Senja merayap, menyelimuti jendela-jendela tinggi rumah dengan tirai keemasan yang pucat, lalu memudar menjadi abu-abu. Di dalam, tidak ada kehangatan yang meramaikan pergantian hari.
Ruang keluarga, dengan sofa kulit hitam mengilat, dan meja kopi kaca yang senantiasa bersih tanpa noda, terasa seperti museum, anggun, tanpa jiwa. Suara detik jam dinding Grandfather Clock di sudut ruangan adalah satu-satunya melodi yang memecah kesunyian, mengukir waktu dengan presisi dingin yang tanpa ampun.
Aarav, Ananya, dan Ishaan, tiga bersaudara dengan selisih usia yang tak terlalu jauh, duduk di sofa yang terpisah-pisah, seolah ada dinding tak kasat mata di antara mereka.
Aarav, yang tertua, berusia lima belas tahun, fokus pada buku pelajaran matematika, alisnya berkerut dalam konsentrasi palsu.
Otaknya tak sepenuhnya mencerna rumus-rumus kompleks, melainkan sibuk menghitung berapa banyak waktu tersisa hingga malam tiba, ritual malam yang selalu mendatangkan kecemasan.
Ananya, dua belas tahun, mengelus sampul buku cerita usang yang ia sembunyikan di pangkuannya. Matanya yang besar dan penuh impian menatap kosong ke luar jendela, menembus bayangan dirinya yang memudar di pantulan kaca.
Ia membayangkan dunia di mana anak-anak bisa tertawa lepas, mengejar kupu-kupu di taman, bukan terkurung dalam sangkar kemewahan yang sunyi. Jemarinya yang ramping sesekali menarik sudut kemeja katunnya yang terlalu rapi, seolah ingin melepaskan diri dari segala bentuk kekangan.
Ishaan, si bungsu yang baru genap delapan tahun, memeluk erat boneka beruang lusuh, satu-satunya teman yang ia rasa bisa ia percayai sepenuhnya. Tubuhnya yang mungil tenggelam dalam kelembutan sofa, tapi matanya yang jernih tak henti-hentinya mengawasi pintu yang terhubung ke ruang kerja sang ayah.
Ia tidak mengerti sepenuhnya apa yang terjadi setiap malam, hanya saja, ia merasakan hawa dingin yang sama menjalari tulang-tulangnya setiap kali ayahnya muncul. Sebuah firasat buruk yang bahkan seorang anak kecil pun bisa merasakannya.
Meera, ibu mereka, muncul dari dapur, membawa nampan berisi teh herbal dan biskuit gandum. Langkahnya halus, nyaris tak bersuara, seolah takut mengganggu ketenangan yang rapuh. Wajahnya yang dulunya ceria kini berhias kerutan halus di sudut mata, dan garis bibirnya tertarik ke bawah, membentuk lengkungan kesedihan yang tak terucapkan.
Ia meletakkan nampan di meja dengan kehati-hatian, tanpa memecah kontak mata dengan anak-anaknya. Sebuah senyum tipis, nyaris tak terlihat, melintas di wajahnya, tidak mencapai matanya yang tampak lelah.
“Sudah waktunya makan malam,” bisiknya lembut, suaranya seperti embusan angin di antara daun-daun kering.
Anak-anak mengangguk serempak, menghentikan kegiatan mereka. Mereka tahu, ini bukan pertanyaan, melainkan sebuah pernyataan yang tak bisa dibantah. Mereka beranjak ke meja makan, sebuah meja mahoni besar yang terasa terlalu luas untuk mereka berlima.
Piring-piring porselen putih tersusun rapi, sendok dan garpu diletakkan dengan presisi militer. Tidak ada hiasan bunga di tengah meja, tidak ada lilin, hanya keheningan yang kaku.
Vikram, ayah mereka, melangkah masuk dari ruang kerjanya, aura dinginnya mengisi setiap sudut ruangan. Pria paruh baya itu mengenakan kemeja batik rapi dan celana kain yang disetrika licin, rambutnya tersisir ke belakang dengan rapi. Tatapannya tajam dan menghitung, seperti seorang bankir yang sedang menilai sebuah investasi.
Ia duduk di kepala meja, mengambil sendok dan garpu, lalu mulai menyantap hidangannya tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Nasi putih mengepul, lauk ayam goreng tepung dan sayur tumis terhidang, tidak ada aroma menggoda yang mampu membangkitkan selera. Bahkan makanan pun terasa hambar di rumah ini.
***
Anak-anak mulai makan, gerakan mereka terpatah-patah dan penuh kehati-hatian. Suara dentingan sendok beradu dengan piring terdengar berlebihan di telinga. Tidak ada obrolan ringan tentang kegiatan di sekolah, tidak ada cerita lucu, tidak ada berbagi.
Meera sesekali mencuri pandang ke arah Vikram, bibirnya terkatup rapat, dan sepasang matanya menyiratkan permohonan yang tak pernah terucap. Namun, tatapan Vikram tidak pernah bergeser dari piringnya, apalagi membalas kontak mata istrinya.
Setelah makan malam yang terasa seperti interogasi, Vikram beranjak dari kursi, meninggalkan piring yang sudah bersih tak bersisa. Ia berdeham pelan, suara yang selalu menjadi penanda bagi anak-anaknya. “Semuanya, ikut ke ruang keluarga.”
Hati Aarav mencelos. Ananya mengepalkan tangan di balik roknya. Ishaan tanpa sadar memeluk bonekanya lebih erat, merasakan bulu-bulu halus boneka beruangnya basah oleh keringat dingin di telapak tangannya. Mereka berempat, termasuk Meera, mengikuti Vikram kembali ke ruang keluarga.
Vikram duduk di sofa utama, mengambil sebuah buku bersampul kulit hitam tebal dari rak buku di belakangnya. Buku itu terlihat tua, dengan pinggiran halaman yang menguning dan bau kertas lama yang samar-samar tercium di udara.
Sebuah pulpen bertinta emas terselip di antara halaman terakhir yang terisi. Ini adalah buku besar, bukan sekadar buku harian atau album foto keluarga. Ini adalah catatan utang.
Aarav berdiri tegak, berusaha menunjukkan kesan tak gentar, meski lututnya sedikit gemetar. Ananya menunduk, matanya terpaku pada pola karpet Persia yang rumit. Ishaan bersembunyi di balik kaki Meera, mencari perlindungan dari aura sang ayah yang mencekam. Meera sendiri berdiri di samping Ishaan, tangannya mengusap lembut rambut putranya, seolah memberikan kekuatan lewat sentuhan tanpa suara.
Vikram membuka buku besar itu, suara gemerisik kertas tua terdengar nyaring di antara keheningan. Matanya menelusuri baris-baris tulisan tangan yang rapi dan teratur, seolah sedang membaca sebuah laporan keuangan penting.
“Aarav,” panggil Vikram, suaranya tenang, tanpa emosi, “Minggu ini, kau menghabiskan tiga puluh ribu rupiah untuk jajan di sekolah, dan biaya listrik untuk kamarmu yang menyala sepanjang malam untuk belajar, tujuh ribu lima ratus rupiah per hari selama tujuh hari. Totalnya .…” Vikram berhenti sejenak, menekan ujung pulpen ke kertas, lalu melanjutkan, “Delapan puluh dua ribu lima ratus rupiah. Akan tercatat sebagai cicilan utang bulananmu di masa depan.”
***
Aarav menelan ludah. “Ayah, saya kan harus belajar untuk ujian. Lampu itu—”
“Tidak ada yang gratis, Aarav,” potong Vikram datar, tanpa mengangkat pandangan dari buku. “Pengetahuan pun harus kau bayar. Itu adalah investasi. Setiap hal yang kalian terima di rumah ini, adalah modal yang ayah tanamkan untuk masa depan kalian, dan setiap modal harus ada pengembaliannya.”
Ananya merasakan dadanya sesak. Ia teringat bagaimana minggu lalu ia dilarang membeli buku pelajaran tambahan sejarah, karena “tidak ada anggaran untuk hal yang tidak penting”. Namun, biaya listrik untuk lampu belajar Aarav, yang jelas-jelas penting, justru ditagih.