


oleh Citra Ayu Bening · 41 Bab
Nita tidak menyangka bahwa suami Dita adalah suaminya. Dita sengaja menjebak Andika agar janinnya punya bapak tajir. Andika lupa dengan perjanjian pra nikah antara dirinya dengan Nita. Jika salah satu dari mereka selingkuh, maka mereka cerai dan semua harta beralih ke pasangannya. Yang mengejutkan ternyata Andika mandul.
"Aku ikut senang, kamu akhirnya menemukan pria yang cocok. Selamat, ya! Semoga langgeng sampai ajal menjemput," ucap Nita sambil menatap layar ponsel. Tampak wajah Diah yang bahagia.
"Aamiin. Doa terbaik untukmu juga," balas sahabat sedari SMA itu.
"Jahat kamu! Aku gak dikasih undangan," sindir Nita sambil pasang muka cemberut.
"Sori banget, Nit. Acara kecil-kecilan, hanya undang tetangga terdekat doang."
"Kok, gitu? Emang kenapa?" tanya Nita seperti tidak terima. Karena Diah adalah keturunan orang kaya, jelas tidak mungkin, jika ada acara sepenting ini dilakukan diam-diam. Apalagi, ia adalah anak tunggal.
"Atas permintaan suamiku. Nanti setelah kami nikah resmi, baru diadakan resepsi. Kamu pasti aku undang," ucap Diah dengan bola mata berbinar-binar.
"Loh, ngapain nikah siri? Jangan mau, dong! Nikah siri itu yang rugi wanita. Biasanya pria beristri yang hobi gitu atau gak. Mau cicip doang. Setelah bosan, dia ngacir. Waspada saja! Aku gak takut-takuti kamu," ucap Nita panjang lebar.
Entah mengapa, dalam hati Nita tidak rela, teman karibnya dibuat mainan pria. Tiba-tiba raut wajah Diah berubah jadi canggung.
Untuk membuat Diah ceria kembali, Nita ajak bercanda. "Boleh gak liat foto wajah suami kamu? Begitu gantengkah, hingga takut diliat aku?"
Diah pun berkata, "Besok, deh, pas resepsi kami. Kamu bisa puas melihatnya. Jangan sampe kepincut, ya!"
"Gila, apa! Aku punya suami terganteng di muka bumi," balas Nita dengan PeDe-nya.
"Tapi, Nit. Dia telah beristri,"ucap Diah lirih. Tentu saja, pernyataan itu membuat hati Nita seketika speechless.
‘Apa yang ada di otak dia?’ tanya Nita dalam hati.
"Pasti kaget, kan?" ujar Diah dengan wajah datar. Ucapan yang membuat Nita syok, tetapi, Diah tampak biasa saja.
"Kamu jadi istri kedua?" tanya Nita terbata-bata. "Kalian, kok tega dengan istri pertama dia? Kalian itu selingkuh."
Nita jadi ikut baper tahu kenyataan ini. Itu bisa saja menimpa dirinya. Secara, Nita dan Andika--suaminya--sudah hampir tiga tahun menjalani LDR. Timbul rasa khawatir dalam diri Nita.
‘Mudah-mudahan suami aku tetap setia sampai ajal menjemput.’ Doa Nita dalam hati.
"Jangan salah paham. Aku mau menikah sama dia karena ada alasan kuat. Aku sudah hamil, Nit. Pengakuannya, istrinya gak pernah mau diajak tinggal di sini. Mereka sudah lima tahun berumah tangga, belum dikaruniai anak," balas Diah dan itu dianggap oleh Nita sebagai mencari pembenaran saja.
Apa pun itu, bagi Nita tetap saja salah. Namun, wanita ini terpaksa mengikuti alur cerita Diah. Hal tersebut sudah ranah pribadi mereka berdua dan yang penting, ia sudah memberi nasihat sebagai teman.
"Yang penting dia bisa adil dengan dua istri,"ucap Nita dengan malas-malasan.
"Kami sudah berhubungan selama satu tahun. Alhamdulillah, gak ada masalah denganku dan juga istri pertama dia."
"Kamu sudah cukup dewasa dalam hal ini. Yang penting, jangan sampe kamu dirugikan. Apalagi sekarang sedang hamil."
"Makasih, Nit. Aku akan baik-baik saja. Suami aku itu orang yang bertanggung jawab."
"Gimana kalo suatu saat kita ketemuan? Aku sudah lama juga gak tengok suami."
"Beneran, Nit? Memang suami kamu kerja di mana?"tanya Diah antusias.
"Sama kayak kamu. Tinggal di Sumatera Selatan, beda wilayah mungkin," balas Nita bersemangat.
"Wah, senangnya. Kita bisa ketemuan lagi," sahut Diah tak kalah gembira.
"Oh, ya. Aku mau tunjukkan wajah suamiku. Sebentar, ya," balas Nita sambil berjalan ke arah ruang tengah. Ia berhenti di depan sebuah nakas lalu jongkok hendak membuka pintu.
Braakk!
Pyaarr!
Tiba-tiba terdengar suara benda jatuh. Nita menoleh ke sumber suara. "Kayak ada kaca pecah."
Diah mengikuti tampilan layar ponsel. Tampak Nita berjalan ke arah ruang makan.
"Astagfirullah! Foto pernikahan kami jatuh!" teriak Nita. Ia membalikkan foto berpigura ukuran besar, lalu membersihkan beberapa pecahan kaca yang menempel. "Tadi mau kasih liat foto suami aku dalam album. Ini fotonya tampak jelas. Gak ada gempa, kenapa bisa jatuh tiba-tiba?"
Wajah Diah langsung pucat pasi melihat wajah dari suami Nita. Ia benar-benar tidak menyangkanya. Wanita ini langsung speechless dan termangu.
‘Oh, ya, Allah!’ Diah hanya berani berucap dalam hati. Tanpa terasa kedua mata mendadak panas. Rasa sesak menekan dalam dada.
"Maaf, Nit. Aku kedatangan tamu. Assalamualaikum." Diah mengakhiri hubungan telepon tanpa sempat dijawab oleh Nita.
Hati Diah terasa sakit. Seusai menutup hubungan telepon dengan Nita, ia menangis tersedu-sedu. Wanita ini benar-benar terpuruk dan tidak menyangka bahwa istri pertama suaminya adalah sahabat karibnya.
"Nita, maafin aku! Ini di luar kemauan aku," ucap Diah di antara isak tangis. Ia mengusap lembut perut ratanya yang berisi janin berusia lima minggu. "Nak, sehat-sehat di dalam, ya."
***
Keesokan hari, perjalanan ke lain pulau dimulai. Nita berencana berkunjung ke Sumatera tak akan lama, diperkirakan hanya empat hari. Itu terbagi untuk bertemu suami dan Diah, temannya. Nita sengaja pergi diam-diam tanpa pemberitahuan ke Andika dan Diah. Ia sengaja ingin membuat kejutan terhadap dua orang terkasihnya.
Satu jam lima puluh menit, Nita telah sampai di Bandara Internasional Sultan Mahmud Badaruddin II. Ia melanjutkan perjalanan menuju mess di Kota Musi Banyuasin. Sampai di sana, mess dalam keadaan sepi. Jam di pergelangan tangan Nita menunjukkan pukul sepuluh pagi lewat dua puluh menit.
‘Pasti pada bekerja semua,’ batin Nita.
Akhirnya wanita ini memutuskan untuk mencari penginapan terdekat, untuk sekadar beristirahat dan menunggu kedatangan suaminya. Beruntung travel dari bandara mau diminta menunggu. Akhirnya Nita bisa mendapatkan penginapan berjarak sekitar dua kilometer dari mess.
"Assalamualaikum, Mah," balas Andika saat mengangkat telepon dari Nita.
"Wa'alaikumussalam. Gimana kabar Papa?" tanya Nita yang masih ingin merahasiakan posisinya sekarang.
"Alhamdulillah, baik. Mama juga, kan?"
"Alhamdulillah juga, Pah," balas Nita dengan tersenyum di kulum. Ia merasa geli dengan aksinya sendiri yang sengaja ingin nge-prank suaminya.

Citra Ayu Bening
1 Pengikut · 2 Novel