“Nara, pulanglah sekarang. Ibumu sudah tidak bisa menahan desakan Bapak Tua di balai desa. Ini bukan lagi soal permintaan, tapi soal harga diri mendiang kakekmu.”
Suara di seberang telepon itu terdengar parau, penuh dengan beban yang seolah-olah berpindah ke pundak Nara seketika itu juga.
Nara, yang sedang menatap layar laptopnya di sebuah kafe sibuk di Jakarta, mendesah panjang. Jemarinya yang lentik berhenti menari di atas papan ketik.
“Pakde, aku baru saja mendapatkan kontrak besar untuk proyek agensi minggu ini. Bagaimana mungkin aku bisa meninggalkan Jakarta begitu saja?” Nara mencoba memberikan pembelaan, meski ia tahu itu sia-sia.
“Wasiat itu harus dibuka hari ini, Nara. Tepat setahun setelah kepergian Kakek Ardi. Jika kamu tidak datang, tanah makam kakekmu terancam akan disengketakan oleh keluarga jauh karena dianggap tidak ada pewaris yang menjalankan amanahnya. Pulanglah, Nak. Hanya satu malam.”
Klik. Sambungan terputus.
Nara menatap cangkir kopinya yang sudah dingin. Desa Sindangkerta. Tempat yang penuh kenangan masa kecil, juga tempat yang menyimpan rahasia-rahasia kolot yang sering kali tidak masuk akal bagi logikanya sebagai wanita modern. Namun, mendengar nama mendiang kakeknya disebut, pertahanan Nara runtuh. Kakek Ardi adalah satu-satunya orang yang mendukungnya untuk sekolah tinggi saat orang lain mencibirnya.
Perjalanan menuju Sindangkerta memakan waktu berjam-jam. Udara pegunungan yang sejuk mulai menusuk pori-pori saat mobil sewaan Nara memasuki gerbang desa. Jalanan berbatu yang berguncang seolah menyambut kepulangannya dengan kasar.
Sesampainya di rumah kayu besar milik keluarga, suasana terasa mencekam. Tidak ada pesta penyambutan. Hanya ada beberapa sesepuh desa yang duduk melingkar di ruang tengah, ditemani kepulan asap rokok lintingan dan aroma kopi pahit. Ibunya, seorang wanita paruh baya dengan gurat kelelahan di wajahnya, langsung memeluk Nara begitu ia melangkah masuk.
“Kamu sudah datang,” bisik ibunya lirih.
“Apa yang sebenarnya terjadi, Bu? Kenapa harus seserius ini?” tanya Nara pelan.
Ibu tidak menjawab, ia hanya menuntun Nara menuju sebuah peti kayu kecil yang diletakkan di atas meja jati. Di sana sudah duduk Pak Kades dan Pakde Rahmad, yang tadi meneleponnya.
“Nara.” Pak Kades membuka suara setelah berdehem pelan.
“Kakekmu, almarhum Ardi, meninggalkan sebuah surat yang disegel dengan materai lama. Beliau menitipkannya padaku agar dibuka tepat satu tahun setelah ia wafat, dan hanya di depanmu serta ibumu.”
Tangan Pak Kades gemetar saat membuka segel amplop cokelat yang sudah mulai menguning dimakan usia. Nara menahan napas. Ia membayangkan kakeknya mungkin meninggalkan utang atau mungkin sebuah tanah yang harus digarap. Namun, isi surat itu jauh lebih berat dari sekadar harta benda.
“Untuk cucuku, Nara Puspita. Jika kamu membaca surat ini, berarti aku sudah tenang di sisi-Nya. Namun, ada satu beban yang kubawa hingga ke liang lahat. Puluhan tahun lalu, di masa perang dan sulit, seorang pria bernama Lee Sang-woo menyelamatkan nyawaku di perbatasan. Kami berjanji untuk menyatukan keluarga kami sebagai bentuk persaudaraan abadi. Putranya telah sukses di Korea, dan kini, cucu laki-laki tunggalnya, Lee Han-bin, telah siap menunaikan janji itu. Menikahlah dengannya, Nara. Ini adalah cara kakek membayar hutang nyawa. Jika kamu menolak, aku memintamu melepaskan seluruh hak atas tanah keluarga ini dan biarkan aset itu dikelola oleh yayasan Sang-woo sebagai bentuk ganti rugi.”
Hening.
Ruangan itu mendadak terasa begitu sempit bagi Nara. Ia merasa seolah pasokan oksigen di sekitarnya tersedot habis. Menikah? Dengan orang asing? Di Korea?
“Ini gila!” Nara berdiri spontan. “Kek Ardi tidak bisa melakukan ini padaku. Ini abad ke-21, Bu! Siapa Lee Han-bin ini? Aku bahkan tidak tahu dia orang seperti apa. Bagaimana bisa nyawa dibayar dengan kebebasanku?”
Ibunya menunduk, air mata mulai menetes.
“Kakekmu sangat keras kepala tentang kehormatan, Nara. Baginya, janji adalah utang yang dibawa mati, dan pria Korea itu, mereka sudah menghubungi keluarga kita sejak bulan lalu. Mereka sangat serius.”
“Aku tidak mau!” tegas Nara.
“Biarkan saja tanah ini diambil. Aku bisa bekerja di Jakarta, aku bisa membiayai Ibu.”
“Bukan hanya soal tanah, Nara,” potong Pakde Rahmad dengan nada berat.
“Ini soal wasiat yang sudah didaftarkan secara hukum adat dan notaris lama. Jika kamu melanggar, bukan hanya tanah ini yang hilang, tapi rumah yang ditinggali ibumu sekarang juga akan disita untuk membayar denda kompensasi yang jumlahnya mustahil kita bayar.”
Nara merasa dunianya runtuh. Ia menatap wajah ibunya yang memohon, lalu beralih ke surat kakeknya yang tergeletak di meja. Nama ‘Lee Han-bin’ tertulis dengan tinta hitam yang tegas, seolah-olah nama itu adalah borgol yang sudah siap mengunci pergelangan tangannya.
Malam itu, Nara tidak bisa memejamkan mata. Ia berdiri di beranda rumah, menatap langit malam Sindangkerta yang gelap tanpa bintang. Ia merasa terjebak.
Ia mencintai kemandiriannya, ia mencintai kariernya yang baru saja mulai menanjak di Jakarta. Namun, melihat wajah ibunya yang ketakutan kehilangan tempat tinggal, Nara tahu ia tidak punya banyak pilihan.
Keesokan paginya, sebuah mobil mewah berwarna hitam, pemandangan yang sangat kontras dengan lingkungan desa yang sederhana, berhenti tepat di depan rumahnya. Seorang pria dengan setelan jas rapi, berwajah kaku turun dari mobil tersebut. Ia bukan Lee Han-bin, melainkan seorang perwakilan.
“Selamat pagi, Nona Nara Puspita,” ucap pria itu dalam bahasa Indonesia yang terpatah-patah, tapi sopan.
“Saya utusan dari keluarga Lee di Seoul. Saya di sini untuk menyerahkan tiket keberangkatan Anda den dokumen kontrak awal.”
Nara menerima amplop putih tebal itu dengan tangan gemetar. Di dalamnya terdapat tiket pesawat kelas bisnis menuju Incheon untuk lusa. Tak ada foto, tak ada rincian tentang siapa pria yang akan menjadi suaminya. Hanya ada sebuah kartu nama kecil berwarna emas bertuliskan nama. Lee Han-bin.