Aisha Humaira Tivana adalah gadis bercadar yang berusia 19 tahun. Setelah lulus SMA dengan nilai yang sangat memuaskan, ia memutuskan untuk mendaftar menjadi mahasiswa baru di universitas ternama Jakarta.
Hari ini adalah hari yang ditunggu-tunggu olehnya karena akan pergi ke kampus untuk menyelesaikan administrasi. Sedikit tidaknya, Aisha banyak mengetahui melalui media sosial tentang kampus yang saat ini dituju.
Ribuan mahasiswa berlomba-lomba untuk mendaftar dan ia sangat bersyukur karena berhasil masuk melalui jalur prestasi. Kampus ini memang memiliki sistem masuk melalui dua jalur, yaitu jalur pendaftaran umum dan jalur tes atau prestasi.
Sesampainya di loket pendaftaran, Aisha disambut dengan suasana yang masih lengang sehingga proses pelayanan berlangsung cepat dan mudah.
"Alhamdulillah, Allah Maha Baik," gumamnya merasa cukup puas.
Aisha melihat jam tangan yang bertengger manis di pergelangan tangannya yang ditutup handshok warna hitam. "Masih cukup pagi untuk sekadar berkeliling sebentar," pikirnya.
Hijab lebarnya tertiup pelan mengikuti langkah kakinya. Jiwa penasaran membuatnya berjalan untuk mengunjungi dan menjelajahi isi kampus.
Bibirnya tidak henti-hentinya berselawat sembari terus berjalan. Beberapa menit kemudian, ia menjatuhkan pandangannya kepada sosok yang ada di lobi kampus.
Gadis itu terlihat begitu asyik dengan dunianya, meskipun hanya duduk berteman buku.
"Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh. Permisi, Kak, boleh bertanya?" tanyanya menunduk sopan pada gadis berkaca mata bulat di depannya.
Aisha sepertinya bertanya pada orang yang tepat. Matanya mengerjap pelan, ternyata gadis di depannya sedang membaca “Telaah Semiotik Struktural karya Ferdinand de Saussure”.
Aisha sedikit tahu karena pernah membaca sekilas tentang Ferdinand de Saussure. Beliau merupakan ahli bahasa asal Swiss yang dikenal sebagai Bapak Linguistik Modern berkat pemikiran-pemikirannya yang gemilang.
Gadis itu menutup bukunya sebentar, lalu membenarkan letak kacamatanya yang sedikit miring.
"Waalaikumussalam. Eh, boleh. Kamu mahasiswi baru, ya?" tanyanya berdiri seraya memandang lekat gadis di depannya.
Aisha mengangguk antusias. "Masyaallah. Betul, Kak. Saya mau bertanya, Fakultas Bastrindo berada di mana, ya?"
"Oh, kamu tinggal jalan lurus dari sini lalu ke gedung di sebelahnya. Di sana, ada tulisannya, kok."
"Baik, Kak."
"Kamu ambil jurusan itu?" tanyanya sedikit tertarik.
"Insyaallah."
Tanpa aba-aba gadis itu berdiri dan menepuk pelan bahu Aisha. "Hei, aku juga jurusan itu. Semoga lain kali bisa ketemu, ya," sahutnya sedikit heboh.
Humble itulah kesan pertama yang dirasakan Aisha saat berbicara dengan gadis di depannya ini.
"Aamiin. Semoga, ya, Kak. Saya permisi dulu."
Gadis itu mengangguk pelan dan menampilkan senyum manis hingga matanya ikut menyipit.
Aisha lalu berjalan pelan mengikuti instruksi dan berpindah gedung, kakinya melangkah ke arah koridor yang lumayan sepi. Langkahnya terhenti, tangan mungilnya bergerak menyentuh mading yang berisi banyak puisi tertempel rapi di sana.
Ada tentang cinta, patah hati, kritik pemerintahan, dan masih banyak lagi. Selain itu, terdapat cerpen dengan tema horor.
Melihat karya-karya itu, senyum kecil terukir di balik cadar hitamnya. Sungguh, memikirkan bahwa ia akan berkuliah di tempat ini membuatnya merasa sangat senang.
Namun, ketenangan itu mulai terusik dengan kehadiran seseorang.
"Wah, wah, si ninja bisa kuliah, ya? Banyak uang juga ternyata," sindir Nadin.
Aisha mengembuskan napasnya pelan. Kenapa dari sekian banyaknya penghuni di bumi, dirinya justru dipertemukan dengan sosok Nadin?
Tanpa menoleh pun, indra pendengaran Aisha sangat hafal siapa pemilik suara tersebut.
"Heh, kalau dipanggil itu noleh. Sombong banget," sungutnya mencoba memancing kemarahan Aisha.
Merasa tidak digubris, Nadin berencana ingin menarik hijab Aisha dari belakang. Sebelum itu terjadi, Aisha sudah lebih dulu menyadari sehingga mencekal pergelangan tangannya.
Sorot teduhnya berubah menajam. "Kamu tidak pernah berubah, Nadin. Aku hanya ingin berkuliah di sini, jangan menggangguku."
Nadin membalas tatapan Aisha. "Kamu hanya gadis kampung, Aisha, gadis yang tidak jelas asal-usulnya."
"Heh, Ninja. Kamu gak usah sok jadi pemberani, deh," sindir Bella, teman Nadin.
Aisha melepaskan cekalan tangannya dengan kasar, lalu beralih menatap Bella. "Aku tidak ada urusan denganmu, tapi aku tak akan pernah tinggal diam jika kamu mulai lagi mengusik pakaianku."
Tanpa menunggu jawaban, Aisha pergi begitu saja. Ia terlalu malas untuk berdebat, sedangkan Nadin masih memegang pergelangan tangannya yang sedikit memerah.
Bella langsung melihat pergelangan tangan Nadin. "Kamu tidak apa-apa, 'kan?" tanyanya dengan nada khawatir.
Nadin yang mendengarnya hanya mendengus. "Sialan. Dasar gadis kampung. Kita lihat bagaimana kamu bisa bertahan di sini. Ayok, ke kantin!"
Mereka berdua berjalan beriringan meninggalkan koridor fakultas yang sepi. Tanpa mereka sadari, semua kejadian itu didengar oleh seseorang dan tersenyum sangat tipis.
***
Puas melihat bagian-bagian dari Fakultas Bastrindo, Aisha melangkahkan kaki ke arah musala kampus. Ia tidak lagi kesulitan, karena musala tersebut tepat berada di samping fakultas.
Aisha dapat melihat beberapa mahasiswa sedang melaksanakan salat, sebagian lainnya sedang duduk santai sambil memainkan ponselnya. Beberapa pasang mata memperhatikannya, tapi tidak menjadi masalah baginya.
Semenjak memutuskan menggunakan cadar, pandangan seperti itu sudah sering diterimanya. Bahkan, terkesan seperti menilai karena melihatnya secara terang-terangan dari ujung kaki hingga kepala.
Aisha memutuskan sedikit berputar ke arah kanan dan akhirnya menemukan tempat wudu perempuan. Ia membuka kain penutup wajah yang mulai dikenakannya semenjak masuk SMA. Matanya terlihat lelah tapi semangatnya masih terus menyala.
Aisha masuk ke dalam musala, matanya sedikit menyipit memperhatikan ruangan yang bersih dan rapi. Mushaf diletakkan di samping kanan tempat salat sehingga memudahkan bagi siapa saja yang ingin mengaji. Tempat salat antara laki-laki dan perempuan dipisah dengan sekat yang tebal dan tertutup rapat, Aisha tidak khawatir dan malah sangat senang dengan desain musala ini.
"Musalanya tampak begitu terawat," gumamnya.
Aisha merasa betah, padahal baru beberapa menit yang lalu memasukinya. Selain menyediakan wifi gratis, ternyata musala ini juga menyediakan tempat untuk istirahat.
"Sepertinya musala akan menjadi daftar teratas yang akan dikunjunginya selama menjadi mahasiswa," pikirnya.
Selepas menunaikan salat dan berzikir. Ia kembali duduk dan memakai kain cadarnya. Jemari lentiknya lalu mengambil catatan kecil yang selalu dibawa ke mana-mana. Ia kemudian mencatat sesuatu.
Tidak ada yang sempurna, tapi semesta memberiku cinta dengan cara-Nya.
Aisha berjalan dengan tergesa karena takut dimarahi. Baru saja ingin mengucapkan salam, bibinya sudah menunggu dengan tangan yang berkacak pinggang.
"Kamu habis dari mana, hah?! Kenapa pulang jam segini?" tanyanya tajam. "Pergi ke kampus malah keluyuran tidak jelas. Pergi memasak sana!" titahnya tak ingin dibantah.
Aisha hanya diam karena ia tahu, bibinya tidak akan pernah menerima alasan apapun yang dilontarkannya. Tidak ingin membuatnya semakin marah, ia segera melangkah menuju dapur untuk memasak.
Sepuluh menit kemudian, sayur sop dan telur dadar sudah tersedia di meja makan. Paman dan bibinya sudah menunggu, tanpa banyak kata mereka memakan makanan itu dengan lahap.