“Siap, Komandan. Laporan logistik untuk latihan malam ini sudah selesai saya susun,” ujar Lettu Satria tegas. Suaranya memantul di dinding ruang kerja yang senyap, memecah keheningan malam di markas komando.
Letkol Bramantyo, pria paruh baya dengan uban yang mulai mendominasi pelipisnya, tidak segera mengalihkan pandangan dari dokumen di atas meja. Ia hanya mengangguk tipis tanpa menatap lawan bicaranya.
“Bagus, Satria. Pastikan sektor tujuh disterilkan. Saya tidak ingin ada gangguan dari pihak luar selama simulasi taktis berlangsung.”
“Siap, laksanakan,” jawab Satria singkat. Ia melakukan penghormatan militer dengan sempurna sebelum berbalik meninggalkan ruangan.
Malam itu, dingin menusuk hingga ke tulang. Markas komando tampak seperti benteng mati yang membisu di bawah lindungan awan kelabu.
Satria melangkah menyusuri lorong beton menuju sektor tujuh, sebuah area terpencil di ujung kompleks yang jarang dijamah. Sesuai perintah, ia harus memastikan keamanan lokasi sebelum unit latihan tiba.
Ia menyalakan senter taktis. Cahaya putih terang membelah kegelapan, menyapu tumpukan peti logistik tua dan semak belukar yang tumbuh liar di sepanjang pagar pembatas.
Langkah kaki Satria yang teratur terdengar nyaring di permukaan semen yang lembap. Ia tidak menyukai sektor ini. Ada kesan ganjil yang tidak bisa ia jelaskan, seolah-olah tempat ini bukan sekadar area latihan biasa.
Saat ia mencapai sudut paling gelap di belakang gudang tua, instingnya tiba-tiba menarik rem. Bau yang tajam menusuk indra penciumannya. Itu bukan bau tanah basah atau minyak mesin yang biasa tercium di markas. Itu bau karat yang menyengat, bau darah segar.
Satria mematikan senter. Ia mengeluarkan pistol dari sarung paha dengan gerakan fluida yang terlatih, jempolnya membuka pengaman dengan bunyi klik yang halus.
Ia bergerak mendekati tumpukan tong besi tua. Di balik bayang-bayang, ia melihat sesuatu yang ganjil. Sebuah gundukan kain seragam militer yang tergeletak tidak wajar.
Ia mencondongkan tubuh, menyingkap kain penutup dengan ujung sepatunya. Jantungnya berdegup lebih kencang. Itu seorang pria. Seorang rekrutan baru yang seharusnya sedang mengikuti apel malam di barak. Pria itu terkapar kaku dengan posisi yang janggal.
Satria berjongkok, jemarinya yang terbungkus sarung tangan taktis meraba nadi di leher prajurit muda itu. Dingin. Kulitnya sudah kehilangan kehangatan manusia. Ia memeriksa saku seragam pria tersebut dan menemukan sepucuk kertas terlipat yang basah oleh noda merah pekat.
Dengan napas tertahan, Satria membuka kertas tersebut. Tidak ada tulisan, hanya sebuah koordinat yang dicoret-coret dengan tinta hitam yang seolah dibuat dengan terburu-buru.
“Apa yang sebenarnya terjadi di sini?” bisik Satria pada diri sendiri.
Tiba-tiba, suara gesekan sepatu di atas kerikil dari arah belakang membuatnya tersentak. Ia segera memutar tubuh, mengarahkan senjata tepat ke sumber suara. Namun, tempat itu kosong. Hanya ada bayang-bayang pohon yang melambai tertiup angin malam.
Satria mengernyitkan dahi. Ia yakin seratus persen ada seseorang di sana. Ia mengedarkan pandangan ke seluruh sudut sektor tujuh.
Cahaya bulan yang menembus celah awan memperlihatkan jejak kaki baru di tanah basah, jejak yang mengarah menjauh menuju hutan di luar pagar markas.
Ia baru saja hendak mengejar, ketika derap langkah sepatu lars yang sangat banyak terdengar bergemuruh dari arah gedung utama. Lampu sorot besar dinyalakan, menyapu area sektor tujuh dengan cahaya yang menyilaukan. Sebuah suara pengeras suara menggema dari kejauhan, memerintahkan seluruh personel untuk segera kembali ke barak karena alasan darurat keamanan tingkat satu.
Satria terjepit. Ia menatap jasad prajurit di kakinya, lalu menatap arah pelarian si misterius. Ia tahu jika ia tetap di sana, ia akan tertangkap basah berada di area terlarang dengan bukti yang bisa membuatnya dituduh sebagai tersangka. Namun, jika ia pergi, ia membiarkan pelaku pembunuhan ini melenggang bebas.
Ia dengan cepat memasukkan kertas koordinat itu ke dalam saku dalam seragamnya. Tepat saat ia berdiri, cahaya lampu sorot menyapu tepat ke arah posisinya. Satria mematung, menyadari bahwa ia telah terekam oleh kamera pengawas yang terpasang di atas menara.
Dari balik kegelapan hutan di sisi lain pagar, sebuah kilatan cahaya muncul.
Duar!
Suara tembakan peredam terdengar, disusul dentingan peluru yang menyerempet dinding beton tepat di samping kepalanya.
Satria jatuh tersungkur ke tanah, menyadari satu hal yang membuat bulu kuduknya berdiri, tembakan itu tidak datang dari luar markas, melainkan dari arah pos penjagaan militer yang seharusnya kosong.
Seseorang telah memerintahkan eksekusi, orang itu berada di dalam sistem. Satria menekan alat komunikasi di telinganya, yang ia dengar hanyalah suara statis yang berisik.
Ia sadar, ia tidak sedang berhadapan dengan musuh negara, melainkan sedang terjebak dalam perangkap yang sengaja disiapkan untuk melenyapkannya malam ini.
Saat ia mencoba merangkak mencari perlindungan di balik tumpukan peti, sebuah suara langkah berat berhenti tepat di belakang punggungnya, disusul suara kokangan senjata yang sangat familiar di telinganya.
“Jangan bergerak, Lettu,” sebuah suara berat yang sangat ia kenal membisikkan perintah itu tepat di balik tengkuknya. “Kau seharusnya tidak pernah datang ke tempat ini.”
***
“Lepaskan senjatamu, Satria. Jangan membuat malam ini lebih berdarah dari yang seharusnya.” Suara itu dingin, tenang, dan memiliki otoritas yang tidak bisa dibantah.
Satria perlahan mengangkat tangan tanpa melepaskan pegangannya pada pistol. Ia memutar tubuh setengah lingkaran, matanya menyipit di tengah cahaya lampu sorot yang masih menyapu area sektor tujuh.
Di depannya berdiri Kapten Aris, pria yang selama dua tahun terakhir menjadi rekan sparringnya di lapangan tembak dan teman berbagi kopi di kantin markas.
Malam ini, laras senjata di tangan Aris mengarah tepat ke dada Satria dengan tatapan yang kosong, seolah ia sedang membidik target latihan, bukan seorang rekan sejawat.