


oleh Mengare · 106 Bab
"Ingin membunuhku? Haha, silakan saja, nyawamu terhubung denganku." Perkataan itu keluar dari seorang Dewi Bulan Es yang ternyata adalah ratu iblis. Tombak tajam teracung di lehernya, dari seorang pria sekaligus suaminya yang berkali-kali hancur. "Aku, Yan Zou, pendekar yang keluar dari tanah terkutuk tak akan mundur di hadapanmu!" Yan Zou dilahirkan dengan Qi Es Murni yang tak pernah cocok dengan kultivasi pria. Ia terpaksa berbagi nyawa dengan wanita yang paling ia benci. Terlempar bersama di neraka es, diracuni, dan dimusuhi seluruh fraksi. Dalam pilihan. Bertahan hidup untuk terus dihancurkan atau menyerah lalu mati. "Aku tak pernah tunduk terhadap takdir!"
Tanah Benua Utara selalu penuh dengan salju. Salju jatuh bergulir, menutupi atap sebuah mansion megah dengan nyala meriah dan gelas arak yang saling berdenting, bersulang satu sama lain.
Di antara keramaian itu, dua orang pemuda duduk di pojokan, mengamati orang-orang sekitar dengan kondisi setengah mabuk.
"Ekh, Saudara Xuan, ke mana Saudara Zou pergi? Aku rasa ...." Terhuyung, nyaris ambruk. "Dia terlalu lama pergi."
Yang Xuan menjawab dengan suara berat sambil berusaha tetap duduk tegap. "Awhhh, hemm ... mungkin, dia lagi main sama cewek, hehe."
Lan Sen terkekeh mendengarnya. "Dia? Hai, Saudara Xuan, bahkan saat mabuk berat pun, dia tetap tak bergerak. Aku curiga dia penyuka sesama jenis."
Sesama jenis, satu kata yang membuat keduanya merinding. Namun, ada hal lain yang membuat keduanya merasa janggal.
Sesuatu yang harusnya biasa bagi mereka.
"Lan Sen, berapa banyak botol yang kita minum?"
"Baru satu."
Kali ini keduanya kembali termenung. Keduanya mematung, menjadi anomali di antara teriakan kemeriahan karena arak yang terus dituangkan.
Lan Sen berdiri terlebih dahulu, disusul Yang Xuan yang merasakan ada yang aneh. Keduanya melangkah hampir bersamaan —
Braaak!
Keduanya jatuh, hilang kesadaran.
Seluruh orang terkejut dan menonton mereka.
"Akhirnya ada yang tumbang, teruskan minumnya!!"
"Yooo!"
Tak ada yang benar-benar peduli dengan dua pemuda itu.
Sementara itu, salju turun semakin deras, menutupi jalan di kawasan Kota Wei Guang yang malamnya selalu diterangi cahaya dari lentera di sepanjang jalan.
Rumah-rumah berbaris rapi, siluet keluarga kecil sesekali terlihat dari kaca buram rumah-rumah warganya. Hembusan salju yang lebat seolah tak bisa menghapus kehangatan di kota itu.
Di sudut paling pinggir kota itu, tepat bersebelahan dengan rune sihir yang menjulang setinggi lima kali orang dewasa, sebuah mansion hiburan megah dibangun.
Beberapa orang menyeret tubuh Lan Sen dan Yang Xuan keluar dari sana dan meninggalkannya di depan ambang pintu.
Yang Xuan bersendawa. "Uweeegg, to-tolong satu botol lagi ...."
Tangan pemuda itu terangkat lemas, sambil mengisyaratkan angka satu dengan jarinya.
Lan Sen merangkak ke samping Yang Xuan lalu menamparnya keras.
"Sadarlah, Saudara Xu-an. Saudara Y-Yan ... krokk."
Mereka berdua terlelap, sementara butiran putih singgah nakal pada tubuh mereka. Mereka tak ada bedanya dengan seorang gelandangan sejati.
Keduanya tak dapat bergerak, tak tau keberadaan sahabat mereka yang hilang, Yan Zou, Tuan Muda Sekte Great Ice Turtle.
Keduanya limbung, sementara siulan angin membawa pergi butir salju yang semula bersinggah pada tubuh mereka. Butiran itu melayang, hampir berbaris, menyerupai sungai tipis yang bergulung di langit, sebelum menyentuh jendela dengan cahaya yang redup.
Butiran salju itu seolah mengintip barah panas yang bersiap untuk disulut api. Sepasang pemudi, pria dengan ketampanan elegan dan sedikit santai, tertidur tanpa busana bersama wanita cantik, berambut hitam mengkilap dengan alis indah seperti bulan sabit yang menyala.
Wajahnya yang putih, menempel lekat pada dada bidang sang pria. Punggung yang halus, melekuk seksi dan menggoda, terpampang dari selimut yang tak berani menutupi keelokannya sepenuhnya.
Napas keduanya ringan, seolah beban besar baru saja dilepaskan bersamaan. Keduanya tampak sangat nyaman, meski langit-langit terus berderit karena tiupan angin yang kencang.
Tuk-tuk-tuk!
Sebuah langkah berat berhenti di depan kamar mereka. Seorang pelayan wanita tengah membawa nampan berisikan hidangan. Ia berhenti sejenak untuk merapikan susunan piring yang ia bawa.
Semuanya baik-baik saja.
Ruangan terasa hangat, meski badai menerjang jalanan di luar penginapan.
Sampai sebuah teriakan wanita mengejutkan sang pelayan.
Nampan jatuh ke lantai, Nasi putih berceceran seperti salju, sementara ikan yang coklat matang meratap di atas sup yang membasahi lantai.
Pintu dibuka cepat, wanita cantik tanpa busana, hanya terbalut kain selimut, meringkuk di pojok ruangan dengan tubuh gemetar.
"Ada apa, Dewi?"
Hua Yue, Sang Dewi Bulan Salju, menunjuk ke arah pemuda yang belum sadar dari tidurnya.
Orang-orang datang, tak lama setelah teriakan itu. Mereka menatap tajam ke arah sang pria. Api amarah segera tersulut, bersiap membakar pria yang belum juga bangun.
"Yan Zou! Dasar pecundang!"
Orang-orang segera menyeret paksa Yan Zou yang tampak bingung.
"Apa yang—"
Braaak!
Pukulan keras membungkam mulut Yan Zou, tak memberikan kesempatan untuk Yan Zou mencerna situasi saat ini.
Ia diarak bersama rombongan banyak orang, menyalakan kembali rumah-rumah yang semula padam, hingga jalan dipenuhi orang-orang yang marah dan penasaran.
Badai telah lama datang pada seorang ibu yang menunggu anaknya di dalam paviliun milik Sekte Great Ice Turtle. Paviliun itu bernamakan Tulip Salju, meski tak ada satupun tulip yang tumbuh di tamannya yang ditutupi permadani putih.
"Perasaanku tidak enak," keluh sang wanita, mengabaikan tangan kokoh yang melingkari pinggangnya.
"Apakah ini soal anak itu?" tanya Yan Feng, Tetua Sekte sekaligus suami sang wanita.
"Entahlah."
Semula, Yan Feng ingin berduaan dengan istri ke tiganya itu, tapi kegaduhan terdengar mendekati saktenya, hingga seorang pasukan melaporkan kejadian dengan tergesa-gesa.
Petir segera menyambar hati sang wanita. Dalam beberapa waktu saja, Yan Zou dihadapkan dengan tatapan kecewa kedua orangtuanya, tatapan yang jauh lebih menyakitkan daripada lebam di seluruh tubuhnya.
Kepalanya masih pusing, teguran orangtuanya, makian orang-orang, dan tangis seorang wanita yang terasa tak nyata baginya.
Ada hal yang janggal dalam hatinya. 'Apa yang sebenarnya terjadi? Mana wanita yang tadi aku tolong? Mana pakaianku?'
Ia tak membela diri karena semuanya telah jelas bagi orang-orang. Bersuara pun tak akan ada yang dengar.
Belum juga ia selesai dengan kebingungannya, satu suara tegas menghantam lebih keras.
"Aku ingin dia bertanggungjawab dan menikahiku!"
.
.
Bersambung.

Mengare
3 Pengikut · 2 Novel