Ketika seorang pria berambisi, ia disebut pemimpin. Ketika seorang wanita berambisi, ia disebut egois
Sebagai seorang mahasiswa sastra yang ambisius, aku menaruh seluruh hidupku pada aksara. Sastra adalah napasku. Aku ingin menjadi penerjemah bahasa terkenal atau setidaknya seorang penulis lepas yang mampu menari-nari di atas kertas.
Aku ingin hidup mencintai pekerjaanku sebanyak aku mencintai puisi, prosa, dan dunia-dunia fiksi tempat aku merasa paling hidup.
Juga aku ingin mampu mandiri dan menjadi selalu kritis terhadap dunia patriarki yang menyusup ke dalam segala lini, aku percaya bahwa aku bisa menjadi suara bagi perempuan di mana pun. Tulisanku tidak akan hanya berbisik, tapi menggema.
“Reyna, seriously, we’ve had enough of this city’s crap. We need a break. Like, a real one.”ucap sahabatku Kia sambil berbaring telentang di lantai apartemen murah kami, ia menggulung esainya seperti gulungan sampah yang ingin ia bakar.
Aku mengangkat alis, masih terbakar emosi dari kelas teori sastra tadi pagi.
“Aku tidak percaya profesor terkutuk itu benar-benar menggunakan kutipan ini untuk diskusi— ‘The education of women should always be relative to men. To please them, to be useful to them ..., to make life sweet and agreeable to them.’” Suaranya menirukan dengan nada sok bijak. “Serius, Rousseau? Siapa sih yang memberinya hak untuk mereduksi perempuan menjadi perabot emosional?”
Aku menghela napas tajam. “Itu bukan apa-apa. Aku terjebak dengan Aristoteles: ‘Hubungan antara laki-laki dan perempuan pada hakikatnya adalah hubungan atasan dengan bawahan dan penguasa dengan yang diperintah.’ Like, what? And people still call him a genius. Dia secara harfiah mengatakan bahwa wanita dilahirkan untuk patuh."
Sahabatku menoleh, matanya menajam. “And we’re supposed to write an essay on bagaimana perempuan dapat ‘menavigasi kekuasaan’ dalam sistem yang dibangun untuk menghapus kekuasaan mereka? What a joke."
Aku tertawa hambar. “Jika kita hidup di zaman mereka, kita akan menjadi harta benda. Atau dikurung di ruang tamu, berlatih harpa, menunggu untuk dinikahkan dengan sepupu yang punya tanah.”
Dia mendengus. “Skenario terbaik, kita adalah mesin bayi bagi dinasti politik. Skenario terburuk? Terlupakan.”
Aku menatap langit-langit, suara jadi pelan. “Sekarang kita diharapkan untuk ‘menghormati’ warisan intelektual mereka di dunia akademis. Seolah-olah kebencian terhadap perempuan hanyalah produk zaman itu.”
“Tidak, Vi. Ini bukan cuma masa lalu. Para profesor kita telah melakukan kejahatan dengan mengutip omong kosong itu. Buku teks kita yang memperlakukan dominasi laki-laki sebagai 'tatanan alamiah.' Hukum. Algoritma sialan.”
Aku menatapnya, perlahan mengangguk. “Kita hanya diharapkan untuk bersyukur karena bisa berbicara. Seolah-olah itu adalah anugerah, bukan hak.”
“Tepat sekali. Jadi, mari kita menghilang selama akhir pekan. Tidak ada Aristoteles. Tidak ada Rousseau. Tidak ada esai yang meromantisasi penindasan. Hanya kita, pepohonan, dan keheningan.”
Sayangnya, menerima ajakan sahabatku untuk tamasya ke hutan adalah kesalahan fatal yang sepenuhnya adalah tanggung jawabku. Kesalahan yang akan mengubur seluruh cita-citaku.
Tempat tamasya kami indah banyak keluarga, kekasih dan kelompok orang yang sedang menikmati suasana hutan seperti kami.
Kemudian aemuanya terjadi begitu cepat. Sebuah kupu-kupu berwarna merah, indah dan mencolok, terbang melintas. Warna kupu-kupu yang belum pernah aku lihat sebelumnya. Aku, tergoda oleh keindahannya, berlari mengejarnya untuk mengambil gambar. Untuk di tambah dalam koleksiku jurnal harianku, namun seperti biasanya aku tidak memperhatikan langkahku.
Kaki ini yang biasa kupakai melangkah ke ruang kuliah, membeli makanan cepat saji, terperosok ke dalam lubang jebakan besar yang tak terlihat. Dunia seketika terbalik untuk sepersekian detik. Batu tajam menyambut tubuhku, menghantam kepalaku dengan keras. Rasa sakitnya luar biasa, lebih parah dari migrain yang pernah aku rasakan ketika lembur mengerjakan makalah. Darah mulai mengalir dan aku benci darah. Bukan hanya karena baunya atau warnanya, tapi karena darah selalu menjadi simbol luka dan kematian.
Aku mencoba memutar tubuhku, berusaha telentang meski rasanya seluruh tulangku remuk. Tidak mungkin ini akhir hidupku. Aku baru 23 tahun. Baru saja menyelesaikan tugas terakhirku. Aku belum mendapatkan gelar. Belum memperjuangkan banyak hal. Belum menulis buku feminis yang akan mengguncang dunia. Belum menginspirasi gadis-gadis muda untuk tidak menyerah pada mimpi indah nya.
“Wicked, wicked, wicked,” kutukku. Air mata mulai menetes mengalir menuju tanah yang juga telah tergenang darahku.
Tuhan, ini tidak adil. Kapan hidupku akan mulai berpihak padaku?
Pandanganku mulai mengabur. Nafasku sesak. Udara dingin dan lembap menyelinap masuk ke paru-paruku yang lemah. Dalam napas terakhir itu, aku mengutuki dunia yang menelanku sebelum aku benar-benar bersinar.
Takdir ternyata belum selesai mempermainkanku.
Ketika aku membuka mata, aku terengah seperti baru lepas dari mimpi buruk. Dingin menyergap, menusuk hingga ke tulang. Tubuhku tergeletak di atas rerumputan basah, bukan lagi dasar lubang berbatu. Di atas kepalaku, bayangan pepohonan tinggi berayun diterpa angin. Tapi ini bukan hutan yang tadi. Aku tahu itu. Aku merasakannya di kulitku, di napasku.
"Di mana aku?" bisikku, tapi suara itu—
—bukan suaraku.
Lebih tinggi. Lebih lembut. Asing.
Aku kenal diriku dengan baik, aku telah menjadi diriku selama 23 tahun.
Dengan tangan gemetar, aku bangkit perlahan. Rasanya tubuh ini baru saja melewati peperangan. Tanganku …, lebih kecil. Lebih pucat. Aku mengangkatnya, memandangi tangan mungil yang dibalut gaun mewah. Rambut pirang panjang tergerai di bahuku. Aku tidak pernah punya rambut sepanjang ini. Atau secerah ini. Rambutku bewarna hitam, bukan pirang sialan.
Aku panik. Napasku memburu.
Tato di lengan kiri—
Oh Tuhan.
Tato itu. Aku mengenalnya. Itu milik Verena Clare Holloway.
"What the—" Suaraku melengking. Aku memegang kepala, terhuyung. Berakhir kembali telentang di hutan. Bayangan—ingatan—menyerbu masuk ke pikiranku, seperti pintu yang jebol dihantam badai.
Verena. Figuran yang kubuat sendiri dalam novel fantasi remajaku saat SMA. Anak perempuan dari seorang Duchess di kerajaan. Kaya, manja, dicemooh karena darah ibunya. Terkena kutukan yang mengalir melalui tato itu. Kutukan yang akan membakar tubuhnya di usia 17.
Aku telah bereinkarnasi. Ke dalam karakter fiksi ciptaanku sendiri.
Menyedihkan. Seorang feminis yang anti sistem kerajaan dan pernikahan politik, sekarang harus hidup di tubuh seorang bangsawan remaja yang terikat takdir oleh darah dan status. Dunia yang kubuat sebagai kritik ke kanak-kanakan saat masih muda, kini jadi penjaraku.
Aku tidak membenci Verena. Kutulis dia dengan niat memberi kedalaman pada figuran, memberinya jiwa. Tetap saja, dia bukan tokoh utama. Dia bukan pahlawan. Dia hanyalah bagian belakang layar dari yang kutulis, kematiannya bahkan tidak begitu meninggalkan bekas bagiku. Tapi sekarang aku harus hidup sebagai dia.
Sialan.