Sunyi mencengkeram ruang makan, membuat dentingan piring perak yang beradu dengan porselen terdengar terlalu nyaring. Meja marmer dingin terentang terlalu panjang, memisahkan Helen dan Damar, menciptakan jurang sunyi yang selama dua tahun ini mereka sebut sebagai kehidupan pernikahan.
Lampu kristal dari Bohemia menggantung tinggi di atas kepala, membiaskan cahaya kuning hangat yang gagal menjangkau sisi mata Helen. Wajahnya rapi, rambut tersanggul rendah. Ia persis seperti istri seorang CEO besar yang dibutuhkan Damar, elegan, pendiam, dan tanpa tuntutan.
Damar meletakkan pisau steaknya. Bunyinya pelan, tetapi memecahkan keheningan seperti tamparan. Ia melirik jam tangan peraknya sejenak, isyarat tanpa kata bahwa ia lelah, bosan, dan bahwa durasi ritual makan malam yang kaku ini sudah habis.
"Makanan ini enak," katanya datar.
Helen mengangkat kepala, senyum kecil yang harus ia paksa agar tidak terlihat seperti topeng belaka. "Iya, Mas Damar."
Helen menunduk lagi, memfokuskan pandangannya pada hiasan piring. Panggilan formalitas 'Mas Damar' selalu ia gunakan, sebuah pemisah halus, pengingat bahwa koneksi mereka bersifat transaksional.
"Laporan dari Bapak masuk lagi pagi ini," lanjut Damar, suaranya kini beralih ke mode bisnis.
"Soal tekanan stakeholders itu, kan?" Helen menanggapi cepat, beralih peran menjadi rekan kerja yang cerdas.
"Ya, tentang itu. Mereka ingin kita terlihat semakin harmonis. Dan, yah, soal pewaris. Itu tekanan lama yang semakin kuat akhir-akhir ini," ujar Damar.
Tangan Helen di bawah meja meremas tepi serbet, jantungnya mencelos. Selama ini, dia berhasil mengabaikan bagian 'keturunan' dalam kontrak, membiarkannya mengambang, berharap kesibukan Damar menunda kewajiban fisik yang mengerikan itu. Namun, Damar menyebutnya sekarang, malam ini, dengan nada yang begitu tegas.
"Tentu, Mas Damar." Helen mengangkat matanya yang tenang. Ia tidak boleh menunjukkan kerentanan atau rasa sakit, itu bukan bagian dari perjanjian.
"Aku tahu kamu sudah berusaha maksimal." Damar menjeda, tatapannya menyapu wajah Helen.
"Masalahnya, aku merasa ... semua orang percaya pernikahan kita sempurna, kecuali kita sendiri, Helen."
Damar menegaskan jarak, kata 'kita' hanya mencakup tanggung jawab dan kontrak. Tidak ada cinta, tidak ada koneksi personal. Hampa.
"Dan karena kita telah sampai di titik ini." Damar mencondongkan sedikit tubuhnya ke depan.
"Aku ingin memperjelas. Kamu istriku, Helen, untuk nama, status sosial, dan perusahaan."
Dia melihat ekspresi kosong yang menjadi keahlian Helen, keahlian yang membuatnya bertahan selama dua tahun dalam kebekuan ini. Ekspresi yang dahulu ia sukai karena menandakan kepasifan, kini justru membuatnya frustrasi. Keinginan itu tumbuh, hasrat tersembunyi untuk mengguncang Helen dan melihat ada api atau air mata di sana.
"Di luar dari penampilan publik, kita hanya berfungsi seperti ini," katanya lagi, memastikan pesan itu menancap kuat. "Jangan berharap hal yang aneh-aneh. Jangan berpikir kita tiba-tiba bisa menjadi seperti pasangan di sinetron, karena starting point kita tidak seperti itu."
Darah di pembuluh darah Helen terasa membeku. Ia tahu Damar benar, kontrak mereka sejelas kristal. Namun, rasa cintanya pada pria di depannya ini mulai tumbuh secara perlahan, tak terhindarkan. Helen hanya menginginkan sebuah koneksi, sebuah tawa, setidaknya rasa sayang dari mata dingin itu.
"Aku mengerti, Mas Damar." Suara Helen pelan, hampir seperti bisikan.
"Bagus."
Damar menyandarkan punggung ke kursinya lagi, profesionalisme kembali menyelubungi.
"Minggu depan aku akan mengajakmu ke pertemuan dengan rekan dari Timur Tengah. Berpakaianlah seperti yang sudah kita tentukan."
Damar sama sekali tidak meminta persetujuan. Ia memberi perintah. Dan Helen adalah manajernya di ranah personal, yang memastikan penampilannya tidak cacat.
"Akan aku lakukan. Aku sudah menyiapkan beberapa pilihan pakaian," kata Helen, tangannya kini terasa kebas karena menahan diri.
Seandainya dia bisa berteriak, mengakui bahwa ada perasaan tersembunyi di balik janji palsu ini. Tiba-tiba, sebuah ide gila melintas. Helen mencondongkan tubuhnya, tindakan spontan, yang melanggar semua aturan tak tertulis yang selama ini mereka pegang.
"Mas Damar."
Ia memulai, nadanya lebih rendah dari biasanya. "Apa Mas Damar benar-benar gak ... merasakan apa-apa? Setelah dua tahun?"
Keheningan di antara mereka mendalam, melebihi sunyi sebelumnya. Damar terkejut. Ada jeda singkat, di mana ia menatap mata Helen menahan air mata yang belum tumpah. Ia melihat kelemahan, kerentanan yang telah disembunyikan Helen bertahun-tahun. Dan rasa jijik perlahan muncul di wajah Damar, disamarkan oleh kelelahan. Damar membenci drama. Ia menikahinya karena Helen bebas drama.
"Aku lelah, Helen." Damar berkata pelan, nada dingin itu kembali, menghapus jeda emosional yang singkat. "Aku lelah sekali dengan tuntutan pekerjaan dan keluargaku. Jangan tambah lagi dengan tuntutan emosional."
Ia menarik napas. "Pernikahan ini memberi kita stabilitas dan perlindungan dari keluarga. Jangan sampai hancur hanya karena keinginan romansa yang kekanak-kanakan."
Perkataan itu menusuk jauh lebih dalam daripada pengakuan formalnya. Romansa kekanak-kanakan. Helen menarik diri, tubuhnya mengejang hampir tidak terlihat. Ia merasa bodoh karena berpikir bahwa sedikit saja kelemahan yang ia tunjukkan akan membuahkan empati, bukan penolakan dingin.
"Maaf, Mas. Tidak akan aku ulangi lagi," janji Helen, suaranya kembali ke level nol, ke nada yang dingin dan rapi.
Damar mengangguk puas.
"Itu istriku," katanya.
Bukan sebagai pujian penuh kasih, melainkan sebagai persetujuan fungsional. "Kalau sudah selesai, aku mau ke perpustakaan sebentar, ada data yang harus kupelajari sebelum rapat besok."
"Ya."
Damar segera bangkit dari kursi, menjauhkan dirinya dari meja tanpa melihat ke belakang. Langkah kakinya berat di lantai marmer, menjauh ke sayap kanan rumah yang dipenuhi buku-buku berharga. Dia menghilang dalam pekerjaan, satu-satunya tempat ia menemukan ketenangan.
Helen tetap duduk di sana, mendengarkan keheningan yang tersisa setelah kepergian Damar. Makanan mahal di depannya terasa hambar. Seluruh keberadaannya terasa hambar.
Ia menggeser kursi. Gaun malam sutra hitamnya bergesekan halus. Ia berjalan kembali ke kamar mereka, kamar yang hanya berfungsi sebagai tempat tidur, dipisahkan oleh dua bantal dan janji kosong. Di ruang hampa tersebut, Helen menyentuh sudut matanya. Kering, untungnya. Tidak ada air mata yang boleh tumpah, air mata itu lemah, dan kelemahan adalah musuh utama dalam dunia yang diciptakan Damar.
Di meja rias, Helen menemukan foto pernikahan mereka. Foto yang formal, tampan, cantik, dan palsu. Ia meraihnya, menatap dirinya yang pasif di foto itu, dirinya yang tampak lega bisa berada di tempat aman, tempat berlabel Nyonya Damar Wijaya.
"Tapi tempat itu bukan tempat yang aman," bisiknya kepada refleksi fotonya sendiri.
Ia mematikan lampu kamar, membiarkan kegelapan menelan kemewahan kamar tidur. Saat ia menyelinap ke sisi ranjangnya yang luas, kasur yang lembut terasa kejam di bawahnya. Helen mencoba mengatur napas. Hari telah usai, satu lagi hari yang penuh kepalsuan selesai.
Ia menekan kedua pelipisnya perlahan. Sensasi aneh itu datang lagi, seperti kilatan listrik kecil di bawah tengkorak kepalanya. Sudah sering terjadi, semakin sering sejak ia mulai mempertanyakan keputusannya untuk menikahi Damar dan mulai merindukan hal yang lebih dalam.
Rasa pusingnya terasa seperti putaran internal, diikuti oleh nyeri tajam. Bukan sakit kepala biasa, seperti seseorang sedang menekan dan menarik sebagian otaknya, ingin memisahkan satu lapisan pikiran darinya. Helen menutup mata rapat-rapat, berharap rasa sakit segera berlalu seperti malam-malam sebelumnya.
"Capek banget," gumamnya, bukan karena fisik, tetapi karena kelelahan emosional yang melumpuhkan.
Di tengah nyeri pelipis yang tajam, ia merasakan ada perubahan. Tekanan itu tidak menghilang, tekanan itu mendorong. Sesuatu dalam dirinya mulai meronta, tidak ingin tidur, tidak ingin patuh. Sesuatu ingin bangun dan berteriak, meruntuhkan semua janji kebohongan yang baru saja ia buat kepada Damar. Rasa sakitnya memuncak, dan pandangan Helen berubah kabur.
Saat pandangannya teralih paksa dalam kegelapan, wajah Helen yang damai di bantal tiba-tiba menarik sudut senyum kecil, liar, dan sinis.