


oleh Rayhan Rawidh · 118 Bab
Bintang Senja memiliki kemampuan untuk membuat pasangan saling jatuh cinta selamanya. Sayangnya, dia tidak dapat menemukan kebahagiaannya sendiri. Namun, kehidupan cintanya bukanlah masalah terburuk Bintang. Menjaga para peri agar tidak saling mengutuk hingga mati hampir menjadi pekerjaan tetap. Ditambah dengan pencarian warisan sihirnya, Bintang nyaris tak punya waktu untuk merawat kuku. Terlahir dalam garis keturunan penyihir hebat yang gagal membuat pilihan hidup terbaik, Bintang tahu bahwa sihir adalah pedang bermata dua yang dapat berakhir dengan bencana. Menjadi jahat tampaknya terlalu mudah bagi ibu dan neneknya. Apakah Bintang ditakdirkan untuk mengalami nasib buruk yang sama?
Menjadi jahat adalah pilihan. Setidaknya aku harap begitu.
Kebanyakan keluarga mencoba menyembunyikan dosa mereka dari mata-mata tetangga yang mengintai. Keluargaku mendirikan patung untuk mengenang dosa mereka.
Baiklah, itu tidak sepenuhnya benar.
Penyihir pembunuh berubah menjadi batu seketika dan tidak dapat berubah kembali menjadi manusia lagi untuk selamanya.
Pembunuhan salah satu dari kami adalah satu kejahatan yang, di dunia patra penyihir, tidak ada kata ampun.
Aku tidak tahu siapa yang membuat aturan tersebut, yang aku tahu hanya hukuman itu terjadi pada nenekku.
Tidak seorang pun tahu persis apa yang terjadi hari yang nahas itu, tetapi ketika semuanya berakhir, ibuku, Varya, telah tiada.
Dianggap telah meninggal, tidak meninggalkan jejak apa pun kecuali bekas terbakar hangus sihir hitam di bumi. Hanya pepohonan yang menjadi saksi atas tindakan keji nenekku yang membuatku menjadi yatim piatu.
Apa pun yang terjadi, perjalananku ke tempat kerja setiap hari membawaku melewati pengingat seukuran manusia tentang segala hal yang tidak pernah kuinginkan.
Pada sore hari ketika mulai condong ke barat, aku terlambat ke tempat kerja. Sepatu Nike-ku menginjak trotoar dalam mode jalan cepat, ketika aku baru saja berjalan beberapa langkah sebelum sesuatu yang aneh menarik perhatianku. Kilatan warna merah menyala di atas granit.
Mawar merah darah dengan duri seukuran ibu jari bayi mengirimkan semburat sedingin es ke tulang belakangku dan membuat rambut di tengkukku bergetar.
Awan aroma mewangi menggodaku untuk tenggelam dalam pesonanya yang harum dan manis. Membujukku untuk menguji jariku pada kelopaknya untuk melihat apakah kuntum mawar itu selembut yang terlihat.
Meskipun aku lebih suka mengabaikan bagian khusus dari sejarahku ini, Oma Vindy selalu menarik perhatianku setiap kali aku lewat.
Semak belukar mawar itu belum ada di sana sehari sebelumnya. Percayalah, aku akan menyadarinya, mengingat masih satu setengah bulan terlalu dini bagi kelopak mawar yang halus itu untuk tumbuh subur.
Diabadikan dalam bentuk patung batu, nenekku menatapku dengan penuh amarah. Tidak ada seniman yang akan begitu terampil menggunakan palu dan pahat untuk mengukir detail ekspresinya.
Sulur-sulur rambut yang diterpa angin atau api tercabut dengan sangat rinci di sekeliling wajah yang menghantui mimpiku. Mata yang memancarkan kemarahan membara, terpaku menatap sesuatu di kejauhan, menembus granit.
Seringai ganas yang melengkung hingga ke belakang bibirnya tidak dapat menyembunyikan bahwa nenekku adalah wanita cantik. Tidak ada hidung mancung bengkok atau kutil yang merusak kesempurnaan wajahnya.
Bahkan kalau Vindy Ananta Anulo jahat sampai ke sumsum tulang, tulang-tulangnya sungguh cantik. Untuk itu, setidaknya, aku bersyukur, karena tulang-tulang yang sama telah diwariskan kepadaku.
Sungguh luar biasa betapa miripnya aku dengan nenekku. Fakta lain yang kupilih untuk coba abaikan.
Siapa pun yang mengenal Vindy Ananta Anulo akan menunjukkan bagaimana aku dan nenekku bisa jadi saudara kembar.
Lucu juga, bahwa tidak seorang pun pernah menyebut mamaku. Sebut saja nama Varya Nara Anulo, maka para penyihir itu dengan cepat menemukan noda di baju mereka untuk disingkirkan, atau alasan untuk bergegas lari ke pintu keluar terdekat.
Bukannya aku punya banyak kontak dengan komunitas penyihir. Entah karena mereka tahu sesuatu tentang mengapa nenekku yang jahat membunuh putrinya sendiri yang malang dan tak berdosa—atau mungkin juga berdosa. Aku tak pernah yakin.
Mereka mungkin takut cacatku akan menular pada mereka.
Sihir yang kuat mengalir dalam keluargaku. Dengan nama belakang seperti Anulo, bagaimana mungkin tidak?
Ibuku memanggilku Alexis, yang berarti pelindung. Alexis Bintang Senja Anulo. Pelindung api upacara ritual. Nama yang terlalu panjang untuk disandang, jadi aku menyingkatnya menjadi Bintang Senja.
Alexis adalah dewi petarung Yunani yang mengenakan baju zirah, membawa perisai, dan menghunus pedang.
Bintang Senja adalah gadis cantik yang mengenakan pakaian desainer, membawa tas tangan mewah, dan menghunus lipstik mahal bermerk.
Itulah yang ingin kulakukan, atau, lebih tepatnya, itulah yang ditakdirkan untukku.
Sebut saja aku gadis picik kalau menurut kamu aku memang begitu, tetapi menyelamatkan dunia tidak ada dalam daftar tugasku.
Aku cukup puas menyelamatkan orang-orang dari bahaya kesepian, dan setidaknya aku bisa tidur di malam hari dengan mengetahui bahwa aku tidak dalam bahaya dari rumah-rumah yang atapnya runtuh.
Penyihir jahat tidak akan pernah menemui ajalnya dengan tenang dan damai. Aku yakin itu.
Tapi Anulo bukan hanya nama belakangku, itu juga tanggung jawabku.
Jangan tertawa dulu! Anulo zaman dulu menyalakan tungku keramat di dapurku, dan karena aku tidak punya keluarga lain untuk dibicarakan, tugasku adalah memberinya cukup sihir agar tetap menyala. Kalau apinya padam, hal-hal buruk akan terjadi di dunia penyihir.
Gila, kan?
Itu baru satu masalah.
Sihir dahsyat yang mengalir dalam darah keluargaku tidak menetes dalam darahku. Kecuali ada keajaiban pada tengah malam di ulang tahunku yang ke dua puluh lima, saat takdirku akan ditentukan.
Penyihir atau bukan penyihir. Keputusan itu akan segera final, dan aku tidak punya banyak harapan bahwa hasilnya akan sesuai dengan yang kuinginkan. Melihatnya dari sudut pandang gelas setengah terisi, tidak mendapatkan kemampuan sihir akan menghilangkan kekhawatiran semua orang bahwa aku akan mengikuti jejak kejahatan nenekku.
Tetapi siapa yang mau minum setengah gelas?
Dan menjadi jahat adalah pilihan yang tidak akan pernah kuambil. Aku sih, berharapnya gitu.
Kekuatan kecil yang kumiliki tampil sebagai intuisi yang peka—yang hampir secara eksklusif berlaku untuk hubungan interpersonal. Itu cara yang bagus untuk mengatakan bahwa aku seorang mak comblang dengan kemahiran tertentu untuk mengenali potensi hubungan cinta hanya dengan melihatnya.
Tanpa keterampilan lain yang bisa kumiliki, aku menggunakan kekuatanku yang terbatas untuk membuka Biro Jodoh Pesona Bintang, tempat yang dari mulut ke mulut memberiku bisnis sebanyak yang bisa kutangani, dan memungkinkanku untuk membantu orang jatuh cinta hampir setiap hari.
Siapa yang tidak menyukai pekerjaan seperti itu?
Kantorku terletak di sudut blok pertokoan yang dipenuhi pepohonan. Bagian belakangnya berupa sebagian besar bangunan pabrik yang telah dialihfungsikan.
Sambil meraba-raba dompet untuk mengambil kunci, aku melirik logo bintang mengedipkan mata dengan simbol sapu lidi yang dilukis di jendela depan tepat di atas slogan, Jadilah Bintang Jodohmu. Sebuah tanda pemegang ilmu sihir yang hanya dipahami oleh orang-orang terdekatku.
Begitu pintu terbanting di belakangku, aku menyalakan teko kopi listrik, lalu membuka agenda harian yang sudah usang untuk memeriksa jadwal kerja hari ini.
Aku tahu. Aku tahu, kok!
Aku adalah seorang wanita bisnis yang sibuk di abad ke-21. Kamu mungkin mengira seluruh hidupku diunggah ke dunia maya. Namun aku masih terikat dengan kertas dan daftar.
Entah bagaimana, menelusuri kata-kata, menekan pena ke kertas, dan meninggalkan tanda fisik di lembar buku membantu mengubah niatku dari tulisan menjadi aksi tindakan.
Aku tidak berharap orang lain akan memahami sistem yang aku jalani, tetapi yang jelas itu berhasil bagiku.
Tak lebih dari dua detik setelah aku duduk di meja kerja sambil menyeruput secangkir kopi panas, telepon mulai berdering dan tidak berhenti selama dua jam berikutnya.
Bisnis cenderung berjalan tidak menentu, dengan lonjakan aktivitas yang meningkat di sekitar hari libur.
Selain minggu setelah Hari Valentine, jadwalku jarang sekali padat,tetapi akhir-akhir ini, seolah-olah seluruh kota dilanda asmara—dan tampaknya tidak ada yang mampu menyelesaikannya sendiri.
Bukannya aku mengeluh—tetapi aku tidak suka terburu-buru dalam mengerjakan pekerjaanku, dan peningkatan permintaan berarti aku harus menolak klien daripada aku tak dapat menyesuaikan jadwal dengan mereka.

Rayhan Rawidh
24 Pengikut · 5 Novel