Sekelompok vampir datang ke istana Vandijk di daerah perbukitan, di tengah hutan. Istana tak kasat mata yang dihuni oleh para manusia serigala.
Malam itu, cahaya bulan purnama bersinar terang di atas istana, seolah menjadi saksi sebuah pertempuran yang baru akan dimulai.
Aeternus dan para anak buahnya berhasil menerobos masuk ke dalam istana setelah berhasil menumbangkan beberapa prajurit yang berjaga di depan.
Aeternus berdiri tegap di depan sambil menatap tajam ke singgasana yang kosong.
"Keluar kau, Hawthrone!" teriak Aeternus dengan suara lantang dan tegas. Sorot matanya tajam, tak sedikit pun menunjukkan kegentaran.
Para anak buah Aeternus bersiaga di belakangnya dengan penuh waspada.
Tak lama kemudian, William Hawthrone, pangeran serigala itu muncul bersama dengan istrinya.
Aeternus menelan ludah, seketika tubuhnya membeku begitu melihat Camelia Esthira, istri William Hawthrone, yang dulu pernah dicintainya dan menjadi bagian hidupnya. Ia menatap getir sambil mengepalkan kedua tangannya. Rasa sakit itu belum hilang. Kenangan masa lalu yang pernah mereka lalui bersama terlintas begitu saja, membuat dada Aeternus sesak.
Wanita itu, Camelia, menunduk, entah karena rasa bersalah atau karena tak ingin bertemu lagi dengan Aeternus, yang adalah mantan suaminya.
"Kenapa kau datang kemari?" Suara berat Hawthrone memecah keheningan, membawa aura persaingan kuat yang seakan tak pernah usai.
"Masih berani bertanya kenapa aku datang kemari? Apa kau tidak pernah sadar dengan kesalahanmu? Belum puaskah kau merebut istriku, sehingga kau mengutus anak buahmu untuk mengacak-acak kediamanku?!" balas Aeternus dengan nada penuh emosi.
Hawthrone tersenyum sinis, mengejek. "Kau mau datang juga? Kupikir kau tidak akan datang hanya karena kerusakan kecil yang dibuat oleh anak buahku?"
"Kerusakan kecil katamu?" Rahang Aeternus mengeras, hatinya mendidih. "Kalian bukan hanya membuat onar, tapi juga menantang kami untuk bertanding. Maka dari itu, malam ini kami datang untuk memenuhi tantanganmu, karena kami bukan pengecut."
"Kau pikir bisa menang melawanku? Kalian berada di daerah kekuasaanku, maka pasti akulah yang akan menang," ucap Hawthrone dengan angkuhnya.
"Kita lihat saja nanti!" balas Aeternus tak gentar.
Hawthrone berteriak memanggil semua pasukannya, suaranya menggema memenuhi istana. Satu per satu pasukannya datang dan berkumpul bersiap menghadapi pertempuran. Meskipun jumlah pasukan manusia serigala jauh lebih banyak, kelompok Aeternus sama sekali tidak takut dan memilih untuk tetap maju menghadapi mereka.
Malam itu pertempuran sengit antara pasukan vampir dengan para manusia serigala pun tak terelakan.
Melihat pertempuran yang makin memanas, Camelia pun berlari ke kamar putranya yang masih kecil.
"Putraku, ayo ikut ibu!"
"Kita mau ke mana, Bu?" sahut putranya.
"Ibu akan membawamu ke tempat yang aman, Nak."
Tak mau berlambat-lambat, ia pun segera menggendong putranya, dan pergi meninggalkan istana. Ia menyembunyikan putranya ke tengah hutan yang gelap, dengan harapan anaknya itu dapat selamat dari serangan vampir. Setelah itu ia pun kembali ke istana.
Begitu Camelia sampai di istana, pertempuran belum juga usai. Kedua belah pihak masih saling menyerang. Ia bahkan melihat suaminya yang mulai tersudut dan kewalahan menghadapi para vampir tersebut.
Melihat itu semua, Camelia pun mulai diliputi rasa cemas. Ia takut jika suaminya kalah, maka dirinya pasti tidak akan luput dari Aeternus yang memendam kebencian terhadapnya, akibat kesalahan yang diperbuatnya di masa lalu.
Camelia hendak melarikan diri, kembali ke hutan, dan bersembunyi bersama putranya. Namun, langkahnya dihadang oleh Helen, ibu mertuanya. Ratu serigala tua itu sejak awal memang tidak pernah menyukai Camelia, karena Camelia berasal dari kaum vampir.
Di tengah kekacauan yang terjadi, Helen berpikir bahwa ini adalah saat yang tepat untuk menyingkirkan Camelia selamanya.
Ratu serigala tua itu menatap tajam dengan sebilah pisau belati di tangannya yang terbuat dari perak yang telah dirapali mantra khusus. Ia menyeringai serta mendesis.
Camelia gemetar melihat pisau belati tersebut. "Ibu mertua, apa yang hendak kau lakukan?"
"Lihat apa yang kau lakukan sekarang, Camelia. Para vampir itu menyerang istanaku pasti karena dirimu!" tuduh Helen.
"Tidak, Bu. Kau salah paham. Mereka datang kemari karena ditantang oleh para anak buah William," jawab Camelia, tak terima disalahkan.
"Ooh, jadi kau menyalahkan putraku dan kaumku, hah?!"
"Bukan, begitu. Aku hanya menjelaskan yang sebenarnya."
"Omong kosong! Kau adalah pembawa sial bagi keluargaku! Hari ini juga kau harus mati untuk mengakhiri semua kesialan ini!"
"Ibu, apa maksudmu?"
Helen melangkah maju, sedangkan Camelia reflek melangkah mundur. "Aku akan membunuhmu, Camelia!" kata Helen dengan menggebu.
"Jangan, Ibu. Aku adalah menantumu, ingatlah itu."
"Iya, tapi kau adalah menantu yang tak pernah kuharapkan."
"Ibu, tolong jangan bunuh aku. Aku mohon, kasihani aku. Kau tahu, aku memiliki seorang putra yang masih butuh kasih sayangku!"
Helen tak peduli, ia tak mau mendengarkan permohononan menantunya tersebut. Dengan secepat kilat, Helen meraih tangan Camelia dan mencengkeramnya, lalu dalam hitungan detik, pisau perak itu pun menancap dan menembus jantung Camelia.
Jeritan Camelia melengking di udara, tubuhnya terjatuh ke lantai.
Di tengah pertarungan, Hawthrone dan Aeternus yang mendengar jeritan itu sontak menoleh ke arah Camelia.
Sebelum benar-benar musnah, Camelia menatap kedua pria yang pernah mengisi hatinya itu dengan air mata di pipi.
"A-ku min-ta ma-af. Se-la-mat ting-gal," ucapnya terbata untuk terakhir kali.
Kemudian, tubuh Camelia pun berubah menjadi serpihan yang beterbangan ke udara, dan perlahan menghilang tanpa meninggalkan jejak sedikit pun.
"Cameliaaaa!!" teriak Hawthrone histeris.
Sementara Aerternus membeku. Seolah udara dan semua yang ada di sekitarnya berhenti sesaat. Aeternus, kini kehilangan Camelia untuk yang kedua kalinya. Namun, tiba-tiba panglima serigala datang menyerangnya, membuatnya harus melanjutkan pertarungannya lagi.
Saat Hawthrone masih terpukul atas kepergian istrinya, salah seorang vampir juga kembali menyerangnya.
Helen menyeringai puas, lalu pergi ke kamarnya untuk bersembunyi.
Pertempuran semakin sengit, pasukan serigala semakin berkurang, karena banyak yang tewas.
Hawthrone yang terluka parah, merasa tak sanggup lagi untuk meneruskan pertempuran. Namun, ia pun tak bisa menerima kekalahan tersebut. Di tengah penderitaannya, Hawthrone berpikir bahwa akan lebih baik jika tak hanya dirinya saja yang musnah malam itu, melainkan para vampir itu pun harus ikut musnah bersamanya.
Oleh sebab itu, dengan sisa tenaga dan kekuatannya, ia pun membakar istananya sendiri, dengan maksud membunuh semua yang ada di dalamnya, termasuk dirinya, keluarganya, semua pasukannya yang tersisa, dan juga para vampir itu.
Melihat hal itu, Aeternus dan pasukannya pun segera menyelamatkan diri dari dalam istana secepat mungkin. Mereka tak ingin turut musnah bersama para serigala tersebut.
***
Aeternus dan pasukannya berdiri di seberang bukit sambil memandang ke arah asap yang membubung tinggi dari istana Vandijk yang tengah terbakar itu.
Api yang membakar istana itu terus berkobar menghabisi setiap penghuninya tanpa ampun.
"Tuan, akhirnya mereka menerima balasan atas kejahatan yang mereka lakukan terhadapmu," kata salah seorang pegawai kepercayaan Aeternus.
Aeternus diam tak menanggapi, masih menatap ke depan, lalu air mata menetes perlahan.
"Camelia," gumamnya getir.
Maka mengertilah mereka, bahwa pemimpin mereka tengah merasa kehilangan.