Seorang wanita dengan rambut panjang yang terurai, tengah sibuk menyiapkan sarapan sederhana untuk suaminya–Janu Pramoedya. Tangan kecilnya sangat lihai memotong sayuran.
Sementara itu seorang pria yang tidak lain tidak bukan adalah Janu, tengah asyik menikmati paras Rula Pandhita–istrinya. Bagaimana tidak, wajahnya yang kecil, hidung bangir, bibir tipis dan mungil selalu berhasil mencuri perhatiannya.
Merasa kurang puas dengan hanya memandangi wajah Rula, Janu segera beranjak untuk menghampiri istrinya. Ia mengikis jarak dan berhasil melingkarkan lengan kekarnya di pinggang ramping Rula.
“Perlu bantuan?” tanyanya lembut.
Rula yang sedikit terkejut, hanya menggeleng kecil sebagai jawaban. Ia sudah sangat terbiasa dengan tingkah manja suaminya yang ingin terus menempel seperti ini.
“Mas, kamu ini sudah tua, bisa tidak jangan manja sehari saja!” kata Rula tanpa menghentikan kegiatannya.
“Tidak,” jawab Janu singkat, laki-laki berusia tiga puluh lima tahun itu, justru semakin menenggelamkan wajahnya di pundak Rula.
“Ck, kamu tidak lihat aku sedang sibuk?”
“Lihat, makanya aku menawarkan bantuan.”
“Tapi jika seperti ini malah membuatku susah bergerak!” keluh Rula sambil berusaha melepaskan diri dari dekapan Janu.
“Aku tidak akan mengganggumu, Sayang.”
“Baiklah, kamu menang!”
Pada akhirnya, Rula hanya pasrah membiarkan Janu menempel selama proses memasak. Janu hanya sesekali membantu mengambilkan sesuatu atas perintah Rula.
Ketika semua makanan itu sudah selesai ditata, Rula segera menyiapkan piring berisi nasi dan lauk-pauk untuk Janu. Setelah itu, barulah ia duduk dan mengambil makanan untuk dirinya sendiri.
“Oh iya, Mas! Bukankah nanti malam kita akan menonton film?”
“Benar,” jawab Janu seadanya.
“Kalau begitu, aku izin pergi berbelanja ya!”
“Aku antar.”
“Tidak perlu! Lagi pula, Mas pasti sibuk,” sahut Rula cepat.
“Tidak, aku bisa mengantarmu. Tunggu saja,” balas Janu tidak ingin dibantah.
Dan yang bisa Rula lakukan hanyalah pasrah mematuhi suaminya. Mata bulatnya, kini fokus memperhatikan wajah datar suaminya.
Tidak lama, ia tersenyum kecil tatkala ia sadar bahwa semua itu adalah bentuk kasih sayang suaminya. Walaupun suaminya itu irit bicara, ia tidak pernah merasa kesepian atau kurang kasih sayang. Bahkan setelah enam tahun pernikahan, hari-hari Rula selalu dipenuhi kehangatan. Ya, Janu merupakan laki-laki yang lebih suka bertindak daripada bicara.
Seperti ketika ia kedinginan, Janu akan segera memeluknya atau menyelimutinya daripada menyuruh Rula mengambil selimut. Atau saat Rula tidak sadar tali sepatunya lepas, karena sibuk dengan ponselnya, ia akan segera mengikatkannya daripada menegur Rula. Belum lagi, senyum tipis dan tatapan tulus Janu, selalu berhasil membuat hati Rula penuh karena merasa sangat dicintai.
Ia bahkan ingat betul, saat pertama kali ia bertemu dengan sang suami. Pria itu selalu mencari alasan untuk bertemu dengannya. Salah satu yang paling membuat Rula tidak bisa berkata-kata adalah, saat Janu sengaja berangkat ke kantor hanya dengan berjalan kaki agar berpapasan dengan Rula di trotoar.
“Sayang,” panggil Janu yang berhasil menyadarkan Rula dari lamunannya.
“Ah, ya! Maaf, Mas, aku melamun.”
“Apa ada yang mengganggu pikiranmu?” tanyanya khawatir.
“T-tidak, hanya mengingat masa lalu,” jawab Rula sedikit malu.
“Masa lalu?”
“Iya, masa-masa saat Mas bersikeras mendekatiku.”
Seketika wajah Janu memerah hingga ke telinga. Ia tentu ingat betul ketika berusaha setengah mati untuk mendapatkan Rula. Hampir setiap hari ia mencari tahu di sebuah aplikasi tentang bagaimana cara mendekati wanita.
“Haha, wajah kamu merah, Mas!” Rula, tidak kuasa menahan tawa saat melihat suaminya salah tingkah.
“Ehem, apakah sudah?” tanyanya untuk mengalihkan pembicaraan.
“Sudah,” jawab Rula sambil berusaha meredakan tawanya.
Tangan Janu segera bergerak untuk membereskan meja makan. Ia memang tidak pernah membiarkan Rula mengerjakan pekerjaan rumah sendirian. Selama ia ada, pekerjaan rumah akan menjadi bagian tanggung jawabnya. Itu juga menjadi salah satu alasan Rula luluh kepada Janu.
“Biar aku saja, Mas! Sudah pukul 07.00. Mas harus segera ke kantor,” ucapnya sambil memeluk Janu dari belakang.
“Tidak masalah, lagi pula jaraknya dekat.”
“Baiklah, kalau begitu jangan pulang larut ya! Ingat, kita akan menonton film!” kata Rula seraya menyelipkan kepalanya di bawah lengan Janu.
Melihat itu, Janu langsung mendaratkan sebuah kecupan hangat di kening Rula. Tidak lupa tatapan tulus yang selalu membuat Rula dimabuk cinta.
“Tentu, aku akan pulang cepat.”
“Yes! Terima kasih, Mas!” ucapnya kegirangan.
Janu tersenyum hangat, ia segera mengeringkan tangannya setelah selesai mencuci piring. Kemudian membalikkan badan dan segera memeluk Rula dengan erat. Ia gemas dengan tingkah Rula yang terkadang seperti anak kecil di matanya.
“Aku sangat mencintaimu,” bisiknya seraya mengecup pucuk kepala Rula.
“Aku tahu, aku juga sangat mencintaimu, Mas!” balas Rula seraya menyembunyikan wajahnya di dada bidang Janu.
“Jangan pergi ke mana pun sebelum aku pulang!” titah Janu tegas.
“Iya, iya. Aku tidak akan ke mana pun, aku akan setia menunggu suamiku pulang, puas?”
“Iya,” jawab Janu tanpa ragu.
“Ish, kamu ini! Sudah sana pergi!” ucap Rula seraya mendorong tubuh tinggi suaminya menuju pintu utama.
Janu tersenyum, ia sengaja melemaskan tubuhnya agar Rula berusaha keras mendorongnya. Jujur saja, jika tidak ada tuntutan untuk bekerja, ia akan memilih berdiam diri di rumah bersama Rula.
“Astaga, berat sekali! Kamu makan apa sih?” tanya Rula kesal.
“Makan yang kamu siapkan,” Jawab Janu seadanya.
“Iya, kamu benar. Pertanyaan yang bodoh bukan?” Rula terkekeh merasa lucu dengan ucapannya sendiri.
“Maaf, aku tidak bermaksud menyinggungmu.”
“Tidak perlu minta maaf, Mas. Sudah sana berangkat!”
“Baiklah, aku berangkat.”
Janu melangkah lebih dekat untuk mengikis jarak dengan Rula, kemudian menangkup wajah kecil Rula dengan kedua telapak tangannya. Setelah itu, ia mencium seluruh wajah Rula dengan lembut.
Rula tersenyum geli dan berusaha melepaskan diri suaminya. Tapi tentu saja usaha itu sia-sia. Tubuh kecilnya tidak akan pernah mampu melawan tenaga suaminya yang besar dan kekar.
“Aku sangat mencintaimu, Mas. Walaupun aku bukan yang pertama, aku selalu merasa menjadi yang utama bagimu.”
Setelah berucap demikian, tiba-tiba sekelebat masa lalu berputar bagaikan sebuah film di kepalanya. Sebuah ingatan ketika Janu memberanikan diri untuk jujur bahwa dia adalah seorang duda.
Ya, Rula bukanlah istri pertama bagi Janu. Akan tetapi, sampai detik ini suaminya belum pernah mau menceritakan siapa masa lalunya tersebut. Maka dari itu, di masa lalu ia sempat mencari tahu sendiri siapa masa lalu suaminya.