


oleh Elisra Lee · 27 Bab
Arum syok melihat video Arsyad memasuki hotel dengan seorang wanita muda. Ia mengambil keputusan sepihak dan memaksa anak tunggalnya itu menikah. Dua kali gagal dalam perjodohan, tak membuat Arum jera. Ia berhasil membuat Arsyad kembali setuju untuk melakukannya. Masalah baru muncul. Arsyad tertarik pada seorang ibu tunggal yang berstatus mahasiswa yang sedang KKN di desa itu. Hubungan Arum dan Arsyad memburuk. Perbedaan kriteria calon istri, membuat hubungan mereka mengalami naik-turun. Bagaimana kisahnya? Apakah Arsyad tetap tunduk pada keinginan sang ibu? Ataukah berjuang sesuai keinginan hatinya?
“Arsyad!”
Arsyad tersentak mendengar lengkingan suara sang ibu. Cangkir kopi yang ada di tangannya pun sedikit terguncang. Ia buru-buru meneguk minuman yang sudah tak terlalu panas itu, lalu bergegas keluar.
“Bu, hati-hati!” serunya.
Ekspresi khawatir tergurat jelas di wajah Arsyad kala menyaksikan Arum mengayuh sepeda dengan kecepatan tinggi, langsung menarik tuas rem tepat di depan Arsyad.
Setelah menegakkan penyangga sepeda, perempuan berkerudung panjang itu tergesa-gesa menghampiri Arsyad.
“Arsyad! Apa yang kamu lakukan?! Bikin malu Ibu!” teriak Arum.
Dengan wajah penuh tanya, Arsyad membiarkan Arum terus memukulinya. Bahu dan dada menjadi sasaran sang ibu. Untuk sesaat, ia menahan diri untuk bertanya, apalagi melihat wajah merah padam Arum.
“Ada apa, Bu?” tanya Arsyad.
Arsyad memegang kedua tangan Arum, saat pukulannya kian melemah. Ia penasaran dengan perilaku ibunya sepagi ini.
Arum berusaha menetralkan napasnya yang masih terengah-engah. Ia menatap garang Arsyad, lalu meninggalkan begitu saja tanpa sepatah kata.
“Bu, katakan ada apa? Kenapa marah-marah?” tanyanya.
Arsyad mengekor sang ibu masuk ke dapur.
Arum menyentakkan kresek sayur mayur yang dibelinya di Pasar Grebek ke atas meja. Ia duduk, lalu memijit pelipis.
Arsyad memperhatikan napas Arum yang masih memburu. Ia berinisiatif menuang air di gelas lalu menyodorkan pada Arum.
“Minum dulu, Bu!”
Arum menerima, lalu meminumnya dengan rakus. Seolah-olah ingin melunturkan semua emosi yang tersisa. Ia menatap tajam pada Arsyad yang duduk di seberang meja.
Arsyad menatap setiap pergerakan Arum. Senyum terukir di wajahnya, saat mendapati sang ibu mendengkus.
“Ar, apa saja yang kamu lakukan di Batu kemarin?” selidik Arum.
Arsyad mengerutkan dahi. Ia berusaha mengingat-ingat, tapi tidak merasa melakukan sesuatu yang janggal.
Brak!!
“Nggak usah mengelak kamu, Ar!” hardik Arum.
Arsyad terjengit dan menatap heran pada wajah garang ibunya. Pria dengan rambut berkuncir kuda tersenyum lembut.
Ia meninggalkan Arum yang kembali marah, menuju tungku di tengah-tengah dapur. Setelah memasukkan dua batang kayu kering ke bara api, Arsyad kembali duduk di hadapan Arum.
Arum menatap lekat Arsyad dan bertanya penuh penekanan, “Apa yang kamu lakukan di Batu kemarin, Ar?”
“Oh itu, biasalah Bu, habis antar Danang ke mes, ketemu temen,” jawab Arsyad.
Pandangan mata Arum lurus menatap wajah anaknya, lalu tiba-tiba bergidik. Video yang ditunjukkan oleh salah satu teman mengajinya saat bertemu di Pasar Grebek tadi kembali berputar.
Tatapan mata keduanya bertemu. Arum dan Arsyad duduk dipisahkan meja kayu persegi berlapis taplak batik.
Hati Arsyad mendadak nelangsa, melihat wajah Arum. Di usia yang sudah lewat kepala enam, ibunya masih mengurus segalanya sendiri.
Andai dulu pernikahanku tak gagal, mungkin beban itu lebih ringan. Pikiran yang lewat sekelebat, membuat Arsyad tertegun.
Sementara itu, Arum mengamati Arsyad dengan tatapan menilai. Menurutnya, Arsyad tak kekurangan apa pun. Pekerjaan tetap, tubuh tinggi, wajah lumayan, meskipun kulitnya cokelat.
Untuk ukuran hidup di pedesaan, umur empat puluh dua tahun belum menikah itu jadi bahan gunjingan.
Label bujang lapuk, pria tidak laku, orientasi belok, sudah melekat pada Arsyad. Kebiasaan buruknya pun tak lepas dari sorotan warga, Lagi-lagi, Arum menarik napas dalam.
“Bu, sebenarnya ada apa?” ulang Arsyad.
Arum masih bungkam. Rasa kecewa masih mengendap di hati. Ingin rasanya Arum mengingkari, tapi video yang ditunjukkan salah satu temannya itu mengusik kembali.
“Ar, apa benar kamu kemarin ketemu rombongan Pak RT di Batu?” Sorot mata Arum tajam, seakan-akan menguliti Arsyad.
“Oh itu. Iya, Bu. Ada apa? Bukannya sebelum berangkat ke Malang sudah pamit?” tanya Arsyad.
Arsyad lega. Ternyata, bukan hal besar seperti dugaannya. Ia mengira ada kejadian genting, melihat betapa marahnya sang ibu pagi ini.
“Sama siapa kamu ke sana?” selidik Arum.
Arsyad makin heran. “Lho, Ibu kan tahu. Sama Danang.”
Arum terdiam. Dia ingat betul keduanya berangkat dari rumah ini bersama. Namun, saat melihat wajah tenang Arsyad, Arum kembali kesal.
“Tapi, warga lihat kamu masuk hotel sama perempuan. Apa ketemu temen lama itu ke hotel? Jujur Ar!” desak Arum.
“Ya ampun Bu. Itu beneran temen. Lagi pula, bukan kita berdua saja, Bu. Ada yang lain dan belum datang, masa iya kalau anak ibu ini punya niatan ngamar, ketemu warga malah ngobrol santai di lobi?” balas Arsyad.
Arum mengangguk. Namun, hatinya masih sulit percaya.
Suasana dapur kembali sunyi, hanya suara kayu bakar sesekali berderak.
Biasanya, Arsyad sudah memanggang singkong untuk sarapan. Berbeda dengan pagi ini, berita dari ibunya jauh lebih menggelitik dari aroma singkong bakar.
Arum berpikir keras. Masuk hotel dengan perempuan itu bisa dianggap aib. Namun, anaknya tadi menyapa warga tanpa gelagat canggung. Video yang diperlihatkan temannya tadi, berhasil membuat hati Arum kembali sesak.
Meja tiba-tiba digebrak.
“Ibu lihat sendiri, Ar! Perempuan itu me-me ... sudahlah, Kamu lihat sendiri di grup warga!”
Arsyad tak menjawab. Dia segera meninggalkan dapur, menuju rumah induk. Kamarnya berada di sisi kanan ruang tengah. Dia ambil ponsel dari atas nakas.
“Seribu chat?” gumamnya saat membuka aplikasi grup Desa Sari.
Namanya ditandai sembilan kali. Ia menggulir ke atas dan menemukan video yang dimaksud, lalu memutarnya.
Beberapa detik kemudian, Arsyad terbahak. Tangan menepuk jidat. Ia geleng-geleng sambil tertawa, mengingat respon impulsif ibunya tadi.
Arsyad kembali ke dapur dengan senyum lebar. Namun, senyum itu memudar saat bertatapan lagi dengan Arum.
“Ini yang Ibu maksud?” katanya tenang, menyodorkan ponsel.
Arum menatap layar. Video itu kembali diputar. Terlihat jelas Arsyad masuk hotel dengan seorang gadis berambut panjang sepinggang. Tangan perempuan itu melingkar ke pinggang Arsyad.
Arum mual. Pikirannya menolak. Dia merasa dipermalukan. Anaknya ini benar-benar sudah melakukan tindakan amoral.
“Siapa perempuan itu?!” bentaknya.
Arsyad berdeham. “Teman, Bu.”
“Teman! Terus kamu ajak masuk hotel! Perempuan macam apa itu, Ar.” Arum memijit pelipisnya, matanya berair, wajahnya pucat menahan malu dan marah.
“Cukup, Ar! Kamu keterlaluan. Kamu mencoreng nama baik Ibu!”
Arsyad mengangkat kedua tangan, mencoba tetap tenang. “Mencoreng gimana, Bu? Itu teman biasa, rekan kerja. Kita enggak berdua aja, Bu. Ada beberapa teman yang akan menyusul. Kan sudah kujelaskan tadi.”
Arum menatapnya tajam. “Tapi kamu masuk hotel!”
“Ya Allah, Bu.” Arsyad menghela napas panjang. “Cuma masuk hotel, bukan berarti mau ngapa-ngapain, kan?”
“Terus kamu pikir warga bakal ngerti penjelasan kamu yang kayak gitu?” Arum bersedekap, nadanya mulai naik.
“Yang mereka lihat kamu gandengan sama perempuan, masuk hotel, ketemu Pak RT dan warga pula! Mau ditaruh di mana muka Ibu ini?”
Arsyad terduduk di bangku, mengusap wajahnya frustasi. “Bu, dengar dulu. Aku enggak melakukan sesuatu yang salah. Itu cewek cuma teman kerja. Kita cuma mau diskusi proyek. Tempat yang nyaman ya di hotel, bukan di warung kopi penuh orang.”
“Tapi kamu enggak bilang ke Ibu!” bentak Arum, suaranya pecah. “Kamu tahu sendiri, di desa ini, satu langkah bisa jadi cerita sebulan, ingat umurmu Ar!”
Lagi-lagi, ucapan Arum menekannya. Arsyad meletakkan telapak tangan di kening, membuang napas kasar melalui mulut.
“Lalu, aku harus gimana biar Ibu percaya?”

Elisra Lee
2 Pengikut · 1 Novel