


oleh Oliveia Faizin · 68 Bab
"Kapan punya anak?” “Nggak bosen pacaran dulu meski udah nikah lama?” “Apa enaknya berdua terus tanpa anak?” “Buruan punya anak, keburu tua loh!” Lontaran kalimat itu sudah biasa Mutiara terima selama empat tahun pernikahannya. Pada akhirnya Mutiara merasa lelah dan ingin menyerah, ditambah karena tuntutan dari keluarga mertuanya yang membuatnya jengah. Hingga akhirnya Samudra memutuskan mengajaknya pergi menjauh dari dunia mereka. Ke manakah mereka akan pergi? Dapatkah keduanya mempertahankan pernikahan yang awalnya harmonis itu? Mampukah keduanya membangun kembali rasa cinta yang pernah merekah begitu indah?
Mutiara sedang mematut dirinya di depan cermin besar di kamarnya. Senyumnya merekah saat menatap pantulan dirinya yang mengenakan dress putih selutut.
“Mau sampai kapan kamu ngaca terus, Ay?” tanya Samudra pada istrinya.
“Sampai aku percaya kalau aku ini cantik, Hubby,” jawab Mutiara.
Samudra menarik lembut tangan istrinya lalu memutar tubuhnya perlahan.
Mutiara membelalakkan mata saat Samudra mengalungkan sesuatu ke lehernya.
“Perpaduan yang sempurna, cantik dan elegan,” ucap Samudra setelah memandangi penampilan istri tercintanya.
Mutiara tersenyum manis lalu melayangkan kecupan ringan di pipi suaminya.
“I love you, Hubby,” ucapnya.
“Love you too, Ay. Yuk, berangkat!” Samudra mengulurkan tangannya, dan keduanya bersiap menghadiri reuni teman sekelas mereka saat SMA.
Setelah menempuh perjalanan hampir tiga puluh menit, Samudra dan Mutiara tiba di lokasi yang tertera dalam undangan reuni.
Mutiara menggamit lengan suaminya yang baru saja keluar dari mobil setelah memarkirkannya.
“Aku harus jawab apa kalau ada yang tanya soal anak?” bisiknya.
“Jawab saja seperti tahun-tahun sebelumnya, Ay. Nggak usah terlalu diladeni,” kata Samudra tenang.
Sepasang suami istri itu memasuki gedung restoran yang telah dipesan khusus. Beberapa teman SMA sudah berdatangan dan saling menyapa.
Ada yang duduk melingkar, berbagi cerita lama yang diiringi tawa riang dan suara obrolan yang bersahutan.
Samudra dan Mutiara duduk berdampingan di salah satu meja, menyantap makanan pembuka sambil menyimak nostalgia teman-teman mereka.
“Aduh, bener-bener nggak terasa kalau sudah delapan tahun kita lulus. Rasanya baru kemarin masih pakai seragam putih abu-abu,” kata Rina, teman SMA Mutiara.
“Sekarang lihat kita, semuanya sudah jadi orang dewasa dengan masalah dan pekerjaan masing-masing,” timpal Ambar.
“Betul banget! Malah yang sold out lebih banyak daripada yang masih available,” sahut Denny bercanda.
“Iya nih, contoh pasangan langgeng dari kelas dua SMA sampai sekarang.” Rudi menunjuk ke arah Mutiara dan Samudra.
“Eh, ngomong-ngomong, kalian gimana? Udah empat tahun menikah, kan? Pasti sebentar lagi ada kabar bahagia, nih!” tebak Rina antusias.
Mutiara dan Samudra saling berpandangan. Mutiara tersenyum tipis lalu menggeleng, sementara Samudra mengangkat gelasnya dan menyesap jus jeruk sebelum menjawab.
“Kami baik, menikmati hidup berdua dulu. We are happy,” katanya ringan.
“Masa sih nggak ada kepikiran buat nambah anggota keluarga kecil?” tanya Andin, teman yang duduk di seberang Mutiara.
“Iya, kalau kalian punya anak pasti cakep-cakep. Soalnya emak bapaknya visual banget,” tambah Rina, terkekeh.
Jantung Mutiara berdegup lebih cepat. Ada rasa sesak yang mulai memenuhi dadanya. Pertanyaan semacam ini sudah terlalu sering ia dengar, baik dari keluarga maupun teman-teman. Namun, dalam suasana reuni ini, ia merasa lebih terpojok.
“Doain aja,” jawab Mutiara dengan suara pelan, berusaha tetap ceria.
“Iyalah, pasti kita doain. Biar nggak kelamaan nunggu, nanti keburu tua, loh,” timpal Esti.
“Orang tua kalian nggak pernah nanya atau kalian belum periksa? Aku, loh, tiga bulan nikah langsung hamil.” Rika mengelus perutnya yang mulai membuncit.
Samudra tertawa kecil, mencoba menjaga suasana tetap hangat.
“Namanya orang tua, pasti sering nanya. Nanti kalau sudah waktunya, Mutiara pasti hamil juga,” jawabnya tenang.
“Masalah anak itu urusan Tuhan. Kapan dikasih, kita juga nggak tahu. Kami sih santai aja, nunggu waktu yang tepat. Tuhan pasti tahu apa saja yang sudah kami lakukan,” imbuh Mutiara.
Sesaat, suasana menjadi canggung. Rina tampak hendak membuka mulut lagi, tetapi Andin buru-buru menyenggol lengannya, seakan mengingatkan bahwa mereka telah menyentuh topik sensitif.
Obrolan pun kembali bergeser ke topik lain sebelum acara reuni benar-benar dimulai.
Mutiara meneguk air mineralnya hingga tandas. Ia mencoba menghalau rasa tak nyaman yang menyelimuti hatinya seperti kabut.
Ada tekanan dari pertanyaan-pertanyaan yang terus berulang. Ia melirik Samudra, yang sedang mengobrol dengan Denny tentang pekerjaan, lalu menghela napas perlahan.
Sampai kapan aku akan seperti ini, Tuhan? Berapa lama lagi kami harus menunggu? Ini sudah tahun keempat aku menikah.
Acara reuni berlangsung meriah, dengan berbagai permainan dan pertunjukan bakat. Namun, Mutiara kehilangan semangat. Ia memilih untuk bertepuk tangan seadanya dan mengulum senyum penuh kepalsuan.
Samudra menyentuh kelingking istrinya. “Habis ini kita pulang aja, ya,” bisiknya, menyadari ketidaknyamanan Mutiara.
Mutiara mengangguk pelan. Ia bersyukur karena suaminya selalu mengerti.
Malam itu, dalam perjalanan pulang, Samudra menggenggam tangan Mutiara erat, tak melepaskannya sedetik pun.
“Are you okay, Honey?” tanyanya lembut.
Mutiara menoleh dan tersenyum tipis.
“Aku baik-baik saja, Hubby. Cuma terkadang aku lelah terus ditanya soal ini. Nggak di keluargamu, keluargaku, atau lingkungan kita, semuanya nanya ‘udah isi?’ atau ‘kapan gendong bayi?’ Jujur, aku capek.”
Samudra mengusap punggung tangan istrinya, seakan ingin menyalurkan kekuatan. “Aku tahu rasanya.” Ia mengeratkan genggamannya.
“Tapi kita nggak perlu menjelaskan apa pun ke siapa pun. Kita jalani hidup dengan cara kita sendiri. Jangan sampai omongan orang bikin kamu depresi. Apa pun yang terjadi, aku selalu ada di pihakmu, Ay. Kamu percaya sama aku, kan?”
“Selalu, Hubby.” Mutiara mengangguk, merasa lebih lega. Kata-kata Samudra selalu menenangkan.
Mutiara melempar pandangan ke luar jendela mobil, mengamati lampu-lampu jalanan yang terasa sama. Dalam diam, ia berpikir, mungkinkah perjalanan menjadi seorang ibu masih sepanjang perjalanan pulang malam ini?
Ia mengusap perutnya yang masih rata. Tak ada yang tahu betapa inginnya ia menimang bayi. Betapa banyak usaha yang telah ia dan Samudra lakukan. Dan orang-orang masih dengan mudahnya bertanya: "Kapan punya anak?"
***
Mutiara hanya tersenyum tipis setiap kali pertanyaan itu datang, menelan semua getir yang mengganjal di dadanya. Mereka tidak tahu berapa kali ia harus menahan napas setiap melihat dua garis di testpack yang perlahan memudar. Mereka tidak tahu berapa kali ia terjaga di malam hari, mendengar detak jam yang terasa seperti pengingat waktu yang terus berlalu tanpa jawaban.
Samudra selalu menggenggam tangannya, meyakinkannya bahwa mereka masih memiliki waktu, bahwa keajaiban akan datang pada saat yang tepat.
Tapi malam-malam seperti ini, ketika mobil melaju pelan melewati bayangan-bayangan kota, Mutiara tak bisa mengusir keraguan: bagaimana jika takdir berkata lain? Bagaimana jika keinginannya untuk menjadi ibu hanya akan tetap menjadi harapan yang menggantung di batas mimpi?
Angin malam menyelinap melalui celah jendela, membawa serta kesunyian yang menyesakkan.
Mutiara menarik napas panjang, seolah ingin mengusir kecamuk di hatinya. Tapi tetap saja, ada sesuatu yang mengganjal, sesuatu yang bahkan tak bisa ia ungkapkan kepada Samudra tanpa air mata menggenang di pelupuk matanya.
Perjalanan pulang terasa semakin panjang, seperti perjalanannya menuju impian yang masih samar.
Ia mencoba meyakinkan dirinya sendiri bahwa kebahagiaan bukan hanya tentang menjadi ibu, bahwa cintanya dengan Samudra sudah lebih dari cukup. Tapi di sudut hatinya yang paling dalam, ada doa yang terus mengendap, ada harapan yang tak pernah pudar.
Saat mobil berhenti di depan rumah, Mutiara menyandarkan kepalanya sejenak di jok, menutup mata. Mungkin, esok pagi, ia akan mencoba lagi. Mungkin, keajaiban hanya menunggu sedikit lebih lama sebelum akhirnya datang.

Oliveia Faizin
3 Pengikut · 1 Novel