Rumah Pak Darmawan laku hari ini.
Arindi tidak menyangka akan secepat ini terjadi. Padahal baru kemarin sore, Pak Darmawan sendiri yang memanjat tangga bambu dan memasang spanduk besar berwarna merah menyala bertuliskan "Dijual" di pagar depan rumah. Spanduk itu masih terlihat baru, talinya masih kencang, dan warnanya mencolok di antara rumah-rumah lain di gang itu.
Pembelinya datang siang tadi. Seorang pria paruh baya berpakaian rapi dengan kemeja bersih dan mobil hitam mengilap yang parkirnya sampai menutupi setengah jalan gang. Tanpa banyak tanya, pria itu langsung masuk ke rumah, memeriksa setiap sudut ruangan dari ruang tamu hingga dapur belakang, lalu langsung sepakat dengan harga yang ditawarkan. Uang muka segepok diletakkan di atas meja kayu tua di ruang tamu. Pria itu berkata akan kembali besok pagi untuk serah terima kunci dan pelunasan sisa uang.
Malam itu, suasana rumah Pak Darmawan benar-benar berubah. Ruang tamu yang biasanya hangat dengan sofa beludru cokelat dan televisi yang menyala, kini penuh dengan kardus-kardus besar, gulungan lakban bening, dan tumpukan koran bekas untuk membungkus piring serta gelas. Lantainya berdebu karena perabotan yang digeser dan dipindahkan.
Arindi Ayu Drupadi, anak pertama yang duduk di bangku kelas 2 SMA, duduk bersila di lantai yang terasa dingin sambil melipat baju-bajunya dengan perasaan campur aduk. Mulai dari seragam putih abu-abu yang sudah dua tahun ia pakai, baju harian, celana panjang, hingga jaket hoodie kesayangannya yang warnanya mulai pudar, semuanya harus masuk ke dalam kardus. Besok pagi, setelah penyerahan kunci selesai, mereka harus berangkat meninggalkan rumah ini.
Di sebelahnya, Abimanyu, adiknya yang baru duduk di kelas 2 SMP, terlihat paling berantakan. Kardus miliknya sudah menganga, isinya berserakan keluar. Kabel headset, pengisi daya ponsel yang kusut, buku matematika yang sampulnya robek, semua berceceran di lantai.
"Kak, headset-ku di mana? Dari tadi tidak ketemu. Padahal tadi jelas-jelas ada di sini," protes Abimanyu dengan nada kesal sambil terus mengobrak-abrik isi kardus. Rambut ikalnya berantakan menutupi dahi.
Arindi menghela napas pelan. Sudah menjadi tugasnya sebagai kakak untuk sabar menghadapi adiknya itu.
"Di kardus itu, Bim. Tadi kamu sendiri yang menaruhnya di bawah buku matematika. Coba angkat bukunya dulu, jangan cuma diacak-acak begitu," jawab Arindi lembut. Abimanyu memang begitu, kalau disuruh beres-beres, hasilnya selalu lebih berantakan dari sebelumnya.
Ibu keluar dari kamar tidur utama sambil membawa gulungan lakban besar dan gunting yang ujungnya sudah berkarat. Wajah Ibu terlihat sangat lelah. Matanya sembab, sepertinya habis menangis diam-diam di dalam kamar. Sudah lima belas tahun Ibu tinggal di rumah ini, dari Arindi masih bayi hingga kini sudah duduk di bangku SMA.
"Arindi, Abimanyu, dibereskan yang rapi, ya. Jangan berantakan lagi. Tolong Ibu. Besok pagi setelah penyerahan kunci selesai, mobil bak terbuka yang Bapak sewa sudah siap mengangkut barang-barang kita. Jangan sampai ada yang tertinggal," kata Ibu pelan, lalu duduk di samping Arindi, membantu melipat selimut tebal dan membungkus piring-piring keramik peninggalan nenek dengan koran bekas.
Tak lama kemudian, Pak Darmawan muncul dari kamar belakang sambil membawa map cokelat besar berisi sertifikat rumah dan surat-surat penting lainnya. Wajahnya terlihat lega, namun ada garis haru yang tidak bisa ia sembunyikan. Peluh menetes di pelipisnya setelah seharian mengurus urusan jual beli rumah.
"Alhamdulillah, semua beres. Rumah ini sudah resmi laku. Harganya bagus, bahkan lebih dari perkiraan Bapak. Besok pagi pemilik baru akan datang untuk menerima kunci dan melunasi sisanya. Jadi malam ini adalah malam terakhir kita tidur di rumah ini," kata Pak Darmawan dengan suara yang terdengar berat dan tenang.
Semua terdiam. Arindi menatap dinding yang sudah mulai kosong. Paku-paku bekas tempat foto keluarga mereka masih menancap di dinding putih. Bekas jam dinding yang sudah dilepas meninggalkan lingkaran debu yang jelas. Banyak kenangan tersimpan di sini, dari Arindi kecil belajar mengayuh sepeda di halaman depan, hingga Abimanyu yang pernah jatuh dari pohon mangga di belakang rumah.
Arindi akhirnya memberanikan diri berbicara, suaranya hampir berbisik, "Pak, aku kan sudah kelas 2 SMA. Teman-temanku semuanya ada di sini, di sekitar rumah ini. Kalau pindah sekarang, aku harus beradaptasi lagi di sekolah baru, cari teman baru lagi. Rasanya berat, Pak."
Pak Darmawan langsung duduk di sebelah putrinya di atas lantai, lalu menepuk pundak Arindi dengan lembut. Tangan Bapak yang kasar karena bekerja keras terasa hangat di pundaknya.
"Bapak tahu, Nduk. Bapak paham sekali perasaanmu. Tapi Bapak sudah tidak kuat lagi hidup di tengah kebisingan kota. Setiap hari Bapak berangkat kerja pagi sekali, pulang larut malam karena macet. Udara kotor, berisik, sempit. Sekarang Bapak ingin kalian berdua bisa hidup lebih sehat, menghirup udara sejuk, melihat pemandangan gunung, bukan gedung bertingkat," jelas Pak Darmawan dengan suara yang terdengar tulus dan penuh harap.
Mendengar penjelasan itu, Arindi akhirnya mengerti dan menunduk pelan. Abimanyu yang mendengarkan pun perlahan berhenti bergerak dan ikut terdiam.
Sebelum tidur, Arindi menyempatkan diri masuk ke kamarnya untuk terakhir kali. Kamar itu kini kosong, hanya tersisa kasur tipis yang belum digulung. Ia menyentuh dinding yang dulu penuh stiker bintang, lalu menatap jendela yang menghadap ke halaman belakang. Pohon mangga tempat Abimanyu pernah jatuh kini berdiri diam, seolah ikut mengucapkan selamat tinggal.
Jam menunjukkan pukul sebelas malam. Semua kardus akhirnya sudah tertutup rapat dan dilakban. Ruang tamu yang biasanya ramai kini kosong melompong. Hanya tersisa tikar pandan tipis yang mereka gelar untuk tidur malam itu. Berempat mereka berbaring berjejer di tikar itu, memandangi langit-langit rumah untuk terakhir kalinya. Dari luar, sesekali terdengar suara jangkrik dan langkah kaki Bu RT yang sedang ronda malam, menyapa mereka untuk terakhir kalinya.
Arindi belum bisa tidur. Pikirannya campur aduk, antara sedih meninggalkan rumah ini, dan penasaran dengan tempat baru yang akan mereka tuju. Di sebelahnya, Abimanyu sudah terlelap dan mendengkur pelan.
Pagi buta, sebelum matahari terbit, mereka sudah bangun. Menunggu sampai waktu yang disepakati tiba. Pukul delapan pagi tepat, mobil hitam pembeli rumah itu terlihat berhenti di depan pagar. Pria itu turun, masuk ke rumah, menerima kunci dari tangan Pak Darmawan, menyerahkan sisa pembayaran, dan menandatangani surat-surat bukti pembayaran serta serah terima. Semua selesai dengan baik.
Setelah berterima kasih dan berpamitan, mereka mengangkat kardus-kardus ke atas mobil bak terbuka yang sudah menunggu. Bu RT dan dua tetangga sebelah rumah datang mengantar, membawa bekal makanan untuk perjalanan.
"Hati-hati di jalan, ya. Semoga betah di tempat baru," ucap Bu RT sambil memeluk Ibu.
Pak Darmawan tidak lagi mengunci pintu depan, karena rumah itu sudah bukan miliknya. Ia hanya berhenti sejenak di halaman, menatap rumah itu untuk terakhir kalinya — rumah yang telah menjadi saksi perjalanan hidup keluarga mereka selama lima belas tahun.
Arindi dan Abimanyu ikut berhenti sejenak, menatap rumah itu dengan mata berkaca-kaca. Sementara pemilik baru berdiri di ambang pintu, tersenyum ramah sambil melihat sekeliling rumah yang kini menjadi miliknya.
Kemudian mobil mulai bergerak perlahan, meninggalkan gang kecil itu, meninggalkan kota, dan membawa keluarga Darmawan menuju tempat baru yang belum pernah mereka kunjungi sebelumnya. Di sepanjang jalan, Arindi menatap keluar jendela, menyaksikan gedung-gedung tinggi perlahan berganti menjadi pepohonan hijau yang mulai tampak di kejauhan.