Kabut turun pelan-pelan seperti
tirai yang diseret dari langit. Hutan di hadapan Aruna tampak lebih sunyi dari
yang ia bayangkan. Pepohonan menjulang tinggi, batangnya tebal, akarnya mencuat
seperti ular raksasa yang membeku di tanah lembap.
Aruna menelan ludah.
“Ini Hutan Seribu Bayang?” tanya
Bram pelan, berdiri di sampingnya sambil mengencangkan tali ransel.
Aruna mengangguk. “Koordinatnya
tidak mungkin salah. Ini titik yang ditandai di jurnal Kakek.”
Bram mendengkus kecil. “Aku masih
tidak percaya kita benar-benar melakukannya.”
Aruna menoleh, alisnya terangkat.
“Kau bisa kembali sekarang kalau mau.”
“Membiarkanmu masuk sendirian?” Bram
menggeleng. “Tidak mungkin.”
Angin berembus, membuat dedaunan
bergesekan. Suaranya seperti bisikan yang saling menegur. Aruna menatap celah
di antara pepohonan, jalur sempit yang hampir tertutup pakis liar.
Ia menghela napas panjang.
Ini bukan sekadar perjalanan. Ini
jawaban.
“Baik,” ucapnya mantap. “Kita masuk
sebelum gelap.”
Mereka melangkah bersama.
Beberapa meter pertama terasa biasa
saja. Tanahnya lembap, aroma lumut dan kayu basah memenuhi udara. Namun,
semakin dalam mereka masuk, cahaya matahari kian tersaring oleh kanopi rimbun.
Bram mengamati sekitar dengan
saksama. “Kau yakin tidak ada penduduk yang tinggal di sekitar sini?”
“Menurut catatan, hutan ini sudah
lama dihindari,” jawab Aruna.
“Katanya bayangannya tidak pernah
sendirian.”
Bram berhenti. “Maksudnya?”
Aruna terdiam sejenak. Ia teringat
tulisan tangan kakeknya. ‘Bayangan
yang bergerak lebih cepat dari tubuhnya.’
“Itu hanya cerita,” katanya
akhirnya, meski dadanya terasa mengencang.
Mereka melanjutkan langkah.
Tiba-tiba Bram berjongkok. “Tunggu.”
“Ada apa?”
“Jejak kaki.” Ia menunjuk tanah yang
sedikit lebih lunak. “Bukan jejak kita.”
Aruna mendekat. Benar. Bekas sepatu
dengan pola garis melintang tercetak jelas di tanah. Masih segar.
“Tidak mungkin,” bisiknya. “Tidak
ada orang yang masuk ke sini selama bertahun-tahun.”
“Berarti sekarang ada.” Bram berdiri
lagi. “Kita tidak sendirian.”
Hening menggantung di antara mereka.
Aruna merasakan detak jantungnya
semakin cepat. Siapa pun yang masuk ke sini, tujuannya pasti sama mencari
sesuatu, dan ia tidak ingin kalah cepat.
“Arah jejaknya ke utara,” kata Bram.
“Kita ikuti?”
Aruna menimbang. Jika mereka
mengikuti, artinya mereka membuntuti orang asing di hutan yang tidak dikenal.
Jika tidak, mereka bisa kehilangan petunjuk.
“Kita ikuti,” putusnya. “Jaga
jarak.”
Bram mengangguk. “Baik. Aku di
belakangmu.”
Semakin jauh, suasana berubah.
Pepohonan menjadi lebih rapat. Akar-akar besar memaksa mereka melangkah
hati-hati.
Aruna merasakan sesuatu yang aneh.
Bayangannya sendiri terlihat lebih panjang dari seharusnya, meski matahari
hampir tak tampak.
Ia melirik ke samping.
Bayangannya bergerak?
Aruna berhenti mendadak.
“Ada apa lagi?” tanya Bram, hampir
menabraknya.
“Kau lihat itu?” Aruna menunjuk
tanah.
Bram menyipitkan mata. “Apa?”
“Bayanganku.”
Bram menatap ke bawah. Bayangan
Aruna memang terlihat, samar dan memanjang.
“Aku tidak melihat apa-apa yang
aneh,” ujarnya hati-hati.
Aruna mengerutkan kening. Tadi jelas
sekali bayangannya seperti terlambat mengikuti geraknya.
Ia menarik napas dalam. Jangan
panik.
“Mungkin hanya ilusi cahaya,”
gumamnya.
Bram menatapnya lekat. “Kau
baik-baik saja?”
“Aku tidak akan sejauh ini hanya
untuk mundur karena bayangan,” jawab Aruna tegas.
Bram tersenyum tipis. “Itu Aruna
yang kukenal.”
Mereka melanjutkan perjalanan.
Sekitar satu jam kemudian, jejak
kaki itu berhenti di sebuah area terbuka kecil. Di tengahnya berdiri batu besar
setinggi dada orang dewasa. Permukaannya dipenuhi ukiran aneh.
Aruna mendekat, jantungnya berdebar.
“Ini .…” Ia menyentuh permukaan batu
yang dingin. “Simbol ini ada di jurnal Kakek.”
Bram ikut mendekat. “Artinya?”
“Gerbang.”
“Gerbang ke mana?”
Aruna menggeleng pelan. “Tidak
dijelaskan.”
Ia meraba pola ukiran itu.
Garis-garisnya membentuk lingkaran dengan titik di tengah. Di sekelilingnya,
simbol menyerupai mata.
Tiba-tiba terdengar suara ranting
patah.
Bram menoleh cepat. “Siapa di sana?”
Tidak ada jawaban. Namun, dari balik
pepohonan, sesosok bayangan melintas cepat.
Aruna membeku.
“Kau lihat itu?” bisiknya.
“Kulihat,” jawab Bram, suaranya
menegang.
Bayangan itu terlalu cepat untuk
disebut manusia.
“Apakah itu orang yang membuat
jejak?” tanya Bram.
Aruna menggeleng pelan. “Tidak
tahu.”
Suara langkah terdengar lagi. Lebih
dekat.
“Keluar!” seru Bram.
Seorang pria muncul dari balik
pohon. Pakaiannya kusam, wajahnya tertutup sebagian oleh syal.
“Kalian seharusnya tidak di sini,”
katanya datar.
Aruna menegakkan tubuh. “Siapa
Anda?”
Pria itu tidak menjawab. Matanya
menatap batu berukir, lalu kembali pada Aruna.
“Batu itu bukan untuk disentuh
sembarang orang.”
“Kami tidak sembarang orang,” balas
Aruna cepat. “Kami mencari sesuatu.”
Pria itu tertawa kecil, tanpa humor.
“Semua orang yang datang ke sini berkata begitu.”
Bram melangkah maju. “Anda mengikuti
kami?”
“Tidak,” jawab pria itu singkat.
“Kalian yang mengikuti jejakku.”
Aruna saling pandang dengan Bram.
“Jadi Anda tahu apa arti simbol
ini?” tanya Aruna.
Pria itu terdiam, menatap ukiran
dengan tatapan rumit. “Itu bukan sekadar gerbang.”
“Lalu?”
“Itu penanda,” katanya pelan. “Bahwa
kalian sudah memasuki wilayah yang tidak lagi milik manusia.”
Angin berembus lebih kencang.
Daun-daun bergetar.
Aruna merasakan bulu kuduknya
berdiri. Namun, di balik rasa takut itu, ada bara penasaran yang justru
membesar.
“Kalau bukan milik manusia,” katanya
perlahan, “milik siapa?”
Pria itu menatapnya dalam. “Bayang.”
Hening.
Bram berdeham. “Itu tidak masuk
akal.”
“Mungkin,” jawab pria itu. “Lihatlah
sekeliling.”
Aruna menoleh.
Untuk sepersekian detik, ia melihat
sesuatu yang membuat napasnya tercekat.
Di tanah, bayangan mereka bertiga tidak
sejajar dengan tubuh masing-masing.
Bayangan itu sedikit bergeser.
Sedikit terlambat.
Seolah-olah memiliki kehendak
sendiri.
Aruna menelan ludah. Ini nyata.
“Kalian masih punya kesempatan untuk
kembali,” ujar pria itu.
“Setelah melewati penanda ini, jalan
pulang tidak akan semudah sebelumnya.”
Bram menatap Aruna. “Bagaimana?”
Aruna memandang batu berukir, lalu
hutan di baliknya yang semakin gelap.
Ia teringat wajah kakeknya, misteri
yang belum terpecahkan, dan pertanyaan yang selama ini menghantuinya.
Ia tidak datang sejauh ini untuk
mundur.
“Kami lanjut,” ucapnya mantap.
Pria itu tersenyum samar, entah
kagum atau iba. “Kalau begitu, bersiaplah.”
“Untuk apa?” tanya Bram.
Pria itu melangkah mundur, perlahan
menyatu dengan bayangan pepohonan.
“Untuk melihat siapa yang selama ini
mengikuti kalian.”
Aruna menoleh cepat, tetapi pria itu
sudah menghilang.
Hanya tersisa hutan yang kembali
sunyi.
Bram menelan ludah. “Aku tidak suka
ini.”
Aruna menatap bayangannya sendiri.
Bayangan itu tampak diam. Namun, ia tahu, sesuatu sedang menunggu.
“Justru itu,” katanya pelan, matanya
menyala oleh tekad.
“Petualangan yang sebenarnya baru
saja dimulai.”
Tanpa ragu, ia melangkah melewati
batu penanda, masuk lebih dalam ke Hutan Seribu Bayang tempat di mana setiap
langkah bukan hanya meninggalkan jejak, tetapi juga membangunkan sesuatu yang
telah lama terlelap.