Suara gesekan rantai sepeda itu terdengar cukup jelas.
Dan semakin jelas saat sang pemilik mengayuhnya semakin cepat.
"Astaga! Aku hampir terlambat!"
Sosok berparas cantik, dengan rambut cokelatnya yang diikat satu, dan manik berwarna senada, terus menggerakkan kakinya agar laju sepedanya semakin cepat.
Suara decitan pun terdengar, akibat rem yang ditarik dengan kuat oleh sang pemilik sepeda.
"Sepuluh detik lagi! Aku harus cepat!" teriak sosok itu sambil berlari menuju sebuah toko minimarket.
Dengan sigap dia mengeluarkan sebuah kunci dan membuka gembok serta rolling dor toko tersebut.
"AAAH!"
Tangannya meraih sebuah mesin yang tertempel di tembok lalu menekannya, sekilas terlihat cahaya hijau yang bergerak lalu terdengar bunyi nyaring.
Sosok itupun menghela napas lega. "Untunglah, aku masih sempat absen tepat waktu," ujarnya sambil berjalan memasuki toko.
Dengan cepat dia menuju gudang lalu melepas sweater dan memakai id card bertuliskan namanya, Sintya Raindini.
Sintya adalah seorang gadis berusia dua puluh tahun, perawakannya tinggi dengan tubuh ramping, rambut hitam sepinggang dan memiliki wajah cantik.
Seringkali orang mengira jika Sintya adalah blasteran, namun gadis itu hanya terkekeh menjawab sambil menggelengkan kepala.
Sintya tinggal bersama sang Nenek di sebuah rumah sederhana, letaknya pun tak jauh dari toko tempatnya bekerja.
Kedua orang tuanya meninggal sejak Sintya berumur sepuluh tahun, karena kecelakaan tunggal. Kala itu Sintya dirawat oleh Kakek dan Neneknya, namun selang satu tahun kemudian sang Kakek meninggal dunia.
Kehidupan yang dijalaninya dengan sang Nenek cukup sulit, karena umur Sintya yang terbilang masih kecil dan membutuhkan banyak biaya.
Namun keteguhan sang Nenek tak menyurutkan usahanya untuk membawa Sintya menjadi anak yang tidak haus akan pendidikan.
Sintya pun lulus hingga jenjang SMA, membawanya mendapatkan pekerjaan yang cukup layak dan bisa membantu sang Nenek.
Tak lama terdengar suara pintu yang terbuka.
Gadis itupun menoleh dan memperlihatkan tiga sosok dengan seragam sekolahnya memasuki area toko.
"Selamat pagi, selamat berbelanja," ujar Sintya sambil tersenyum.
Manik karamel gadis itu melihat tiga sosok yang merupakan anak SMA, memakai rok di atas paha dan make-up cukup mencolok.
Seketika Sintya melihat arloji di tangan, waktu menunjukkan pukul delapan pagi, hal yang lantas membuat alisnya mengernyit. "Apakah mereka tidak masuk sekolah?" batinnya heran.
Melihat situasi yang ada, membuat gadis itu mulai berpikir negatif, namun seketika dia menepisnya.
"Ayolah, jangan tambah dosa," gumam Sintya sambil memukul keningnya pelan. Gadis itupun kembali melakukan aktivitasnya.
Beberapa menit kemudian tiga sosok itu menuju area kasir dan hendak melakukan pembayaran.
Sintya pun bergegas menghampiri. "Silahkan."
Ketiga sosok itu masih tertawa dan asik mengobrol satu sama lain.
"Ya ampun, gausah khawatir, ini bukan yang pertama buat aku."
"Iya, udah ikut aja."
Bukan obrolan mereka yang membuat Sintya terdiam, namun sesuatu yang mereka beli dengan wajah percaya diri. "Anu," ujarnya ragu. "Apa benar kalian ingin membeli ini?"
Ketiga sosok itu memandang Sintya, dua diantaranya terlihat tidak senang.
"Kenapa? Emang ada aturannya ngga boleh beli di toko ini? Terus buat apa dijual?"
Sintya menggelengkan kepala. "Bukan begitu, tapi ini kurang pantas untuk dibeli anak sekolah seperti kalian."
"Apaan sih! Malah ceramah, kalau gamau dibeli ya ngomong!"
"Iya, pantesan ni toko sepi pembeli! Sebentar lagi juga bangkrut!"
Sambil merutuk, ketiga sosok itupun keluar.
Sintya menghela napas berat. "Astaga, aku harap anak sekolah lain tidak seperti mereka."
Manik karamelnya menatap sendu sebuah benda yang merupakan alat kontrasepsi.
"Sungguh miris jika mereka memang melakukannya."
Bagi Sintya untuk meraih pendidikan dan memakai seragam abu-abu adalah perjuangan.
Meski sang Nenek menolak dibantu, Sintya tetap melakukan pekerjaan paruh waktu agar dapat memperingan beban.
Semua pekerjaan dia lakukan tanpa rasa malu, semuanya asalkan halal.
Untuk itulah, saat melihat orang lain yang seolah membuat kehidupan untuk kesenangan semata, dirinya merasa pilu.
"Sudahlah, mari lanjut bekerja," ujar gadis itu sambil menghela napas.
***
"Daah, aku duluan."
Sintya mengambil sepedanya yang disimpan di samping toko. Setelah melakukan pergantian shift, dia bergegas pulang hendak memasak untuk sang Nenek.
Perlahan Sintya mulai mengayuh sepedanya.
Tak berselang lama dia melaju, manik karamelnya melihat kerumunan orang yang berebut sesuatu.
"Eh? Apa itu?" tanya Sintya bingung.
Kerumunan itu didominasi oleh perempuan, mulai dari yang muda hingga ibu rumah tangga.
"Saya duluan yang dapat."
"Ini punya saya."
"Bu, jangan rebut-rebutan dong."
Dari kejauhan terdengar sedikit keributan di sana. Membuat Sintya semakin penasaran lalu mendekat.
"Hm? Kue?" Sintya heran karena kerumunan itu terlihat sangat antusias memperebutkan kue kering tersebut.
Karena rasa penasarannya semakin menjadi, gadis itupun memutuskan untuk mendekat.
Seketika dia tertegun tatkala melihat sosok tampan yang tengah tersenyum lembut pada setiap orang yang hendak menanyakan makanan manis itu.
Potongan rambut hitam yang familiar, kulit putih nan bersih, hidung mancung dan mata sedikit menyipit.
"Sepertinya ... aku pernah melihatnya," gumam Sintya sambil berpikir.
Wajah tampan yang jarang dimiliki orang-orang kalangan sederhana, terlihat begitu asing namun juga familiar bagi Sintya.
"Ah! Itukan yang suka disebut oppa," ujar gadis itu sambil menjentikkan jari.
Sosok yang dipuja oleh kebanyakan kaum wanita di negeri ini, yaitu para idola dari Korea Selatan.
"Benar, dilihat dari manapun terlihat seperti oppa Korea," gumam Sintya sambil memandang pria itu. "Pantas saja orang-orang berebut, ternyata kue kering ini dia yang jual."
Semakin lama dirinya terdiam, semakin sesak pula karena kerumunan itu bertambah.
"Ya ampun!" Sintya mencoba keluar dari sana namun rasanya begitu sulit, tubuhnya pun terhimpit.
Setelah mencoba sekuat tenaga, akhirnya Sintya bisa melepaskan tubuhnya dan keluar dari kerumunan.
Dia pun menggelengkan kepala melihat keberingasan para kaum hawa yang masih berebut untuk mendapatkan sebungkus kue kering yang dijual sosok tampan itu.
"Sebesar apapun rasa penasaranku, aku tetap tidak mau melawan ras terkuat di bumi ini," gumam Sintya bergidik ngeri.
Manik karamelnya membulat sempurna saat melihat arloji di tangan. Dengan cepat Sintya mengambil sepeda lalu menaikinya.
"Aku harus cepat pulang sebelum Nenek sampai!"
Gadis itupun kembali mengayuh dan mempercepat laju sepedanya.
Meninggalkan kerumunan tersebut, juga sosok yang sedari tadi memandangnya dalam diam, manik sekelam langit malam itu menatap tanpa ekspresi.
Tak lama kemudian dia tersenyum sambil berkata, "Ketemu."
***
"Akhirnya, selesai!"
Senyum merekah terukir diwajah cantiknya.
Sintya, gadis itu memandang masakannya dengan bangga.
"Untunglah aku tepat waktu menyediakan makan malam sebelum Nenek pulang," ujar Sintya sambil menoleh ke arah jam dinding.
Alisnya mengernyit tatkala menyadari jika sang Nenek belum pulang meski waktu sudah berlalu sepuluh menit dari jadwal kepulangannya.
Rasa khawatir Sintya seketika sirna saat mendengar suara ketukan pintu.
"Tunggu sebentar, Nek," ujar Sintya sambil berjalan menuju pintu lalu membukanya.
...
Gadis itu terheran-heran karena ternyata tidak ada siapapun di sana.
Hingga manik karamelnya melihat sesuatu yang bertengger di samping pintu.
"Ini .... "
Tangannya meraih benda tersebut dengan ekspresi kebingungan.
"Kue kering?"
***Bersambung