“Komandan, mobil tamu penting dari staf ahli kementerian baru saja memasuki gerbang utama.”
Suara Kapten Rendy memecah keheningan yang menyelimuti ruang kerja Mayor Jonathan. Jonathan tidak langsung mengalihkan pandangannya dari tumpukan berkas laporan intelijen yang terbuka di atas meja jati ukirnya.
Ia hanya menghentikan ketukan jarinya pada permukaan meja, menarik napas panjang, lalu perlahan mengangkat kepala. Tangannya bergerak merapikan letak baret hijau dan atribut TNI-AD yang tersemat presisi di dada kiri seragam Pakaian Dinas Harian milik dirinya.
“Siapa yang mendampingi mereka dari pos penjagaan?” tanya Jonathan. Suaranya berat, bernada datar tanpa ekspresi, sebagaimana ciri khas yang selama ini ditakuti sekaligus disegani oleh seluruh prajurit di Batalyon tersebut.
“Sertu Bambang, Komandan. Namun, hujan mendadak turun sangat deras. Mereka langsung diarahkan menuju ruang aula markas,” jawab Rendy sembari berdiri tegap di depan pintu, memberikan penghormatan militer dengan sempurna.
Jonathan mengangguk pelan. “Baik. Saya akan ke sana dalam lima menit. Siapkan dokumen evaluasi wilayah perbatasan yang kemarin saya minta.”
“Siap, Komandan!”
Setelah Rendy menghentakkan kaki dan berbalik keluar, Jonathan bersandar pada kursi kerjanya. Pandangannya menerobos jendela kaca besar di samping meja.
Di luar, langit sore yang tadinya hanya berawan hitam kini benar-benar tumpah. Hujan deras mengguyur area markas militer. Gemuruh guruh bersahut-sahut meretakkan kesunyian.
Air melimpah membasahi lapangan apel, membilas dedaunan pohon trembesi tua yang berbaris rapi di sepanjang jalan utama kompleks.
Jonathan berdiri dari duduknya, berjalan mendekati jendela. Udara dingin merayap masuk melalui celah kisi-kisi ventilasi. Entah mengapa, perasaan Jonathan mendadak tidak tenang. Ada kebas yang asing merayapi dada kirinya, sebuah sensasi yang sudah lebih dari lima tahun tak pernah ia rasakan. Sebagai seorang komandan batalyon yang ditempa latihan keras dan pengalaman tempur di berbagai daerah konflik, Jonathan terbiasa memercayai nalurinya. Naluri itu kini membisikkan bahwa ada sesuatu yang tidak biasa dari kedatangan tamu sore ini.
Ia memperbaiki posisi sabuk kopelnya, mengambil tongkat komando yang bersandar di sudut meja, lalu melangkah keluar dari ruangan kerjanya. Langkah kakinya yang mantap mengema di sepanjang koridor bermaterialkan ubin putih yang bersih.
Setiap prajurit yang berselisih jalan dengannya segera berhenti, berdiri tegap, dan menghormat tegak lurus. Jonathan membalas hormat mereka dengan anggukan singkat.
Langkah Jonathan membawanya menuju selasar penghubung antara gedung markas utama dan aula penerimaan tamu. Di selasar terbuka itu, terpaan angin membawa titik-titik air hujan yang dingin, membasahi sebagian celana dinasnya. Jonathan menghentikan langkahnya sejenak, memandang ke arah halaman tengah.
Di sana, sebuah mobil sedan hitam berplat dinas pemerintah tampak terparkir di dekat tangga utama aula. Seorang pengawal berseragam membukakan pintu penumpang bagian belakang dengan mengacungkan payung hitam besar.
Seorang wanita melangkah keluar dari dalam sedan tersebut.
Wanita itu mengenakan blazer warna biru gelap dipadu dengan celana kain berpotongan rapi. Rambut hitamnya yang bergelombang sebahu sedikit basah terkena cipratan air hujan yang terbawa angin. Saat wanita itu melangkah naik menuju anak tangga aula, ia menghentikan gerakannya sejenak. Ia memutar tubuh, menyapu pandangan ke sekeliling markas seolah sedang mencari sesuatu, atau mungkin sedang mengingat sesuatu.
Pada detik itulah, pandangan mata mereka bertaut di antara tirai hujan yang membentang deras.
***
Jantung Jonathan seperti berhenti berdetak seketika. Tongkat komando di genggaman tangannya terasa kian berat. Seluruh pertahanan mental yang telah ia bangun dengan kokoh selama bertahun-tahun runtuh dalam hitungan detik.
Imelda.
Nama itu bergema seperti petir yang menghantam kesadarannya. Wanita itu adalah Imelda. Sosok yang pernah menjadi pusat dari seluruh dunianya. Wanita yang meninggalkannya tanpa penjelasan lima tahun lalu, menyisakan luka mendalam yang mengubah Jonathan dari seorang pria yang hangat menjadi komandan dingin yang tidak tersentuh oleh emosi.
Imelda tampak terpaku di tempatnya berdiri. Payung hitam yang dipegang pengawalnya tak lagi sepenuhnya menutupi tubuh wanita itu dari terpaan angin dan hujan, tapi Imelda tak peduli. Matanya yang indah, mata yang dulu selalu menatap Jonathan dengan kehangatan, kini memancar penuh guncangan, kerinduan, dan rasa bersalah yang amat sangat.
Jonathan mengepalkan tangan kirinya hingga kuku jarinya memutih. Ia memaksa dirinya untuk tetap berdiri tegak, menjaga wajahnya agar tetap seperti topeng perunggu yang tak beriak. Namun, di dalam dadanya, badai bergejolak jauh lebih dahsyat daripada hujan deras yang sedang mengamuk di luar markas.
Imelda menarik napas panjang, mencoba menguasai dirinya sendiri. Ia memalingkan wajah lebih dahulu, lalu melangkah masuk ke dalam ruangan aula bersama rombongan Staf Ahli Kementerian Pertahanan.
Jonathan masih berdiri membatu di selasar. Hujan deras menyipratkan air ke wajahnya, ia tak bergeming.
“Komandan?” panggil Kapten Rendy menyentaknya kembali ke realitas. Rendy sudah berdiri di belakangnya membawa map berberkas tebal.
“Rombongan tim peneliti dan analisis data dari Jakarta sudah menunggu di dalam aula. Ibu Imelda Ranawijaya sebagai ketua tim sudah siap memaparkan materi.”
“Imelda Ranawijaya,” gumam Jonathan pelan, menyebut nama lengkap wanita itu untuk pertama kalinya setelah lima tahun berlalu. Nama belakang keluarga yang sangat berpengaruh, sekaligus nama yang dahulu menjadi benteng pemisah di antara mereka.
“Siap, betul Komandan. Beliau adalah pakar analisis data intelijen baru yang ditunjuk langsung oleh kementerian untuk mendampingi penanganan zona rawan di wilayah hukum kita,” tambah Rendy, tidak menyadari gejolak dahsyat yang sedang dialami atasannya.
Jonathan memejamkan mata sejenak, menghirup udara dingin beraroma tanah basah, lalu membukanya kembali. Tatapan matanya kembali tajam dan dingin. Ketegasan seorang komandan telah kembali mengambil alih kesadarannya.
“Ayo masuk,” ujar Jonathan singkat.
Ia melangkah masuk ke dalam aula. Suasana di dalam ruangan berpendingin udara itu terasa begitu hening dan formal. Beberapa perwira staf batalyon sudah duduk di sisi kiri meja rapat panjang, sementara rombongan dari kementerian duduk di sisi kanan.
Ketika Jonathan memasuki ruangan, seluruh perwira dan tamu berdiri sebagai bentuk penghormatan. Jonathan berjalan menuju ujung meja utama, tempat kursi pimpinan rapat berada. Pandangannya sengaja melintasi wajah Imelda secara sepintas, seolah-olah wanita itu hanyalah pejabat kementerian biasa yang tidak memiliki keterikatan sejarah apa pun dengannya.
“Duduk,” perintah Jonathan tegas.
Semua orang kembali duduk. Imelda duduk tepat tiga meter di sebelah kanan Jonathan. Dari jarak sesedekah ini, Jonathan bisa mencium aroma samar parfum melati dan vanilla yang sangat dihafalnya, aroma khas Imelda yang tidak pernah berubah sejak dulu.