Lorong SMA Pelita mendadak terasa seperti lintasan Formula 1 pagi ini. Luna, sang Ketua OSIS yang tingkat kerapian seragamnya bisa mengalahkan standar militer, sedang berjalan sambil membawa setumpuk proposal acara pentas seni setinggi sepuluh sentimeter. Di belakangnya, ancaman bahaya yang lebih mematikan daripada soal ujian nasional fisika tengah mengintai: Aksa.
Murid pindahan baru itu datang dengan dasi tergantung asal-asalan, sepatu beda warna, dan sebuah helm proyek berwarna kuning terang di kepalanya. Kenapa pakai helm proyek? Jangan ditanya, karena kewarasan Aksa adalah misteri terbesar abad ini.
"Luna! Tunggu sebentar, wahai penguasa tata tertib sekolah!" teriak Aksa melengking, sengaja memancing emosi seluruh koridor.
Luna menghentikan langkahnya, menarik napas dalam-dalam, lalu membalikkan badan dengan ekspresi wajah yang datar dan memancarkan aura mengerikan. "Aksa. Kenapa kamu pakai helm proyek di dalam sekolah? Ini hari Senin, bukan jadwal renovasi gedung!"
"Jaga-jaga, Luna," jawab Aksa santai sambil merapikan letak helmnya. "Siapa tahu tiba-tiba ada meteor jatuh dari langit-langit kantin atau atap sekolah ini runtuh karena menahan beban penderitaan para murid yang kelebihan tugas."
Luna memijat pelipisnya yang mendadak berdenyut nyeri. Baru tiga hari cowok itu pindah ke sekolah ini, tapi tekanan darah Luna sudah naik lima tingkat. "Di sekolah ini tidak ada meteor. Yang ada hanya kamu, sumber kekacauan terbesar tahun ajaran ini. Cepat lepas helm itu sebelum kucatat di buku pelanggaran!"
"Jangan kejam begitu, nanti cantiknya luntur," cibir Aksa, nyengir lebar tanpa rasa berdosa sedikit pun. "Lagian, helm ini penyelamat hidup. Kemarin aku nyaris gegar otak karena jidatku tidak sengaja beradu sama tiang bendera waktu upacara."
"Itu karena kamu malah melamun membayangkan cara menggoreng ikan lele di lapangan upacara!" hardik Luna dengan suara tertahan, berusaha menjaga wibawa di depan beberapa adik kelas yang menonton drama gratis pagi itu.
“Ya ampun, kenapa takdir mempertemukan aku dengan makhluk jadi-jadian seperti dia? Kalau begini terus, umurku tidak akan sampai lulus SMA karena darah tinggi,” batin Luna meratap pilu.
"Mana aku tahu kalau tiang bendera itu mendadak maju sendiri?" bela Aksa tidak mau kalah, melangkah mendekat hingga jarak mereka hanya tinggal beberapa jengkal saja. "Sudahlah, lupakan tiang pengkhianat itu. Aku ke sini mau minta tolong."
"Tidak. Tolong apa pun bentuknya, jawabannya adalah tidak," potong Luna cepat, menolak keras sebelum tawaran aneh meluncur dari mulut cowok itu.
"Kamu ini kan belum dengar. Siapa tahu permintaanku menyangkut masa depan bangsa dan negara," protes Aksa dengan mata berbinar-binar penuh drama.
"Paling juga minta tolong carikan contekan PR kimia atau minta diizinkan bolos jam pelajaran olahraga dengan alasan sakit perut akibat salah makan seblak," tebak Luna tepat sasaran.
"Astaga, Luna! Kamu cenayang ya?" seru Aksa pura-pura terkejut sambil menepuk jidatnya sendiri. "Kali ini tebakanmu meleset sejauh jarak Jakarta-Merauke."
"Lalu, apa?"
"Tolong selamatkan nyawaku dari Pak Harun sekarang juga."
"Pak Harun? Guru BK yang terkenal punya hobi mencabut bulu mata murid yang ketahuan melanggar aturan itu?" tanya Luna, alisnya terangkat tinggi.
"Betul sekali! Beliau sedang berjalan ke arah sini dengan membawa rotan sakti kesayangannya," bisik Aksa panik, lalu dengan tanpa dosanya menyembunyikan diri di balik punggung mungil Luna.
"Eh, jangan berlindung di belakangku! Cari perlindungan sendiri!" gerutu Luna berang, berusaha menepis lengan Aksa yang mencengkeram bahunya erat-erat.
"Kamu kan Ketua OSIS, pelindung umat dan pengayom masyarakat sekolah! Tolong adang beliau, Luna!" mohon Aksa dramatis, suaranya bergetar dibuat-buat.
"Ada apa ini ribut-ribut di koridor?" sebuah suara menggelegar memotong perdebatan mereka.
Luna dan Aksa langsung menegang serentak. Di ujung koridor, Pak Harun berdiri dengan tatapan tajam nan mematikan, lengkap dengan rotan di tangan kanannya yang diketuk-ketukan ke telapak tangan kiri. Suasana koridor mendadak senyap seketika, mirip kuburan tengah malam.
“Mati aku,” batin Luna panik luar biasa.
"Selamat pagi, Pak Harun yang paling ganteng se-Kecamatan!" sapa Aksa dengan senyum paling manis yang dipaksakan, kepalanya mengintip malu-malu dari balik bahu Luna.
Pak Harun mendengkus keras. "Aksa! Kenapa kamu pakai helm proyek di lingkungan sekolah? Dan kamu, Luna, kenapa malah melindungi anak ini?"
"Anu, Pak ...." Luna mencoba menjelaskan sambil tersenyum canggung. "Aksa ini sedang eh mempraktikkan simulasi mitigasi bencana gempa bumi atas instruksi dari dinas pendidikan."
"Bagus sekali inisiatifnya, Pak! Saya sedang siaga satu mengantisipasi gempa susulan akibat nilai ulangan matematika saya yang jeblok," timpal Aksa dengan percaya diri tingkat dewa.
Pak Harun memutar bola matanya malas, menatap kedua murid biang keladi itu secara bergantian.
"Lepas helm itu sekarang juga, Aksa, atau saya potong nilai kerapianmu sampai nol besar, dan kamu, Luna, kembalikan proposal itu ke ruang OSIS sekarang sebelum saya tambah tugas kebersihan toilet lantai tiga!"
"Baik, Pak!" jawab Luna dan Aksa kompak bagaikan paduan suara profesional.
Begitu Pak Harun berbalik dan melangkah pergi menjauh, Aksa langsung menghela napas lega sambil merosot bersandar di dinding koridor. "Fiuh hampir saja nyawaku melayang ke alam baka."
Luna menatap tajam ke arah cowok itu sambil melipat kedua tangan di dada. "Semua kekacauan ini gara-gara kamu, Aksa!"
"Ngaku deh, Luna. Hari-hari sepi kamu jadi jauh lebih berwarna kan semenjak aku datang?" tanya Aksa sambil mengedipkan sebelah matanya genit.
"Berwarna seperti pelangi? Tidak. Hari-hariku justru berubah jadi abu-abu penuh penderitaan," balas Luna ketus, meski sudut bibirnya sempat berkedut nyaris tersenyum sebelum buru-buru ia tepis jauh-jauh.