Bab 1
Usai melangsungkan pernikahan, Dahlia langsung diboyong ke rumah Ardi. Sebenarnya, ia tidak ingin tinggal di sana. Namun, ia sama sekali tidak menentang keinginan suaminya.
Gelar istri salehah dan patuh yang selalu ditanamkan ibunya membuat Dahlia mengikuti langkah Ardi. Sepuluh tahun membina rumah tangga bukanlah waktu yang singkat. Berbagai suka dan duka telah mereka lalui bersama.
Dulu, Ardi adalah sosok suami yang penyayang dan romantis. Namun, semuanya berubah sejak ia mengenal seorang wanita bernama Najwa. Kini Ardi lebih sering marah dan bersikap dingin kepada Dahlia. Tak jarang, Dahlia harus menahan sakit saat suaminya membandingkan dirinya dengan wanita itu.
"Eh, kamu kenapa berbeda dengan Najwa ya, Dahlia?" tanya Ardi.
Perkataan itu membuat Dahlia terkejut. Najwa adalah nama yang belakangan ini sering diucapkan oleh Ardi.
"Mas, Najwa itu siapa sih? Teman kamu atau seseorang dari masa lalu?" tanya Dahlia, meski ada rasa perih yang menjalar di dadanya.
"Bukan siapa-siapa," jawab Ardi tegas.
"Kalau memang bukan siapa-siapa, kenapa namanya sering kamu sebut di hadapanku?" sahut Dahlia dengan nada kesal.
Awalnya, Dahlia sangat sakit hati setiap kali dibandingkan dengan wanita lain. Namun kini, entah mengapa, rasa sakit itu hanya mampu ia telan sendiri.
Padahal selama ini ia selalu menjaga perasaan Ardi demi keutuhan rumah tangga mereka. Dalam hati, Dahlia sering bertanya-tanya, seperti apa sosok Najwa hingga begitu dikagumi suaminya.
"Kamu benar-benar sangat berbeda dengan Najwa."
Ardi kembali mengulang perkataannya.
"Bedanya di mana, Mas?" tanya Dahlia.
Ardi terdiam sejenak sebelum menjawab.
"Kamu selalu mengandalkanku untuk mencari uang, sedangkan Najwa bekerja sendiri tanpa meminta pada suaminya. Dia mandiri, ke mana-mana tidak pernah merepotkan orang lain. Sementara kamu? Ke pasar saja harus diantar karena tidak bisa membawa motor, dan yang paling penting, dia juga pintar memasak."
Dahlia menarik napas panjang.
"Mas, meskipun aku tidak sejago Najwa, setidaknya aku selalu menyiapkan makanan untukmu. Kamu bilang aku tidak bekerja? Apa kamu lupa siapa yang dulu melarang aku bekerja? Sebelum menikah, aku juga punya pekerjaan tetap. Lagi pula, meski di rumah, aku tetap memiliki penghasilan. Kamu tahu sendiri omzetku setiap bulan. Mungkin aku kalah dalam urusan membawa motor, tetapi soal penghasilan belum tentu. Kerja tidak selalu mengandalkan tenaga, Mas. Zaman sudah berubah."
Ardi tertawa sinis.
"Kamu pikir aku akan membanggakanmu? Di mataku tidak ada satu pun hal dari dirimu yang bisa dibanggakan."
Dahlia mengelus dada.
"Seharusnya kamu bangga padaku, Mas. Aku juga bekerja dan menghasilkan uang, tapi sudahlah, kalau di matamu aku hanya beban."
Malam pun tiba.
Dahlia dan Ardi berada di kamar yang sama. Namun, ada sesuatu yang terasa janggal. Ardi memilih tidur di sofa, sementara Dahlia tidur sendiri di atas kasur.
"Mas, ayo tidur di sini," ajak Dahlia.
"Iya, tidurlah kamu di sana," jawab Ardi.
"Kenapa, Mas?"
"Aku lebih nyaman tidur di sofa. Tidak terlalu panas."
Dahlia tidak ingin memperpanjang perdebatan. Ia memilih diam dan berbaring sendiri.
Dalam keheningan malam, pikirannya kembali dipenuhi sosok Najwa. Semakin lama, Dahlia semakin sadar bahwa ada sesuatu yang berubah dalam diri suaminya. Dari sikap dan bahasa tubuh Ardi, ia merasakan satu hal yang paling menyakitkan dan cinta itu perlahan menghilang.
Pagi pun tiba.
Seperti biasa, Dahlia membereskan rumah. Setelah merapikan ruangan dan mencuci piring, ia masuk ke kamar untuk membangunkan suaminya.
Dahlia menepuk pelan pundak Ardi. "Mas, ayo bangun. Sudah jam delapan."
"Apa? Jam delapan?" Ardi langsung terkejut.
"Iya, Mas."
"Waduh, aku terlambat. Aku mandi dulu."
Ardi segera menuju kamar mandi. Sementara itu, Dahlia pergi ke dapur untuk membuatkan teh hangat.
Tak lama kemudian, Ardi keluar dari kamar mandi dan duduk di ruang tamu. Dahlia datang membawa secangkir teh.
"Mas, ini teh hangat untukmu."
"Makasih ya."
"Iya."
Ardi langsung meminumnya. Setelah beberapa saat, ia berpamitan untuk berangkat kerja. Dahlia mengantarnya sampai ke depan rumah dan memperhatikan suaminya pergi.
Setelah itu, ia kembali masuk ke dalam rumah.
Dahlia merapikan kamar, melipat pakaian, lalu menata lemari. Ketika semua pekerjaan selesai, ia duduk di ruang televisi untuk mengusir bosan. Namun, beberapa menit kemudian, ia mematikan televisi karena tidak ada acara yang menarik.
Ia memutuskan berjalan ke taman yang letaknya tidak jauh dari rumah. Setelah beberapa saat menikmati suasana, Dahlia pergi ke pasar untuk membeli bahan masakan.
Sesampainya di rumah, ia langsung memasak.
Hari itu ia membuat soto daging, makanan kesukaan Ardi. Meski sering mendapat perlakuan yang menyakitkan, Dahlia tetap memasaknya dengan penuh perhatian. Ia terus berusaha belajar agar semakin mahir memasak.
Setelah selesai, ia beristirahat sejenak.
Tak terasa waktu Zuhur tiba. Azan berkumandang dari masjid. Dahlia segera mengambil air wudu dan menunaikan salat Zuhur.
Setelah salat, ia tidak langsung melipat mukena dan sajadahnya. Seperti biasa, ia menengadahkan tangan untuk berdoa.
Ia tidak pernah lelah memohon agar rumah tangganya tetap bertahan. Selain itu, Dahlia juga berharap segera diberi keturunan. Kesepian sering kali menghampirinya. Meski telah memiliki suami, ia tetap merasa hidup seorang diri.
Dalam doanya, Dahlia berbisik lirih.
"Ya Allah, lindungilah rumah tanggaku. Jagalah keharmonisan kami dan jauhkan segala hal yang dapat merusaknya. Jauhkan kami dari godaan setan dan jin Dasim. Ya Allah, izinkanlah aku memiliki keturunan agar hidupku tidak terasa kosong. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mengabulkan doa-doa hamba-Mu. Ampunilah segala dosa-dosaku. Aamiin."
Selesai berdoa, Dahlia melipat mukena dan sajadahnya dengan rapi. Setelah itu, ia memutuskan untuk beristirahat sejenak sebelum Ardi pulang bekerja pada sore hari.