


oleh Adissutria Adiss · 73 Bab
Aisyah, mantan santri yang lembut dan penuh kesabaran, percaya bahwa melayani suami adalah jalan menuju ridha Allah. Namun, ketika Damar meraih kesuksesan, cinta yang dulu begitu hangat perlahan memudar. Kehadiran wanita lain, tuntutan dunia, dan hinaan dari mertua membuat pengorbanan Aisyah tak lagi dihargai. Hingga suatu hari, ia memilih pergi tanpa air mata dan tanpa kebencian. Saat itulah Damar menyadari bahwa kehilangan istri salehah adalah hukuman paling menyakitkan. Mampukah ia merebut kembali hati yang telah hancur, atau penyesalan akan menjadi teman seumur hidupnya?
"Aisyah, jangan lupa bekal makan siangnya."
Suara lembut itu terdengar dari dapur rumah sederhana yang masih diselimuti udara pagi. Aroma nasi goreng kampung bercampur telur dadar memenuhi ruangan, menghangatkan suasana sebelum matahari benar-benar meninggi.
Aisyah Rahma tersenyum sambil menata kotak makan ke dalam tas kerja suaminya. Tangannya bergerak cekatan, sementara bibirnya tak henti melantunkan zikir pelan yang telah menjadi kebiasaan sejak masih mondok di pesantren.
Ia mengenakan gamis berwarna krem dengan hijab senada. Penampilannya sederhana, tetapi memancarkan keteduhan yang sulit dijelaskan.
Tak lama kemudian, Damar Pratama keluar dari kamar dengan kemeja putih yang sudah rapi dan jas hitam tersampir di lengannya.
"Sudah siap?" tanya Aisyah sambil tersenyum.
"Iya." Jawaban Damar singkat. Ia menerima tas kerja yang disodorkan istrinya tanpa banyak bicara.
Aisyah tidak mempermasalahkannya. Ia paham beberapa minggu terakhir suaminya sedang sibuk membangun perusahaan yang semakin berkembang. Hampir setiap hari Damar pulang larut malam.
"Ini bekalnya. Jangan lupa dimakan. Kemarin juga masih utuh."
Damar hanya mengangguk. "Nanti kalau aku tidak sempat makan, biar sekalian makan malam saja."
"Kalau terlalu sibuk, setidaknya minum dulu. Jangan sampai sakit."
Tatapan Aisyah penuh perhatian.
Damar menghela napas tipis. "Kamu selalu mengkhawatirkanku."
"Karena memang itu tugasku."
Jawaban sederhana itu membuat Damar tersenyum kecil. Sesaat, pria itu menatap wajah istrinya.
Dulu, justru kelembutan itulah yang membuatnya jatuh cinta.
Mereka bertemu tiga tahun lalu ketika Damar menjadi pembicara dalam sebuah seminar kewirausahaan di pesantren tempat Aisyah belajar.
Saat itu, Aisyah menjadi panitia konsumsi.
Tak banyak bicara.
Selalu menundukkan pandangan. Namun, setiap kalimat yang keluar dari mulutnya terdengar begitu santun.
Sejak saat itu, Damar yakin telah menemukan perempuan yang ingin ia jadikan pendamping hidup.
Banyak teman yang menertawakannya.
"Serius mau nikah sama mantan santri? Nanti hidupmu isinya ceramah." Namun, Damar tidak peduli.
Baginya, Aisyah adalah perempuan terbaik yang pernah ia kenal. Dan kini, mereka telah menikah hampir tiga tahun. Meski belum dikaruniai anak, rumah tangga mereka selama ini terlihat baik-baik saja.
Setidaknya ... begitulah yang dipikirkan Aisyah.
"Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikumussalam."
Aisyah mengantar Damar sampai ke teras.
Sebelum masuk ke mobil, Damar mencium kening istrinya. "Doakan rapatku lancar."
"Semoga Allah memudahkan semua urusan Mas."
"Aamiin."
Mobil hitam itu perlahan meninggalkan halaman.
Aisyah tetap berdiri sampai kendaraan tersebut menghilang di tikungan.
Barulah ia masuk kembali ke dalam rumah.
Rumah mereka tidak besar.
Hanya rumah tipe sederhana yang dibeli dengan hasil tabungan bersama.
Meski begitu, Aisyah selalu menjaganya tetap bersih.
Baginya, rumah bukan tentang seberapa mewah bangunannya. Melainkan tentang ketenangan yang ada di dalamnya.
Ia segera membereskan meja makan, mencuci piring, menyapu lantai, lalu menyiram tanaman di halaman.
Semua dikerjakannya sambil bersenandung pelan.
Sesekali ia tersenyum sendiri ketika mengingat cita-citanya dahulu.
Ia sebenarnya pernah mendapat tawaran menjadi guru di sebuah sekolah Islam. Namun, ia memilih mendampingi suami membangun rumah tangga.
Baginya, keberhasilan suami juga merupakan kebahagiaannya.
Ponselnya tiba-tiba berdering.
Nama yang muncul membuat wajahnya berbinar.
"Ibu."
"Assalamu'alaikum, Nak."
"Wa'alaikumussalam, Bu. Bagaimana kabarnya?"
"Alhamdulillah sehat. Kamu bagaimana?"
"Alhamdulillah juga."
Mereka berbincang cukup lama.
Ibu Aisyah selalu mengingatkan agar putrinya tidak lupa menjaga kesehatan.
"Kamu jangan terlalu capek melayani suami."
Aisyah tertawa kecil. "Melayani suami itu ibadah, Bu."
"Iya, tapi tubuhmu juga harus dijaga."
Aisyah mengangguk meski ibunya tak bisa melihat. "Insyaallah."
Sebelum menutup telepon, ibunya berpesan, "Kalau suatu hari nanti ada masalah, jangan dipendam sendirian."
Kalimat itu membuat Aisyah terdiam beberapa detik.
"Kenapa diam?"
"Tidak apa-apa, Bu."
"Yakin?"
"Iya."
Padahal, entah mengapa akhir-akhir ini ia merasa Damar mulai berubah.
Bukan berubah menjadi kasar.
Bukan pula berhenti memberi nafkah.
Hanya saja, perhatian pria itu terasa semakin berkurang.
Obrolan mereka tak lagi sepanjang dulu.
Makan malam bersama semakin jarang.
Bahkan terkadang Damar lebih sibuk menatap layar ponselnya dibanding mendengarkan cerita istrinya. Namun, Aisyah memilih berpikir positif.
Mungkin suaminya memang sedang lelah bekerja.
Di sebuah gedung perkantoran megah di pusat kota, Damar baru saja memasuki ruang rapat.
"Selamat pagi, Pak Damar."
"Selamat pagi."
Para karyawan menyambutnya dengan hormat.
Kini perusahaan yang ia bangun dari nol mulai dikenal banyak investor. Proyek demi proyek datang silih berganti. Kesuksesan yang dulu hanya mimpi perlahan menjadi kenyataan.
"Pak." Seorang wanita berpenampilan elegan menghampirinya.
Bella. Manajer pemasaran yang baru bergabung tiga bulan lalu.
"Presentasinya sudah siap."
"Bagus."
Bella tersenyum manis. "Pak Damar hebat sekali. Investor tadi sampai memuji perusahaan kita."
"Masih banyak yang harus diperbaiki."
Bella berjalan di samping Damar. "Ngomong-ngomong, nanti malam ada jamuan makan dengan klien."
Damar mengangguk. "Baik."
"Boleh mengajak pasangan."
Langkah Damar terhenti.
Bella kembali tersenyum. "Istri Bapak pasti cantik."
Damar terdiam sesaat. "Iya."
"Berarti nanti ikut?"
Damar menggeleng. "Dia kurang nyaman menghadiri acara seperti itu."
Bella tertawa kecil. "Sayang sekali."
Tanpa disadari, percakapan mereka didengar beberapa karyawan.
"Pak Damar memang sayang banget sama istrinya."
"Iya. Katanya istrinya mantan santri."
"Pantas kelihatannya kalem."
Bella hanya tersenyum tipis. Namun dalam hati, muncul rasa penasaran.
Perempuan seperti apa yang bisa membuat pria sesukses Damar memilih menikah muda?
Menjelang malam, Aisyah kembali menyiapkan makan malam.
Sup ayam kesukaan Damar sudah tersaji di atas meja.
Jam menunjukkan pukul tujuh.
Lalu delapan.
Kemudian sembilan.
Makanan mulai dingin.
Ponselnya bergetar. Mas Damar.
"Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikumussalam."
"Mas, pulangnya jam berapa?"
"Maaf, masih ada jamuan makan dengan klien."
"Oh ... begitu."
"Jangan tunggu aku."
"Baik."
Telepon terputus.
Aisyah memandangi meja makan yang sudah ia siapkan sejak sore.
Ia mengembuskan napas panjang.
Bukan kecewa karena Damar tak pulang.
Ia hanya sedih karena suaminya bahkan tidak sempat memberi kabar lebih awal.
Dengan pelan ia membereskan semua hidangan.
Sebagian dimasukkan ke dalam kulkas.
Sebagian lagi ia bagikan kepada tetangga sebelah.
Malam semakin larut.
Setelah menunaikan salat isya, Aisyah duduk di ruang tamu sambil membaca Al-Qur'an.
Setiap ayat yang dilantunkannya membuat hati terasa lebih tenang.
Ia percaya, ujian sekecil apa pun harus dihadapi dengan kesabaran.
Sekitar pukul sebelas malam, suara mobil akhirnya terdengar. Damar pulang.
Aisyah segera membukakan pintu. "Wah, Mas sudah pulang."
"Iya."
"Kamu belum tidur?"
"Menunggu Mas."
Damar terlihat lelah. Namun, sebelum masuk kamar, aroma parfum asing tercium samar dari jas yang dikenakannya.
Aisyah mengernyit. Harum itu bukan parfum milik Damar. Bukan pula aroma yang pernah ia cium sebelumnya.
"Mas ...."
"Iya?"
"Tadi benar makan bersama klien?"
"Iya."
"Ramai?"
"Cukup." Jawaban itu singkat.
Damar langsung masuk ke kamar mandi tanpa berkata apa-apa lagi. Sementara Aisyah berdiri mematung di ruang tamu. Tatapannya tertuju pada jas suaminya yang tergantung di kursi.
Entah mengapa, untuk pertama kalinya sejak mereka menikah, hatinya dipenuhi perasaan yang sulit dijelaskan.
Ia berusaha mengusir prasangka buruk. Namun, jauh di lubuk hatinya, muncul sebuah pertanyaan yang membuat dadanya terasa sesak.
Apakah kesibukan benar-benar menjadi alasan perubahan Damar, atau ada seseorang yang perlahan mulai mengambil tempatnya sebagai istri?
Aisyah memejamkan mata. Lalu beristigfar berkali-kali.
Ia memilih memercayai suaminya. Karena bagi seorang mantan santri, prasangka adalah awal dari keretakan.
Ia tidak pernah tahu, malam itu menjadi awal dari ujian terbesar dalam rumah tangga yang selama ini ia jaga dengan segenap cinta dan doa.

Adissutria Adiss
1 Pengikut · 2 Novel