Zoltan menarik napas panjang saat melihat pertengkaran kedua adik kembarnya.
Sudahlah ia pusing dengan masalah pekerjaan, kini harus dipusingkan dengan kedatangan dua berandal yang tengah menginap di rumahnya tersebut.
Dulu, dia berpikir akan menjadi anak tunggal. Namun, siapa sangka malah memiliki adik kembar yang speknya mirip titisan dajjal.
Lihat saja, adik kembar yang terpaut usia sepuluh tahun dengannya itu, saat ini sedang cekcok perkara sebuah ponsel.
Kalau cekcoknya biasa, mungkin tidak akan membuat tensinya naik. Namun, mereka cekcok sambil mengabsen nama hewan di kebun binatang. Jika tidak segera dilerai, bisa-bisa ia kecipratan jatah dosa yang tak dilakukannya.
"Kalian bisa diam gak!!" teriaknya kemudian.
Dua laki-laki yang serupa bentuk parasnya itu langsung menghentikan pertengkarannya.
"Akhdan duluan yang mulai, A," ucap salah satunya.
"Hey! kamu duluan yang bikin ulah!" Yang satunya tak mau disalahkan juga.
"Perjanjiannya kita gantian main hpnya, tapi kamu gak mau!"
"Kan, game-nya belum mati! Lagian ini hpku!"
"Tapi, kamu mainnya udah dari tadi! Dan hp itu buat barengan untuk sementara waktu!"
"Diaaam!!" Akhirnya Zoltan berteriak dengan intonasi yang semakin meninggi. Sorot matanya tajam, membuat dua orang yang tengah berdebat itu seketika membisu.
"Sekarang berikan hp itu!" Ia mendekat, lalu mengulurkan tangannya untuk meminta ponsel yang tengah menjadi rebutan itu.
"Yah, Aa nggak bisa gitu dong!" protes salah satunya.
"Gak ada toleransi lagi, ayo berikan! Atau aku bilang ke Ummi dan Abi kalau kalian selama di sini hanya membuat keributan dan bermain game!"
"Iya-iya, sukanya ngancem terus!" Dengan cemberut, Akhmal yang memegang ponsel itu segera menyerahkannya kepada kakak beda sepuluh tahun yang menurut mereka sangat menyebalkan.
"Besok kalian berdua aku antar kembali ke kota!"
"Yah, Aa, mah. Baru dua hari yang lalu kita sampai. Belum juga pergi ke mana-mana, masa besok udah mau dipulangin aja?" gerutu Akhdan.
"Iya, A. Kita juga belum ke tempat wisata, siapa tahu di sana ketemu turis cantik," timpal Akhmal.
"Betul, kita berdua, kan, jomlo."
Zoltan memijat pelipisnya yang berdenyut ketika mendengar perkataan kedua adiknya itu. Rasanya, ia ingin menyumpal mulut mereka memakai kaus kakinya.
Kenapa yang ada di pikiran mereka hanya seputar itu saja? Ke mana hilangnya ilmu agama yang orang tuanya tanamkan sejak kecil itu?
"Kalau nggak mau dipulangin besok, ya sudah hari ini saja kalian pulang naik kereta!"
"Nggaaak mauu!!" teriak bocah kembar itu bebarengan.
"Kalau gitu nurut! Kalian berdua hanya membuatku pusing kalau kelamaan di sini."
Zoltan pun berlalu meninggalkan kamar yang dihuni kedua adiknya tersebut. Ia memilih keluar sebentar untuk mencari udara segar. Sumpek sekali rasanya pulang mengajar mendapati mereka berdua saling bertengkar.
Ini mending bertengkar hanya dengan adu mulut. Biasanya sampai jambak-jambakan, tendang-tendangan, bahkan pernah sampai berkelahi hingga berdarah-darah.
Percayalah, kedua orang tuanya sudah jengah menasihati kedua adik kembarnya itu. Namun, kedua berandal itu masih takut dengannya.
Kakak laki-laki itu bernama Ahmad Zoltan Zamzawi. Anak sulung dari pasangan Gus Amri dan Safiya. Usianya tiga puluh tahun. Kini, ia menjadi pengajar di Ponpes Sido Giri, Sleman, Yogyakarta, tempat mondok ayahnya waktu masih muda dulu.
Mempunyai dua adik laki-laki kembar yang tengil bin menyebalkan membuat ia harus menyetok kesabaran yang super banyak.
Meskipun sewaktu kecil Zoltan juga tengil, tetapi ketika sudah besar, ia berubah menjadi pribadi yang sopan, kalem dan tegas.
Berbeda sekali dengan kedua adiknya yang semakin besar justru semakin menjadi-jadi kelakuannya, pacaran, suka tawuran, bahkan pernah ketahuan mabuk-mabukan.
Mereka berdua memilih melanjutkan pendidikan di luar pondok. Sebenarnya tidak semua wadah pendidikan selain pondok memberikan pengaruh yang buruk, mungkin adiknya hanya salah bergaul hingga menyebabkannya menjadi seperti itu.
"Teh anget sama nasi goreng biasa satu ya, Pak," ucap Zoltan saat memilih berhenti di warung nasi goreng langganannya.
"Baik, Mas." Penjual itu segera membuatkan pesanannya karena kebetulan tidak ada pembeli selain dirinya.
Sambil menunggu pesanannya jadi, Zoltan memilih mengecek ponsel adiknya tadi. Ponsel satu yang dipakai untuk berdua karena yang satunya sudah disita orang tuanya.
Matanya terbelalak saat mendapati pesan masuk yang berada di ponsel tersebut dari nomor asing.
[Besok temui aku di tempat biasa, ya, Sayang.]
[Aku tunggu, soalnya aku masih kangen sama kamu.]
[Kita ulangi lagi malam yang penuh kenikmatan itu!]
[Dan aku ingin memberitahumu tentang sesuatu yang penting, jadi aku harap kamu datang!]
Zoltan yang membaca pesan itu seketika mengeraskan rahangnya, ia meremas ponsel dalam genggamannya dengan amarah yang membuncah.
Apa maksud pesan itu? Apa selama ini kedua adiknya telah melakukan sebuah perzinahan? Astaga, kenapa kenakalan mereka sampai sejauh itu?
"Pak, maaf saya nggak jadi pesen. Ini uang bayarannya," ucap Zoltan sembari meletakkan uang lima puluh ribuan di atas meja dan segera berlari ke arah motornya.
"Lho, Mas, ini sebentar lagi pesanannya jadi!" teriak penjual itu.
"Buat bapaknya saja. Maaf ya, tiba-tiba saya ada urusan yang mendadak." Zoltan segera memacu motornya dengan kecepatan penuh meninggalkan penjual nasi goreng tersebut menuju ke rumahnya lagi.
"Awas saja kalian! Tak akan kuberi ampun!"
***
Braak!!
Zoltan yang sudah sampai di rumah langsung mendobrak pintu kamar adiknya.
Akhdan dan Akhmal yang tengah asik bermain play station seketika menghentikan kegiatannya, mereka menatap heran ke arah kakaknya yang baru saja datang dengan ekspresi mengerikan.
"Siapa perempuan ini?" tanya Zoltan dengan nada meninggi. Ia melemparkan ponsel yang digenggamnya ke arah mereka.
Dua orang yang kebingungan itu langsung meraih ponsel tersebut kemudian membaca tampilan room chat dari nomor asing tadi.
Begitu selesai membaca pesan tersebut, mereka saling pandang sejenak, lalu menggelengkan kepala secara bersamaan.
"Akhdan enggak tau ini nomor siapa, A."
"Akhmal juga."
Tampak Zoltan membuang napas dengan kasar. "Kalau bukan kalian, kenapa perempuan itu bisa mengirim pesan seperti itu?"
"Sungguh, kami enggak tahu, A."
"Iya, A. Sungguh kami enggak tahu."
Braak!!
Zoltan meninju pintu di sebelahnya, membuat Akhdan dan Akhmal kian terkejut.
"Jawab jujur!!" bentaknya yang sudah tak bisa menahan kesabaran lagi.
"Sungguh, A. Kami enggak mengenal siapa pemilik nomor itu."
Zoltan menarik napas dalam mencoba menenangkan dirinya sendiri. "Kemasi barang kalian! Malam ini kita pulang ke kota. Ummi dan Abi harus tahu kelakuan kalian ini seperti apa!"
"Jangan, Aa!" Akhdan segera berlari mendekat ke arah Zoltan sembari memegang lengannya, begitupun dengan Akhmal.
"CE-PAT!! Sebelum kuterapkan hukum rajam untuk kalian!"
Tidak ingin membuat kakaknya semakin marah, dua saudara kembar itu langsung mengemasi barang-barangnya kemudian menyusul Zoltan yang sudah berjalan ke arah mobil terlebih dahulu.
"Akhdan, tamatlah riwayat kita!" bisik Akhmal tepat di samping telinga saudara kembarnya.
"Sstt …, tutup mulutmu itu!"