Hujan turun deras sejak sore dan belum menunjukkan tanda akan berhenti ketika telepon di meja Shelia berdering. Jam dinding di ruang konsultasi menunjukkan pukul sebelas lewat empat puluh malam.
Di luar ruangan, lorong Rumah Sakit Bhakti Nusa sudah hampir kosong, hanya menyisakan cahaya lampu putih dan suara langkah petugas yang sesekali melintas.
Shelia menutup berkas pasien di hadapannya sebelum mengangkat telepon.
“Dokter Shelia?”
Suara Mira terdengar dari seberang. Perawat senior itu biasanya tenang dalam keadaan apa pun, tetapi malam ini nada bicaranya berbeda.
“Iya.”
“Bisa ke lantai tiga sekarang?”
Shelia langsung duduk tegak. “Ada apa?”
Mira menarik napas sebelum menjawab, “Pasien Kamar 307 ditemukan tidak sadarkan diri.”
Shelia berdiri dan mengambil jas putih yang tergantung di belakang kursinya. “Siapa?”
“Alena Wijaya.”
Tangan Shelia berhenti sesaat. Nama itu tidak asing. Alena merupakan salah satu pasien yang beberapa minggu terakhir menjalani perawatan di bagian psikiatri. Perempuan berusia dua puluh tujuh tahun tersebut datang dengan keluhan kecemasan berat, sulit tidur, dan serangan panik yang muncul tanpa pola jelas.
Sore tadi Shelia masih bertemu dengannya.
“Aku ke sana sekarang.”
Shelia menutup telepon, memasukkan ponsel ke saku jas, lalu keluar dari ruangannya.
Suasana rumah sakit terasa berbeda pada malam hari. Lorong panjang yang biasanya dipenuhi pasien dan keluarga kini hanya diterangi lampu-lampu putih. Shelia menaiki lift menuju lantai tiga.
Wajah Mira langsung mengarah kepadanya.“Dok,” sapanya.
Shelia berjalan mendekat. “Bagaimana kondisinya?”
Mira menggeleng pelan. “Dokter jaga sudah memeriksa. Tidak ada denyut nadi.”
Shelia menatap pintu kamar. “Sudah dinyatakan meninggal?”
“Sudah.”
Shelia diam sejenak. “Siapa yang pertama menemukan?”
“Saya.” Mira menunduk sedikit sebelum melanjutkan. “Sekitar pukul sebelas lewat dua puluh. Saya melakukan pemeriksaan rutin. Ketika masuk, Alena sudah seperti itu.”
Shelia membuka pintu. Kamar 307 terasa lebih dingin daripada koridor. Lampu utama menyala, tetapi tirai jendela tertutup rapat. Tubuh Alena terbaring di atas ranjang dengan wajah pucat. Selimut putih menutupi tubuhnya sampai bagian dada, sedangkan tangan kirinya berada di luar selimut.
Shelia mendekat. Ia sudah tahu hasil pemeriksaan dokter jaga, tetapi naluri profesional membuatnya tetap memeriksa kondisi pasien.
Tidak ada denyut. Tidak ada respons. Monitor di samping tempat tidur menunjukkan garis lurus.
Shelia menarik tangannya perlahan. “Barang-barangnya jangan disentuh dulu.”
Mira mengangguk.
Shelia mengamati ruangan. Tidak ada tanda perkelahian. Kursi masih berada di tempatnya. Gelas air berada di atas meja. Sebuah buku terbuka di samping tempat tidur, sementara beberapa obat tersusun rapi di atas nampan.
Semuanya tampak biasa dan membuat Shelia merasa tidak nyaman.
Ia mengenal kondisi Alena. Sore tadi perempuan itu memang terlihat gelisah, tetapi tidak menunjukkan kondisi yang mengarah pada kematian mendadak.
Shelia teringat percakapan mereka.
Alena duduk di kursi seberangnya sambil meremas ujung lengan bajunya. “Dok, kalau seseorang terus muncul dalam mimpi, apakah itu berarti dia benar-benar pernah ada?”
Shelia waktu itu menjawab dengan tenang. “Mimpi tidak selalu menunjukkan kejadian yang benar-benar terjadi.”
Alena menatapnya cukup lama. “Kalau saya mengingat sesuatu yang seharusnya tidak saya ingat?”
Shelia sempat mengernyit. “Apa yang kamu ingat?”
Alena tidak menjawab. Perempuan itu hanya berkata bahwa ia ingin pulang.
Sekarang Alena sudah tidak akan pernah menjawab pertanyaan tersebut.
Shelia mengalihkan pandangan ke meja kecil di samping ranjang. Ada selembar kertas putih yang terlipat di bawah lampu baca.
Ia mendekat. “Ini apa?” tanyanya.
Mira ikut melihat. “Saya belum menyentuhnya.”
Shelia memakai sarung tangan sebelum mengambil kertas tersebut. Lipatannya dibuka perlahan. Hanya ada satu kalimat.
Jangan percaya dokter yang memakai gelang hitam.
Shelia membaca kalimat itu dua kali. Tidak ada nama atau penjelasan. Hanya satu peringatan.
Mira memperhatikan wajahnya. “Dok?”
Shelia tidak langsung menjawab. Tatapannya turun ke pergelangan tangan kirinya.
Sebuah gelang hitam sederhana melingkar di sana.
Shelia memasukkan kembali kertas tersebut ke dalam plastik bukti. “Mira, siapa saja yang masuk ke kamar ini setelah sesi saya sore tadi?”
“Setahu saya, hanya perawat jaga.”
“Alena sempat meminta sesuatu?”
Mira menggeleng. “Tidak. Dia makan malam seperti biasa. Sekitar pukul sembilan dia meminta obat tidur, lalu kembali beristirahat.”
Shelia menatap tubuh Alena. “Dia mengatakan sesuatu sebelum meninggal?”
Mira tampak berpikir. “Tidak secara langsung. Namun, sekitar pukul sepuluh, saya sempat melihat dia berdiri di depan pintu.”
“Sendirian?”
“Iya.”
“Apa yang dia lakukan?”
Mira menelan ludah. “Seperti sedang menunggu seseorang.”
Shelia belum sempat bertanya lebih jauh ketika suara langkah kaki terdengar dari lorong. Beberapa detik kemudian, dua polisi memasuki kamar.
Seorang pria berjalan paling depan. Usianya sekitar tiga puluh tahun. Tubuhnya tegap, mengenakan kemeja gelap di balik jaket tipis. Tatapannya langsung mengamati seluruh ruangan sebelum berhenti pada Shelia.
Ia menunjukkan kartu identitas. “Aruan Adicandra. Saya penyidik yang menangani kasus ini.”
Shelia mengangguk. “Shelia Aruna.”
“Saya tahu.” Aruan membuka buku catatan. “Anda psikolog yang menangani korban?”
“Saya melakukan sesi konsultasi terakhir sore tadi,” angguk Shelia.
“Jam berapa?” tanya Aruan.
“Sekitar pukul lima.”
“Berapa lama?”
“Empat puluh menit.”
“Apa yang dibicarakan?” cecar pria itu.
“Masalah kecemasan, gangguan tidur, dan beberapa ingatan yang membuat dia terganggu.”
Aruan berhenti menulis. “Ingatan?”
Shelia mengangguk. “Alena merasa ada sesuatu dari masa lalunya yang tidak bisa ia ingat dengan jelas.”
“Apakah dia menyebut seseorang?”
“Tidak.”
Aruan menatapnya beberapa saat. “Apakah dia pernah mengatakan takut pada seseorang?”
Shelia terdiam. “Dia mengatakan ada seseorang yang muncul dalam mimpinya.”
“Siapa?”
“Dia tidak pernah menyebut nama.”
Aruan kembali menulis. Kemudian pandangannya berpindah ke tangan Shelia. “Apa itu?”
“Pesan,” jawab Shelia pelan.
Aruan mengangguk. Seorang petugas mengambil plastik bukti dari tangan Shelia. Lalu memberikannya pada Aruan.
Aruan membacanya dengan teliti, kemudian melihat pergelangan tangan Shelia. Tatapannya berhenti cukup lama.
“Boleh saya lihat gelang Anda? tanyanya.
“Maksud Anda, gelang hitam ini?” Shelia merasa ragu untuk menunjukkan gelangnya.
“Benar,” jawab pria itu singkat.
“Maaf, ini barang pribadi saya, peninggalan ibu saya, tidak mungkin saya biarkan sembarang orang menyentuhnya,” tolak Shelia halus. Ia benar-benar tidak mau gelang itu disentuh oleh orang asing.
“Dokter Shelia, saya ingin menunjukkan rekaman CCTV yang baru saja saya dapatkan dari rumah sakit ini.”
Shelia mendekat. “Rekaman apa?” tanyanya penasaran.
Aruan memperlihatkan rekaman dari kamera yang mengarah ke koridor Kamar 307. Waktu di layar menunjukkan pukul 22.13.
Seorang perempuan berjalan dari ujung lorong. Langkahnya tenang. Ia berhenti di depan Kamar 307. Kemudian menoleh ke kanan dan kiri sebelum membuka pintu.
Shelia menatap layar tanpa berkedip. Pakaian perempuan itu sama seperti pakaian yang dikenakannya sore tadi. Rambutnya, posturnya, cara berjalannya, semuanya terlihat familiar.
Aruan memperbesar gambar. Wajah perempuan itu terlihat ketika ia menoleh ke kamera.
Shelia mundur satu langkah. “Itu bukan saya.”
Aruan tidak menjawab.
“Jam berapa rekamannya?” tanya Shelia tidak percaya.
“22.13,” jawab Aruan singkat.
“Saya sedang berada di ruangan saya di lantai enam saat itu, memeriksa berkas pasien. Anda boleh mengecek CCTV lantai enam tempat ruangan pribadi saya,” jelas wanita itu dengan suara pelan.
Aruan memegang ponselnya di tangan kanannya. “Kalau begitu, ada satu hal yang perlu Anda jelaskan.”
“Apa?”
“Kenapa seseorang yang terlihat seperti Anda masuk ke Kamar 307 pukul 02.13?”
Shelia menatap Aruan. Tidak ada jawaban yang bisa ia berikan.
Aruan hendak berjalan menuju pintu, tetapi sebelum berjalan, ia berbalik. “Oh, satu lagi.”
Shelia menoleh.
Aruan menunjuk layar ponselnya yang masih menampilkan rekaman. “Perhatikan tangan perempuan itu.”
Shelia melihat kembali. Di pergelangan tangan perempuan tersebut terdapat sesuatu berwarna hitam. Sebuah gelang. Bentuknya sama persis dengan miliknya.
Shelia merasakan tubuhnya menegang. Lalu gambar tiba-tiba berubah. Rekaman berhenti tepat ketika perempuan itu menoleh ke kamera.
Wajahnya terlihat jelas. Wajah Shelia.