“Kamu yakin kita harus mempercepat acaranya bulan depan, Mas? Rasanya semua ini terlalu terburu-buru, padahal persiapan gedung, katering, dan undangan digital kita baru separuh jalan,” tanya Tasya sambil menatap layar laptop yang menampilkan daftar panjang vendor pernikahan yang belum dilunasi.
Suaranya terdengar lelah, mencerminkan beban pikiran yang menumpuk selama beberapa pekan terakhir di tengah kesibukan kantor.
Salim tersenyum tipis, merapikan lembaran kertas dokumen keluarga di atas meja kayu ruang tamu apartemen mereka yang minimalis. Jemarinya yang panjang bergerak pelan, menyingkirkan cangkir kopi yang sudah mendingin sejak dua jam lalu. Sorot matanya menyiratkan ketegasan yang sulit dibantah, sebuah ekspresi yang belakangan ini sering muncul setiap kali Tasya membahas soal penundaan hari bahagia mereka.
“Ibu sudah meneleponku tiga kali pagi ini, Sya,” jawab Salim dengan suara baritonnya yang tenang, mengikat. “Beliau bilang, di desa leluhurku ada perhitungan hari baik yang tidak boleh dilanggar sama sekali. Kalau kita melewatkan bulan depan, penanggalan Jawa berikutnya baru akan jatuh dua tahun lagi. Apakah kamu sanggup menunggu selama itu dalam ketidakpastian?”
Tasya menghela napas panjang, mengempaskan punggungnya ke sandaran sofa beludru berwarna abu-abu. Ia memijat pelipisnya yang tiba-tiba berdenyut nyeri.
“Bukannya aku tidak mau, Mas. Hanya saja, rasanya ada yang mengganjal di hatiku. Keluarga besarmu di desa tiba-tiba saja sangat antusias dan mendesak agar pernikahan ini diselenggarakan di sana. Padahal, selama tiga tahun kita berpacaran, keluargamu tidak pernah sekalipun menyinggung tentang tradisi adat leluhur yang seketat itu.”
“Namanya juga tradisi keluarga besar, Sya. Setiap garis keturunan punya aturan sakralnya sendiri yang harus dijaga dari generasi ke generasi,” sahut Salim cepat, seolah ingin segera memadamkan keraguan yang mulai merayap di benak tunangannya.
“Ibu hanya ingin kita mendapatkan restu yang paling sempurna dari para leluhur yang sudah mendahului kita di sana. Bukankah itu tujuan utama kita menikah? Mencari ridha dan restu, termasuk dari akar keluarga kita yang berada di kampung halaman?”
Tasya terdiam sejenak. Ada benarnya apa yang dikatakan oleh Salim, tetapi naluri kewanitaannya tetap menolak untuk merasa tenang sepenuhnya. Restu keluarga besar Salim terasa begitu memaksa, bagaikan sebuah jaring tak kasat mata yang sengaja ditenun rapat untuk menarik mereka berdua masuk ke dalam perangkap yang tidak mereka ketahui ujung pangkalnya. Terlebih lagi, persetujuan mendadak itu datang bersamaan dengan sebuah amplop cokelat tebal berisi surat-surat warisan kuno dan syarat adat yang dikirimkan oleh paman Salim dari desa terpencil seminggu yang lalu.
Suasana malam di dalam apartemen lantai sepuluh itu mendadak terasa semakin sunyi ketika angin luar berembus kencang, menghantam kaca jendela dengan suara derit yang tipis. Di luar sana, langit Jakarta yang biasanya benderang oleh kerlip lampu kota mendadak berubah kelabu pekat. Awan hitam menggantung rendah, memantulkan kilatan petir oranye yang menyambar beringas di kejauhan, disusul oleh suara gemuruh guntur yang bergeming pelan di balik kaca kedap suara. Suhu di dalam ruangan terasa menurun secara drastis dalam hitungan detik, membuat bulu kuduk Tasya meremang seketika. Ia mengeratkan kardigan rajut berwarna krem yang melekat di tubuhnya, sementara Salim tampak tidak terganggu sama sekali oleh perubahan cuaca yang begitu ekstrem tersebut.
Lampu gantung di atas meja makan memancarkan cahaya kekuningan yang temaram, menciptakan bayangan panjang yang meliuk-liuk di dinding putih apartemen. Bayangan itu tampak bergerak tidak sinkron dengan pergerakan tubuh Salim, sebuah kejanggalan visual yang membuat dada Tasya berdegup kencang. Ia mencoba menepis pikiran buruknya dengan menarik napas dalam-dalam, menghirup aroma kopi dingin yang bercampur dengan wangi parfum kayu manis milik tunangannya.
“Lagi pula, semua administrasi catatan sipil dan berkas KUA sudah kita urus dari jauh-jauh hari, tinggal akad nikah dan resepsi adat kecil-kecilan di rumah tua keluarga,” lanjut Salim sambil bangkit dari duduknya. Langkah kakinya di atas lantai parket kayu terdengar begitu senyap, seolah-olah berat badannya tidak menapak sama sekali. Ia melangkah mendekati Tasya dengan gerakan yang terlalu mulus, lalu meletakkan kedua telapak tangannya yang terasa agak dingin di atas bahu gadis itu.
“Percaya padaku, semuanya akan baik-baik saja. Kita akan melewati hari itu bersama-sama sebagai pasangan suami istri yang sah di mata hukum dan adat.”
Sentuhan Salim biasanya selalu mampu meredakan kecemasan Tasya di kala ia merasa stres menghadapi persiapan pernikahan. Namun, kali ini, kehangatan itu terasa sangat berbeda. Ada getaran halus yang menjalar dari ujung jemari Salim ke permukaan kulit Tasya, sebuah sensasi dingin yang ganjil, seolah-olah darah yang mengalir di tubuh tunangannya itu tidak lagi sepenuhnya hangat seperti manusia pada umumnya. Tasya mendongak, mencoba menatap manik mata Salim lebih lekat di bawah temaram lampu ruangan, mencari sisa-sisa keraguan atau kebohongan di sana.
Akan, tetapi sorot mata Salim tampak begitu kosong. Hitam pekat, tanpa ada pantulan cahaya lampu ruangan sedikit pun di dalam bola matanya.
“Mas, matamu,” bisik Tasya tertahan, napasnya seketika tercekat di tenggorokan, sementara udara di sekitar mereka terasa membeku seketika.
Sebelum Salim sempat menjawab atau mengalihkan pandangannya dari wajah Tasya, dering ponsel di atas meja tiba-tiba memecah keheningan malam yang pekat. Layar ponsel itu menyala sangat terang, menampilkan sebuah nama penelepon yang membuat jantung Tasya serasa berhenti berdetak seketika.
Ibu Mertua.
Padahal, penunjuk waktu di dinding menunjukkan pukul dua belas malam lewat satu menit, sebuah waktu yang sangat tidak wajar untuk sebuah panggilan keluarga, terkecuali ada berita duka atau sesuatu yang amat buruk sedang terjadi di ujung sana. Salim menoleh perlahan ke arah ponsel yang bergetar hebat di atas meja kayu, senyum tipis yang tadi menghiasi bibirnya kini lenyap sepenuhnya, menyisakan garis bibir yang kaku dan misterius.