“Sudah kubilang, jangan ada yang menyentuh medali itu! Tidak dengan sarung tangan, tidak dengan apa pun!”
Suara Mayor Laut Hadi Wijaya memecah kesunyian rumah mewah di kawasan elite Jakarta Selatan itu.
“Komandan,” jawab Sersan Dua Budi ragu-ragu, jarinya menunjuk ke noda merah gelap yang melekat pada pita medali perunggu tersebut. “Kami harus mengamankan barang bukti. Sidik jari, DNA ....”
Mayor Hadi, seorang perwira Polisi Militer Angkatan Laut (POMAL) dengan pengalaman dua dekade di lapangan, menoleh cepat.
Mata tajamnya menyapu Budi, lalu beralih ke sosok yang terbaring kaku di lantai kayu mahoni yang kini ternoda. Laksamana Madya (Purn) Wiryawan. Seorang legenda, pahlawan laut yang seharusnya tenggelam dalam damai masa pensiunnya, kini terbaring seperti bangkai kapal yang karam.
“Sidik jari? Kau tidak lihat itu, sersan? Itu pesan. Bukan perampokan biasa. Siapa yang membunuh seorang laksamana madya hanya untuk meninggalkannya dengan medali kehormatan tertinggi di tangannya? Jaga perimeter. Jangan biarkan cahaya buatan terlalu terang. Biarkan bayangan tetap di tempatnya,” perintah Hadi, nadanya kini lebih tenang, tapi mencekam.
Rumah Wiryawan adalah manifestasi fisik dari kejayaan yang kelam. Dibangun pada era kolonial, plafonnya tinggi, jendelanya besar, dan udaranya terasa berat, lembap oleh hujan deras yang baru saja berlalu.
Bau tembaga dari darah segar berpadu dengan aroma garam laut yang entah mengapa masih melekat pada karpet persia di ruang kerja sang laksamana. Di sudut ruangan, sebuah model kapal perang kelas Fregat, yang pernah dikomandani Wiryawan, tampak miring seolah ikut berduka.
Hadi berlutut perlahan, menjaga jarak hormat dari mayat. Laksamana Wiryawan mengenakan piyama sutra biru tua, kini basah oleh darah yang telah menggumpal. Luka tusuknya tunggal, tepat di jantung, dieksekusi dengan presisi yang hanya dimiliki oleh mereka yang terlatih dalam seni membunuh, atau, lebih spesifik, seni bela diri tempur angkatan laut.
“Tidak ada tanda perlawanan, komandan,” bisik seorang forensik.
“Tidak ada sidik jari lain di gagang pisau. Tidak ada jejak kaki asing di lantai. Pelaku mengenalnya, atau setidaknya, tahu persis bagaimana cara masuk dan keluar tanpa meninggalkan jejak.”
Hadi mengangguk. Ia sudah menduga. Ini adalah eksekusi, bukan pembunuhan yang didorong emosi. Pelaku datang, menyelesaikan tugasnya, dan meninggalkan simbol, tetapi simbol apa?
“Perhatikan ini,” kata Hadi, menunjuk ke bekas samar tersebut.
“Bentuknya, jangkar. Jangkar yang dilingkari rantai. Lambang satuan khusus.”
Sersan Budi mendekat, wajahnya pucat. “Unit Alpha?”
“Bukan. Alpha menggunakan trisula. Ini lebih tua. Lebih gelap. Aku pernah melihat lambang ini di arsip lama, lambang yang seharusnya sudah dibekukan dua puluh tahun lalu.”
Hadi berdiri. Kasus ini mulai terasa seperti memegang kabel listrik yang telanjang. Semua petunjuk mengarah ke masa lalu yang terkubur, masa lalu yang seharusnya tidak disentuh oleh generasi baru angkatan laut.
Ia mengeluarkan ponsel satelitnya. Ini adalah panggilan yang paling ia takuti.
“Hubungi Kolonel Damar. Katakan padanya, Operasi Tanduk Emas mungkin baru saja kembali berlayar, dan katakan padanya, kita butuh Putra. Sekarang juga.”
Nama itu menggantung di udara, berat dan penuh beban. Sagara Putra. Letnan Komando Laut yang terkenal karena keberaniannya yang sembrono dan keahliannya dalam membaca arus, tapi juga karena bayangan nama ayahnya yang besar dan kontroversial.
Panggilan telepon Kolonel Damar di Markas Besar Angkatan Laut terasa dingin, jauh lebih dingin daripada udara pagi di TKP.
“Putra? Hadi, kau tahu dia sedang cuti. Di Bali. Dia baru saja lolos dari dewan etik setelah insiden di Natuna. Jangan libatkan dia.” Suara Damar terdengar tegang, hampir seperti ancaman.
“Kolonel, yang terbunuh adalah Laksamana Wiryawan. Dia bukan hanya pensiunan. Dia adalah komandan operasi yang melibatkan Komodor Putra Santosa. Ayah Sagara,” tekan Hadi. “Dan medali ini, saya yakin ada kaitannya dengan operasi itu. Kami tidak bisa memproses ini secara normal. Arsip di server Mabesal tentang Operasi Tanduk Emas sudah hilang sejak semalam. Ini bukan kasus polisi militer, ini pembersihan internal.”
“Baik. Kirim tim forensikmu untuk memindai medali itu dengan sinar-X. Aku akan memanggil Sagara, tapi dengarkan aku, Hadi. Kasus ini seperti lumpur hisap. Sekali kau masuk, kau tidak bisa keluar. Jaga Sagara, atau bayangan masa lalu ayahnya akan menelan dia bulat-bulat.”
Hadi mematikan sambungan, merasakan tanggung jawab yang tiba-tiba memberatkannya.
Ia kembali mendekati medali itu. Diperiksa lebih dekat, ada keanehan pada Bintang Jalasena Utama tersebut. Meskipun tampak otentik, materialnya terasa sedikit berbeda, lebih berat, dan ada garis sambungan yang nyaris tak terlihat di bagian belakang medali. Ini bukan medali yang biasa dipajang di etalase kehormatan.
“Sersan, panggil ahli kriptografi dari intel marinir. Aku butuh pemindaian mikro pada medali ini. Aku curiga ini bukan hanya medali, tapi wadah,” kata Hadi.
Saat Sersan Budi sibuk menginstruksikan tim, Hadi kembali ke posisi mayat. Ia merasakan desakan yang tak tertahankan untuk mengetahui apa yang begitu penting hingga Wiryawan mempertaruhkan nyawanya untuk memegangnya.
Ia memindai sekeliling ruangan sekali lagi, kali ini dengan mata yang sudah terlatih untuk melihat ketidaksempurnaan. Sebuah buku harian terbuka di meja, isinya penuh dengan coretan tentang insomnia dan ketakutan akan laut yang kembali memanggil.
Ada gelas air yang baru diminum, dan di bawahnya, Hadi melihatnya. Benda kecil, berwarna putih pucat, terselip di bawah tangan kanan Wiryawan yang menggenggam medali.
Itu adalah sepotong kecil kertas, nyaris transparan karena basah oleh darah yang merembes dari lipatan piyama.
Hadi menarik napas dalam-dalam. Ini adalah petunjuk terakhir, mungkin satu-satunya hal yang berhasil diselamatkan Wiryawan sebelum ajalnya tiba. Dengan hati-hati, ia meminta forensik untuk membantunya melepaskan genggaman kaku sang laksamana tanpa merusak medali maupun kertas di bawahnya.
Prosesnya lambat, menegangkan, dan sunyi. Begitu medali terlepas, berkilauan di atas kain steril, Hadi bisa melihat kertas itu lebih jelas. Warnanya bukan putih polos.
Ada gambar di atasnya, digambar dengan tinta hitam yang tebal dan kasar. Gambar yang terlihat seperti koordinat, atau lebih tepatnya, sebuah peta yang sangat terpotong.
Wiryawan telah menggunakan detik-detik terakhir hidupnya untuk menggambar atau menyembunyikan benda ini. Mengapa tidak sebuah nama? Mengapa sebuah peta?
Hadi mengambil pinset steril. Ia harus membuka lipatan kertas itu. Jika ini adalah peta, setiap garis adalah nyawa, dan setiap lipatan adalah rahasia.
Ia menarik napas, tangannya gemetar bukan karena dingin, melainkan karena getaran dari bahaya yang tak terlihat.
Dengan perlahan, ia mulai membentangkan kertas yang rapuh itu. Sudutnya terasa lembap, teksturnya kasar karena bekas tinta yang mengering dan darah yang mulai mengental.
Saat Hadi membentangkan bagian tengah kertas, ia berharap melihat koordinat yang jelas, nama kapal, atau setidaknya tanda tangan. Namun, tiba-tiba, alarm bahaya yang selama ini hanya berupa bisikan dalam dirinya kini berteriak nyaring.
Jendela besar di ruangan itu, yang sedari tadi terkunci rapat, tiba-tiba terbuka paksa. Bukan oleh angin, melainkan oleh kekuatan yang terarah.
Sebuah batu bata yang dibungkus kain hitam melesat masuk, menghantam tepat di meja kerja Wiryawan, dan ricocheting ke lantai. Batu bata itu tidak penting. Yang penting adalah kecepatan dan ketepatan pelemparnya seolah ada yang mengawasi mereka, menunggu momen rentan ini.
Refleks Hadi sebagai perwira tempur langsung mengambil alih. Ia melompat mundur, menarik senjatanya. Seluruh tim berhamburan mencari perlindungan, menembak ke arah bayangan di luar jendela yang kini tertutup oleh hujan yang kembali turun dengan gila-gilaan.
Sersan Budi berteriak, “Komandan, pelaku lari! Ada di luar!”
Hadi tidak peduli pada pelakunya. Matanya tertuju pada kertas yang ditinggalkannya di lantai. Dalam keterkejutan dan gerakan refleks yang cepat, tangan Hadi yang gemetar dan tangan yang seharusnya melindungi barang bukti secara tidak sengaja menyentuh kertas yang sudah basah dan rapuh itu.
Terdengar suara renyah, tipis, dan mematikan.
Kertas itu robek.