


oleh Icas Sia · 109 Bab
Alfiq Zulfaik seorang laki-laki dewasa yang dinilai sudah sangat matang untuk menikah oleh orang tuanya. Hal itu membuat sang umi bersemangat menjodohkan Alfiq. Di tengah keadaan itu, muncul seorang wanita bernama Inaya Maheswari. Kelembutan wanita itu ternyata mencuri perhatian umi Alfiq, hingga ia berkeinginan menjodohkan putranya dengan Inaya. Alfiq tentu saja tidak bisa menerima keputusan orang tuanya yang menurutnya terlalu tergesa. Toh ia masih mampu untuk mencari pasangan sendiri. Namun, desakan yang bertubi-tubi membuat Alfiq harus bisa menerima kenyataan. Bukankah cinta ada karena terbiasa? Tapi bagaimana caranya?
2 minggu yang lalu.
Rintik hujan seolah menenangkan bengisnya terik matahari siang hari. Hawa dingin mulai menyergap tubuh. Aroma menyeruak menyapa hidung khas tanah yang baru saja tersiram air. Wajar saja daerah Jawa sudah lama tidak terguyur air hujan.
Wanita paruh baya dengan setelan baju gamis tampak was-was menanti kepulangan putranya. Kerap kali mata senjanya melirik jalan raya berharap anaknya segera pulang.
“Sudahlah, Um. Paling bentar lagi juga pulang,” ucap laki-laki paruh baya seraya menyeruput teh hangat.
“Umi khawatir, Abah. Calon pengantin nggak baik keluyuran. Pamali!”
“Sampean hidup zaman apa to, Um? Mana ada anak zaman sekarang yang percaya pamali.”
Deru mobil memecah suara gemercik air hujan. Sayup-sayup tampak perawakan pemuda berbadan tinggi keluar dari mobil. Laki-laki dengan tinggi semampai, bermata teduh dan wajah begitu rupawan.
Memiliki kulit berwarna sawo matang, bulu mata hitam tersusun rapi, serta hidung yang mbangir. Rambutnya yang basah terkena air hujan membuat aura ketampanannya semakin keluar.
“Kamu ke mana aja sih, Fiq? Umimu khawatir tuh,” tanya laki-laki paruh baya yang tak lain adalah ayah Alfiq, Yusril.
“Assalamu’alaikum Um, Bah.” Alfiq menyalami tangan kedua orang tuanya secara bergantian.
“Wa’alaikumussalam. Kamu itu mau nikah lho Nang, jangan keluyuran mulu!” Salma memrotes putranya yang cukup keras kepala.
“Siapa juga yang mau nikah.”
“Alfiq!” seru Yusril meninggikan suaranya.
“Emang iya kan? Berapa kali kubilang, aku nggak mau ta’aruf.” Alfiq menghela napas kasar. Berapa kali ia harus menjelaskan hal itu.
Wanita paruh baya yang semula berwajah cemas itu kini berubah menjadi murung. Salma, yang paling bersemangat menjodohkan putranya dengan guru mengaji yang sering bertemu dengannya di masjid. Gadis sederhana yang tidak neko-neko dan selalu berperilaku sopan, membuat Salma jatuh hati pada gadis itu untuk dijadikannya menantu.
“Dia gadis baik-baik, Fiq. Umi yakin kamu akan menyukainya.”
“Ah nggak tahulah! Pokoknya aku nggak mau ta’aruf,” sahut Alfiq penuh penekanan kemudian berlalu meninggalkan umi dan abahnya di ruang tamu.
Sementara di sebuah rumah kecil nan minimalis, seorang gadis berusia sekitar 20 tahun sedang merapikan beberapa baju. Ia menepuk pipi tirusnya sekali, rasanya ia masih seperti bermimpi. Ia masih tidak percaya ada seorang lelaki yang meminang dirinya.
Pernikahan mereka pun akan digelar beberapa hari lagi. Inaya memegang dadanya yang entah mengapa berdebar-debar. Seulas senyum terbit di bibir merah mudanya, ia tidak sabar bertemu dengan calon imam yang belum pernah ia temui sebelumnya. Menurut dari rumor yang ia dengar, Alfiq adalah laki-laki yang sangat tampan. Entah benar atau tidak.
“Ngelamun terus anak gadis!”
“Apa sih Bu, hehe.” Inaya terkekeh menyadari sikapnya yang entah mengapa menjadi penuh bunga bermekaran.
“Rasanya ibu pengen ikut kamu ke rumah suamimu Nduk,” ucap ibu Inaya, Sari.
“Ayah dan Ibu ikut Ina aja yuk!”
“Nggak boleh gitulah, Nduk.” Rudi, sang ayah ikut menimbrung.
“Nanti Ina coba bicara sama Umi deh.”
“Hmm, tapi kalau nggak boleh jangan memaksa ya, Nduk?”
“Siap, Ayah!”
***
Inaya tidak jemu-jemu melihat beberapa anak usia SD yang berlarian, bercanda, dan bermain. Manik netra coklatnya mengikuti gerak-gerik anak didiknya yang terlihat ceria tanpa beban.
Suara sepeda motor membuat fokus pandangan Inaya teralihkan. Ia mengernyitkan kening heran. Ia belum pernah melihat guru berperawakan tinggi itu sebelumnya.
Dilihat dari penampilan laki-laki itu yang modis, rasanya tidak mungkin ia seorang guru. Laki-laki itu tampak sedang mencari seseorang. Dengan segera ia berjalan menghampiri Inaya yang terlihat sedang duduk menganggur karena memang sedang jam istirahat.
“Permisi Dek, Ibu Inaya ada di mana ya?”
Inaya terkikik geli mendengar ucapan pria itu yang memanggil dirinya dengan sebutan Dek. Tubuh Inaya yang ramping dan tidak terlalu tinggi membuat dirinya kerap kali dikira masih gadis SMA.
Mungkin hal itulah yang membuat laki-laki di hadapannya mengira ia masih anak sekolah.
“Cie Bu Ina, hmm! Hmm!” sorak siswa kelas VI yang sedang melintas beberapa langkah dari Inaya hingga menarik perhatian siswa yang lain.
Inaya meletakkan jari telunjuknya tepat di depan bibir tipisnya memberi isyarat agar siswa itu berhenti bersorak.
“Ada perlu apa ya? Saya Inaya.” Inaya tersenyum dengan ramah.
Alfiq menggaruk kepalanya yang sama sekali tidak gatal. Jadi gadis yang dijodohkan uminya masih anak-anak? Sangat jauh dari ekspektasi Alfiq yang mengira Inaya adalah wanita paruh baya seperti Ibu-ibu dan tidak menarik sama sekali. Ternyata tidak terlalu buruk! Pikir Alfiq setelah melihat secara langsung.
“Jadi kamu yang bernama Inaya?”
“Iya, Pak.”
“Kamu memanggilku Bapak?!” seru Alfiq membelalakkan mata setengah tidak percaya.
Tanpa menjawab Inaya hanya menganggukkan kepalanya. Sementara Alfiq menggelengkan kepala tidak habis pikir. Ia merasa tidak terima dengan hal itu.
“Bapak mengajar kelas berapa?” imbuh Inaya yang berhasil membuat Alfiq semakin menganga.
“Apa kamu belum pernah melihat fotoku sebelumnya?”
Inaya mengernyitkan kening, ia tidak paham dengan guru baru yang berada di hadapannya. Guru yang narsis, untuk apa melihat foto?
“Bapak jalan saja lurus ke depan terus belok kiri nanti ada ruangan bertuliskan ruang Kepala Sekolah. Bapak bisa menemui beliau lebih dulu,” jelas Inaya panjang lebar. Berharap laki-laki itu mengerti.
Alfiq membuang napas berat, rasanya ia ingin meneriaki gadis kecil yang ada di hadapannya.
“Apa kamu tahu siapa namaku!?” sergah Alfiq mulai gusar.
Inaya lantas menggelengkan kepalanya.
“Namaku Alfiq Zulfaik!”
Inaya berjingkat kaget mendengar nama lengkap laki-laki di hadapannya. Sementara Alfiq tampak tersenyum puas berhasil menyebutkan nama lengkapnya.
“Nama Bapak mirip dengan calon suami saya.”
Alfiq menepuk jidatnya sendiri, ia menyesal tidak memberikan fotonya kepada uminya saat dimintai foto kala itu.
“Aku emang calon suamimu, Bocah!”
Inaya mengerjapkan bulu mata lentiknya, bak disambar petir di siang bolong. Ia terkejut mendengar perkataan laki-laki itu. Selama ini ia belum pernah bertemu dengan calon imamnya. Ia hanya pernah satu kali melihat foto laki-laki itu saat wisuda. Pun berbeda jauh dengan Alfiq yang ia lihat saat ini.
Ia tidak menyangka laki-laki itu terlihat lebih dewasa dan juga tampan. Sesuai dengan rumor yang ia dengar.
“J-jadi Bapak anaknya Umi Salma?”
“Aku bukan bapakmu. Jangan panggil aku Bapak!”
“Pfft!”
Alfiq menatap tajam gadis ramping di hadapannya. Bernyali sekali gadis itu menertawakan dirinya. Ia merasa diremehkan gadis kecil.
“Aku ke sini gara-gara paksaan Umi. Pernikahan kita tinggal 3 hari lagi, besok Umi ngajak fitting baju,” terang Alfiq sambil menatap datar Inaya. Ia terlampaui malas untuk membahas tentang pernikahan.
“Umi udah WA kok, Mas.”
“Apa?!”
Inaya terkekeh melihat ekspresi calon suaminya yang semula datar berubah menjadi meledak-ledak. Laki-laki itu terlihat lucu di mata Inaya.
“Jangan menertawakanku, Bocah!” ancam Alfiq dingin.
“Maaf.” Inaya menundukkan kepalanya patuh. Tidak ingin membuat Alfiq tidak nyaman.

Icas Sia
45 Pengikut · 2 Novel