"Dokter Hanif, detak jantung pasien mulai tidak stabil di angka 45. Kita kehilangan ritme sinusnya," seru perawat instrumen dengan nada panik yang tertahan.
"Tingkatkan dosis inotropik sekarang juga. Jangan panik, fokus pada monitor," balas Dr. Hanif Wijaya dengan suara yang tenang, kontras dengan kekacauan yang mulai merayap di ruang operasi.
Di bawah lampu operasi yang benderang, tangan Hanif bergerak dengan presisi seorang maestro. Skalpel di tangannya bukan sekadar alat medis, melainkan perpanjangan dari jiwanya yang didedikasikan untuk kehidupan.
Di usia tiga puluh dua tahun, ia telah menyandang gelar sebagai spesialis bedah jantung termuda dan paling cemerlang di Rumah Sakit Medika Utama, fasilitas kesehatan swasta paling prestisius di Jakarta.
Bagi Hanif, setiap detak jantung yang ia operasikan adalah sebuah simfoni. Ia tidak hanya memperbaiki katup atau mengganti pembuluh darah yang tersumbat, ia merasa sedang memutar kembali waktu bagi orang-orang yang hampir kehabisan jatah napas.
Rekan-rekan sejawatnya sering menjuluki Hanif sebagai 'Dewa Skalpel'. Julukan itu bukanlah isapan jempol.
Rekam jejaknya mencatat tingkat keberhasilan operasi mencapai angka 99,8 persen. Sebuah statistik yang mustahil bagi banyak ahli bedah senior sekalipun.
"Saturasi oksigen turun ke 88 persen, Dokter. Ada kebocoran di anastomosis," perawat kembali melaporkan, keringat dingin mulai membasahi dahi mereka yang berada di balik masker bedah.
Hanif memicingkan mata, memfokuskan pandangannya pada area dada pasien yang terbuka. "Berikan suction. Saya butuh kejelasan pandangan di area ventrikel kiri. Suster, siapkan benang prolene 5-0, cepat."
Keheningan kembali menyelimuti ruangan, hanya deru mesin ventilator dan bunyi bip monitor yang konstan menjadi latar suara.
Hanif bekerja dengan kehati-hatian yang luar biasa. Ia adalah tipe perfeksionis yang tidak mengenal kompromi.
Baginya, di ruang operasi, kesalahan sebesar satu milimeter saja bisa menjadi pemisah antara kehidupan dan kematian. Itulah filosofi yang ia pegang teguh sejak hari pertama ia menginjakkan kaki di fakultas kedokteran.
Setelah satu jam yang menegangkan, ritme jantung pasien kembali stabil. Hanif menghela napas panjang, sebuah kelegaan yang ia simpan dalam-dalam.
"Jahit lapis demi lapis. Pastikan tidak ada perdarahan lagi," perintahnya sambil melangkah mundur, melepaskan sarung tangan bedah yang sudah dipenuhi bercak darah.
Keluar dari ruang operasi, Hanif disambut oleh udara koridor rumah sakit yang dingin dan steril. Ia berjalan menuju ruang istirahat dokter, di mana aroma kopi pekat menyambutnya.
Di sana, dr. Baskoro, kepala departemen bedah yang merupakan mentornya, sudah menunggu dengan tatapan yang sulit diartikan.
"Operasi yang luar biasa, Hanif. Sekali lagi, kau membuktikan bahwa instingmu tidak pernah salah," ujar Baskoro sambil menyesap kopinya.
Hanif tersenyum tipis.
"Hanya keberuntungan, Dokter. Kondisi fisiknya memang cukup menantang."
“Jangan terlalu rendah hati. Rumah sakit ini beruntung memilikimu.” Baskoro menepuk bahu Hanif. Namun, di balik pujian itu, Hanif merasakan ada sesuatu yang mengganjal.
Baskoro tampak gelisah. Ia terus menatap ponselnya, sebuah gerakan yang tidak biasa dilakukan oleh pria yang selalu mengedepankan disiplin tinggi tersebut.
"Ada masalah, Dok?" tanya Hanif penasaran.
Baskoro terdiam sejenak, lalu mendesah.
"Ada pasien baru yang akan datang besok. Seorang pria tua, sangat kaya, dan punya koneksi kuat dengan lingkaran kekuasaan. Pihak direksi menuntutmu yang memimpin operasinya secara langsung."
***
Hanif mengernyitkan dahi.
“Pasien VIP? Bukankah itu prosedur biasa?”
“Ini bukan prosedur biasa, Hanif. Ini adalah titipan. Mereka ingin memastikan pasien ini bertahan hidup dengan segala cara, tidak peduli apa pun risikonya.” Baskoro memelankan suaranya, matanya memastikan tidak ada orang lain di ruang istirahat itu.
Hanif merasakan firasat buruk menjalari tulang punggungnya. Ia selalu bangga akan keahliannya. Namun, ia sadar bahwa rumah sakit bukanlah ruang hampa.
Di luar sana, di balik gemerlap lampu kota dan kemegahan gedung rumah sakit, ada kepentingan-kepentingan besar yang berdenyut kencang, sama kencangnya dengan jantung manusia.
Malam itu, Hanif pulang dengan perasaan campur aduk. Ia menatap pantulan dirinya di cermin kamar mandi. Wajahnya tampak lelah, tapi matanya masih memancarkan ambisi yang kuat. Ia mencintai pekerjaannya, ia mencintai setiap detik ia berhasil menyelamatkan nyawa.
Ia merasa telah mencapai puncak karier yang diidamkan setiap dokter di negeri ini. Namun, ia tidak menyadari bahwa di ruang direksi lantai atas, sebuah percakapan rahasia sedang berlangsung, merancang skenario yang akan mengubah hidupnya selamanya.
Keesokan paginya, Hanif tiba di rumah sakit lebih awal. Ia sudah siap dengan peralatan dan tim terbaiknya. Namun, saat ia melangkah masuk ke ruang persiapan, ia disambut oleh Direktur Operasional rumah sakit yang tampak pucat pasi.
“Dokter Hanif, pasien VIP kita sudah tiba,” ujar sang direktur dengan tangan yang sedikit gemetar. “Akan, tetapi ada satu masalah teknis yang tidak terduga. Pihak keluarga menuntut prosedur eksperimental yang belum pernah kita lakukan sebelumnya.”
Hanif tertegun.
“Eksperimental? Itu melanggar protokol keamanan medis kita! Saya tidak bisa melakukannya.”
Sang direktur mendekat, suaranya nyaris berbisik, penuh nada ancaman.
“Jika kau menolak, Dokter, bukan hanya kariermu yang akan tamat hari ini, tetapi seluruh masa depanmu, bahkan mungkin nyawa orang-orang yang kau sayangi, akan berada dalam bahaya yang tidak bisa kau bayangkan.”
Hanif terpaku di ambang pintu ruang operasi, tangannya yang terbiasa memegang skalpel kini mengepal kuat, sementara di depannya, pintu menuju ruang operasi terbuka lebar, menanti untuk menelan kehidupannya ke dalam kegelapan yang tak terduga.