


oleh Bilasyahrah · 13 Bab
Giselle Lynette mati dalam kehancuran total. Dikhianati adik kandungnya, kehilangan ibunya, dan dijebak oleh pria yang ia cintai. Namun, kematian bukanlah akhir. Ia terbangun di masa lalu, membawa memori kelam dan kecerdasan yang tajam. Kini, variabel hidupnya mulai bergeser secara misterius. Satu per satu musuhnya jatuh dalam rangkaian "kebetulan" yang mematikan, sementara sosok Nathaniel tetap menjadi anomali yang tak terduga. Di kehidupan kedua ini, apakah takdir sedang menulis ulang dirinya sendiri, atau ada tangan tak terlihat yang sedang menempa Giselle menjadi senjata paling mematikan? Permainan ini telah dimulai kembali.
We all broke rules for someone, and in the end they broke us too.
Pada akhirnya pengorbanan yang dilakukan seseorang tidak selamanya akan dibalas dengan cara yang sama.
Setiap hal yang kupikir akan membawaku ke kebahagiaan nyata pada akhirnya hanya menghancurkanku.
Ketika aku diberi pilihan, aku memilih mengubah jalan hidup pilihanku.
***
20 Juni 2011
Dunia tidak pernah memberikan tempat bagi mereka yang ragu-ragu. Giselle Lynette mempelajari hal itu di usia dua puluh tahun. Di koridor kampus yang cukup sepi karena sedang berada di hari-hari mendekati libur kebanyakan mahasiswa telah selesai dengan perkuliahan nya.
"Kau tahu apa masalahmu, Giselle?"
Suara itu milik Clarissa, senior tingkat akhir yang kecantikannya sebanding dengan kekejamannya. Di belakangnya, dua orang pengikutnya berdiri seperti pagar betis, menghalangi jalan Giselle menuju ruang seminar.
Giselle tidak menjawab. Ia menunduk, menatap retakan pada lantai marmer. Dia tidak tahu di mana letak salahnya. Sejak kapan menjadi sedikit lebih pintar adalah masalah?
"Masalahmu adalah kau pikir kecerdasanmu bisa melindungimu." Clarissa melangkah maju, aromanya yang tajam memenuhi ruang personal Giselle. "Kau pikir dengan mendapatkan nilai tertinggi di kelas, kau otomatis berada di atas kami? Di dunia nyata, Giselle, orang tidak melihat grafikmu. Mereka melihat siapa yang kau kenal. Saat ini, tidak ada yang mengenalmu."
Tiba-tiba, Clarissa merenggut paksa tumpukan dokumen dari tangan Giselle. Itu adalah proposal tesis yang dikerjakan Giselle selama tiga bulan tanpa tidur. Dengan gerakan yang santai, hampir malas, Clarissa menjatuhkan lembaran-lembaran itu ke lantai, tepat di atas genangan kopi yang tumpah dari tong sampah di dekat sana.
"Ups. Kurasa jam tidurmu yang berantakan akan sia-sia sekarang."
Tawa mereka pecah, menggema di koridor yang sepi. Giselle berlutut, mencoba menyelamatkan kertas-kertas yang mulai menyerap cairan cokelat pahit itu. Air matanya menggenang, tapi sekuat apa pun ia menolaknya untuk jatuh tetap saja pipinya basah. Ia merasa telanjang, terekspos, dan yang paling menyakitkan yaitu tidak berdaya.
Saat itulah, ia merasakannya. Sebuah tatapan.
Giselle mendongak sedikit. Di ujung koridor, duduk seorang pria di bangku kayu panjang. Ia mengenakan tudung jaket hitam, sebuah buku tebal terbuka di pangkuannya.
Nathaniel. Pria yang jarang bicara, yang selalu duduk di baris paling belakang, yang rumornya memiliki latar belakang keluarga yang kelam.
Mata mereka bertemu selama tiga detik.
Tidak ada belas kasihan di mata Nathaniel. Tidak ada pula ejekan. Hanya ada sebuah observasi datar, seolah ia sedang menonton sebuah fenomena alam yang sudah diprediksi.
Giselle menunduk malu, dia tidak bisa melawan. Setidaknya dia sadar bahwa ia masih bisa pergi menge-print kembali berkas-berkasnya.
Nathaniel menutup bukunya, berdiri, dan berjalan pergi tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Ia tidak membantu. Ia hanya menyaksikan keruntuhan Giselle seolah itu adalah bagian dari algoritma yang tak terelakkan.
Giselle meremas kertasnya yang basah. Di detik itu, di atas lantai koridor yang dingin, sebuah pemikiran lahir di kepalanya seperti duri yang tajam: Aku tidak akan pernah lagi membiarkan orang lain memegang kendali atas diriku.
Giselle menatap punggung pria yang menjauh itu.
23 Maret 2013
Waktu berlalu dalam sekejap mata bagi orang yang terlalu sibuk untuk menikmatinya. Giselle, kini 22 tahun, duduk di sebuah kafe di sudut kota. Meja di depannya dipenuhi tumpukan pekerjaan yang sengaja ia bawa di hari libur. Ia telah berubah; kacamata tebalnya hilang, digantikan oleh tatapan mata yang tajam dan waspada.
Seorang pria tiba-tiba berdiri di depan mejanya, memecah fokusnya.
"Eh, maaf, kursi lain penuh. Boleh saya duduk di sini?" ucapnya agak canggung.
Giselle menilai pria itu dalam hitungan detik. Berpakaian rapi, jam tangan mahal meski tidak mencolok, gestur yang sopan. Bukan tipe pembuat masalah, pikirnya.
"Silakan, tidak masalah," jawab Giselle dengan senyum tipis yang terlatih.
Pria itu mengulurkan tangan. "Marco Wijaya."
Giselle menyambut uluran tangannya, memutuskan bahwa menambah relasi bukanlah hal buruk. "Giselle Lynette."
Saat mereka mulai terlibat percakapan ringan, sebuah notifikasi muncul di layar laptop Giselle. Ia tertegun sejenak. Sebuah berita utama di portal berita lokal.
Kematian Tragis Clarissa Aditama: Dugaan Keracunan Kopi oleh Sahabat Sendiri.
Giselle terdiam. Di balik wajahnya yang tenang, ia merasakan sesuatu yang asing dan nikmat. Seperti sebuah batu besar yang selama bertahun-tahun menindih dadanya tiba-tiba terangkat. Kematian tragis itu, entah mengapa, terasa seperti keadilan yang puitis.
Ia menyesap kopinya yang sudah dingin, lalu menatap Marco kembali. Senyumnya kini sedikit lebih lebar.
“Ah, kau sudah mau pergi?” tanya Marco dengan nada suara yang menunjukkan sedikit keengganan. Giselle yang moodnya baik tersenyum.
“Ini nomorku,” ucapnya meletakkan selembar kertas kemudian pergi berjalan menjauh dari kafe yang tenang itu.
Jalanan Jakarta kembali menerpanya. Polusi dan terik matahari terasa menyengat tapi setidaknya dia berbahagia hidup tampaknya semakin membaik akhir-akhir ini.
Dia memutuskan untuk naik Transjakarta. Meskipun karirnya juga mulai melonjak, ia tetap harus hemat untuk biaya kuliah adiknya dan biaya hidup ibunya.
Saat menduduki kursi bis, ia tak sengaja menatap wajah yang tidak asing.
Wajah pria yang menontonnya saat dibully tiga tahun lalu. Nathaniel. Giselle tidak memiliki dendam apa pun padanya. Bukan salah pria itu jika tidak membelanya, toh mereka tidak saling kenal.
Ketika mata mereka kembali bertemu, senyum tipis yang sudah menjadi autopilot dari tubuh Giselle muncul. Efek euforia melihat berita kematian perempuan yang pernah merundung dirinya saat masa kuliah.
Nathaniel membuang pandangannya. Giselle selalu peka dia menyadari bahwa wajah pria itu tampak lelah dan letih seolah-olah tidak tidur berhari-hari.
Kemudian saat tiba di halte bus Giselle turun dan berjalan menuju apartemen murah sewaannya saat tiba-tiba suara keributan terjadi.
Ia melihat Nathaniel dengan panik mencoba melarikan diri dari orang yang tampak sangar. Tangannya tiba-tiba dipasangi borgol tak lama dari kejauhan suara sirine polisi berbunyi.
Mata mereka sekali lagi bertemu. Pertama kalinya Giselle melihat perasaan di mata pria itu. Kebencian.
Tak lama setelahnya kejadian itu, berita muncul di layar telepon genggam miliknya.
Penangkapan Terduga Pelaku Pembunuhan Berantai: Buronan Kasus pembunuhan misterius Akhirnya Terjebak di Jakarta Pusat.
Darah Giselle seolah membeku. Di sana, di bawah lampu jalan yang mulai temaram, ia melihat Nathaniel dipaksa masuk ke dalam mobil polisi oleh petugas berpakaian preman. Pria itu tidak meronta, tapi tatapan matanya yang penuh kebencian—yang ditujukan tepat ke arah Giselle—terasa lebih tajam daripada belati.
Giselle teringat kejadian di kafe tadi. Berita kematian Clarissa yang baru saja ia baca di laptop. Clarissa mati karena kopi beracun hari ini, dan sekarang Nathaniel ditangkap sebagai buronan kasus pembunuhan.
Apakah Nathaniel yang melakukannya?
Tiga tahun lalu, Nathaniel hanya menonton saat Clarissa menghancurkan hidup Giselle. Sekarang, tepat di hari Clarissa tewas mengenaskan, pria itu tertangkap tepat di depan mata Giselle setelah turun dari bus yang sama.
Giselle mematikan layar ponselnya dengan tangan gemetar.
Rasanya kebetulan ini terasa berkaitan satu sama lain, tapi Giselle tidak bisa menautkan keduanya dengan alasan logis.

Bilasyahrah
6 Pengikut · 3 Novel