Kiara selalu mengaku bahwa ia bisa hidup tanpa kopi, tanpa media sosial selama sehari, bahkan tanpa drama mantan. Namun, ada satu hal yang tidak pernah berhasil ia tinggalkan, yaitu semangkuk mi gomak komplit dari gerobak kecil di depan kompleks setiap kali malam mulai turun.
Udara di tepian Danau Toba terasa sejuk selepas magrib. Angin yang turun dari perbukitan membawa aroma pinus, tanah basah, dan sedikit wangi kopi dari warung di ujung jalan. Dari kejauhan terdengar gondang Batak mengalun pelan dari sebuah pesta adat yang sedang berlangsung di desa sebelah.
Jalan kampung mulai ramai oleh anak-anak yang masih bersepeda, bapak-bapak yang berkumpul di lapo sambil tertawa, serta ibu-ibu yang baru pulang dari gereja untuk latihan koor.
Di antara semua keramaian itu, gerobak bertuliskan "Mi Gomak Kevin Sibarani" justru menjadi pusat perhatian.
Bukan hanya karena aroma andaliman dan bawang gorengnya yang sanggup membuat orang rela antre panjang, tetapi juga karena pemiliknya.
Kevin Sibarani.
Laki-laki itu baru berusia dua puluh delapan tahun. Tubuhnya tinggi, bahunya bidang, kulitnya matang terbakar matahari pegunungan. Lengan bajunya digulung sampai siku. Tangannya cekatan merebus mi, mengaduk kuah santan, lalu menaburkan daun bawang dengan gerakan yang sudah seperti hafalan.
"Bah, Kevin!" seru seorang bapak sambil tertawa. "Tambah saksang satu porsi, do!"
"Adong, Amang. Sabar ma, satu-satu," jawab Kevin sambil tersenyum.
"Horas!"
"Horas!"
Suasana gerobak itu selalu hangat seperti halaman rumah sendiri.
Sampai ....
"Tolong kuahnya lebih banyak!"
Kevin bahkan belum sempat mengangkat kepala. Ia sudah tahu siapa yang datang.
Kiara.
Perempuan itu turun dari motor matiknya sambil melepas helm. Rambut sebahunya bergelombang karena tertekan busa helm.
Ia mengenakan sweater krem kebesaran dengan celana jeans sederhana. Wajahnya cantik tanpa banyak riasan, tetapi bibirnya selalu siap melontarkan komentar yang membuat Kevin menarik napas panjang.
"Kuah lebih banyak, mi jangan terlalu lembek, andalimannya sedikit, kerupuknya jangan lupa dua."
Kevin mengangguk pelan. "Seperti biasa."
"Eh, sambalnya dipisah."
"Iya."
"Kalau bisa—"
Kevin menyela tanpa mengangkat wajah. "Kuah tambah, mi kenyal, sambal pisah, kerupuk dua, bawang goreng lebih banyak."
Kiara berkedip. "Kok hafal?"
Kevin akhirnya menatap Kiara. "Soalnya ito datang empat kali seminggu."
Beberapa pelanggan langsung tertawa.
Wajah Kiara memerah. "Empat kali itu bukan sering!"
"Bah," gumam Kevin sambil kembali mengaduk kuah. "Seminggu ada tujuh hari."
"Ya memang."
"Empat kali lebih dari setengah."
Kiara mendengkus pelan. "Hitung-hitunganmu menyebalkan."
"Benar."
Seorang inang yang sedang duduk di bangku plastik ikut menyahut sambil tersenyum jahil. "Bah, cocok kali kalian. Satu cerewet, satu sabar."
"Enggak, Inang!" sahut Kiara cepat.
Kevin hanya menghela napas kecil. "Mi ito sebentar lagi siap."
Kiara berpura-pura sibuk memainkan ponsel. Padahal diam-diam matanya beberapa kali mencuri pandang ke arah Kevin.
Laki-laki itu memang menyebalkan. Selalu membalas ucapannya dengan wajah datar, tetapi setiap kali ia datang, Kevin tidak pernah salah mengingat pesanannya.
Bahkan beberapa kali, sebelum Kiara membuka mulut, semangkuk mi gomak favoritnya sudah lebih dulu dibuat.
Entah kenapa. Hal sekecil itu membuat dadanya terasa aneh.
"Biar cepat pulang," pikir Kiara, buru-buru mengusir perasaan yang mulai mengganggu.
Kevin meletakkan mangkuk panas di atas meja. "Nah!"
Kiara langsung mendekat. Aroma santan hangat berpadu andaliman memenuhi udara. Uap tipis mengepul perlahan. Kerupuk merah muda tersusun rapi di samping mangkuk.
Kiara tersenyum puas. "Lumayan."
"Lumayan?" Kevin mengangkat sebelah alis. "Ito makan di sini hampir tiap malam."
"Berarti enak."
"Kalau enak kenapa cuma lumayan?"
Kiara menyeringai kecil. "Biar Abang jangan sombong."
Kevin terkekeh pelan. Tawa itu membuat beberapa pelanggan ikut tersenyum.
Tiba-tiba seorang anak kecil berlari melintas mengejar temannya.
Brak!
Siku bocah itu menyenggol meja. Mangkuk mi bergeser. Kuah panas hampir tumpah.
Refleks Kevin menangkap mangkuk itu lebih dulu. Namun, sebagian kuah tetap muncrat mengenai tangan Kiara.
"Aduh!"
Kevin spontan meraih pergelangan tangannya. "Bah! Kena?"
Kiara meringis. "Sedikit."
Tanpa berpikir panjang, Kevin menarik kursi. "Duduk."
"Enggak apa-apa."
"Duduk dulu." Nada suaranya tenang, tetapi tidak memberi ruang untuk dibantah.
Semua orang yang ada di gerobak memperhatikan. Kevin mengambil baskom kecil berisi air dingin. Perlahan ia membimbing tangan Kiara masuk ke dalamnya.
"Begini dulu."
Kiara menatap laki-laki itu. Tatapan Kevin benar-benar serius. Tidak ada nada mengejek seperti biasanya. Alisnya sedikit berkerut.
"Masih sakit?"
Kiara menggeleng pelan. "Sudah mendingan."
"Yakin?"
"Iya."
Kevin mengembuskan napas lega. "Syukurlah."
Kiara justru salah tingkah. Untuk pertama kalinya ia menyadari telapak tangan Kevin terasa hangat.
Beberapa detik kemudian Kevin buru-buru melepaskannya, seolah baru sadar mereka sedang menjadi tontonan.
Seorang opung tertawa kecil. "Hahaha, songon i ma mula-mula."
"Bukan apa-apa, Opung," bantah Kevin cepat.
"Iya, Opung," sambung Kiara hampir bersamaan.
Semua orang malah tertawa semakin keras.
Pemilik warung kopi di sebelah menggeleng sambil menyeruput kopinya. "Kalau sudah kompak membantah begitu, biasanya adong bibit."
"Ai, bah!" Kiara menutup wajahnya.
Kevin menggaruk tengkuk. "Sudahlah, makan dulu."
Kiara akhirnya duduk. Sesendok pertama mi gomak masuk ke mulutnya. Hangat. Gurih. Andalimannya pas. Persis seperti yang ia suka.
Kevin diam-diam memerhatikan dari balik panci.
"Kebanyakan garam?" tanya Kevin pelan.
Kiara mengangkat kepala. "Enggak."
"Kurang santan?"
"Enggak."
"Lalu?"
Kiara tersenyum tipis. "Enak!"
Kevin ikut tersenyum. Senyum kecil. Hampir tidak terlihat. Namun, cukup membuat udara dingin malam itu terasa sedikit lebih hangat.
Sayangnya, ketenangan itu tidak berlangsung lama.
Suara motor besar berhenti tepat di depan gerobak.
Seorang laki-laki turun sambil melepas helm mahalnya. "Kiki?"
Kiara membeku. Kevin ikut menoleh.
Laki-laki itu tersenyum lebar. "Lama enggak ketemu."
Wajah Kiara langsung berubah kaku. "Mario."
Kevin mengernyit. Nama itu terasa asing. Namun, cara Kiara menggenggam sendok hingga jemarinya memutih membuat Kevin mengerti satu hal. Orang itu bukan orang biasa.
Di sisi lain, para pelanggan mulai saling berbisik.
"Itu mantannya, ya?"
"Bah katanya dulu mau nikah."
"Kasihan kali Kevin."
Kevin spontan menatap mereka. "Hah?"
Belum sempat ia bertanya lebih jauh, Opung Boru Lumban Gaol sudah terkekeh sambil menunjuk Kevin dan Kiara bergantian.
"Kalau mantan datang pas calon jodoh lagi pegang tanganmu, berarti semesta sudah memilih, Nak."
Seluruh pelanggan serempak mengangguk setuju.
Kiara dan Kevin saling berpandangan. Tak satu pun mampu menyangkal.
Yang membuat keadaan semakin runyam, Mario justru melangkah mendekat sambil tersenyum tipis, seolah baru menyadari tangan Kevin masih berada sangat dekat dengan tangan Kiara di atas meja.