


oleh Zivanna Adelline · 13 Bab
Satu malam yang penuh kesalahan, membuat Samira harus terjebak dalam hubungan rumit bersama dengan dosen sekaligus CEO perusahaan ternama, Kaysan. Setelah kehilangan harta yang paling berharga, Samira meminta agar Kaysan tak perlu bertanggungjawab. Tetapi Kaysan memaksa untuk menikahinya. Dengan menjalani pernikahan atas dasar rasa tanggung jawab, cinta seiring waktu hadir di tengah keduanya. Namun, kebahagiaan mereka hancur ketika datang Angel---wanita lain yang mengganggu hubungan mereka. Berbagai intrik diatur, membuat Kaysan percaya pada Angel bahwa Samira menghianatinya. Kaysan menyakiti Samira hingga Samira memilih untuk menyerah. Ketika kebenaran terungkap istrinya tak bersalah Kaysan dirundung penyesalan. Dapatkah Samira yang telah pergi ditemukan?
"Akh!" teriak Samira ketika ada seseorang yang menarik tangannya dengan kuat.
"Pak Kaysan?" Gadis remaja itu mengerutkan kening melihat siapa yang mencengkeram kuat tangannya.
Samira heran melihat dosen pembimbingnya menarik tangannya dengan kuat. Ia terus ditarik menuju ke sebuah lorong menuju ke sebuah kamar. Dosen bernama Kaysan itu memenjarakan Samira ke dinding. Samira mencoba mendorong tubuh pria berbadan kekar tersebut, namun tak berefek apa pun.
"Apa yang Anda lakukan?" tanya Samira dengan tatapan tak suka.
"Tolong bantu saya!" mohonnya dengan suara serak.
Samira mengurutkan kening. "Bantu apa, Pak?"
Samira memperhatikan raut wajah dosennya yang memerah. Napas pria di hadapannya ini juga terlihat memburu. Ia tahu betul apa yang telah terjadi pada dosennya. Pria itu sedang berada dalam pengaruh obat.
"Ada seseorang yang menjebak saya. Saya tidak bisa lagi menahannya. Maukah kamu membantu saya?"
"Maaf, Pak, tapi Bapak mungkin punya kekasih, bisa minta tolong sama kekasih Bapak. Saya hemmp---"
Samira melebarkan matanya ketika Kaysan membungkam bibirnya. Ia mendorong tubuh pria berprofesi dosen itu, tetapi tidak berefek apa pun dan Kaysan semakin memperdalam ciuman itu.
Tak lama kemudian Samira ditarik ke dalam sebuah kamar dan terjadilah pergulatan panas di sana. Samira berteriak memohon kepada Kaysan sama agar mengendalikan diri. Namun, Kaysan yang sudah terbakar oleh gairah, tidak bisa menahannya.
Samira berteriak histeris ketika merasakan inti tubuhnya terasa terbelah menjadi dua bagian. Rasa sakit yang menjalar hingga ke ujung-ubun, membuat Samira mencengkram seprai berwarna putih itu. Kaysan mengalihkan rasa sakit yang dirasakan Samira dengan menciumnya kembali.
Sensasi yang awalnya terasa sakit, kemudian perlahan hilang dan menimbulkan rasa nikmat serta gairah yang membara. Kedua insan itu berpacu di atas ranjang dengan suara desahan yang memenuhi ruangan kamar sunyi. Akhirnya, Kaysan tidur memeluk Samira setelah mendapatkan pelepasannya.
****
Pagi harinya.
Orang yang pertama kali terbuka matanya adalah Samira. Ia mengerutkan kening ketika merasakan sesuatu yang berat menimpa pinggangnya. Dirinya menoleh ke samping dan terkejut melihat seorang pria tidur dalam keadaan memeluk tubuhnya. Ingatan Samira tertarik ke sebuah kejadian malam tadi.
Samira melebarkan matanya dengan bibir yang bergetar. Ia mencoba melirik kembali wajah pria di sampingnya. Wajah dosen yang selama ini menjadi pembimbingnya selama di kampus.
Pria ini adalah dosen yang menjadi idola di kampus tempat Samira menimba ilmu. Tak pernah disangka oleh Samira bahwa dia akan terlibat malam panas dengan dosennya. Ia memejamkan mata menyesali apa yang terjadi. Entah Kaysan sadar atau tidak dengan apa yang pria itu lakukan.
Meskipun memang Kaysan dalam pengaruh obat, belum tentu pria itu tidak menyalahkan dirinya. Terlebih, dosen ini terkenal sebagai dosen killer. Tak akan mungkin pria ini merasa bersalah. Jika nanti Kaysan sadar, pasti Samira akan dituduh negatif.
"Tidak! Dia tidak boleh tahu tentangku," batinnya.
Samira tidak ingin Kaysan menyadari siapa dirinya. Sebelum pria itu sadar ia harus keluar dari sini. Apa yang terjadi tidak boleh tersebar ke mana pun.
Samira mencoba melepaskan pelukan pria itu yang membelit pinggangnya. Dengan perlahan-lahan dan juga jantung yang berdegup kencang, akhirnya ia dapat melepaskan tangan pria itu dari tubuhnya. Dia turun dari ranjang dan memunguti pakaiannya yang berserakan di lantai.
Bagian inti tubuh Samira terasa sakit. Namun, ia berusaha menahannya dan tidak memedulikannya karena ingin segera keluar dari kamar hotel. Samira berhasil kabur sebelum Kaysan membuka mata.
Beberapa menit kemudian pria yang semalam menggauli Samira, membuka matanya perlahan. Ia mengerutkan kening saat merasakan ada yang berbeda. Dan akhirnya sadar, bahwa ia tidak berpakaian sama sekali.
Ia akhirnya teringat sebuah kejadian malam panas. Pria itu menoleh ke samping, tidak ditemukan wanita itu. Kaysan segera membuka selimut yang menutupi seluruh tubuhnya. Ia melihat dengan jelas, terdapat noda merah di sana.
Kaysan menghembuskan napas pelan sembari mengacak rambutnya. Ini artinya, ia telah merenggut kesucian seorang gadis. Sebuah sesal merayap di hati.
Pria itu masih ingat dengan jelas seperti apa dan siapa gadis yang ia serang tadi malam. Ini tidak bisa dibiarkan berlalu begitu saja. Kaysan merasa harus bertanggung jawab.
"Ke mana dia? Apa dia sudah pergi dari tadi malam?" gumamnya.
Mata Kaysan tertuju pada sebuah jaket berwarna cokelat yang teronggok di sudut ruangan. Itu adalah seragam universitas tempat ia mengajar. Ia turun dari ranjang dan melangkahkan kakinya untuk menghampiri jaket tersebut. Jaket itu pasti ia yang melemparnya tadi malam.
Pria berotot kekar itu, mengangkat jaket tersebut dan melihatnya terdapat sebuah tag name di sana. Sebuah senyuman terukir di bibir Kaysan. Nama lengkap seorang mahasiswi cantik yang baru saja menghabiskan malam bersamanya.
"Samira Nauraya," bisiknya.
Kaysan kemudian mengambil ponsel dari dalam celananya. Ia ingin menghubungi seseorang untuk memastikan sesuatu. Dibutuhkan bukti yang lebih kuat agar supaya ia tidak diminta pertanggungjawaban oleh orang lain yang sama sekali tidak ada hubungan dengannya.
"Halo Jibril! Saya minta tolong kamu cek CCTV kamar Hotel Alexa kamar 1204."
....
"Baik. Saya tunggu."
****
"Dari mana kamu jam segini baru pulang? Keluyuran ke mana?"
Samira pulang ke rumah dengan mengendap-ngendap. Ia pulang di pagi buta agar tak ketahuan penghuni rumah yang lain. Maksud dari Samira pulang diam-diam agar menghindari pertanyaan dari paman dan bibinya yang kebetulan tinggal serumah dengannya. Tapi ternyata keberuntungan tak berpihak padanya.
"Maaf Bibi, aku tadi malam menginap di rumah sahabatku," jawab Samira berbohong.
"Dia pasti bohong itu." Pamannya muncul dari belakang dan berkomentar menunjukkan ketidakpercayaan terhadap Samira.
"Bener Paman, Bibi, aku tidak bohong. Kalau Bibi dan Paman tidak percaya, bisa tanyakan langsung kepada dia." Samira menjawab sembari diiringi dengan perasaan yang berdebar.
"Tadi malam tidak memilih untuk pulang ke rumah, malah milih pulang ke sahabat?" Bibi Samira memiringkan bibir mengejek keponakannya.
Samira juga berpikir bahwa paman dan bibinya tidak akan mungkin percaya begitu saja. Tapi ia berharap agar mereka berdua tidak tahu dengan apa yang terjadi padanya. Entah bagaimana Samira akan menjelaskan jika mereka tahu.
"Awas saja kalau kamu bohong," ucap paman Samira.
"Sudah sana kamu mandi," kata bibi Samira.
Samira menganggukkan kepala. Ia bisa mengembuskan napas lega. Sebab, paman dan bibinya tidak menanyakan lebih jauh terkait ia yang pulang terlalu larut. Bukan larut lagi, tapi bahkan sudah pagi buta.
Samira berjalan ke kamar mandi dengan langkah perlahan. Ia membuka pakaian yang membungkus tubuhnya dan melihat gambaran polos dirinya pada bayangan cermin. Terdapat bercak merah keunguan tercetak jelas di sana.
Dan itu ia dapatkan karena tak sengaja terjebak sebuah malam menyesatkan bersama dosennya. Kini yang ia pikirkan, apakah Kaysan menyadari siapa dirinya? Bagaimana bila bertemu dengan dosen killer itu nanti? Apakah Samira berani menatap matanya?
"Aku harus melakukan sesuatu. Aku tidak boleh hamil."
Samira tak bisa membayangkan jika dirinya hamil. Bahkan belum memiliki suami. Ia juga tidak yakin jika hamil akan meminta pertanggungjawaban kepada dosennya. Sebab belum tentu dosennya menyadari perbuatannya.
"Bagaimana kalau aku beneran hamil ...?"

Zivanna Adelline
8 Pengikut · 6 Novel