


oleh 0rang6iasa · 135 Bab
(Bijaklah dalam membaca. Terdapat area 21++) Kisah cinta seorang wanita muda yang bernama Issa Bella. Dulu ia hanya diperbudak oleh suami dan juga mertuanya yang toxic. Hingga saat semua hasil kerja kerasnya selama bertahun-tahun telah dikuasai oleh pria bejat itu, kini dengan mudahnya dia dan juga ibunya mendepak Bella dengan memulangkan Bella kembali ke orang tuanya. Apalagi Juna, suaminya sendiri juga sudah sering berselingkuh di belakang Bella saat Bella sedang merantau. Namun, siapa sangka jika Sri, ibu Juna adalah dalang di balik semua ini. Lalu bagaimana dengan kisah cinta Bella selanjutnya? Yuk simak terus. Semoga kalian sehat selalu.
Pov Bella.
'Dek pulang sekarang ya. Aku tunggu!'
Pesan WA Mas Juna di ponselku.
Aku masih berada di rumah adik ibuku saat ini bersama keponakanku.
"Aku pamit dulu ya Lek War, mas Juna memintaku pulang. Padahal dia nggak biasanya meminta aku pulang," pamitku pada Lek War adik ibuku.
"Ya sudah hati-hati. Ingat semua saranku tadi ya," jawab Lek War yang memang sejak di sini aku selalu saja ia kasih ceramah untuk kebaikan rumah tanggaku.
Aku pun pulang ke rumah orang tuaku dulu untuk mengantar Silvi anak dari adik kedua ibuku. Ya setiap aku pulang merantau, keponakan cantik itu selalu saja tak bisa lepas dariku.
*
"Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam," jawab serempak Ibu dan juga Lek Nanik, ibu Silvi.
"Bu, Lek, aku mau pamit ke rumah Cempaka dulu ya. Mas Juna tiba-tiba WA aku, dia meminta aku pulang.''
Ya, memang aku sudah dua hari menginap di rumah orang tuaku di Desa Bandul, sedangkan Cempaka adalah asal desa suamiku, Mas Juna.
Baru dua hari aku pulang merantau dari Kalimantan.
Berkat kerja kerasku juga, aku berhasil membuat rumah yang megah di desa asal suamiku. Tentu tak luput berkat bantuan orang tuaku juga.
Pernikahanku yang sudah enam tahun tak kunjung jua diberi momongan oleh Sang Pencipta.
Aku bekerja merantau ke Kalimantan sudah lima tahun lamanya.
"Mas Juna kenapa ya WA seperti ini. Perasaanku jadi tak enak," pikirku saat aku mengendarai motor matic-ku yang baru aku beli dua tahun yang lalu.
Sesampainya aku di rumah, belum juga masuk rumah terlihat Mas Juna dan ibu mertua duduk di teras seolah menanti diriku.
"Assalam ...," ucapku terpotong karena Mas Juna langsung memotong salamku.
"Ayo putar balik Dek! Ikuti aku dari belakang," ucap Mas Juna yang langsung naik motornya sambil membonceng ibu mertua.
Aku tak sempat menjawab, motor Mas Juna segera melaju begitu saja.
Namun, sebelumnya aku melihat ibu mertuaku tersenyum miring ke arahku.
Aku pun kembali memutar motorku dan mengikuti motor Mas Juna.
'Loh, kok jalan ke rumah orang tuaku?' batinku saat melewati jalan yang baru saja aku lewati tadi.
Dan benar saja ternyata Mas Juna berhenti tepat di depan rumah ibu.
"Assalamualaikum," ucap Mas Juna saat sudah sampai di depan pintu rumah ibu.
"Waalaikumsalam," jawab ibu dari dalam.
Aku segera mengikuti langkah suami dan juga ibu mertuaku.
Ibu mertua tiba-tiba menangis sesenggukan, saat duduk di kursi kayu ruang tamu buatan ayah.
"Dek, duduk Dek. Nggak usah bikin minum!" perintah Mas Juna yang menghalangi aku hendak ke dapur membuat minum untuk mereka.
Aku terheran pada mertuaku yang tak ada hentinya menangis di kursi dekat Mas Juna.
"Ayah ke mana Bu?" tanya Mas Juna pada ibuku.
"Biasalah Juna, dia masih bekerja menggergaji di rumah Pak Anas. Paling sebentar lagi juga pulang," jawab ibu masih santai, namun terlihat sedikit gugup. Tentu aku tahu karena nada bicara ibu terlihat sedikit aneh.
Betapa panjang umur ayahku, baru juga kami membicarakannya beliau pulang dengan motor tuanya.
"Assalamualaikum, eh ada Nak Juna dan besan. Sudah lama to kalian tadi?" sapa ayah pada suami dan mertuaku.
Ayah langsung duduk di samping ibu .
"Jadi sebelumnya begini Bu, Yah. Kedatangan saya kemari dengan Ibu saya karena saya dengan niat yang baik ingin memulangkan Dek Bella secara baik-baik di keluarga ini. Maaf Bu, Yah, kami sudah tak satu tujuan lagi. Pikiran kami sudah tak sejalan dan kami tak bisa lagi disatukan dalam ikatan rumah tangga," ungkap Mas Juna panjang kali lebar yang membuatku merasakan sesak di dalam dada.
Bak di sambar petir di siang bolong, aku dan mungkin juga kedua orangtuaku sangat kaget dengan ucapan Mas Juna.
Ingin sekali aku menjawab panjang kali lebar juga namun entah mengapa lidahku sangat kelu, dan tubuhku bahkan terasa tak bisa bergerak.
'Mengapa kau tega bicara seperti itu Mas! Kau bahkan tak bicara dulu padaku! Aku pulang merantau setelah satu tahun tak pulang dan tiba-tiba kamu pulangkan aku sedemikian rupa tanpa ada penjelasan terlebih dahulu atau pun pertengkaran di antara kita. Aku yang tak kau jemput seperti biasanya saat aku kembali, padahal baru saja setengah tahun yang lalu kau memintaku membelikanmu mobil! Aku yang telah banyak berjuang membangunkanmu rumah, membelikanmu apa yang kamu mau, termasuk motor, mobil bahkan seluruh isi rumah yang harganya tak murah itu!' batinku berteriak, tapi begitu sulit untuk mengungkap itu semua.
Kutunggu kata-kata dari ayah dan ibu, namun mereka tak kunjung juga berbicara.
Ayah malah melenggang pergi ke belakang, entah ke mana.
Sedangkan ibu, kulihat bibirnya hendak berbicara namun tak jua kunjung keluar satu patah kata pun.
Hingga Lek Nanik yang ternyata belum pulang, kini membawakan nampan berisikan teh sebanyak lima gelas.
"Diminum Bu, Dek Juna," ucap Lek Nanik yang memang sepertinya belum paham situasi.
Lek Nanik langsung duduk di sampingku setelah berucap demikian.
"Hiks, hiks. Maaf ya Besan, aku sudah berusaha membujuk keduanya agar bicara baik-baik. Namun, mereka tetap saja mengotot ingin berpisah. Hiks." Drama ibu mertua mengeluarkan air matanya lagi sambil sesekali hidungnya sentrap-sentrup seperti anak kecil yang sedang pilek.
Padahal tak ada saran ataupun ucapan darinya saat aku pulang tadi. Aku bahkan tak tahu mengapa Mas Juna tiba-tiba memulangkanku ke rumah orang tuaku.
Lagi-lagi lidahku tak bisa aku gunakan untuk membalas ucapan ibu mertua.
Ibuku pun tak mengeluarkan sepatah kata jua.
Mungkin dia masih sangat terkejut dan syok dengan semua ini yang terlalu mendadak, seperti halnya diriku juga.
"Pak Yadi tadi sedang mandi, mungkin kita bisa menunggunya sebentar," ucap Lek Nanik yang mungkin kini telah tahu situasi macam apa ini.
Namun, ucapannya tak ada yang menggubris.
"Dek, aku tahu rumah beserta isinya adalah hasil kerja kerasmu. Kau bisa mengambil apa pun yang kamu mau. Untuk mobil, maaf aku lalai menamai mobil itu atas namamu, Dek. Mobil itu atas namaku saat ini. Jika kau mau ambil saja, Dek. Aku ikhlas," lanjut Mas Juna dengan nada lembut padaku.
"Aku tak meminta apapun Mas, ambil saja semua." Entah mengapa aku malah berucap demikian. Lidahku bersuara tak seperti apa yang aku pikirkan dan ingin aku ungkapkan.

0rang6iasa
1 Pengikut · 1 Novel