


oleh Lavendulaaa · 113 Bab
Percaya dengan perkataan orang yang bilang, “Semua orang punya kesulitan sendiri-sendiri dalam hidupnya” membuatku tidak yakin. Aku terlalu menyamakan kehidupanku dengan mereka sehingga aku merasa terlalu menyedihkan. Entah hidupku yang terlalu banyak air mata atau hidup mereka yang terlalu rapi menyimpan segalanya. Semua orang yang menyayangiku satu persatu pergi. Aku dipaksa untuk mengikhlaskan apa yang terjadi di masa lalu dan berdamai dengan masa lalu. Mungkin memang benar bahwa bahagia akan selalu berubah variabelnya, tapi aku tidak yakin akan variabel bahagia yang benar-benar membuatku bahagia. Aku mempertanyakan semua yang terjadi padaku. Apa memang ini takdirku? Mengapa ini terlalu menyedihkan, Tuhan?
PLAAKKK
Tangan Farin tiba-tiba mendarat di pipi Arlan membuat pria itu terkejut dan memegang pipinya. Arlan menatap istrinya dengan wajah bingungnya, Farin hanya menurunkan tangannya.
“Sayang?!” kaget Arlan sembari memegang bekas tamparan istrinya.
“Sayang, ngomong aja apa salahku. Aku akan jelaskan semua dan introspeksi diri.” Arlan mencoba sabar menghadapi istrinya.
“Kamu pernah tidur sama mantanmu ‘kan, Mas,” ujar Farin membuat Arlan terkejut. Farin yang melihat respons Arlan semakin menangis.
“Sayang, dengarkan aku. Aku gak tahu kamu dengar dari mana, aku gak seperti yang kamu pikirkan.” Arlan memeluk erat tubuh istrinya meski ditolak.
“Maaf, aku memang pernah tidur sama dia, tapi bukan seperti itu. Maaf,” kata Arlan masih memeluk istrinya.
“Lalu kenapa dia bilang, dia rindu ‘barang’mu?!” bentak Farin dalam pelukan suaminya. Arlan terkejut mendengarnya, Farin tidak pernah sampai membentaknya seperti ini.
“Kamu tahu dari mana?” tanya Arlan masih mencoba menahan diri.
“Buka HP-mu dan lihat chat satu jam sebelum kita terbang,” kata Farin.
Arlan melakukannya. Pria itu sempat memasukkan HP-nya ke saku. Arlan mencari chat yang dimaksud istrinya. Matanya membulat bahkan ada foto yang diterima.
Arlan menatap istrinya perlahan, bagaimana perasaan wanitanya membaca pesan dari mantannya. Farin tidak membalas tatapan Arlan. Pria itu mendudukkan Farin ke ayunan. Arlan berjongkok dan menyapu pipi istrinya menggunakan ibu jarinya.
“Kamu baca ini? Maaf, serius aku gak pernah sejauh itu sama dia. Aku sudah lama menjalin hubungan, tapi aku masih menghargainya sebagai wanita yang dulu aku harap jadi ibu dari anak-anakku, tapi dia malah bermain di belakangku,” kata Arlan.
Arlan mencium tangan istrinya lembut. Wanita itu masih terlihat sangat sedih. Arlan berdiri dan memeluk istrinya. Farin menenggelamkan wajahnya di perut suaminya.
“Kamu gak rindu dia kan, Mas? Kamu gak main belakang kan?” tangis Farin.
“Enggak. Aku gak akan menyakitimu. Bagaimanapun kamu istriku dan ibu dari anak-anakku,” kata Arlan. Pria itu melepaskan pelukannya dan membungkuk menatap istrinya.
“Kalau ada apa-apa, jangan dipendam. Cerita, kalau aku salah, aku akan memperbaikinya, jadi jangan terlalu kamu pendam sendiri,” ujar Arlan sembari mengusap pipi istrinya.
Farin menatap lembut suaminya. Arlan mengikis jarak mereka. Arlan mulai menyesap bibir istrinya membuat wanita itu membalas perlakuan suaminya.
“Mas … ini playground,” ujar Farin melepaskan diri.
“Ayo pulang, dingin. Kasihan adik,” ajak Arlan yang menyodorkan tangannya untuk menggandeng wanitanya. Farin menerima tangan Arlan. Keduanya mulai kembali menghangat setelah adegan pertengkaran yang terjadi baru saja.
***
Farin terbangun dan menatap wajah suaminya yang tertidur di sebelahnya. Wanita itu mengeratkan pelukan pada suaminya. Tangan Arlan tergerak mengusap rambut panjang istrinya dan mengecup kening istrinya.
“Selamat pagi, Sayang. Selamat pagi juga anak Papa,” sapa Arlan sambil mengusap lembut perut Farin.
“Pagi juga, Mas. Eum, Mas hari ini jalan-jalan ya?” pinta Farin pada suaminya.
“Mau ke mana? Ke Jae?” tanya Arlan penasaran.
“Gak, nanti kamu berpikir negatif terus tentang Jae. Kita ke mall aja. Tiba-tiba pingin beli album, Mas,” jawab Farin.
“Boleh dong, ternyata kamu masih suka itu ya. Nanti kita beli yang kamu suka ya?” Arlan kembali memeluk istrinya mengajak kembali tidur. Namun, Farin meminta bangun dan membuat sarapan.
Setelah perdebatan panjang, Arlan mengatakan dia yang akan memasak dengan panduan dari Farin. Pria itu menyajikan nasi goreng kimchi di atas meja makan.
“Jangan banyak-banyak. Adik kasihan, Sayang,” pesan Arlan saat mulai makan. Farin mengangguk sebentar dan makan dengan tenang.
Seperti yang dijanjikan Arlan sebelumnya, mereka kini bersiap-siap untuk jalan-jalan. Farin membawa barang-barangnya. Dengan rasa bahagia Farin memeluk lengan suaminya keluar dari kamar.
Arlan memakaikan sepatu untuk istrinya. Sneakers yang sangat cocok dengan outfit istrinya. Keduanya menuju mall yang ingin Farin datangi.
Sepanjang jalan, Farin bercerita dengan semangat dan Arlan merespon dengan penuh antusias. Sesekali pria itu mencubit gemas pipi istrinya. Tidak tahu mengapa semua tentang Farin menjadi hal yang sangat disukainya. Kehadiran Farin di hidupnya yang tiba-tiba, kini semakin terasa penting.
Farin mengambil beberapa album yang dia tidak punya dan ingin dibeli. Arlan memperhatikan kegiatan istrinya yang sesekali berbicara pelan pada dirinya sendiri.
“Waah, brondong. Mau beli ah,” ujar Farin mengambil album yang menyita perhatiannya. Arlan terkekeh mendengar Farin menyebut brondong.
“Sayang, kalau mau beli aja. Enggak usah disebut brondong,” tawa Arlan.
“Mereka lebih muda dari aku, jadi mereka brondongku. Sudah, aku mau bayar dulu. Kamu tunggu luar aja sana.” Farin mendorong pelan bahu Arlan.
“Gak usah, sini aku yang bayar,” kata Arlan yang mengambil tumpukan album yang dibawa istrinya. Farin hanya mengikuti Arlan dengan santai.
Keduanya kembali berjalan menyusuri mall. Farin meminta Arlan membelikan es krim untuknya. Arlan pun menyuruh istrinya untuk duduk terlebih dahulu.
Farin memperhatikan suaminya yang membeli es krim untuknya. Wanita itu mengusap perut sebentar dan tersenyum melihat suaminya kembali.
Arlan memberikan es krim yang dia beli pada istrinya. Pria itu ikut duduk di samping istrinya. Farin menikmati es krimnya dengan tenang. Sesekali dia menyodorkan pada Arlan dan pria itu menerimanya.
“Habis ini mau ke mana lagi?” tanya Arlan pada istrinya.
“Pulang aja deh,” kata Farin.
Setelah menghabiskan es krimnya, Farin dan Arlan bangkit dari duduknya untuk meninggalkan tempat tersebut. Udara dingin di awal musim dingin memang selalu mampu membuat hidung Farin memerah. Arlan pun mengajak istrinya pulang dari pada istrinya sakit.
“Istirahat dulu sini,” kata Arlan membantu Farin duduk di sofa.
“Mas, kakiku capek banget rasanya,” keluh Farin yang langsung membuat Arlan mengangkat kaki istrinya dan menaruhnya di atas pahanya. Dengan lembut Arlan memijat kaki istrinya. Farin sedikit menolak.
“Diam kek, Sayang. Jangan protes. Gak papa aku pijat,” ujar Arlan terus memijat kaki istrinya. Farin tersenyum tipis melihat Arlan. Farin menurunkan kakinya dan memeluk suaminya sebelum suaminya mengomel.
“Aku sayang kamu, Mas. Aku rasa aku gak pernah ngucapin rasa sayangku, tapi aku mau kamu tahu itu. Terima kasih selalu memperlakukanku dengan baik bahkan saat aku menjadi mengesalkan.” Farin memeluk erat suaminya seolah tidak ingin terpisah.
Arlan tergerak membalas pelukan istrinya dan mencium kening istrinya. Keduanya saling memeluk dan melepaskan semua perasaan mereka dalam diam sejenak.
“Tanpa kamu kasih tahu, aku udah tahu. Kalau kamu gak sayang aku, sudah dari dulu saat aku merusak kepercayaanmu dan kamu tahu kamu hamil anakku, pasti kamu sudah memilih meninggalkanku dan berniat buruk pada anak ini,” kata Arlan.
“Mas, jangan pernah pergi. Aku juga selalu minta sama Tuhan buat selalu sama kamu, aku takut kalau kamu pergi tinggalin aku, Mas,” ujar Farin.
“Itu hanya Tuhan yang tahu, tapi asal kamu tahu, aku akan selalu berusaha ada buat kamu, selalu sama kamu, dan menua sama kamu. Terima kasih kamu hadir sebagai warna baru di hidupku. I love you, Farina Azzalea da Costa,” balas Arlan.
“Aku gak harus jawab kan? Kan tadi udah,” kata Farin mendongakkan wajahnya melihat suaminya yang terkekeh.
“Gak usah, karena aku sudah dengar jawabannya dari hatimu,” tawa Arlan pelan. Farin tetap terlihat mengemaskan untuknya, meski usianya sudah hampir kepala tiga.
“Kamu sudah siapkan nama?” tanya Farin yang menaruh kakinya di meja dan tetap memeluk suaminya.
“Sudah, tapi masih rahasia. Kenapa? Kamu mau kasih nama adik sendiri aja atau tanya Bunda?” tanya Arlan.
“Kamu aja.” Farin mengatakannya dengan yakin dan menatap suaminya. “Mas, pulang dari sini aku mau ke kakek. Lama aku sudah gak ke kakek,” ucap Farin yang mengatakan keinginannya. Arlan menyetujui permintaan istrinya itu.
Farin meminta Arlan untuk menghapus dan memblokir nomor mantannya, tapi Arlan menolak dengan halus. Farin menatap Arlan dan tidak memaksa pria itu. Farin hanya tersenyum.
‘Aku tahu kekhawatiranmu, Rin. Aku akan selalu mengutamakanmu meski dia masih menghubungiku.’
**

Lavendulaaa
38 Pengikut · 5 Novel