


oleh Vishnetta · 23 Bab
Kinara terpaksa kembali ke Indonesia setelah mengalami mimpi buruk tentang ibunya yang telah berpulang, juga karena pesan dari Yu Karsih. Cerita Yu Karsih tentang penyebab kematian ibu tercinta yang tidak diketahui, menimbulkan kecurigaan ada orang dalam rumah yang terlibat. Kinara berusaha menyelidiki dan mencari bukti sendiri. Pertemuannya dengan Parjo dan Dokter Adrian, menguatkan penyelidikannya. Ditemani Adrian, Kinara mencari lebih banyak bukti tentang keterlibatan orang- orang yang dekat dengan keluarganya. Dia hanya ingin keadilan untuk ibunya ditegakkan. Orang-orang yang terlibat dihukum dan dipenjara. Siapa sebenarnya orang dalam rumah yang terlibat? Benarkah sepupu sekaligus ibu tirinya adalah dalang di balik pembunuhan ibunya?
Ponsel Kinara bergetar untuk kesekian kalinya. Menandakan sebuah pesan dari seseorang masuk ke ponsel yang tergeletak di meja kerjanya. Kinara hanya melirik sekilas, masih enggan untuk mengecek siapa pengirim dan apa isi pesan tersebut. Beberapa berkas masih menyita perhatiannya.
Selang lima belas menit kemudian, ponsel itu berbunyi kembali. Deringnya membuat Kinara terpaksa meraih dan melihat sesiapa yang seharian ini begitu mengganggu dirinya. Helaan napas kesal begitu kentara di wajah ayunya.
Kinara mengernyit ketika satu nomor telepon tak dikenal muncul di layar ponselnya. Ragu, dia pun menekan tombol bergambar gagang telepon berwarna hijau. Namun sayang, saat dia mengklik panggilan terjawab, sambungan terputus.
Kinara menatap layar ponsel dengan mata membulat.
"Aneh," gumamnya tampak sedikit kesal lalu meletakkan ponsel kembali.
Kinara kembali menekuri berkas pekerjaan yang ada di mejanya. Namun, pikirannya tidak lagi fokus seperti tadi. Nomor penelepon yang muncul di layar ponsel membuat dirinya berpikir keras. Sebuah nomor telepon dari negara dia berasal, tetapi tidak dia kenal.
Rasa penasaran membuatnya menghentikan pekerjaan dan kembali meraih ponsel. Membuka aplikasi pesan dan mendapati hampir sepuluh pesan dari nomor yang sama.
"Astaga, siapa pengirim pesan ini?"
Matanya mendelik karena kaget. Tak menyangka ada banyak pesan yang terabaikan olehnya hari ini. Gegas dia membuka dan membaca pesan tersebut.
[Assalamualaikum, Mbak Kinara.]
[Apa kabar, Mbak? Semoga sehat, ya.]
Kinara menarik napas dalam lalu mengembuskan perlahan, menjawab salam dalam hati.
[Mbak, ini saya Yu Karsih. Masih ingat tho? Yang dulu sering menggendong Mbak Nara kalau nangis? Yang sering Mbak Nara ajak bermain kalau Mas Danu dan Mas Erlangga nggak mau diajak bermain.]
Gadis berwajah ayu khas Jawa itu tersenyum membacanya. Ingatannya melayang kembali pada puluhan tahun silam.
"Mbok, kita maen petak umpet aja, ya!" ajak Kinara seraya menarik kain jarik Yu Karsih.
"Mbak, saya masih masak. Tunggu sebentar, ya," jawab Yu Karsih menenangkan majikan kecilnya. Dari tadi dia merengek meminta untuk ditemani bermain. Dua kakaknya belum pulang sekolah, sehingga gadis kecil itu merasa kesepian.
Kinara mengangguk, lalu duduk menunggu di sudut dapur. Gadis kecil dengan kucir dua itu, memainkan boneka kesayangan sampai Yu Karsih menghampiri dirinya, lalu bermain bersama.
Kesibukan kedua orang tua membuat Kinara dan dua saudara laki-lakinya terbiasa hidup hanya dengan seorang asisten rumah tangga di rumah. Sang Ibu, seorang dosen terkenal di salah satu Universitas di kota Jogja. Jadwal mengajar yang padat membuat dirinya jarang di rumah.
Begitu pula dengan sang ayah yang hampir tiap hari pulang malam. Namun, semua itu tak membuat Kinara dan kedua saudaranya menjadi anak-anak nakal yang kurang perhatian, tetapi justru berprestasi. Sebab, Ayah dan Ibunya terkadang masih sempat meluangkan waktu disela kesibukan rutinitasnya.
Kinara menghela napas, mengingat kenangan manis bersama Yu Karsih. Sudut matanya memanas, gegas dia mengusap dengan punggung tangan agar buliran itu tak jatuh.
Ada sebongkah kerinduan dalam hatinya. Rindu pada rumah, rindu kampung halaman, dan rindu pada orang-orang tercinta. Terutama rindu pada ayahnya, Harjokusumo Atmajaya. Laki-laki berusia setengah abad yang merupakan cinta pertamanya. Lelaki yang mengajari banyak hal tentang kehidupan.
Namun, semua itu harus dia tahan. Sebab, tinggal di luar negeri adalah pilihan dan impiannya sejak dulu. Apalagi saat ini, dirinya bekerja di salah satu perusahaan terkenal di Negeri Paman Sam.
[Mbak Nara, maafkan saya, ya]
Kinara mengernyit saat membaca pesan berikutnya.
[Saya sudah lancang berkirim pesan. Saya tidak tahu harus bagaimana saat ini. Saya hanya ingin bertemu Mbak Kinara. Tolong saya, Mbak!]
Gadis bermata indah itu mengembuskan napas kasar. Menyandarkan kepala di sandaran kursi kerjanya. Matanya tak lepas menatap layar ponsel yang ada di tangannya.
"Minta tolong apa ini, maksudnya?"
[Tolong datang dan temui saya, Mbak. Ada yang harus saya ceritakan tentang meninggalnya Ibu.] Emoticon telapak tangan menangkup diberikan dalam chat tersebut.
Kinara mengernyit heran sekaligus bingung dengan pesan yang dikirim oleh Yu Karsih.
"Kenapa dia kirim pesan seperti ini? Ada apa ini?"
[Saya ingin tunjukkan sesuatu dan cerita. Tolong, Mbak! Saya takut jika ajal datang dan masih menyimpan ini semua.] Emoticon menangis.
Kinara mengembuskan kembali napas perlahan. Dirinya semakin tak mengerti sekaligus bingung dengan pesan yang dikirim Yu Karsih. Yu Karsih, satu-satunya asisten rumah tangga paling lama dan setia di keluarganya.
Namun, sejak sang ibu berpulang sepuluh tahun lalu, Yu Karsih mengundurkan diri dan pulang ke Sragen.Tak ada kabar berita lagi darinya. Kini, tiba-tiba dia mengirimkan pesan aneh pada dirinya.
Kinara mencoba menekan nomor telepon dan menghubungi Yu Karsih. Hanya ada nada sambung, tetapi tak ada jawaban sama sekali dari seberang. Kinara menghela napas lalu tersenyum, menyadari adanya perbedaan waktu antara Amerika dan Indonesia. Kemudian, dia mulai mengetik balasan untuk mantan asistennya itu.
[Waalaikum salam, Yu Karsih]
[Alhamdulillah, Nara sehat di sini, Yu]
[Maaf, sebenarnya ada apa ini? Kenapa dengan kematian Ibu?]
[Apa yang kamu simpan sekian lama, Yu?]
Kinara menggenggam ponsel dan menatap langit-langit ruangannya. Ada begitu banyak pertanyaan yang tiba-tiba muncul di kepalanya.
Bayangan wajah Ibu, Ayah, Yu Karsih dan dua kakaknya terlintas. Potongan-potongan kenangan saat masih bersama muncul dan itu membuat kaca-kaca matanya. Kemudian, bayangan wajah sepupunya yang kini tinggal bersama sang ayah.
Sekelebat bayangan sepuluh tahun lalu pun hadir di benak Kinara. Di saat Yu Karsih pamit mendadak tepat di hari ke seratus ibunya meninggal. Masih jelas dalam ingatan Kinara, sehari setelah kedatangannya dari Amerika. Yu Karsih menghadap sang ayah, Harjokusumo Atmajaya.
"Ngapunten, Ndoro. Hari ini, saya matur dateng Ndoro Kakung. Saya minta izin untuk berhenti ngabekti di rumah ini," ucap Yu Karsih yang tiba-tiba meminta berhenti bekerja. Suaranya terdengar parau dan ucapannya terbata-bata seakan menyimpan beban.
Semua mata yang berada di ruang tengah saling pandang. Kaget sekaligus tak percaya. Orang yang sekian tahun mengabdi di keluarga besar Harjokusumo, tiba-tiba meminta berhenti.
"Ada apa, Yu? Kenapa mendadak sekali?" tanya Kinara heran.
"Hari ini, seratus harinya Ibu pergi, kamu kok, ya, ikutan pergi juga. Ndak usah, tetap di rumah ini saja!" titah Mas Danu.
Yu Karsih diam dan menunduk. Tak ada jawaban apapun yang diberikan. Namun, terdengar isakan lirih keluar dari bibirnya.
Kinara dan kedua kakaknya berusaha menahan, tetapi sang ayah menyanggupi permintaan Yu Karsih. Tak ada yang bisa membantah keputusan sang ayah saat itu. Semua terdiam kala Harjokusumo menyuruh Yu Karsih segera berkemas.
Kinara juga tidak menaruh kecurigaan apa pun pada wanita setengah baya itu. Semua baik-baik saja karena memang Yu Karsih orang yang baik dan jujur.
Hanya saja, sesaat sebelum Yu Karsih pergi, Kinara memeluk erat tubuh wanita yang selalu sabar merawatnya sejak kecil. Hal yang sama juga dilakukan oleh dua saudaranya, Danu dan Erlangga.
Kinara kembali menghela napas, berusaha melepaskan beban pikirannya. Rasa kangen pada almarhumah ibunya menyeruak hadir hingga membuat sudut matanya memanas. Bulir bening itu pun menetes dan membuat gadis ayu itu terisak.
Ada sesal yang menghantam dadanya, kala mengingat tentang sang ibu. Tidak ada disisi beliau menyisakan rasa sakit yang dalam. Meski rasa itu menghunjam, Kinara sudah mengikhlaskan kepergian beliau dan menerima sebagai takdir Illahi.
"Ya Allah, apa yang sebenarnya terjadi dengan ibu sepuluh tahun lalu? Ada rahasia apa?”

Vishnetta
2 Pengikut · 1 Novel