

Najwa harus menuruti keinginan omanya untuk menikahi pria yang merupakan sopir pribadi keluarganya. Apakah pernikahan itu akan bertahan lama sampai mereka bahagia? Atau sebaliknya berakhir karena tanpa hadirnya cinta di antara mereka?
Di sebuah ruangan bernuansa putih, seorang gadis duduk di sofa, merasa jantungnya berdegup kencang saat mendengar permintaan sang Oma, wanita yang telah memberinya kasih sayang selama beberapa tahun yang lalu setelah kedua orangtuanya tiada sampai sekarang ia beranjak tumbuh dewasa menjadi gadis yang cantik. Gadis itu segera menyahut, lebih tepatnya memberontak kepada wanita di hadapannya.
"Apa? Oma mau menjodohkan aku sama sopir kita itu? Lelucon apa ini?" Najwa berkata lirih.
"Oma serius. Ini bukan lelucon seperti katamu."
"Oma jangan ngelantur deh. lagian siapa juga yang mau menikah dengan seorang sopir," kata-kata penolakan nan tegas keluar dari mulut gadis bernama Najwa Oktavia. Wajah cantiknya berubah merah padam, dan tangannya bergetar seakan tidak percaya dengan apa yang baru saja dia dengarkan.
Wanita yang memiliki sanggul rambut itu, terlihat begitu berwibawa menatap tajam ke arah cucunya, Najwa, matanya berkilat tanda keseriusannya. "Pokoknya kamu harus mau menikah dengannya. Jika kamu sayang sama oma, ingin melihat oma bahagia, menikahlah dengan Amran, pria pilihan oma sendiri!" Wanita yang senang dipanggil Oma Marina itu berucap dengan pelan, tapi menekan di ujung kalimatnya.
"Oma nggak berhak mengatur masa depanku. Aku nggak mau menikah di usia muda. Aku masih ingin kuliah mengejar cita-citaku."
"Apa salahnya menikah diusia muda? Mulai sekarang kamu harus putuskan pacar kamu itu, oma tidak mau mendengar lagi kamu masih memiliki hubungan dengan dia!" lanjutnya berucap tegas.
Najwa tidak terima jika omanya terlalu jauh ikut campur urusanya.
"Oma apa-apaan sih? Aku itu cinta sama Aksa. Oma tidak mengerti perasaan aku, maunya aku yang harus menuruti kemauan Oma. Aku nggak suka oma mencampuri urusan pribadiku." Mata Najwa berembun, betapa ia menolak perjodohan itu.
Wajah tua itu tidak goyah sama sekali ketika melihat cucu yang sangat ia sayangi membangkang pada dirinya. Oma Marina tetap dengan pendiriannya.
"Keputusan Oma tidak bisa diganggu gugat lagi. Kamu tidak boleh menolak permintaan Oma kali ini. Kamu harus pikir ini baik-baik jika tidak mau dikeluarkan dari ahli waris keluarga Heryawan." Oma Marina bersikeras supaya Najwa mau mengikuti kemauannya.
"Tidak bisa begitu dong, Oma. Aku ini anak kandung Papa juga. Oma tidak bisa mengambil keputusan sepihak." Najwa membantah.
"Oma akan bertindak. Kecuali kamu menyetujuinya." Oma Marina mengancam.
Najwa terdiam, ia merasa tidak tenang duduk di sofa yang empuk itu, seakan-akan bagaikan dihinggapi oleh banyaknya belatung yang menggelitik tempat duduknya. Napasnya menjadi terengah-engah, dan perasaan panik mulai menyelimuti pikirannya.
"Apa Oma tidak peduli dengan kebahagiaan aku? Apakah Oma hanya memikirkan diri sendiri?" Najwa bertanya dengan nada tinggi.
"Kamu akan bahagia bersama Amran, Najwa. Dia pria yang baik dan saleh. Oma lakukan ini semua demi kamu juga." Oma Marina menjawab dengan tenang.
"Tapi aku tidak mencintainya, Oma. Aku cinta sama Aksa, dan aku tidak akan meninggalkannya walaupun Oma memaksaku sekalipun," Najwa bersikeras.
Merasa tidak sanggup menahan perasaan bingung dan marah, Najwa bangkit dari duduknya dan berlari menuju kamarnya. Dia menutup pintu kamarnya dengan keras, lalu merosot duduk di lantai sambil menangis tersedu-sedu.
Sementara itu, Oma Marina masih duduk di ruang tamu, menatap kosong ke arah pintu yang baru saja ditutup oleh cucunya. Tanpa terasa, sedikit air embun membasahi sudut matanya.
"Kamu akan tahu sendiri, kenapa Oma bersikap tegas sama kamu, Najwa. Suatu saat kamu pasti akan mengerti juga," gumam Oma Marina. Tangannya gemetar, menunjukkan betapa berat keputusan yang baru saja dia sampaikan kepada gadis itu.
Dalam kegelapan malam, saat semua orang terlelap dalam tidurnya, Najwa masih terjaga, menatap langit-langit kamarnya sambil merenung.
Dia tahu bahwa omanya sangat sayang padanya, tetapi mengapa keputusan ini terasa begitu salah? Apakah dia harus menuruti keinginan wanita tua itu, demi kebahagiaan sang oma?
Ataukah dia harus melawan dan menentukan nasib hidupnya sendiri? Pertanyaan-pertanyaan itu menggantung di udara, tak ada jawaban yang pasti, dan waktu terus berjalan tanpa henti.
***
Matahari pagi bersinar terang, sinar keemasannya menyinari kampus yang mulai dipenuhi aktivitas para mahasiswa. Namun, di tengah suasana ceria itu, ada seorang gadis yang tampaknya tidak bisa menikmati keindahan pagi itu.
Najwa, gadis berwajah ayu tapi lesu dengan pandangan kosong, duduk termenung di sebuah bangku perkuliahannya.
"Pagi-pagi kok melamun?" sapa Amina, sahabatnya yang memiliki paras yang tak kalah cantik darinya, hanya saja memiliki tubuh yang sedikit berisi, dengan nada kekhawatiran dari wajahnya.
Ia duduk di sebelah Najwa, mencoba untuk mengajaknya bicara. Namun, Najwa masih terus muram dan tidak tertarik untuk menjawab pertanyaan sahabatnya.
Amina menghela napas, lalu berkata, "Ya sudah, aku tidak akan memaksa kamu untuk bercerita apa pun padaku. Kalau kamu butuh teman curhat, aku siap mendengar semua keluhanmu."
Amina menepuk-nepuk pundak sahabatnya dengan lembut, memberikan dukungan moral kepada sahabatnya yang sedang bersedih.
Najwa merasa terharu dengan kepedulian Amina, akan tetapi tetap tidak bisa mengungkapkan perasaannya. Wajahnya masih terlihat lesu, desakan dari omanya mengimpit dada gadis itu. Amina hanya bisa tersenyum simpul, menunjukkan bahwa ia akan selalu ada untuk dirinya, kapan pun ia membutuhkan teman curhat.
Siang itu, langit mulai mendung, dan angin berembus sepoi-sepoi di area kantin Universitas Indonesia. Najwa dan Amina duduk di salah satu sudut kantin, di hadapan mereka terdapat dua mangkuk mie bakso yang baru saja disajikan. Aroma bakso yang menggoda itu seharusnya membuat perut mereka keroncongan, tapi tampaknya bukan itu yang tengah terjadi.
Hujan mulai turun rintik-rintik, membasahi bumi dengan irama yang lembut. Tetesan air yang jatuh perlahan-lahan menciptakan suara yang menenangkan, tapi tidak demikian bagi Najwa. Gadis berambut panjang berponi itu duduk terdiam, matanya yang biasanya cerah kini terlihat kusam. Dahi yang berkerut dan alis yang bertaut menunjukkan tanda-tanda kekhawatiran yang mendalam.
Sendok yang tergenggam di tangannya bergerak monoton, mengaduk mie bakso di depannya dengan gerakan yang tidak bertujuan. Mie bakso yang terendam dalam kuah panas itu tetap tidak disentuh, seolah-olah tidak ada rasa lapar yang menghantui perutnya. Kuah bakso yang panas dan aroma yang menggoda tidak mampu menembus kekhawatiran yang menghimpit hatinya.
Najwa terus mengaduk mie bakso itu, gerakan sendok yang monoton menjadi satu-satunya tanda kehidupan dari gadis yang tengah diliputi rasa gundah. Hujan yang terus-menerus turun di luar jendela menjadi latar belakang yang pas untuk suasana hati Najwa yang gelap dan suram.
Di seberangnya, Amina yang berambut keriting, sedang menikmati mie bakso dengan lahap. Sesekali ia menoleh ke arah Najwa dengan raut wajah penuh kekhawatiran.
Ia ingin sekali menanyakan apa yang tengah menghantui pikiran sahabatnya itu. Namun, seketika ia urungkan niatnya. Amina takut jika pertanyaannya justru memancing amarah Najwa dan membuat suasana hati gadis itu semakin tidak nyaman.

Bunda Viviana
6 Pengikut · 2 Novel