"Saya terima nikah dan kawinnya Aisyah Nadira binti Najib Razak dengan mas kawin tersebut, tunai!"
"SAH! Alhamdulillah."
Lantunan doa kemudian dibacakan, dan dilanjut dengan kehadiran Aisyah dari kamar menuju tempat di mana baru saja akad dilafalkan.
Senyum manis terus ditunjukkan oleh Aisyah kepada semua keluarga yang hadir. Mereka sangat bahagia dan terharu akhirnya Aisyah kini menikah setelah apa yang sudah terjadi pada gadis itu.
Mereka pun menjadi saksi bagaimana dulu Aisyah dengan kuat dan tegar mengumumkan kepada semua orang yang hadir bahwa pernikahannya batal dan tak bisa dilanjutkan. Disusul setelah itu, ia jatuh pingsan di hadapan semua orang. Namun, kini sepertinya luka itu sudah benar-benar berlalu dan tak membuat Aisyah merasa terganggu.
Di hadapan semua orang, Aisyah menerima uluran tangan dari Afnan, sang suami. Dilanjut bacaan doa yang dilantunkan Afnan dengan memegang puncak kepala Aisyah.
Seketika gadis itu merasa gemetar seluruh tubuh. Rasa-rasanya ia ingin menangis, namun harus ditahan sekuat tenaga.
Setelah akad selesai, acara pun dilanjutkan dengan sesi foto berdua. Hal ini membuat Aisyah dan Afnan merasa canggung. Selain karena ini kali pertama mereka berdekatan, juga dilihat oleh banyak tamu membuat dua insan yang baru saja resmi ini semakin kikuk.
Mereka tak biasa menjadi pusat perhatian orang banyak.
Sesi foto selesai dilakukan. Namun, Aisyah menangkap gerak-gerik aneh yang terlihat dari suaminya. Afnan terlihat gelisah, sesekali dia melirik ke jam tangan. Aisyah menduga bahwa Afnan merasa lelah dan ingin segera beristirahat.
Ingin sekali Aisyah mengajaknya bicara. Namun, rasanya ia masih enggan dan sedikit malu. Apalagi sejak tadi Afnan tak sekalipun mengajaknya bicara. Bahkan Afnan beberapa kali berusaha melengos dan menghindari sorot mata Aisyah.
Karena sudah merasa tak kuat, Afnan pun memanggil salah satu fotografer yang bertugas. Dia meminta sesi foto segera diselesaikan karena sudah merasa lelah.
Karena klien meminta untuk segera diselesaikan, akhirnya salah satu dari mereka meminta satu foto lagi. Namun, kali ini Afnan diminta untuk berfoto dengan sedikit gaya romantis. Ia dan Aisyah diminta untuk saling menatap satu sama lain. Entah kenapa hal ini sedikit membuat Afnan merasa tak nyaman. Menatap wajah dan sorot mata Aisyah menjadi satu hal yang sulit dilakukan dan sangat ia hindari.
Mau tak mau ia harus melakukan, berpose romantis dengan Aisyah. Ia melakukan semata-mata agar sesi foto ini cepat diselesaikan.
"Tatap istrinya dengan tatapan cinta, ya, Mas Afnan. Supaya hasil fotonya bagus," celetuk salah satu dari mereka dengan diselingi cekikikan tawa menggelikan.
Aisyah dan Afnan pun kini saling bertatapan. Aisyah menatap Afnan dengan tatapan tulus hingga membuat laki-laki itu merasa tak nyaman dan ingin segera menyudahinya.
Sesi foto terakhir selesai, Afnan segera memalingkan wajah dan berusaha bersikap biasa saja. Namun, Aisyah masih menatap Afnan dengan tatapan yang sulit diartikan.
Benar, Aisyah! Ternyata itu benar adanya, batinnya sembari menatap Afnan dengan lekat.
Acara diselesaikan lebih awal karena sang mempelai pria memintanya. Afnan pun memutuskan untuk ke kamar tanpa mengajak Aisyah. Ia berlalu begitu saja dan meninggalkan wanita yang sudah menjadi istrinya sendirian di atas pelaminan. Meski merasa sakit dan sedikit malu, Aisyah tetap menunjukkan senyum dan menyembunyikan rasa kecewanya.
Bahkan ia harus berpura-pura mengatakan jika dirinya lah yang meminta Afnan untuk beristirahat.
Aisyah tersenyum getir. Betapa menyedihkannya dia, dua kali jatuh di lubang yang sama. Namun yang kedua kalinya ini ia merasa lemah tak bisa berbuat apa-apa.
Inilah pilihannya. Inilah yang sudah menjadi takdirnya.
****
"Maaf, saya pergi gitu aja tanpa mengajak kamu."
Aisyah menghela nafas beratnya sembari tangan masih memegang pintu yang baru saja ia tutup. Dengan pelan, ia membalikkan tubuh dan melihat Afnan yang sedang berdiri menghadap jendela dengan tangan dimasukkan ke saku celana.
"Enggak apa-apa, Mas. Acaranya juga sudah selesai," jawabnya sambil memainkan jemari, tanda kalau ia sedang gugup.
Aisyah berjalan pelan mendekati Afnan yang masih menatap lurus ke arah luar jendela yang tertutup gorden. Ia menatap sekilas suaminya dan kemudian menoleh ke arah yang sama. Saat ini mereka berdua berdiri menatap ke arah yang sama. Namun, dengan menyisakan jarak.
Untuk beberapa saat keheningan menyelimuti Aisyah dan Afnan. Dua insan yang sudah halal ini terdiam dengan pikiran masing-masing.
"Ada yang harus kita bicarakan, Aisyah. Saya enggak mau terlalu lama menyimpan rahasia ini."
Aisyah menoleh dengan wajah polosnya. "Kita makan dulu, yuk."
Afnan mengusap wajah dengan gusar. Dia merasa bimbang akan mengatakannya sekarang atau nanti. Setidaknya dengan ia jujur sekarang, Aisyah tidak akan berharap lebih padanya.
"Saya mau bicara sekarang," tegas Afnan.
"Makan dulu aja, energi kita hari ini sudah terkuras habis-habisan. Jangan sampai setelah hari pernikahan kita malah jatuh sakit," ucap Aisyah panjang lebar.
Mendapat perhatian dari Aisyah semakin membuat dirinya semakin gelisah. Sebenarnya hal seperti ini yang tidak ia inginkan. Mendapat perhatian dari Aisyah justru akan lebih mempersulitnya.
"Aisyah, tunggu!" seru Afnan, membuat Aisyah yang hendak pergi keluar menyiapkan makanan terpaksa berhenti.
"Mas Afnan mau apa? Biar aku siapkan."
"Stop, Aisyah. Stop!" Nada tinggi terdengar dari mulut Afnan. "Izinkan saya mengatakan sesuatu ke kamu. Tolong, dengarkan saya dulu."
Aisyah terdiam. Namun, sorot matanya berhasil menangkap gerak-gerik Afnan yang tampak membingungkan.
"Ada sesuatu yang buat Mas Afnan merasa enggak nyaman? Ngomong saja, Mas, aku akan dengerin, kok."
Afnan berdeham, lalu memosisikan dirinya berdiri tegak tepat di hadapan Aisyah. Dengan sorot matanya yang nampak tajam, kata demi kata menyakitkan lolos begitu saja dari bibirnya.
"Ada satu nama di hati saya, dan itu bukan kamu. Bahkan sampai saat ini saya masih menjaganya dengan baik.
Saya menikahi kamu karena paksaan dari Mama dan Papa. Mereka yang menginginkan ini, bukan saya. Bahkan karena permintaan mereka saya harus menyakiti seseorang dengan sengaja.
Jadi, karena hal ini saya mau kamu enggak berharap lebih sama saya. Namun, apa pun itu saya akan tetap memberikan nafkah yang cukup untuk kamu. Tentunya hanya nafkah lahir saja!"
Kalimat panjang itu benar-benar layaknya pedang panjang yang menghunus hatinya. Meski Aisyah sudah mengetahui hal ini jauh sebelum statusnya berubah, tapi tetap saja ketika kalimat itu terucap Aisyah merasakan sakit yang teramat dalam.
Haruskah kenyataan pahit itu diungkap secepat ini? Di malam pertama mereka sah menjadi suami istri?