"Kenapa kamu terus main sama angin, Voya? Itu serem tahu!"
Gadis kecil itu menoleh pelan ke arah kakaknya yang berdiri di ambang pintu kamar. Matanya tajam namun, polos. Seolah menyimpan rahasia yang tak bisa dijelaskan.
"Itu bukan angin, Kak. Namanya Lera! Dia bilang, kesepian!" balas Voya menggerutu.
Kakaknya—Nara, bergidik pelan. Ia sudah terbiasa dengan ucapan aneh Voya. Tapi, tetap saja terasa merinding setiap kali Voya berbicara seperti itu. Voya, yang saat itu baru berusia lima tahun, sering tertawa sendiri, berbicara dengan teman yang tak bisa dilihat siapa pun selain dirinya.
"Jangan, nanti dimarahi Kak, Nara!"
Begitu yang sering terdengar di telinga Nara.
Mereka tinggal di sebuah rumah tua warisan nenek. Di Desa Tergun yang dikelilingi perkebunan teh dan hutan pinus. Rumah itu besar dan sepi, dengan lorong-lorong panjang dan banyak jendela kayu yang berderit ketika angin malam datang. Ibunya—Gendis, adalah seorang perawat di klinik desa. Sejak ayah mereka meninggal, Gendis membesarkan kedua anaknya seorang diri.
"Voy. Jangan suka main sendirian ya, Nak!" ujar Gendis.
Di usia muda, Voya sudah menunjukkan banyak keanehan. Ia sering tahu kejadian sebelum hal itu benar-benar terjadi. Ia bisa menunjukkan letak barang yang hilang, bahkan pernah menyebutkan nama tetangga yang akan meninggal seminggu sebelum orang itu benar-benar meninggal. Namun, yang paling mengganggu adalah keakrabannya dengan sesuatu yang tak bisa dilihat orang lain.
Sore itu, Nara masuk ke kamar Voya dan memergokinya duduk di lantai dengan boneka rusak di tangan dan sebuah bantal kecil di depannya. Seolah-olah ia sedang bermain peran dengan seseorang yang duduk di seberangnya.
"Apa kamu lagi main masak-masakan sama boneka lagi?" tanya Nara, meski ia tahu jawaban adiknya akan membuatnya merinding lagi.
"Bukan," kata Voya ringan. "Aku lagi bikin teh buat Lera. Dia suka teh manis. Kakak sini, kita main sama-sama!"
Nara menelan ludah. Ia menatap bantal kecil di hadapan Voya. "Voya, kamu yakin Lera itu ada?"
Gadis kecil itu mengangguk. "Dia duduk di situ. Sekarang dia ketawa karena Kak Nara bilang dia enggak ada. Katanya, dia bisa cubit Kak Nara malam nanti!" ucapnya membuat Nara semakin merinding.
Nara langsung mundur dua langkah dan memutuskan ke luar kamar. Ia berlari ke dapur dan menemukan ibunya tengah merapikan sayur.
"Ma! Voya ngomong lagi sama yang enggak kelihatan! Katanya mau dicubit!" serunya panik.
Gendis menghela napas, menurunkan pisau dapur dan menatap Nara dengan pandangan lelah. "Sudah, Nak. Jangan takut. Mungkin itu cuma imajinasi dia!" sahutnya berusaha untuk membuat anaknya tenang.
"Tapi, Ma! Dia sering banget gitu. Kadang benar, lho! Kayak waktu itu dia bilang Mbak Rini keguguran. Eh ... beneran, kan!" balas Nara panik.
Gendis terdiam sesaat. Wajahnya muram.
"Ada hal yang belum bisa kamu pahami sekarang, Nara," gumamnya. "Tapi percayalah, adikmu bukan anak yang sembarangan dan kadang, apa yang tak terlihat bukan berarti tak ada!" ungkapnya pelan.
Malam itu, saat lampu sudah dipadamkan dan suara jangkrik menggema dari luar jendela, Voya terbangun. Matanya terbuka, dan ia melihat Lera duduk di sudut kamar. Wajahnya pucat seperti tepung, dengan rambut panjang terurai dan mata besar yang tampak berkabut.
"Lera!" bisik Voya. "Kenapa kamu sedih?"
Lera tak menjawab. Ia hanya mengarahkan jari ke arah jendela kamar yang menghadap ke hutan.
"Dia datang," bisik Lera. "Yang lebih kuat dari aku. Kamu harus hati-hati!" Peringatan dari Lera.
Voya menelan ludah. Ia merasa tubuhnya dingin.
"Siapa yang datang?"
Namun, sebelum Lera sempat menjawab, angin bertiup kencang dari jendela yang tertutup rapat. Tirai berkibar sendiri, dan suara berdesis muncul entah dari mana.
Kemudian, sebuah bayangan tinggi menjulang muncul di balik jendela, samar, tapi nyata. Ia tampak mengawasi Voya, lalu menghilang.
Voya menjerit keras.
Gendis dan Nara langsung masuk ke kamar dan menemukan Voya berdiri gemetar di tempat tidur, wajahnya pucat, dan ia menunjuk ke jendela.
"A—ada dia di sana! Tinggi, hitam lihat aku—"
Gendis memeluk Voya erat, membisikkan doa-doa di telinganya. Tapi ia tak berkata apa-apa. Wajahnya, meskipun berusaha tenang, menyimpan ketakutan yang tak kalah dalam.
Nara menatap dari ambang pintu dengan tubuh gemetar.
Beberapa hari kemudian, Gendis memutuskan membawa Voya ke seorang perempuan tua di desa sebelah, yang dikenal sebagai Bu Lari, seorang spiritualis yang misterius.
Bu Lari menatap mata Voya yang masih polos namun, penuh energi aneh. Ia menyentuh dahi Voya dan mendesah panjang.
"Anak ini indigo. Matanya terbuka sejak kecil. Banyak yang akan mengganggunya!" ucapnya singkat.
"Apa itu bisa ditutup, Bu?" tanya Gendis cemas.
"Tidak bisa ditutup. Tapi bisa dilatih. Supaya dia tahu mana yang harus dia hindari dan mana yang bisa dia percaya. Tapi—" Bu Lari menatap Voya dalam-dalam. "Dia akan jadi pintu. Sesuatu akan datang melalui dirinya. Sesuatu yang lebih tua, gelap dari apa pun yang kita tahu!"
Gendis menggenggam tangan Voya erat. "Apa itu berbahaya?"
"Untuknya, untuk kita semua. Tapi ada waktu. Belum sekarang. Saat dia besar, pilihan akan datang. Pilihan itu akan menentukan apakah ia jadi penyelamat atau pintu kehancuran!" jelas Bu Lari.
Malam itu, sebelum tidur, Gendis duduk di samping tempat tidur Voya.
"Voya, apa kamu takut?" bisiknya lembut.
Voya menatap langit-langit. "Sedikit. Tapi Lera bilang aku harus kuat. Karena nanti ada yang lebih jahat dari semua bayangan!"
Gendis menelan tangisnya, lalu mencium kening anaknya. "Mama akan selalu ada buat kamu!"
Tapi jauh di dalam hatinya, ia tahu, janji itu mungkin tidak bisa ditepati. Karena tak semua perang bisa dimenangkan oleh tangan manusia.
"Tidak ada yang bisa menyakiti anakku!" bisiknya pelan.