


oleh Maria Goreti · 102 Bab
Bianca, perempuan berparas cantik dan pintar. Dia pemilik Kedai Kopi Hitam. Bukan kedai kopi biasa yang hanya menjual secangkir kopi. Sebuah penyamaran untuk mendapatkan berbagai informasi. Dia terpaksa membayar denda ratusan juta akibat kesalahan informasi yang diberikan. David, CEO tampan yang membeli informasi dari Bianca. Dia jatuh cinta padanya. Benih-benih cinta pun tumbuh di antara mereka. Bianca dilema dengan ajakan David, apalagi David meminta Bianca berhenti dari profesinya. Akankah Bianca menerima ajakan David untuk pacaran? Atau Bianca terang-terangan menolak David?
Manik hitam Bianca membulat, mengunci tatapan pada perempuan yang melangkah masuk ke Kedai Kopi Hitam. Gaun mahal membalut tubuhnya dengan sempurna, sepatu hak tinggi berdenting ringan di lantai kayu, dan parfum mewah menguar samar di udara. Perempuan itu tak sekadar berjalan, ia melenggang penuh percaya diri, seperti model yang mendominasi panggung peragaan busana.
"Siapa dia?" Bianca berbisik, matanya tak lepas dari sosok itu.
Pemilik kedai, Bia, menyambut dengan senyum ramah. "Selamat datang di Kedai Kopi Hitam. Mau pesan apa, Bu?"
Perempuan itu melepas kacamata hitamnya, memperlihatkan mata tajam dan bibir yang dipulas merah menyala. Ia bukan tipe wanita yang mudah diganggu. "Kopi hitam."
“Hanya itu saja, Bu?”
“Iya, itu saja.”
'Tanpa gula.' Bianca menebak dalam hati. Wanita seperti ini tidak menyukai yang manis-manis. Hanya pahit, tegas, dan apa adanya.
Bia menyiapkan pesanan dengan cekatan, menuangkan air panas ke dalam cangkir tanpa menambahkan apa pun. Kopi pekat mengepul, menyebarkan aroma khas yang menenangkan.
"Silakan, Bu,” kata Bia, menyodorkan cangkir.
“Terima kasih.”
Perempuan itu menerima dengan anggun, mengaduknya perlahan meski tak ada gula yang perlu dilarutkan. Pandangannya mengedar, meneliti setiap sudut kedai. Ada sesuatu yang dicarinya. Manik hitam bermaskaranya kembali menatap Bia.
"Meimei." Ia akhirnya memperkenalkan diri, mengulurkan tangan.
"Bia," balas Bia menjabatnya singkat.
“Apa, Bu Meimei hanya mencari secangkir kopi di sini?”
Meimei menyunggingkan senyum tipis. "Kamu cepat tanggap juga. Kudengar kamu menjual informasi di sini."
‘Apa yang mau dicari perempuan ini?’ Bianca bertanya dalam hati. Dilihat dari penampilannya bukan orang sembarangan mau dicari. Indra penciuman perempuan ini mencium wangi uang di setiap lembarannya.
Hening sejenak. Bianca menahan napas, sementara Bia hanya menaikkan alis, seolah menunggu kelanjutan.
Meimei membuka tasnya, mengeluarkan amplop cokelat, lalu meletakkannya di meja, tepat di depan cangkir kopi yang masih mengepul.
“Aku mau kamu mencari informasi dan jangan lupa bereskan orangnya sekaligus.”
Bia menatap amplop itu tanpa menyentuhnya. "Selama harganya sesuai. Ada uang, ada informasi."
“Kamu semakin menarik.”
Meimei terkekeh pelan, nada geli bercampur puas. "Cari tahu tentang seorang pelakor. Aku hanya punya nomor telepon yang berhasil kucuri dari ponsel suamiku. Bisa?"
Bia menyandarkan diri, matanya menyipit. "Bu Meimei tidak punya bukti lain? Foto, atau alamat, sesuatu yang bisa dipastikan?"
"Hanya itu." Meimei menyeruput kopinya. "Tapi aku ingin kepastian sebelum jam makan malam. Pastikan perempuan itu tidak muncul di acara keluarga kami."
Bia mengangguk. "Ya, Bu."
“Aku tidak mau ada kesalahan sekecil apa pun.”
Bia mengangguk lagi. "Ya, Bu."
Bianca menelan ludah, menyadari bahwa informasi ini bernilai besar. Suami Meimei pasti bukan orang sembarangan sehingga perlu hati-hati melakukan pekerjaan rumit ini.
“Aku sangat berharap kamu melakukan yang terbaik. Aku mau melindungi keluarga dari siapa pun yang mengganggu.”
Meimei berdiri, meletakkan selembar uang di meja. “Untuk kopinya. Aku harap kamu tidak mengecewakan.”
Bia hanya tersenyum tipis. “Terima kasih. Hati-hati di perjalanan, Bu Meimei.”
Setelah bayangan wanita itu menghilang di balik pintu, Bianca bergumam, "Ini pekerjaan yang rumit."
Dering pertama belum ada suara ramah menyapa seperti biasanya. Bia menghubungi Rena.
“Halo, Mbak Bia apa yang bisa dilakukan?”
"Pekerjaan sulit. Seperti biasa."
“Kapan, Mbak Bia tidak pernah memberi kami pekerjaan sulit. Perasaan aku setiap kali selalu pekerjaan sulit, tetapi ini bayarannya mahal tidak?” tanya Rena, rekannya terkekeh.
“Kamu ini tahu saja kalau bayarannya mahal.”
“Siapa yang mau dicari informasinya, Mbak?”
“Cari pelakor, perusak rumah tangga seseorang.”
“P—pelakor. Kenapa Mbak menerimanya? Apa hanya karena bayaran mahal?” tanya Rena, ia tahu pasti jika Bia enggan berurusan dengan pelakor.
“Ya salah satunya itu. Klien hanya punya nomor telepon. Lacak wajahnya, sadap kalau perlu. Kita harus bergerak cepat. Aku hanya bisa memberikan itu saja. Sisanya kalian usahakan sendiri seperti biasa.”
“Siap, Mbak. Buat, Mbak Bia apa yang tidak cepat.”
“Kalian harus memberitahu informasi dan membereskan pelakor tersebut sebelum jam makan malam. Klien tidak mau pelakor datang saat makan malam keluarga besar.”
Butuh waktu singkat sebelum informasi terkumpul. Namun, ada yang janggal.
"Tunggu, kenapa dia ada di klub malam?" gumam Bia, menatap layar ponselnya. Seharusnya perempuan itu mencari gaun untuk makan malam keluarga, bukan berpesta di tengah lampu remang dan dentuman musik. "Jangan-jangan salah orang."
Tapi tak ada kesalahan. Itu memang dia. Dan ini adalah kesempatan.
Bia bergerak cepat. Tak butuh waktu lama baginya untuk mengumpulkan bukti perselingkuhan itu. Beberapa foto, rekaman, dan bukti transaksi yang mencurigakan. Dalam hitungan detik, kehidupan perempuan itu runtuh.
"Misi selesai," katanya, mengirim semua data pada Meimei.
Tak lama kemudian, teleponnya bergetar.
"Halo, Bu. Aku baru saja mengirim bukti-buktinya."
"Ya," jawab Meimei singkat, lalu menutup telepon.
Bianca menghela napas. Ada sesuatu dalam nada suara Meimei yang membuat bulu kuduknya meremang. Entah kenapa, siang itu angin berembus lebih dingin.
Tiba-tiba, pintu kedai terbuka kembali. Meimei melangkah masuk dengan sorot mata berbeda. Tanpa peringatan, tangannya terayun.
Plak!
Bia tersentak. Rasa panas menjalar di pipinya.
"Auw!" Bianca ikut memekik kaget.
Bia memegang wajahnya, menatap Meimei tak percaya. "Bu Meimei, ada apa? Apa aku membuat kesalahan?"
Meimei menatap tajam, jemarinya mengepal erat. "Aku mau kamu membayar denda."
"Apa?" Bia mengernyit.
"Denda? Untuk apa?"
Senyum Meimei menghilang.
"Karena kamu menghancurkan orang yang salah.”

Maria Goreti
44 Pengikut · 1 Novel