


oleh Biebell · 62 Bab
Sepertinya Bianca harus berterima kasih pada Aluna yang sudah membuat sayembara berhadiahkan uang tunai 5 juta itu. Karena Bianca bisa berpacaran dengan Jemian yang jarang keluar dari dalam kelas, apa lagi memperlihatkan wajahnya. Bianca merasa beruntung bisa berpacaran dengan Jemian yang kaya raya itu, tapi apakah Jemian juga merasa beruntung seperti dirinya? Atau justru menyesal setelah mengetahui kehidupan Bianca? "Kamu ikut sayembara cuma untuk uang lima juta? Aku bisa ngasih kamu tiga kali lipat dari itu." — Jemian, boyfriend material.
Tangan kanan Aurel terulur untuk menutupi wajah Karin. Cewek itu tidak henti melihat murid laki-laki yang berlalu-lalang di depan meja mereka.
Saat ini Bianca dengan kedua sahabatnya—Aurel dan Karin—sedang berada di dalam kantin. Bukan untuk bermain badminton, tentu saja, melainkan untuk mengisi perut mungil mereka yang sudah lapar dengan makanan.
Merasa pandangannya dihalangi, Karin langsung menyingkirkan tangan Aurel. "Jangan ganggu aku, Aurel!" Tuhan sudah menciptakan manusia dengan sempurna, jadi Karin hanya ingin menikmatinya saja.
Lelaki dengan wajah tampan, tubuh yang bagus memang menarik perhatian Karin, apalagi jika ketua futsal yang lewat di depan mereka. Sudah pasti Karin akan langsung melotot lebar; rasanya Karin ingin mengajaknya untuk berpacaran.
Namun, hal itu tidak mungkin terjadi. Cowok itu sudah memiliki pawang yang sok cantik—kata Karin. Bisa-bisa rambut badainya dijambak oleh cewek itu jika berani mendekati kekasihnya.
"Nanti mata kamu bintitan, Rin," ungkap Aurel seraya memakan bakso miliknya.
Karin mendelik tajam pada Aurel. "Mereka pakai baju, Rel. Mana mungkin aku bisa bintitan!" Sebenarnya tidak ada kaitannya antara bintitan dengan melihat para lelaki tampan; toh hanya wajah mereka yang dilihat oleh Karin.
"Bisa aja." Aurel mengendikkan kedua bahunya tak acuh. "Siapa tahu Tuhan mau ngasih hukuman ke kamu yang jelalatan." Dia ini bertingkah seakan dirinya tidak pernah melihat abs oppa-oppa Korea saja.
Bianca sejak tadi hanya melihat kedua temannya beradu argumen—sudah biasa. Jadi, Bianca hanya melihatnya sambil sesekali terkekeh kecil.
"Kenapa kamu diam aja?" tanya Karin pada Bianca, mulutnya terbuka untuk memasukkan mi ayam ke dalam mulutnya. "Mikirin hutang?" Si Karin ini tidak puas beradu argumen dengan Aurel, sehingga kini cewek itu malah mengganggu Bianca.
Bianca tidak berniat menjawab awalnya; ia memilih sibuk dengan makanannya sendiri. Namun, Karin justru kembali berkata, "Kamu beneran mikirin hutang utang?"
"Mending kamu diam, Rin. Jangan sampai aku panggil Ravin!" ancam Bianca.
Karin menyipit tajam, tangannya menodongkan garpu ke depan wajah Bianca. "Nggak usah bawa-bawa Ravin, ya!"
Ravin merupakan salah satu cowok ganteng di sekolah ini. Selain ketua futsal, Ravin juga masuk ke dalam daftar cowok yang ingin Karin ajak pacaran.
Karin menurunkan garpu dari hadapan Bianca, lalu menggulung mi dengan garpu tersebut. "Biarin cinta ini hanya aku dan kalian berdua yang tahu."
"Dramatis banget, anjir!" cibir Aurel yang diangguki setuju oleh Bianca.
Cewek berambut panjang yang diikat ponytail itu menusuk bakso kecil dengan kasar. "Kamu kalau misalnya bener lagi mikirin utang, mending kamu pakai uang aku aja dulu. Mau kamu balikin pas udah nikah juga nggak masalah aku mah!"
Kali ini Aurel yang mengangguk setuju dengan ucapan Karin.
Inilah yang membuat Bianca malas berbicara tentang uang dengan kedua sahabatnya. Mereka sangat baik kepada Bianca, hingga Bianca sendiri bingung bagaimana cara membalas kebaikan mereka.
Mereka tidak ragu untuk memberikan uang pada Bianca jika Bianca tengah membutuhkan uang, baik mendesak ataupun tidak. Bahkan dalam jumlah yang banyak pun mereka tetap memberikannya pada Bianca.
Bahkan, waktu itu Bianca memang berencana membuat prank. Bianca menelepon kedua sahabatnya untuk meminjam uang sebesar sepuluh juta rupiah. Dan tebak apa yang terjadi? Yah, mereka berdua langsung transfer tanpa banyak kata, sehingga Bianca ketar-ketir sendiri.
"Nggak mau!" Bianca mengangkat jari telunjuk saat Aurel membuka mulutnya hendak menjawab. "Aku mau usaha sendiri."
"Usaha sendiri?" Karin terdiam sesaat, mengingat sesuatu. Ketika sudah ingat, dia langsung mengambil ponsel miliknya yang ada di atas meja. Mengutak-atik sebentar sebelum akhirnya menunjukkan sebuah unggahan story kepada Bianca dan Aurel secara bergantian.
Sebelah alis Bianca terangkat, ia menatap bingung Karin. "Ngapain kamu nunjukin story ini?"
Postingan itu milik Aluna—cewek hits yang terkenal di sekolah karena kecantikan dan kekayaannya. Meski tidak sekaya Jemian yang merupakan keponakan dari pemilik sekolah.
Aluna menjadi lebih populer lagi setelah berpacaran dengan ketua basket yang terkenal tampan, bertubuh bagus, dan juga pintar. Namun, sayangnya mereka sudah putus sekitar satu minggu yang lalu, sehingga gosip bertebaran di sekolah.
"Kami mau usaha sendiri, kan? Nah, kamu ikut aja sayembara ini," usul Karin dengan semangat.
Sayembara ini terbuka bagi siapa saja yang melihat story Aluna dan bisa mengikutinya, terutama para siswi SMA Merah-Putih. Perintahnya, peserta harus menjelaskan secara detail kepada Aluna bagaimana wajah Jemian yang tidak pernah ada yang melihatnya—bahkan guru sekalipun. Mereka akan mendapatkan uang lima juta rupiah jika berhasil.
Lalu ada tambahan, jika ada yang berhasil mengajak Jemian berpacaran, maka uangnya akan ditambahkan oleh Aluna sebesar dua juta rupiah.
Tangan Aurel terulur untuk menyentuh punggung tangan Bianca. "Kamu bisa ikut sayembara ini, Bia. Kamu nggak mau bantuan dari aku ataupun Karin, kan? Kamu bisa dapat lima juta dari sayembara ini. Kamu bisa bayarin utang itu, kamu kasih setengahnya ke Bunda. Sisanya kamu pegang untuk diri kamu sendiri."
"Kita bakalan dukung kamu, Bia." Karin menatap Bianca, berusaha meyakinkan gadis itu.
"Di mana aku bisa daftar?"
•••
Di sinilah Bianca sekarang, di depan mobil milik Aluna. Tadi siang Karin mengirim pesan pada Aluna bahwa Bianca ingin mengikuti sayembara tersebut. Lalu Aluna menjawab bahwa Bianca harus menunggu dirinya di parkiran setelah pulang sekolah.
Aluna duduk di atas kap mobilnya, menatap Bianca dari atas hingga bawah dengan tatapan meremehkan. "Aku sebenarnya nggak yakin kamu bakal berhasil," cemoohnya.
Ini alasan Bianca sebenarnya malas berurusan dengan Aluna. Ucapan cewek itu terlalu tinggi; Bianca ingin membalasnya jika tidak ingat bahwa dirinya membutuhkan uang.
"Tapi aku nggak pernah larang siapa pun untuk ikut, jadi ...." Aluna menghentikan ucapannya. Dia mengambil ponsel dari dalam saku kemeja sekolah, mengutak-atiknya sebentar sebelum menunjukkannya kepada Bianca. "Cepat catat!"
Bianca melihat nomor telepon dan sebuah alamat di ponsel Aluna. Ia bergegas mencatatnya pada catatan ponselnya. "Ada syarat nggak?" tanya Bianca setelah selesai mencatat.
"Nggak ada, tapi kalau misalnya kamu nggak bisa jelasin ke aku bagaimana wajah Jemian dalam waktu seminggu, kamu bakalan dianggap gugur," jelas Aluna, yang membuat Bianca hampir melotot kaget.
Seminggu? Yang benar saja! Bianca saja tidak pernah bertemu dengan Jemian, bagaimana caranya supaya dirinya bisa melihat wajah cowok itu dalam waktu tujuh hari saja?
"Udah, pergi sana!" usir Aluna seraya mengibaskan tangannya.
Bianca menatap sinis Aluna sebelum akhirnya melangkah pergi menghampiri kedua sahabatnya yang sudah menunggu di depan lobi sekolah.
"Gimana? Bisa?" Karin lebih dulu menghampiri Bianca. Dia memegang kedua bahu Bianca dengan wajah yang berbinar.
"Bisa. Aku dapat nomor sama alamat Jemian," jawab Bianca seraya mengangguk kecil.
Karin langsung menggoyangkan bahu Bianca dengan heboh hingga membuat mereka jadi pusat perhatian. "Semangat, Bia! Kita akan dukung kamu!"
Aurel mengerutkan kening heran. "Dapat alamat dari mana si Aluna?" Alamat yang dimaksud adalah alamat rumah Jemian. Kok bisa cewek itu mendapatkannya? Apakah Aluna tidak takut dikeluarkan dari sekolah oleh Jemian?
"Udah, itu mah nggak penting!" Karin mengibaskan tangannya, lalu merangkul bahu kedua sahabatnya. "Yang penting Bianca harus menang dalam sayembara ini!

Biebell
1 Pengikut · 1 Novel