


oleh Lavendulaaa · 102 Bab
Percaya dengan perkataan orang yang bilang, “Semua orang punya kesulitan sendiri-sendiri dalam hidupnya” membuatku tidak yakin. Aku terlalu menyamakan kehidupanku dengan mereka sehingga aku merasa terlalu menyedihkan. Entah hidupku yang terlalu banyak air mata atau hidup mereka yang terlalu rapi menyimpan segalanya. Semua orang yang menyayangiku satu persatu pergi. Aku dipaksa untuk mengikhlaskan apa yang terjadi di masa lalu dan berdamai dengan masa lalu. Mungkin memang benar bahwa bahagia akan selalu berubah variabelnya, tapi aku tidak yakin akan variabel bahagia yang benar-benar membuatku bahagia. Aku mempertanyakan semua yang terjadi padaku. Apa memang ini takdirku? Mengapa ini terlalu menyedihkan, Tuhan?
Namaku Farina Azzalea, semua memanggilku Farin. Wajahku yang pas-pasan mungkin terlihat biasa. Namun aku sadar banyak orang yang tidak menyukai sifatku yang diam, dingin, cuek dan terkadang semena-mena.
Aku marah saat ada orang yang lebih cantik dari aku dan diperlakukan dengan sangat baik. Mereka semua memanjakan semua yang berwajah cantik dan … seksi. Apa yang salah dengan wajah pas-pasan dan tubuh yang sedikit berisi?
“WOI FARIN!” Suara teriakan itu membuatku membalikkan badanku dengan malas dan menatap seorang gadis yang meneriakkan namaku. Senyum ceria gadis pemilik suara itu membuatku mendengus kesal.
Dia Laila Syahputri, sahabatku. Entah apa yang membuatnya bertahan di sampingku. Senyum sinis selalu kuperlihatkan padanya membuat dia selalu memukul bahuku dan menyuruh senyum dengan ikhlas.
“Senyum yang baik dong, Rin, perlu aku kursusin senyumnya?” ujarnya yang telah berdiri di sampingku.
Tanpa mempedulikan dan membalas perkataannya, aku melanjutkan langkahku menuju kelas. Laila meyusul dengan langkah panjangnya untuk menyamai langkahku.
***
“Lihat tuh si Farin, dekil banget ya. Emang gak diurus apa sama orang tuanya? Gitu banget wajahnya. Hih ….” Bisikan yang selalu kudengar saat aku berada di kelas. Bel istirahat baru saja berbunyi dan aku memutuskan untuk tidur di kelas sedangkan Laila sudah menghilang untuk mencari makan.
Bisikan demi bisikan selalu masuk ke telingaku sehingga aku dapat mendengar, meski samar-samar.
Bohong, jika diamku adalah alasan aku tidak mendengar mereka. Aku memiliki dua telinga yang diciptakan Tuhan dengan keadaan berlubang.
Bahkan saat aku tidak ingin mendengarnya sekali pun, bisikan mereka dengan santai masuk ke telingaku.
Bukan karena aku tidak ingin menghentikan mereka, tapi aku sangat membenci mencari masalah dengan mereka. Selama mereka tidak menggangguku secara fisik, aku tidak akan mengusik mereka.
“Rin, tidur mulu sih. Nih aku bawa minuman kesukaan kamu. Tadi aku ke KOPSIS dan tahu kamu pasti ngantuk banget, jadi aku beli ini buat kamu,” kata Laila yang baru datang dan menyodorkan kopi nescafe black yang memang selalu menemaniku. Aku menerimanya dan menyodorkan uang sepuluh ribu untuk Laila.
“Kamu pikir aku teman apaan? Ini tuh cuma lima ribu kok, nanti aja gantinya pakai temani aku makan di seblak biasa yah!” pintanya.
“Kamu kasih ini buat aku sebagai bentuk sogokan nih, biar aku mau keluar sama kamu?” tembakku yang tepat sasaran.
Wajah Laila berubah memohon padaku membuatku tidak tega untuk menolaknya. Sudah sangat sering aku menolaknya untuk keluar bersama ke mana pun tujuannya.
Hari ini terpaksa aku menganggukkan kepala mengiyakan permintaannya. Dia sangat bahagia dan memelukku. Senyum tipis aku keluarkan, tapi sangat tipis hingga mungkin tidak ada yang menyadari senyumanku.
Sesuai janjiku, aku mau menemani Laila untuk makan di kedai seblak kesukaannya. Aku pun menyukai seblak di sini, namun aku hanya malas jika harus bergabung dengan beberapa orang lain. Aku lebih senang membeli dan membawanya pulang, meski setelahnya sudah pasti aku akan kena marah Bunda.
Aku duduk di salah satu bangku yang tersedia bersama dengan Laila setelah kami memesan seblak kami dan minumannya.
“Rin, kamu kenapa setiap hari selalu tidur di kelas? Ada masalah ya? Apa kamu putus cinta Rin?” tanya Laila.
Dia memang sahabatku, tapi kami baru kenal sejak kelas 1 SMA dan semakin dekat dan menjadi sahabat di kelas 2 SMA ini. Aku menganggapnya sahabat karena dia mendedikasikan dirinya di depan teman-teman banyak dan mengatakan bahwa dia adalah sahabatku.
“Apaan sih, La? Ngawur kamu kalau ngomong. Aku tidur, ya karena aku capek, sudah itu aja. Mana ada yang namanya putus cinta. Cowok aja gak punya,” jawabku yang masih tidak ingin menceritakan tentang diriku dan kehidupanku padanya.
Bukan karena aku tidak percaya, tapi rasanya aneh menceritakan semua di saat kami baru dekat seperti ini. Biarlah semua berjalan apa adanya dan bila tiba saatnya aku akan menceritakan semua padanya. Tentunya saat aku mulai yakin.
“Rin, kamu tahu anak-anak di kelas selalu lakukan apa pun?” tanyanya lagi seolah berhati-hati.
Aku tahu arah pembicaraannya. Aku menatapnya datar dan tersenyum sinis. Dia menutup mulutnya saat melihat ekspresiku yang mungkin tidak bersahabat untuknya.
“Emang aku harus tahu apa yang mereka lakukan? Kalau emang enggak penting buat hidup aku, apa yang harus aku korek dari kelakuan mereka. Mereka tidak memiliki kontribusi besar di hidupku,” jawabku sinis.
Laila terdiam dan melihatku dengan bibir bawahnya yang di tekuk ke dalam. Pesanan kami datang dan membuat kami saling terdiam dan bergulat dengan makanan kami. Hanya bunyi sendok dan mangkuk yang beradu. Laila makan dengan menundukkan kepalanya tanpa melihat ke depan sama sekali.
Setelah menghabiskan makanan kami masing-masing, aku menatapnya yang masih tidak membuka suaranya dan menunduk saat meminum minumannya.
“Wajah kamu enggak akan jatuh kalau pun kamu lihat ke depan. Lagian di bawah enggak ada uang jatuh kok. Ngapain lihat bawah terus?” sindirku membuat dia mendongakkan wajahnya menatapku.
“Maaf,” ucapnya membuatku mengerutkan kening heran. “Aku tahu, Rin, aku bukan sahabat yang baik. Mungkin aku enggak pantas buat menyandang predikat sahabat kamu setelah ini, Rin. Aku gak pernah membela kamu bahkan saat ada orang yang menjelekkanmu di depanku,” lanjutnya membuat wajahku datar kembali.
“Aku enggak butuh dibela. Mereka pantas menilai aku sesuka hati mereka, aku bukan anak kecil yang akan meminta pertolongan saat aku merasa terganggu. Enggak usah mikir aneh-aneh,” kataku.
“Rin, kamu belum percaya sama aku, ya? Aku mau kok, Rin, jadi teman dengar kamu. Apa pun yang kamu rasakan, aku tahu kamu butuh satu yang seperti itu,” sahutnya. Aku berdiri dan memasang tasku ke bahu.
“Ayo pulang, Bundaku pasti sudah pulang!” ajakku tidak menghiraukannya.
Aku melangkah terlebih dahulu menuju motorku. Kami telah membayar makanan kami saat memesannya membuat kami bisa langsung pulang setelah makan tanpa perlu menunggu kembali untuk membayar makan kami.
Laila menyusul dan menaiki motornya yang terparkir di samping motorku. Kami memasang helm kami terlebih dahulu.
“La, aku duluan. Kamu hati-hati, ya,” pamitku yang menghidupkan mesin motorku terlebih dahulu dan menjalankannya meninggalkan Laila yang berada di belakang.
Rumah kami berbeda arah, jadi aku tak khawatir dengan bertemu dengannya atau berjalan bersama dengannya.
Jujur, aku merasa bersalah padanya karena terlalu cuek dan terlihat tidak menghargainya sebagai temanku. Tapi aku tidak siap membagi privasiku padanya.
“Assalamualaikum!” Aku masuk kedalam rumah setelah memarkirkan motorku di halaman rumahku dan menutup pagarnya.
Aku tersenyum sinis saat melihat keadaan rumah yang sepi. Aku ke kamarku yang berada di dekat ruang keluarga. Pintu kamarku diketuk oleh seseorang dari luar membuatku membukanya kembali dengan malas.
“Bunda nganterin adik les. Kamu kalau makan, makan aja, Kak. Kamu kapan jadi lesnya, Kak?” tanya kakekku.
“Harus les ya?” tanyaku dengan datar.
“Kakek mau kamu juga les, Kak. Lihat nilaimu semakin turun,” katanya. Aku menghela napas pasrah dengan semua keputusan Kakekku.
“Kakak ikut aja. Kakak masih capek, mau istirahat dulu,” pamitku yang masih melihat kakek di depan pintu kamar.
“Jangan lupa solat, Kak!” pesannya yang hanya kuangguki. Kuhela napas berat melihat punggung kakekku menjauh dari kamarku.
Aku menutup pintu kamarku dan duduk di atas kasur. Aku menenggelamkan wajahku dalam tekukan tanganku yang bertumpu pada kakiku. Seolah menjadi manusia yang menyedihkan dan sosok yang lain saat memasuki kamar itu bukan hal yang mengejutkan untukku.
Aku yang tidak ingin semua orang mengetahui kelemahanku malah berbanding terbalik saat masuk ke kamarku. Aku sungguh ingin bisa menumpahkan semuanya.
Sepertinya Laila benar, aku membutuhkan seseorang yang mau menerimaku bercerita. Tapi, itu justru melukai semua yang telah kujaga dengan rapi. Aku berdiri dan mengganti baju, lalu keluar kamar dan memutuskan untuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri.
**

Lavendulaaa
38 Pengikut · 5 Novel