“Mbak, kalau yang ini harganya berapa? Sepatunya unik sekali, tapi kenapa ditaruh di tempat paling tersembunyi?”
Rimbun mengalihkan pandangannya dari gundukan jaket denim bekas ke arah pemilik kios. Tangannya terulur, menjinjing sepasang sepatu high heels berwarna merah marun yang tampak sudah lama tidak tersentuh debu.
Teksturnya bukan kulit mengilap yang biasa ditemukan di toko-toko mal kelas atas, melainkan semacam beludru yang warnanya mulai memudar di bagian ujung.
Tidak ada label jenama yang menempel, tidak ada jejak kemewahan, hanya sepasang sepatu yang tampak lelah, tapi masih tegak berdiri.
Pemilik toko, seorang lelaki tua yang sibuk menyortir tumpukan kaus oblong, mengangkat wajahnya dengan malas. Ia menyipitkan mata, menatap sepatu yang dipegang Rimbun dengan ekspresi datar.
“Oh, itu? Ambil saja kalau memang suka, Nona. Saya hampir lupa masih menyimpannya di sana. Harganya tidak mahal, sepuluh ribu rupiah saja. Anggap saja itu barang sisa yang tak laku.”
Rimbun mematung sejenak. Sepuluh ribu? Untuk sepasang sepatu yang, meski tampak usang, memiliki bentuk yang sangat anggun? Ia memutar-mutar sepatu itu di tangannya.
Tumitnya tidak terlalu tinggi, cukup proporsional untuk seseorang yang bahkan tidak pernah merasa nyaman berjalan dengan hak setinggi lima sentimeter.
Sepatu itu terasa berat, bukan berat karena materialnya, melainkan seolah ada sesuatu yang tertanam di balik sol dalamnya.
“Kenapa ditaruh di pojok belakang, Pak? Sayang sekali kalau tidak dipajang,” tanya Rimbun lagi, mencoba mengorek informasi.
Lelaki tua itu terkekeh pelan, sebuah suara parau yang terdengar seperti gesekan kertas amplas di permukaan beton.
“Bukan saya yang menaruhnya di sana, Nona. Sepatu itu, entahlah. Setiap kali saya pindahkan ke rak depan, besok paginya ia selalu kembali ke sudut gelap itu sendiri. Seperti sedang menunggu seseorang yang tepat untuk membawanya pulang. Saya sudah muak memindahkannya berkali-kali.”
Rimbun hanya bisa tersenyum simpul, menganggap ucapan pria itu sekadar bualan untuk menarik perhatian pembeli.
Ia meletakkan selembar uang sepuluh ribu rupiah di atas meja kasir kayu yang sudah lapuk, lalu memasukkan sepatu itu ke dalam kantong plastik hitam besar. Pasar barang bekas ini selalu menjadi pelarian Rimbun setiap kali dunia terasa terlalu bising.
Aroma apek pakaian lama, debu yang menari-nari di bawah cahaya lampu neon yang redup, dan obrolan tawar-menawar para pengunjung menciptakan dunianya sendiri. Bagi banyak orang, tempat ini adalah gudang barang rongsokan. Namun, bagi Rimbun, setiap benda di sini memiliki riwayat panjang.
Sebuah jaket kulit bisa menceritakan kisah petualangan di jalanan yang berdebu, sebuah jam tangan rusak mungkin saksi bisu janji-janji yang tak sempat ditepati, dan sebuah gaun pesta mungkin pernah menjadi pusat perhatian di malam yang tak terlupakan.
Rimbun berjalan keluar dari pasar, menyusuri trotoar yang mulai basah karena gerimis sore. Angin bertiup cukup kencang, membawa aroma tanah basah dan asap kendaraan yang pekat.
Kakinya yang saat itu hanya beralaskan sepatu kets putih yang sudah kusam terasa ringan, entah mengapa, kantong plastik yang ia jinjing terasa semakin berat.
Ia memutuskan untuk mampir ke sebuah kedai kopi kecil di pinggir jalan sebelum kembali ke indekosnya. Kedai itu sepi, hanya ada denting musik jazz yang sayup-sayup terdengar. Rimbun duduk di kursi sudut, meletakkan kantong plastiknya di atas meja.
Rasa penasaran yang mendalam perlahan menggerogoti pikirannya. Mengapa ia begitu tertarik dengan sepasang sepatu yang jelas-jelas terlihat tak layak pakai?
Perlahan, ia mengeluarkan sepatu merah marun itu. Ia menelitinya lebih dekat di bawah lampu kedai yang temaram. Saat jemarinya mengusap bagian dalam tumit sepatu sebelah kanan, ia merasakan sesuatu yang janggal.
Sesuatu yang keras dan kaku, seolah ada selembar kertas yang terselip di bawah lapisan kain pelapis sol.
Dengan sangat hati-hati, Rimbun mencoba mencongkel lapisan kain yang sudah mulai mengelupas itu menggunakan ujung kunci motornya.
Benar saja, ada celah kecil. Ia merogoh ke dalam, dan jemarinya berhasil menarik keluar secarik kertas yang terlipat rapi, berukuran kecil, tebal karena sering dilipat.
Kertas itu sudah menguning, dengan guratan tinta pena yang mulai pudar di beberapa bagian. Rimbun menarik napas panjang, hatinya berdegup kencang tanpa alasan yang jelas. Ia membuka lipatan kertas itu dengan tangan yang sedikit gemetar.
Tulisan tangan di atasnya terlihat rapi, terburu-buru, seolah ditulis dalam keadaan emosional yang intens.
“Untuk siapa pun yang menemukan sepatu ini, ketahuilah bahwa langkah pertamamu tidak perlu sempurna. Yang terpenting adalah kau berani berdiri meski kakimu gemetar hebat. Jangan pernah membiarkan orang lain menentukan ke mana arah langkahmu. Teruslah berjalan, meskipun tujuanmu tampak begitu jauh dan tak terjangkau.”
***
Rimbun terpaku. Matanya membaca kalimat itu berulang-ulang, meresapinya hingga ke relung hatinya yang terdalam. Kalimat itu bukan sekadar kata-kata mutiara biasa, ada semacam energi yang terpancar dari setiap guratan tintanya.
Ia menatap sepatu merah marun di depannya. Tiba-tiba, ia merasakan hawa dingin merambat naik dari telapak kakinya, menjalar ke seluruh tubuhnya.
Ia mencoba memasukkan kakinya ke dalam sepatu itu. Ukurannya pas. Sangat pas, seolah sepatu ini memang dirancang khusus untuk ukuran kakinya.
Saat ia mencoba berdiri dengan sepatu itu, kakinya terasa kaku. Namun, bukan itu yang membuat napasnya tertahan.
Saat ia mencoba melangkah, ia merasakan suara halus, hampir seperti bisikan, yang datang entah dari mana. Suara itu bukan suara orang di sekitarnya, bukan pula suara dari luar kedai. Suara itu terasa berasal dari dalam sepatu yang sedang ia kenakan.
“Jangan berhenti sekarang.”
Rimbun tersentak. Ia menarik kakinya dengan cepat, terhuyung hingga punggungnya membentur sandaran kursi.
Ia menatap sekeliling kedai, keadaan masih tetap sepi. Pelayan kedai berada di balik konter, tampak tidak menyadari apa pun.
Rimbun kembali menatap sepatu merah marun itu. Saat ia melihat kembali ke bagian dalam sepatu yang tadi ia bongkar, ia melihat sesuatu yang membuatnya terdiam seribu bahasa.
***
Di balik lapisan kain yang tadi ia congkel, kini muncul sebuah foto kecil yang terselip di balik busa sol. Foto itu menunjukkan seorang gadis muda, mungkin seusia dirinya, dengan pakaian yang tampak sangat kontras dengan sepatu merah yang ia kenakan.
Gadis itu berdiri di depan sebuah papan pengumuman kampus, wajahnya terlihat pucat, matanya menatap tajam ke depan.