Hujan turun sejak sore dan belum berhenti ketika mobil tua berwarna hitam itu berhenti tepat di depan pagar besi berkarat. Lampu depan mobil menyinari sebuah rumah besar yang berdiri sendirian di ujung jalan desa.
Rumah itu tampak seperti bangunan yang sudah lama ditinggalkan. Cat dindingnya mengelupas, beberapa jendela tertutup rapat oleh debu, dan halaman depannya dipenuhi rumput liar yang bergerak perlahan diterpa angin malam.
Ardan tetap duduk di dalam mobil.
Tangannya masih menggenggam kunci mobil, tetapi tubuhnya tidak bergerak.
Sudah sepuluh tahun ia tidak menginjakkan kaki di tempat itu.
Rumah neneknya.
Rumah yang dulu selalu terasa hangat saat ia masih kecil. Namun, malam ini, rumah itu terasa berbeda.
Seolah-olah ada sesuatu yang sedang menunggu kedatangannya.
Ardan menarik napas panjang.
"Ini hanya rumah tua," gumamnya pelan.
Ia mencoba meyakinkan dirinya sendiri.
"Hanya rumah kosong. Tidak ada apa-apa."
Pikirannya langsung mengingat pesan terakhir neneknya sebelum meninggal.
Jangan pernah menengok kalau ada yang memanggilmu dari belakang.
Kalimat itu terus terngiang sejak ia menerima kabar kematian neneknya tiga hari lalu.
Ardan masih ingat bagaimana neneknya menggenggam tangannya dengan wajah penuh ketakutan.
"Ardan." Suara neneknya waktu itu bergetar.
"Iya, Nek?"
"Kalau nanti kamu kembali ke rumah ini... jangan lakukan satu hal."
"Apa itu?"
"Jangan menengok."
Ardan tertawa kecil saat itu.
"Nenek masih percaya cerita seperti itu?"
Neneknya tidak ikut tertawa.
Matanya justru penuh kecemasan.
"Bukan cerita, Dan. Nenek sudah melihatnya."
Ingatan itu membuat Ardan merinding.
Ia segera membuka pintu mobil.
Udara malam yang dingin langsung menyentuh wajahnya.
Ardan membawa tas kecil menuju pintu utama. Saat tangannya menyentuh gagang pintu, suara kayu tua berderit terdengar.
Pintu terbuka sendiri.
Ardan terdiam.
Angin?
Atau memang tidak terkunci?
Ia menyorotkan senter ke dalam rumah.
Gelap.
Tidak ada siapa pun.
"Permisi," ucapnya pelan.
Ia merasa bodoh karena menyapa rumah kosong. Namun, entah mengapa, ia merasa seperti seseorang sedang mendengarnya.
Ardan masuk perlahan.
Bau kayu lapuk dan debu langsung memenuhi hidungnya. Ruang tamu masih sama seperti dulu. Sofa tua masih berada di tempatnya. Foto keluarga masih tergantung di dinding, tetapi ada satu hal yang membuatnya berhenti.
Foto neneknya.
Foto itu berada di atas meja.
Padahal ia yakin tidak ada seorang pun yang tinggal di rumah ini setelah neneknya meninggal.
Ardan mendekat.
Foto itu memperlihatkan neneknya sedang tersenyum. Namun, semakin lama ia melihatnya, semakin ia merasa ada sesuatu yang aneh.
Mata neneknya dalam foto itu seperti sedang menatap ke arah belakang Ardan.
Ardan menelan ludah.
"Jangan berpikir macam-macam," bisiknya kepada diri sendiri.
Ia berbalik perlahan.
Tidak ada apa-apa.
Hanya ruang tamu kosong.
Ardan mengembuskan napas lega.
"Sudah mulai berlebihan."
Ia membawa tasnya menuju kamar lama yang berada di lantai dua.
Tangga kayu berderit setiap kali diinjak.
Krek.
Krek.
Suara itu terdengar jelas di tengah kesunyian rumah.
Saat hampir sampai di atas, Ardan berhenti.
Ada suara lain.
Bukan suara langkahnya.
Dari lantai atas.
Seperti seseorang sedang berjalan.
Pelan.
Sangat pelan.
Ardan menatap ke arah lorong gelap.
"Siapa di sana?"
Tidak ada jawaban.
Ia mengambil senter dan berjalan perlahan.
Setiap langkahnya membuat jantungnya berdetak semakin keras.
Lorong itu panjang.
Di sebelah kanan terdapat beberapa pintu kamar.
Semuanya tertutup.
Ketika Ardan melewati kamar terakhir, tiba-tiba terdengar suara dari belakangnya.
"Ardan."
Tubuhnya langsung membeku.
Suara itu sangat pelan, tetapi ia mengenalnya.
Suara neneknya.
Jantungnya berdetak kencang.
Tangannya mulai gemetar.
"Ardan."
Suara itu terdengar lagi.
Lebih dekat.
Ingatan tentang pesan neneknya muncul kembali.
Jangan menengok.
Ardan berdiri diam.
Matanya menatap lurus ke depan.
"Nenek?" bisiknya.
Tidak ada jawaban.
Kemudian terdengar suara langkah kaki.
Satu langkah.
Dua langkah.
Tiga langkah.
Mendekat.
Ardan bisa merasakan hawa dingin tepat di belakangnya.
Napasnya tercekat.
Ia ingin melihat.
Ia ingin memastikan. Namun, tubuhnya menolak bergerak.
"Ardan," bisikan itu terdengar tepat di belakang telinganya.
"Kamu sudah pulang."
Air mata hampir keluar dari mata Ardan karena ketakutan.
Ia mengepalkan tangannya.
"Ini bukan nyata."
Ia mengulang kalimat itu berkali-kali dalam pikirannya.
"Ini bukan nyata."
Tiba-tiba suara pintu terbanting keras dari ujung lorong.
BRAK!
Ardan terkejut dan refleks menoleh. Namun, sebelum kepalanya benar-benar berputar, ia berhenti.
Tidak.
Ia hampir melanggar pesan neneknya.
Napasnya tersengal.
Dari belakang, suara itu berubah.
Tidak lagi seperti suara neneknya.
Suara itu menjadi lebih berat.
Lebih dalam.
Lebih asing.
"Kamu hampir melihatku."
Ardan menutup mulutnya agar tidak berteriak.
Tubuhnya bergetar.
Kemudian suara langkah itu berhenti.
Sunyi.
Benar-benar sunyi.
Perlahan, Ardan memberanikan diri menatap ke depan.
Tidak ada siapa-siapa. Namun, di lantai kayu, tepat di belakang tempat ia berdiri tadi.
Ada jejak kaki basah.
Jejak itu berhenti tepat beberapa sentimeter di belakangnya.
Seolah sesuatu tadi berdiri sangat dekat.
Ardan mundur perlahan.
Dadanya naik turun.
"Siapa kamu?" tanyanya dengan suara gemetar.
Tidak ada jawaban, tetapi dari kamar paling ujung lorong, pintunya perlahan terbuka.
Kreeeek.
Di dalam kamar gelap itu, terdengar suara perempuan menangis.
Pelan.
Lirih, dan suara itu memanggil namanya.
"Ardan."
Kali ini bukan dari belakang, tetapi dari dalam kamar.
Ardan menatap pintu itu, dan untuk pertama kalinya malam itu, ia menyadari sesuatu.
Neneknya bukan memperingatkan dirinya agar tidak menengok.
Neneknya memperingatkan dirinya agar tidak mencari tahu apa yang ada di rumah ini.
Karena sesuatu di rumah itu sudah mengetahui bahwa Ardan telah kembali.