.
Bunga mengerutkan keningnya, entah kenapa wajah bahagia orang tuanya begitu terpancar. Dia pun melihat ada seorang kakek tua, Bunga memperkirakan umur kakek itu sama seperti mendiang kakeknya.
“Nak, duduk sini sayang, papa ingin bicara padamu,” ucap ayah Bunga sambil menepuk tempat duduk di sampingnya.
Bunga mengikuti perintah ayahnya, ia melangkahkan kakinya lalu mendekati orang tuanya dan duduk tepat di sebelah ibunya
“Nak, kenalkan ini kakek Bram. Beliau teman dekat dari Almarhum kakekmu, beliau ke sini ingin menagih janji mendiang kakekmu, Nak,” ucap ayah Bunga menatap lekat pada manik Bunga sebelum ia meneruskan ucapannya.
‘menagih janji, janji apa yang papa maksud itu?" batin Bunga.
“Kakekmu bersahabat dengan kakek Bram, dan kakek Bram ini banyak membantu kakekmu dulu. Mereka pernah membuat kesepakatan bahwa, kelak jika mereka punya anak maka mereka akan menjodohkan anak mereka. Agar berbesan dan hubungan baik ini tidak akan putus. Namun, sayang anak kakek dan kakek Bram sama-sama Laki-laki.”
Satria menjeda ucapannya, dia ingin tahu reaksi anaknya itu. Namun, Bunga tetap diam saja tak memberi komentar, Satria pun melanjutkan kembali ucapannya.
“Kakekmu lantas berjanji jika cucu perempuannya yang akan menjadi menantu keluarga kami. Karena kakekmu merasa memiliki hutang budi pada keluarga itu, Nak,” ucap ayah Bunga menjelaskan padanya.
Bunga terdiam membisu mencoba mencerna ucapan papanya. Kabar yang baru saja dia dengar begitu mengejutkannya.
“Kakek, bolehkah aku memikirkan ini terlebih dahulu, ini sangat mendadak bagiku, Kek,” pinta Bunga, tentu dia meminta waktu pada Bram.
“Tiga hari, aku memberimu waktu tiga hari untuk memikirkan ini baik-baik, aku harap kau mau mengabulkan permintaa kakek tua renta ini, dan berbelas kasih padanya,” ucap Kakek Bram pada Bunga.
Tiba-tiba saja Tuan Bram memegangi dadanya, ia meringis kesakitan dan kemudian jatuh pingsan.
Ibu Bunga panik, ia segera meminta suaminya untuk membawa Kakek Bram ke rumah sakit. Bunga melihat itu lantas ikut merasa cemas, ia tak ingin terjadi apa-apa pada Kakek Bram.
Bunga masih ingat betul saat-saat ia kehilangan sang kakek, tanpa terasa air matanya menetes ia memegangi tangan Kakek Bram.
Mereka tiba di rumah sakit, dan langsung di tangani oleh dokter, mereka semua menunggu dengan cemas dan berdoa agar tidak terjadi apa-apa pada Kakek Bram.
Papa Bunga berjalan ke sana kemari, memikirkan kemungkinan yang ada, tak lama pintu ruangan terbuka mereka langsung menghampiri dokter.
“Bagaimana Dok keadaannya?” tanya Satria pada dokter tersebut.
“Beliau terkena serangan jantung, saya sarankan agar kalian tidak mengejutkannya dengan kabar yang tak baik. Karena bisa berakibat fatal nantinya, kalian boleh menjenguknya saat nanti pasien sudah di pindahkan ke ruang rawat.” Dokter itu menjelaskan, dokter itupun berlalu pergi di ikuti oleh suster dibelakangnya.
Kakek Bram sudah di pindahkan ke ruang rawat mereka pun berada di sana untuk melihat keadaannya, sebuah alat terpasang di badannya dan satu layar monitor memantau perkembangannya.
Kakek Bram membuka mata, lalu mulai berbicara, ia melepas alat bantu pernapasan yang ada di mulutnya, untuk memudahkan ia berbicara.
“Saya mohon, terimalah perjodohan ini. Saya takut usia saya tak lama lagi, jadi sebelum saya meninggal saya ingin melaksanakan janji persahabatanku dengan kakekmu,” ucap Bram pada mereka, ia menelisik satu persatu wajah yang ada dihadapannya.
Ayah dan ibu Bunga bungkam, mereka hanya bisa melihat kearah anaknya itu, Bunga merasa kasihan pada Kakek Bram, ia teringat akan mendiang sang kakek.
“Baiklah, Kek, aku akan menerima perjodohan ini,” ucap Bunga menerima perjodohan itu, ia tersenyum ke arah kakek dengan tulus.
Semua orang pun senang mendengarnya, Bram lantas mengucapkan terima kasih kepada Bunga karena sudah mau mengabulkan permintaannya.
Melihat papa, mama, dan kakek Bram tersenyum bahagia Bunga pun ikut merasa senang walau hatinya berkata lain.
Bunga lantas keluar dari ruangan sang kakek, ia limbung tak tahu harus berbuat apa, ia masih ingin meneruskan impian dan cita-citanya. Namun, Bunga tak ingin mengecewakan almarhum kakeknya jika ia mengabaikan wasiat itu.
Bunga lantas pergi dari rumah sakit, di satu sisi Alvaro datang setelah di beritahu jika kakeknya masuk rumah sakit, ia buru-buru datang dan meninggalkan pekerjaannya itu.
Sesampainya di rumah sakit ia lantas menanyakan di mana ruangan sang kakek ia bergegas masuk keruangan Bram di rawat.
“Kakek, kenapa bisa sampai seperti ini, pagi tadi kakek baik-baik saja?” tanya Alvaro pada kakeknya.
Raut wajah khawatir begitu kelihatan sekali di wajahnya, ia mencemaskan keadaan sang kakek.
“Tidak apa-apa, kakek baik-baik saja, kau jangan terlalu mengkhawatirkan kakek,” ucap Bram pada cucunya.
“Kenalkan, ini Pak Satria dan istrinya Nyonya Aditama, mereka calon mertuamu.” Kakek Bram memperkenal Satria dan Istrinya.
Alvaro langsung menoleh kearah mereka, lalu berjalan mendekat dan menjabat tangan Pak Satria serta istrinya sambil tersenyum.
Satria dan Joana pun membalas senyum calon menantunya, suami dari anaknya kelak.
Alvaro lantas duduk di kursi sambil terus menatap sang kakek. Kakeknya hanya tersenyum saja ditatap oleh cucunya.
Sebenarnya Alvaro ingin menanyakan apa maksud dari kakek memperkenalkan kedua orang itu padanya dengan sebutan mertua.
Alvaro enggan berbicara karena mereka masih di ruangan itu, Pak Satria pun lantas berpamitan pada Bram dan Alvaro karena hari sudah mulai gelap.
Setelah mengantar mereka sampai depan Alvaro segera menghampiri sang kakek dan bertanya kepadanya.
“Kakek, apa maksud dari semua ini, kenapa mengenalkan mereka sebagai mertua Alvar, Kek?”
“Bukankah kakek sudah pernah bilang bahwa kakek akan menjodohkanmu dengan cucu dari sahabat kakek?” Bram mengingatkan Alvaro akan pembicaraannya dua hari yang lalu.
Saat Alvaro baru pulang dari kantor Bram memanggil cucunya dan menyampaikan niatnya itu. Namun, dia tak mendapat jawaban dari Alvaro karena cucunya itu diam saja, maka kakek mengambil kesimpulan jika Alvaro tak keberatan akan perjodohan itu.
“Menikahlah dengannya, dia akan jadi istri yang baik untukmu. Kakek bisa jamin itu, dia gadis yang baik, kakek sudah melamarnya, jadi tak ada penolakan,” ucap Bram menatap tajam kearah cucunya.